Header Ads

test

Solusi Tidak Membuminya Pancasila Sebagai Konsensus Negara


Berbicara mengenai Pancasila, tentu yang terlintas  pertama kali di benak kita berbeda-beda. Ada yang yang berpikir bahwa pancasila adalah lima dasar, ada juga yang terfikir sebagai dasar negara, ada yang berfikir menuju pada republik Indonesia atau dengan kata lain pancasila sebagai identitas republik Indonesia. Selain itu ada juga yang beranggapan bahwa pancasilan adalah burung garuda. Bahkan ada yang lebih unik menurut saya, yaitu ketika saya melakukan survei ke salah seorang teman, ia mengatakan bahwa yang terlintas pertama kali ketika saya mengatakan pancasila, dan dia menjawab bahwa pancasila adalah ketuhanan yang maha esa.

Adanya perbedaan pemahaman di berbagai pemikiran tentang pancasila merupakan bukti bahwa berbeda orang maka akan berbeda pemahaman mengenai pancasila dalam diri mereka masing-masing. Padahal mereka adalah warga negara pemilik pancasila itu sendiri. Sejarah tentang pancasila itu tunggal dan  tidak bisa diganggu gugat maka pemahaman tentang pancasila harus diberikan untuk keseluruh lapisan agar nantinya tidak ada perbedaan pemahaman yang mengakibatan perpecahan.

Maka, kini yang menjadi persoalan kita adalah apakah sejarah pancasila yang tunggal itu pernah mereka kaji atau tidak. Kalaupun pernah, maka kajiannya bersifat mendalam atau tidak. Mengapa hari ini pancasila itu masih belum tertransformasikan dalam masyarakat. Mengapa Pancasila masih belum bisa menjadi consensus (kesepakatan) nasional yang kemudian menjadi garis batas gerak sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara?.

Kita tahu, bahwa dahulu pada saat orde lama, Pancasila adalah ideologi terbuka bagi bangsa Indonesia. Setiap manusia berhak memaknai atau menafsirkan pancasila dengan penafsiran masing-masing individu. Hal tersebut terbukti berdampak pada kerukunan dan kebersatuan Indonesia pada masa dahulu. Tentu dikarenakan cita-cita dari Pancasila itu sendiri tidak bisa dipaksakan, dengan kata lain ideologi pancasila lahir dari masyarakat. Akan tetapi, setelah rezim Soeharto berkuasa, pancasila tidak lagi menjadi ideologi terbuka, tetapi beralih menjadi ideologi tertutup, yang dianggap sudah jadi dan mutlak. Ideologi yang lahir bukan dari masyarakat melainkan dari sebuah kelompok untuk merubah masyarakat yang tidak melihat pluralitas peradaban terlebih HAM tentu akan mengakibatkan perseturuan-perseturuan antar kelompok. Barangkali ini yang membuat masyarakat mulai tidak peduli lagi dengan arti dan makna pancasila.

Akan tetapi−melihat kondisi saat ini−mengembalikan pancasila kepada ideologi yang terbuka bukanlah suatu solusi yang tepat. Bahkan, dengan begitu mungkin tingkat kriminalitas akan semakin bertambah. Kejahatan semakin merajalela, tidak terkendalikan justru yang ada.

Lantas solusi seperti apa yang tepat?

Kita tahu, bahwa pengalaman adalah guru dan pengamalan adalah yang terbaik dari sebaik-baiknya guru. Maka dengan mempelajari sejarah, berbagai ilmu dapat diambil darinya. Berbagai sejarah yang mempunyai masalah serupa dengan yang sedang kita alami sekarang tentu akan menjadi referensi atas tercetusnya solusi.

Masalah kita hakikatnya adalah masalah keyakinan dan persatuan. Tidak perlu terlalu banyak berfikir, sejarah mana yang mempunyai masalah serupa dengan masalah yang kita alami. Saat ini, kita memiliki satu sosok yang begitu menakjubkan kepemimpinannya, ia dapat mengubah sejarah dunia dengan sistem yang dipakainya, bahkan  kehebatan sistem itu masih dan akan tetap ada sepanjang manusia mau mempergunakannya. Kita tahu sistem itu akan berjaya kelak dikemudian hari, ketika manusia mempergunakannya secara total. Sistem itu bernama Islam.

Dahulu jazirah Arab dihuni oleh bangsa Arab yang bersuku-suku dan berkabilah-kabilah. Mereka terpecah belah dan tidak bersatu, tidak tunduk pada suatu pemerintahan, akibatnya tidak ada sebuah kesatuan politik dan agama. Tiap suku mempunyai pimpinan masing-masing dengan gelar ‘Syaikhul Qabilah’ (Kepala suku). Kepala dari suku yang besar, seakan-akan menjadi raja bagi yang tidak bermahkota. Perintahnya menjadi undang-undang, segala keperluannya harus dituruti dan suku-suku yang kecil harus tunduk kepada mereka. Demikian pula, berbagai tradisi tidak berperikemanusiaan merajalela, bayi-bayi perempuan dikubur hidup-hidup, para wanita menjadi objek pemuas nafsu belaka. Serta masih banyak peristiwa yang tidak baik untuk diceritakan.

