Header Ads

test

Ekonomi Islam Zaman Now


Apabila mendengar kata ekonomi Islam (ekonomi syariah), apa yang terbesit dalam pikiran anda? Apakah sebuah bank yang berkedok label syariah namun dalam praktik nya tidak ada bedanya dengan bank konvensional, atau bayangan lembaga keuangan berbentuk koperasi yang praktiknya meniru perbankan atau bahkan dalam benak anda tergambar upaya ekspansi BMT yang menjamur pada sebuah pasar-pasar, pusat kota sampai pedesaan.

Sementara jika berbicara interpretasi akan ekonomi Islam yang akan muncul dan akrab ditelinga kita adalah upaya ‘arabisasi’ istilah ‘ekonomi’,  atau sistem ekonomi yang alih-alih anti dengan riba (bunga) namun memilih sistem marjin yang presentasi nya lebih besar. Implentasinya hanya berkutat pada dunia perbankan atau regulasi uang dalam bentuk simpan-pinjam semata.

Barangkali stereotype akan ekonomi Islam sedemekian itu masih dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena ini menjadi barometer bahwa ekonomi Islam sejauh ini telah berhasil dalam menerapkan proses sinergi ilmu antara ekonomi dan Islam namun gagal dalam berkembang, sebab perkembangan ilmu ekonomi Islam mengalami stuck atau kebuntuan karena kebanyakan para ilmuan dan praktisinya berkutat pada hal hal seperti riba, murabahah, mudharabah, dan zakat.

Hampir tidak ada perspektif yang baru. Sehingga yang dilihat menonjol dalam aplikasi ilmu ekonomi Islam hanya sebatas fungsi intermediasi dana, di samping itu ekonomi Islam dipandang terkesan kaku dalam istilah keilmuanya, sebab menggunakan istilah-istilah dari timur tengah. Proses keilmuan yang melulu secara terus menerus akan di distribusikan para pembelajar ekonomi Islam ke masyarakat awam dan seiring bergulirnya waktu  yang pemahaman ekonomi Islam yang tidak utuh akan diamini menjadi pemahaman bersama ditengah masyarakat, terlebih pemahaman tersebut diperkuat fakta di lapangan bahwa praktik ekonomi syariah yang kebanyakan berada dalam dunia perbankan maka akan mendoktrin masyarakat bahwa ekonomi syari’ah itu adalah bank syariah, atau seperti lembaga keuangan yang hampir mirip dengan perbankan lengkap dengan akad-akad bahasa arab nya.

Sangat riskan bila Pemahaman yang pincang ini diakui sebagai pemahaman jamak atau bahkan digadang-gadang sebagai konsep ekonomi Islam yang syumul. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri sebab jika pemahaman ekonomi Islam yang belum utuh terus dipertahankan dan ditumbuh suburkan maka tujuan utama ekonomi Islam yaitu mencapai maslahah bagi manusia tidak akan pernah bisa terwujud. Sebenarnya perihal tersebut sudah lama dikawatirkan oleh DR. M. Umar Capra, seorang tokoh ekonomi kontemporer yang paling terkenal di timur dan di barat, kegelisahaan nya tersebut ia tuangkan di bagian penghujung dalam master piece yang bejudul The future of Economic an Islamic prespective.

Kegundahan yang ada harus berujung pada solusi yang kongkrit, mampu menyasar pada akar rumput permasalahan, dengan memaksimalkan percepatan akses informasi dan kecanggihan teknologi yang ada, kemajuan zaman semestinya menjadi peluang besar untuk bisa merubah wajah ekonomi Islam zaman old (dulu) menjadi ekonomi Islam zaman now (sekarang). Ekonomi Islam dewasa ini atau dalam literasi kekinian nya disebut ekonomi Islam zaman now merupakan sistem yang mengatur kegiatan manusia dalam aktivitas memenuhi kebutuhan hidupnya yang berlandaskan hukum Allah SWT dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Ekonomi Islam zaman now dipandang sebagai jalan hidup (way of life) untuk mencari rezeki, harta, kekayaan atau mencukupi kebutuhan diri sendiri dan keluarga, konsep ekonomi Islam harus bisa lepas dari kungkungan persepsi sempit yang bergelut pada riba dan dimensi perbankan. Esensi ekonomi Islam harus mampu diterjemahkan dalam berbagai bentuk usaha yang lebih variatif dan implementasinya mampu diaplikasikan secara rigid baik itu oleh individu, kelompok atau bahkan sampai negara.

Ekonomi Islam ialah metodologi yang menjadi panduan dalam bermuamalah antar sesama manusia yang bersandar pada dua sumber hukum yang menjadi dasar patokan. Sumber hukum primernya ialah hukum transidental seperti Al-Quran dan Hadist. Sedangkan sumber hukum sekundernya ialah interpretasi seperti fatwa sahabat nabi, ijma’, qiyas, istihsan, urf, mashalih mursalah, sadd adz-dzara’i, istishhab dan syar’u man qablana. Sementara peruntukan tidak hanya dibatasi untuk umat Islam melainkan bagi non muslim juga diperbolehkan menggunakannya.

Konsep ekonomi Islam zaman now dapat bersinergi dengan kearifan lokal yang ada. Bahwasannya ekonomi Islam sebagai silabus untuk mencapai keteraturan hidup seyogya nya tidak dilaksanakan secara klaim sepihak dan membabi buta untuk mengharamkan sesuatu atau melarang suatu adat budaya setempat tampa memfilterisasi terlebih dahulu. Oleh karena itu konsep ekonomi Islam perlu menjalin suatu toleransi terhadap warisan budaya yang dalam hal ini berbentuk transaksi ekonomi yang dirasa tidak bertentangan dengan syariat yang ada.

 Dilain sisi konsep ekonomi Islam harus memenuhi beberapa prinsip antara lain: pertama pada asalnya aktivitas ekonomi itu diperbolehkan sampai ada dalil yang melarangnya, kedua aktivitas ekonomi tersebut hendaknya dilakukan secara suka rela (‘an taradhin ), ketiga segala bentuk kegiatan ekonomi yang dikerjakan hendaknya mendatangkan maslahah dan menolak atau meminimalir mudharat ( jalb – al mashalih wa dar’ al mafasid ) dan  keempat dalam aktivitas ekonomi yang dilakukan terlepas dari unsur gharar, riba, kedzaliman, maysir, distorsi, spekulasi, dan unsur unsur lainya yang dilarang oleh syara’. 

Sementara, permasalahan ekonomi (kelangkaan) dalam soroton ekonomi Islam muncul bukan disebabkan oleh gagal nya sumber daya alam dalam merespon dinamika kebutuhan manusia, seperti dalam teori ekonomi konvensional dikatakan bahwa kelangkaan terjadi karena sumber daya ekonomi itu terbatas sedangkan kebutuhan atau keinginan manusia itu sifatnya tidak terbatas. Teori ini mendapat protes keras oleh ekonom kotemporer yaitu Asy-Syahid Muhammad Baqir As-Sadr dari kadhimiyah, bagdad yang biasa akrab disebut dengan Baqir As-Sadr. Menurutnya permasalahan ekonomi yaitu kelangkaan muncul kareana disebabkan oleh perilaku manusia yang dzalim dan perilaku manusia yang kurang bersykur atas limpahan nikmat Allah SWT,

Bahwasanya dzalim dalam hal ini dimaksudkan betapa banyak ditemukan dalam realitas empiris, manusia dalam aktivitas distribusi kekayaan cenderung melakukan kecurangan-kecurangan untuk memperoleh keuntungan pribadi semata, seperti melakukan tindakan penimbunan atau ikhtikar. Sedangkan yang dimaksud kurang bersykur atau ingkar adalah manusia cenderung menafikan nikmat Allah dengan semena-mena mengeksploitasi sumber-sumber alam. Selain itu Baqir As-Sadr membatah bahwa kenginan manusia itu sifat nya tidak terbatas dengan contoh yang diberikan pada orang haus akan berhenti minum jika dahaganya sudah terpuaskan. Lebih jauh lagi Baqir As-Sadr beranggapan teori hukum kelangkaan oleh ekonom konvensional hanyalah sebagai sesuatu penghindaran terhadap sesuatu yang sudah ada solusinya, dengan menyuguhkan penyebab imajiner yang tidak ada solusinya.

Membincang ruang lingkup yang dapat diatur oleh ekonomi Islam tidak berfokus pada riba dan praktek perbankan, melainkan sangatlah luas, mulai dari hal penentuan harga di pasar dengan konsp mekanisme pasar yang digulirkan Ibnu Taimiyah, jual beli dalam bentuk murabahah, salam, atau istisna, kerjasama seperti syirkah, mudhorabah, muzaraah (dalam agraria), hukum permintaan dan penawaran Islami, sampai hal besar seperti public finance (keuangan publik) seperti pemasukan negara dan pendistribusian kekayaan negara, kebijakan baik moneter maupun fiskal juga diatur dalam ekonomi Islam seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW sampai zaman kekhalifahan setelah-nya dalam bentuk bai tul mal sebagi lembaga keuangan negara yang mengatur kebijakan, bahkan pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid  mengalami surplus yang berlebih pada APBN nya.

Terlepas dari itu semua, perkembangan ekonomi Islam juga mengalami tren yang positif. Tidak sedikit negara-negara barat yang mengadopsi ekonomi Islam atau bahkan membuka bank syariah seperti, bank syariah  KuveytT├╝rk di Jerman, European Islamic Investment Bank PLC (EIIB) di Inggris, dan di Belanda akan dirintis bank syariah, hal tersebut merupakan bentuk perhatian yang baik dari negara-negara barat terhadap ekonomi Islam.

Selain itu perkembagan ekonomi Islam pada era digital sekarang ini juga mengalami peningkatan seperti dibuatnya sistem layanan fintech (finansial technology) pada lembaga keuangan syariah, atau pada pasar sekunder seperti di bursa efek syariah, obligasi syariah, saham syariah, dan reksyadana syariah.  Sementara semakin masifnya penyebaran aplikasi ekonomi Islam dalam pasar primer seperti munculnya usaha berbasis syariah seperti hotel syariah, laundry syari’ah, dan wisata syari’ah dan kurva kencederendungan akan halal life style semakin meningkat dan mendapat animo masyarakat Indonesia.

Di sisi lain pekembangan ekonomi Islam di Indonesia yang sedang digandrungi harus ramah dengan kearifan lokal (local wisdom) yang harus tetap melestarikan budaya sekitar seperti pada orang tengger yaitu konsep celong yang konsepnya hampir mirip dengan ijarah, sida yang konsepnya seperti pembagian waris, dan cimpa yang konsepnya sama dengan hibah. Ekonomi Islam harus bisa berakulturasi secara dialektika dengan cara transaksi adat budaya setempat sehingga dapat diterima dengan baik dan tidak menghilangkan warisan kekayaan budaya suatu negara. Mengingat dalam perspetif hukum Islam bahwa kearifan lokal itu disebut urf yang artinya sesuatu yang baik dan telah dikenal diatara manusia dan menjadi tradisi.

Ekonomi Islam zaman now pada giliranya mampu mengejewantahkan dengan wajah yang ramah dan mudah dimengerti serta bisa diterapkan pada sendi sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara di samping itu ekonomi Islam harus teraktualisai baik itu keilmuannya dan kecanggihan tekonolgi yang digunakanya.



Penulis, Elman Darmansyah