Header Ads

test

Mewujudkan Strong Leadership dalam Lembaga Keuangan Mikro Syariah BMT


Berdirinya sebuah lembaga bisnis tidak akan terlepas dari dua tujuan utama yaitu profitable and sustainable bussiness, artinya bisnis yang menguntungkan dan menjadikannya berkelanjutan atau berumur panjang, demikian halnya dalam pendirian dan pengelolaan lembaga keuangan mikro syariah atau yang lebih akrab dikenal dengan sebutan Baitul Maal Wattamwil yang disingkat dengan BMT. BMT yang di dalamnya terdapat dua fungsi utama yakni baitul maal yang berfungsi sosial dan tamwil yang lebih kepada fungsi bisnis. Meskipun terdapat fungsi sosial tidak dapat dipungkiri bahwa sekumpulan orang yang bersyirkah dalam pendirian dan pengelolaan BMT tentu berharap lembaga yang didirikannya akan mensejahterakan anggota secara berkelanjutan, tidak hanya menguntungkan sesaat tapi menimbulkan kebangkrutan di kemudian hari.

Profitable  dan  sustainable  bussiness  adalah  tantangan  utama  para  pelaku  BMT disaat tingkat daya beli masyarakat terjun bebas, di sisi lain fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit BMT di Lampung telah gulung tikar dan dibekukan badan hukumnya, hal itu disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah faktor human error atau perilaku fraud oleh pimpinannya. Sementara di pihak lain masih banyak BMT yang tetap survive, bertumbuh dan melebarkan sayap bisnisnya, karena memiliki segudang potensi yang dikelola secara apik oleh pemimpin yang handal. 

Begitu besar peran pemimpin dalam menahkodai sebuah lembaga BMT untuk dapat mencapai tujuan bersama para anggota, semakin baik kualitas kempemimpinan tersebut maka dapat dipastikan baik pula pengelolaan semua potensi yang dimiliki. Secara sederhana dapat diambil benang merah bahwa sukses tidaknya pencapaian tujuan lembaga BMT selalu terkait dengan kualitas kepemimpinan dari masing-masing BMT. Hal ini lah yang menjadi daya tarik bagi penulis untuk merangkum, menganalisa dan menjabarkan bagaimanakah mewujudkan strong leader atau kepemimpinan yang kuat dalam lembaga keuangan mikro syariah BMT.

Berbicara soal strong leader, maka setiap muslim yang di amanahkan menjadi pemimpin harus memiliki konsep kepemimpinan yang sesuai dengan ajaran Islam, sehingga dapat terinternalisasikan dalam dirinya dan terejawantahkan dalam setiap gaya kepemimpinannya. Imam Zamroni pernah menyampaikan dalam sebuah workshop Ambassador Bootcamp IIBF yang diselenggarakan di Jogjakarta tahun 2016, bahwa kekuatan utama seorang strong leader dapat digambarkan dalam bagan piramida.

Bila digambarkan dengan piramida dapat diketahui bahwa porsi tiga kekuatan tersebut berbeda, semakin ke bawah porsinya semkin besar.

1.      Entrepreneurship; adalah cara atau langkah untuk menjadi kaya yang sebenarnya, bukan seolah kaya dalam pencatatan, tapi tidak menghasilkan cash. Sifat-sifat yang ada di dalamnya adalah kreatif dan inovatif dan tidak ada matinya untuk menemukan jalan keluar dari setiap persoalan, dirinya selalu mampu menemukan, mengorganisasikan dan mengeksekusi setiap peluang yang ada. Seorang entrepreneur mampu membangun team yang kuat, mampu bertahan dalam kesulitan dan persaingan, sekaligus mampu mengelola perubahan dan resiko. Leader sebagai entrepeneur mengindikasikan bahwa dirinya juga pekerja yang memberikan contoh, taking inisiatif, demonstratif, kreatif dan mampu membentuk mental yang dipimpinnya. Meskipun entrepeneurship porsinya lebih kecil namun harus tetap ada dan tidak dapat dipisahkan dalam seorang srong leader

2.     Leadership; Leader is a person who know the way, who show the way and who do the way. Seorang pemimpin adalah orang yang tahu jalan, yang menunjukkan jalan dan mampu menjalankannya untuk memberikan keteladanan kepada yang dipimpin. Keahlian seorang pemimpin dibagi menjadi tiga yaitu skill, interpersonalitas dan identitas. Sehingga porsinya harus ideal sebagaimana digambarkan dalam bagan piramida. Jika posisi piramidanya terbalik maka seseorang tersebut cenderung menjadi follower. Pertama, seorang pimpinan seharusnya adalah yang memiliki skill yang lebih dibandingkan dengan team yang lain, ia adalah seorang yang mampu memotivasi, dan mengkomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan peningkatan kinerja karyawannya. Kedua, seorang pemimpin hendaknya memiliki interpersonalitas yang baik, yaitu kemampuan berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain, baik dengan sesama team ataupun dengan stakeholder yang ada. Ketiga, seorang pemimpin hendaknya memiliki identitas yang kuat dan berkarakter serta mampu memberikan identitas yang baik bagi setiap karyawannya. Bahwa kita adalah seorang muslim maka tauladan yang terbaik adalah nabi dan sahabat sahabiyah. Semakin kokoh identitas seseorang sebagai muslim, maka dapat dipastikan dirinya akan menjadi sumber daya insani yang jujur amanah dan terpercaya.

3.   Spiritualitas; mari kita simak terlebih dulu janji pasti dari yang maha menepati janji-Nya dalam Q.S al-a’raf ayat 96 “jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi...”. Seorang pemimpin muslim dibebankan kewajiban untuk membangun sebuah sistem nilai, sistem nilai yang dimaksud tentunya merupakan nilai-nilai agama. Bahwa rizkinya perusahaan adalah rizkinya semua karyawan, maka jangan sampai urusan dengan sang pemberi rizki ada yang bermasalah, dan hal itu berlaku bagi setiap pimpinan maupun karyawan. Saat panggilan adzan tiba, adakah karyawan yang masih abai atau menunda-nunda untuk memenuhi panggilan-Nya. Untuk selanjutnya dibutuhkan pembiasan-pembiasaan ibadah yaumiah yang terencana dan dievaluasi secara periodik sehingga terbentuk sebuah culture saling menguatkan dalam hal urusan menjaga kualitas ruhiyah.

Ketiga rumusan di atas menjadi sebuah kunci jawaban dari pertanyaan mendasar para penggiat lembaga keuangan mikro syariah BMT untuk mewujudkan strong leadership pada lembaganya masing-masing. Sehingga dapat penulis simpulkan bahwa di dalam BMT yang kuat dan terus bertumbuh pasti ada seorang strong leader di dalamnya, begitu pula sebaliknya jika rapuh bangunan kelembagaannya maka patut dipertanyakan bagaimanakah kualitas kepimimpinan di dalamnya. Wallohu a’lam bishowaf.



Penulis: Rudiyanto,S.E.Sy (Manajer Baitul Maal KSPPS BMT AKU)