Betapa kompleks masalah yang terjadi pada masa itu. Akan tetapi, kita ketahui bersama; setelah Islam tegak dan kokoh di jazirah Arab, ketika itu tidak ada satu masalah pun yang tidak terselesaikan. Mulai dari ketuhanan, kemanusiaan, persatuan dan kerakyatan, serta keadilan, semuanya dapat terselesaikan hanya karena ajaran Islam.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-quran surah An-Nahl ayat 89, “…Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran),” ayat tersebut dapat kita simpulkan bahwa ayat yang menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri, yaitu kabar yang termaktub di dalam Al-quran. Merupakan langkah awal dalam dakwah Rasulullah Saw. yang mengajarkan akidah selama 13 tahun lamanya, hal itu terjadi krena akidah bukanlah sesuatu yang remeh-temeh.

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang maha perkasa lagi maha bijaksana.” (QS. Ali-Imran: 18)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizhahullah menjelaskan, “Aqidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan aqidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apapun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan aqidahnya.”

Selain itu, Rasulullah Saw. adalah teladan terbaik. Akhlak beliau hakikatnya juga adalah dakwah. Maka, pengajaran akidah bersamaan dengan akhlak ini tentu akan menghasilkan suatu produk yang bernama ketuhanan dan persatuan. Kemudian, tidak lupa bahwa setelah Rasulullah Saw. mendakwahkan akidah, beliau juga mendakwahkan syariat, yang kemudian itu menjadi bagian tidak terpisahkan dari Islam. Karena Islam terdiri dari tiga kesatuan yang tidak terpisahkan. Yakni akidah, akhlak, dan syariat.

Ini yang kemudian menjadi catatan bahwa setelah terbangun nilai ketuhanan dan persatuan, perlu lagi adanya pembangun sebuah sistem yang lain yakni dengan syariat. Setelah syariat juga menjadi bagian darinya, maka produk perikemanusiaan, kerakyatan serta keadilan sosial akan bisa merajalela di negeri ini.

Tidak bosan saya mengingatkan bahwa cara ini telah terbukti ampuh. Telah terealisasi dan hasilnya bahkan kita yang jauh dari jazirah Arab, serta jauh pula jarak zamannya, ikut merasakannya. Mengingat sistem ini adalah berasal dari Allah subhanahu wa ta`ala; sang maha mengetahui segala kebaikan bagi makhluknya, maka semoga membuat kita terbangun dari ketidaksadaran bahwa telah ada suatu sistem terbaik bagi kita, yaitu sistem yang berasal dari Allah Ta`ala. Sekali lagi, sistem itu bernama Islam.

Tidak perlu lagi ragu untuk mempergunakannya karena telah terbukti dalam realita. Bukan hanya dapat dipergunakan untuk memimpin muslim, tetapi juga kaum yang lain. Itu terlihat pula dari sejarah yang telah terjadi. Yakni saat wilayah kekuasaan Islam meluas, penduduk dari wilayah yang baru saja ditaklukkan terbukti dapat dikendalikan dengan baik. Itu semua dilakukan hanya dengan sistem Islam.

Sebagai penutup, izinkan saya mengutip sebuah tulisan menarik dari Ustadz Salim A. Fillah yang luar biasa−menurut saya−dalam memaknai Pancasila. Tulisan itu ialah,

“Ummat Islam amat besar pengorbanannya dalam perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pun demikian, sejarah juga menyaksikan mereka banyak mengalah dalam soal-soal asasi kenegaraan Indonesia. Cita-cita untuk mengamalkan agama dalam hidup berbangsa rasanya masih jauh dari terwujud.


Tetapi para bapak bangsa, telah menitipkan amanah maqashid asy syari’ah (tujuan diturunkannya syari’at) yang paling pokok untuk menjadi dasar negara ini. Ada lima amanah yang diberikannya, lima hal itu; pertama adalah hifzhud diin (menjaga agama) yang disederhanakan dalam sila ‘ketuhanan yang maha esa. Kedua hifzhun nafs (menjaga jiwa) yang diejawantahkan dalam sila ‘kemanusiaan yang adil dan beradab. Ketiga hifzhun nasl (menjaga kelangsungan) yang diringkas dalam sila ‘persatuan Indonesia. Keempat hifzhul ‘aql (menjaga akal) yang diwujudkan dalam sila ‘kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Dan kelima, hifzhul maal (Menjaga Kekayaan) yang diterjemahkan dalam sila ‘keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Penulis: Bangun Adi Putra