Pentingnya Punya Akun-Akun Sosmed Bagi Mahasiswa


Berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi membuat setiap ritual yang dijalani makhluk bernama manusia menjadi semakin instan. Bahkan saat ini teknologi sudah menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Mulai dari yang berprofesi sebagai petani, akademisi hingga pejabat tinggi hidupnya sudah tidak lepas dengan teknologi. Mahasiswa yang merupakan salah satu dari tiga kategori di atas dapat dikatakan mendominasi penggunaan teknologi. Salah satu wujud berkembangnya teknologi adalah sosial media yang kini sangat digandrungi orang-orang dari berbagai kalangan. Sebuah wadah yang sangat berguna sebagai media pamer dan berbagi suka cita. Di sini penulis ingin membahas pentingnya akun sosial media bagi mahasiswa. Tentunya bukan berkaitan dengan ajang pamer atau sarana membagikan kegalauan dan ke-alayan yaa. Mahasiswa yang menjalani masa kuliah di tahun 2017 rasanya wajib hukumnya mempunyai akun sosial media.

Bagi seorang mahasiswa, akun sosial media dapat dijadikan media kampanye pemberdayaan masyarakat. Dalam upaya mewujudkan gelar yang disandang mahasiswa yaitu “agent of change” sosial media bisa saja menjadi senjata yang ampuh untuk membantu misi itu. Seperti yang kita ketahui sejauh ini, sosial media sudah sangat bebas dan nilai-nilai moral berkomunikasi mulai terabaikan. Misalnya saja facebook, ujaran kebencian dan berita hoax bertebaran dan dibagikan ribuan kali setiap harinya. Jika kita tidak mengedukasi, minimal orang-orang terdekat kita, maka budaya konsumtif berita hoax akan menjamur dan akhirnya istilah tabayyun atau verifikasi informasi tidak dikenal lagi.

Bukan hanya facebook saja, sebagai seorang mahasiswa harus memiliki akun sosial media yang lain misalnya twitter dan instagram. Di dalam twitter dan instgram ada pengikut dan yang kita ikuti. Apabila orang yang mengikuti kita sudah banyak otomatis postingan kita akan terbaca oleh pengikut kita. Sehingganya kita dapat merekomendasikan informasi yang mengedukasi kepada mereka, sebagai bentuk kampanye kebaikan serta memerankan aktivitas pemberdayaan masyarakat dengan cara yang sederhana.

Sebagaimana karakter manusia milenial lainnya, kita tetap normal jika ingin pamer satu atau dua momen untuk di share pada akun-akun sosial media kita. Namun yang tak boleh dilupakan adalah, status kita sebagai akademisi yang bertugas mengedukasi masyarakat untuk bersikap bijak terhadap kemajuan teknologi. Barangkali kita tidak akan mengubah sesuatu yang besar, tidak akan bisa membasmi perkembangan berita hoax, atau memberhentikan akun penyebar ujaran kebencian. Namun dengan tindakan pemberdayaan dan peng-edukasian itu, setidaknya pengikut dan sebagian teman kita di sosial media memahami bagaimana memanfaatkan teknologi dengan benar.

Selain akun sosial media yang berbasis pamer dan berbagi momen. Mahasiswa juga seharusnya memiliki akun-akun lain yang berbasis pendidikan dan riset. Misalnya saja akun academia, akun kompasiana dan akun google scholar. Saat kita memiliki ketiga akun tersebut, kita dapat mempublikasikan karya yang ditugaskan dosen di bangku kuliah.

Keuntungannya tulisan kita dapat dibaca banyak orang, syukur-syukur dapat di sitasi oleh orang lain. Jadi mahasiswa apapun jurusannya tetap harus akrab dengan teknologi dan sosial media. Karena di zaman yang serba digital ini, hukum eksistensi memang penting. Semua karya kita harus ter-ekspos untuk membangun peradaban. Bukan karena ingin narsis atau pamer sana sini, tapi itu adalah upaya mengedukasi.

Ririn Erviana (Mahasiswi IAIN Metro)
Reactions: