Header Ads

test

Kegalauanku dan Kalian


Namaku Sinta Amelia, seorang gadis yang masih baru menjajaki dunia perkuliahan, ya intinya masih canggung dengan dunia perkuliahan. Hal ini mungkin yang di rasakan kebanyakan mahasiswa baru, akan merasa sedikit bingung tentang sistem pembelajaran di bangku perguruan tinggi, karena sangat berbeda dengan hari-hari di bangku sekolah.

Sebagai awalan perubahan status dari siswa menjadi mahasiswa pasti membuat diri dipenuhi rasa kegembiraan yang amat terasa. Bagaimana tidak, ditingkat ini lah dimana masa kedewasaan dimulai, kebebasan diri yang mungkin diperluas. ya tidak sedikit memang yang harus jauh dari orangtua lantaran jarak tempuh yang cukup jauh antara rumah orangtua dan kampus. Walaupun begitu, kebebasan bukan berarti urak-urakan, brutal dan sebagainya kan? yah seperti itu pikirku.

Di awal perkuliahan, aku jalani dengan penuh kegembiraan. "Seperti ini kah menjadi seorang mahasiswa? enak kali ya sudah tidak ada yang mengatur harus begini dan begitu, mungkin bisa jadi mirip dengan sinetron-sinetron televisi gitu," gumam dalam hatiku. "Tapi kalau begini terus dan aku enggak belajar sendiri, gimana aku bisa lulus di akhir semester nanti," dalam diamku mulai gelisah.

***

Pertengahan semester pun tiba, rasa yang campur aduk dalam hati dan pikiran ku saat ini dengan tumpukan tugas-tugas yang menggunung sampai penuh kebingungan yang mana dulu harus ku kerjakan.

Ternyata beginiah dunia perkuliahan sebenernya, tak seenak yang aku bayangkan dahulu, tak seperti yang terjadi dalam sinetron televisi yang selalu santai dalam perjalanan perkuliahan. Tugas yang menumpuk dan waktu yang sedikit, tapi akhirnya lambat laun tugas pun mulai terselesaikan. Alhamdulillah, rasanya tenang jiwaku. Tinggal mengahadapi ujian akhir semester.

Singkat cerita semua mata kuliah sudah mengadakan uas dan hanya tersisa satu mata kuliah yang masih di tarik ulur waktunya. Seorang dosen mengatakan kepada kelas yang di ampunya "kita ujian di hari rabu, mulai dari kelas E, D dan C. Harus tepat waktu ya, karena nilai akan saya setor ke Akademik." Padahal di Sismik sudah ada pengumuman bahwa waktu penyetoran nilai tinggal tiga hari lagi dan kalau kelas kami akan ujian akhir di hari Rabu, itu artinya nilai kami akan telat masuk ke sismiknya? Kamipun mulai galau.

Setelah mengadakan rapat kilat, akhirnya kami memutuskan untuk mempercepat ujian akhir tersebut. Perwakilan dari kelas pun menemui dosen pengampu, setelah terjadi perundingan yang lumayan memakan waktu, akhirnya di keluarkanlah sebuah keputusan yang sangat mengejutkan dari dosen pengampu. "Oke, kita majukan ujian kita di hari Minggu pagi pukul 08.30 WIB, dan tiap anak saya kasih kesempatan hanya 2 menit," begitu pinta sang Dosen.

Hanya dua menit pak? Apa ini akan ujian lisan pak?. "Iya dua menit dan lisan, makanya di kasih tau ke kawan- kawannya supaya di persiapkan dengan matang, dan jangan sampai ada yang remidi," pintanya dengan sangat lugas dan cukup menekan jiwa.

Hasil pertemuan dengan pak dosen pun di umumkan kepada kami, melalui akun grup kelas. Kami pun syok dan galau, akan berita tersebut. Banyak komentar yang membuat suasana semakin gaduh. Namun di putuskan oleh sang ketua suku kami, untuk tetap mengikuti perintah dosen tersebut. Dan kami pun hanya bisa mengiyakan. Saya pun teringat sebuah kata yang ringan namun bermakna dari kawanku, "maha benar dosen dengan segala perintahnya," begitu ucapnya.

Keramaian di grup kelas pun masih terasa di minggu pagi. Kami stand by sejak pukul 08.00 WIB. Kami pun menunggu sampai pukul 10.15 WIB, dan belum ada kepastian kapan dosen tersebut akan hadir. Setelah lama menanti akhirnya dosen pun datang, dan langsung memulai UAS dengan urutan kelas yang telah di tentukan.

Biasalah namanya juga mahasiswa baru, dan baru kali ini juga merasakan ujian lisan. Banyak dari kawan-kawan kami yang gugur di medan jihad ini. Karena nerves dan gagu dalam menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh sang dosen.

Hari itupun berlalu, dan dengan kebenarannya sang dosen mengatakan "karena ini banyak yang tidak lulus maka akan ada remedial, suruh kawan- kawan yang kena raport merah untuk menghadap saya di masjid, besok selasa pukul 08.30 WIB," Pintanya kepada ketua kelas C.

Hal serupa pun terjadi, kegaduhan pun tidak terpungkiri. Kejadian di kala remed pun tidak jauh berbeda dengan UAS yang kami alami. Inilah ajang pertama yang kami rasakan dalam Dunia Perkuliahan. Kami hanya bisa tawakal kepada yang kuasa, semoga dosen tersebut memberi keringanan kepada kami, dan tidak mempersulit para mahasiswanya ketika mengajar.

Usaha yang kami lakukan pun lebih dari usaha anak-anak SMA untuk melakukan ujian kelulusan. Rasa nerves yang dulu pernah kami rasakan dikala disuguhkan saat di bangku SMA kini terulang kembali dan kami harus perpacu dengan waktu. Ini adalah pembelajaran buat kita semua, bahwa usaha tanpa kenal lelah adalah wajib untuk memperoleh dan menggapai cita-cita. Semoga kita semua digolongkan menjadi anak yang berbakti dan menjadi salah satu pilar perubahan di dunia literasi dan akademik.


Penulis: Siti Nur Aminah