Sang Pemimpi



Namaku Adi prasarta, seorang lelaki yang masih duduk dibangku SMA. Jangan tanya siapa nama kedua orangtua ku dan apa pekerjaannya karna aku pun tak tahu, bahkan yang ku tahu hanya sekedar namanya saja. Sejak kecil aku tinggal bersama kakek dan nenekku, berkali-kali aku bertanya kepada mereka siapa ayah-ibuku dan dimana mereka sekarang tetapi mereka selalu menjawab "orangtua mu pergi jauh tak akan kembali lagi, lupakan mereka!".

Entah kapan terakhir kali aku bertanya kepada mereka yang pasti sudah lama sekali, sudah aku tanamkan dalam diriku kalau aku tidak akan bertanya lagi karena setiap pertanyaan itu aku lontarkan pada mereka pasti amarah yang tergambar diraut muka dan diakhiri dengan gerimis yang membasahi pipinya. Pernah ada seorang tetanggaku memberitahu bahwa orangtuaku masih hidup, hanya saja dahulu ada pertengkaran sangat hebat yang membuat orangtuaku berpisah dan masing-masing pergi entah kemana dengan tujuan yang berbeda.

Aku selalu membayangkan ayah-ibuku datang dan bisa berkumpul serta tinggal bersama, betapa bahagianya diriku jika itu terkabul, aku yang tak pernah mendapat kasih sayang dari orangtua membuat hidupku seolah tak terarah. Hah biarlah aku sudah terbiasa dengan semua ini.

"Adiii, adii"
Ah seperti suara nenekku memanggil.
"Adiii," sekali lagi suara jeritan yang khas bergelora.
"iyaa nek, ada apaa?" aku menoleh ke arah sumber suara lalu terdiam memunculkan tanda tanya, siapakah gerangan yang berada disamping nenekku itu? sepasang kisanak dan nyaik.
"Adii," teriak lagi nenekku dengan mata yang berkaca-kaca dengan suara yang tak berirama.
"ada apa nek dan siapa mereka?" sahutku dengan muka cemas.
"ini ayah ibumu adi, ini orangtua kandung muu".
"ibuku, aayahku, nek?"
"iya nak ini orangtuamu"
"ibuuu," langsung ku berlari menghampiri mereka dengan guliran air mata yang mulai mengalir membasahi pipi.
Gubrakk!!
"aduuh," teriakku
"Adii, mimpi apa lagi kau sampai terjatuh dari kasur begitu, makanya kalau sudah denger adzan subuh cepetan bangun bukannya tidur lagi! cepat kau bangun dan mandi, apa kau tak sekolah. Cepatt!". Sambutan nenekku pagi ini
"iya nek," singkatku.
"Hah cuma mimpi ternyata, andai saja itu tadi nyata betapa bahagianya aku, hahh".
Setelah itu aku langsung mandi dan bersiap-siap untuk melaksanakan kewajibanku menuntut ilmu.


***
Seperti biasa aku berangkat kesekolah, masuk ke dalam kelas dan duduk dibangku spesial penuh dengan kewibawaan layaknya raja di istana kerajaannya, ya tepat tersandar di tembok!. Yahh aku duduk paling belakang sendiri, bahkan terkadang apa yang dikatakan oleh guru pun tak terdengar ditelingaku dan walaupun terdengar aku pun tak menghiraukannya. Aku terlalu senang hidup di dunia ku sendiri.
"Adi Prasarta," panggil seorang guru.
"hah, iya buk saya disini," sahutku dengan tangan yang melambai.
"ayo maju kedepan."
"memang saya salah apa buk? saya sudah diam dan tidak mengganggu mereka belajar" jawabku sambil menunjuk kesemua kawan-kawan kelasku.
"sudah cepetan maju," tegas guruku.
Lalu aku dengan rintih-rintih berjalan ke depan.
"Kerjakan soal yang ibu tulis di depan!" perintahnya sambil memberikan spidol padaku.
"haa saya buk" betapa kagetnya diriku, sedari tadi aku yang terjaga dalam ayunan indah mimpiku.
"cepat!" gertak guruku.
"i.. iiya buk," sambil mengambil spidol dan ku coba membaca serta pahami soal yang ada di papan tulis, kemudian aku coba mengerjakannya dengan berfikir keras.
Beberapa menit berlalu akhirnya aku selesai juga mengerjakannya entah itu benar atau salah yang penting sudah aku selesaikan.
"buk, saya sudah selesai," sambil mengembalikan spidol dan langsung berjalan kembali ke tempat dudukku.
"eh sebentar ibu cek dulu"
Disaat guruku sedang mengecek hasil kerjaanku, jantungku berdebar begitu kencang dan kakiku bergemetar. Alamakk siap-siap dapat hukuman lagi aku ini (gumamku)
"adiii"
"iiiya buk, maaf bu maaf aku tadi hanya"
"ini sungguh luar biasa, jawabanmu tepat sekali adii," sragapnya
"hahh apa buk," terkejut dari ucapan guru yang memuji keberhasilanku.
Suara gemuruh tepuk tangan yang menggema ditelingaku membuat diriku tak sanggup mengucap kata apapun, rasa yang baru sekali aku rasakan. Rasa bangga pada diriku sendiri dan baru pertama kali ini aku merasa senang sekali bahkan aku tak bisa menjawab panggilan kawan sebangku yang dari tadi meneriaki namaku dan bertepuk tangan dengan keras.
"adiii, adiiiii," teriak kawan-kawanku
"hah iya, aku hebat kan," jawabku
"hebat dari hongkong," teriak kawanku lagi.
"Hah sial, mimpi lagi aku," tersadarku dari tidur pulasku.

"Makanya kalau ada guru lagi menerangkan jangan tidur mulu, ini sekolahan bro tempat dimana kita mencari, mengasah dan melatih kemampuan kita bukan dimana tempat merangkai mimpi atau angan-angan saja, mimpi tak akan nyata kalau kita tak berbuat apa-apa! kita disekolahkan agar kita bisa menjadi manusia yang mampu memanusiakan manusia! apa kamu tak kasihan dengan kakek nenekmu yang selalu menjual keringatnya demi kamu! apa kamu tak malu!. Alur kehidupan beda dengan alur mimpi bro yang bisa kita atur sedemikian rupa, kita hidup di dunia nyata bukan dunia mimpi! kamu boleh saja merangkai alur mimpi-mimpimu tapi kamu juga harus merangkai alur kehidupan nyatamu. Pejamkan matamu untuk rangkai semua mimpimu tapi buka pula matamu dan buat mimpimu menjadi nyata. Halah sudahlah tak penting juga aku memotivasi mu". Kata kawan sebangku ku yang lantas pergi meninggalkan ku di dalam kelas sendiri.

Tersentak aku pun langsung terdiam dan terbayang-bayang perkataan kawanku itu, apa selama ini aku hidup dalam dunia mimpiku? apa aku hanya mampu bermimpi? apa mungkin aku tak sanggup membuat nyata mimpi-mimpiku?.
"Hah tidak! ini mimpiku dan hidupku, aku bukannya tak mampu tapi aku hanya belum melangkah untuk membuatnya menjadi nyata" ku tersenyum dan merasa seolah terlahir ke dunia lagi dengan semangat hidup yang baru.


Penulis: [S-IKABIM]
Reactions: