Header Ads

test

Peluang dan Tantangan Pasar Industri Halal Bagi Indonesia Dalam Menggait Muslim Milenial



Industri halal merupakan peluang baru dalam dunia industrial yang saat ini sedang digandrungi oleh negara-negara di dunia. Besarnya jumlah muslim dunia yang mencapai sepertiga jumlah penduduk dunia dan semakin besarnya kebutuhan generasi Muslim milenial menjadi alasan negara-negara di dunia mulai merambah ke pasar industri halal. Tidak hanya mencakup negara-negara dengan mayoritas berpenduduk muslim saja, namun negara-negara minoritas muslim pun juga ikut ambil bagian dalam pengembangan industri halal ini. Hal tersebut menjadi penanda bahwa pasar industri halal memiliki potensi besar dalam menunjang peningkatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Keikutsertaan negara mayoritas non-muslim dalam pengembangan industri halal menjadi alarm dan tantangan tersendiri bagi negara mayoritas muslim seperti Indonesia. Indonesia sebagai negara yang memiliki jumlah Muslim terbesar di dunia sebenarnya memiliki peluang besar dalam pengembangan industri halal. Walaupun jika melihat geliat industri halal di Indonesia saat ini masih belum mampu berkembang pesat seperti negara-negara mayoritas muslim lainnya.

Industri halal yang berkembang saat ini tentu tidak lepas dari peran aktif para generasi Muslim milenia, baik mereka yang bertindak sebagai produsen ataupun yang bertindak sebagai konsumen. Generasi Muslim melenial yang notabanenya memiliki candu terhadap halal life style (gaya hidup halal) menjadi pangsa pasar yang besar bagi industri halal. Laporan terbaru dari 'Mastercard-Halal Trip Muslim Millenial Travel Report 2017 (MMTR2017)' memprediksi, total pengeluaran dari wisatawan Muslim milenial akan mencapai lebih dari 100 miliar dolar AS pada 2025. Selain itu, secara keseluruhan segmen wisata Muslim diperkirakan akan mencapai 300 miliar dolar AS pada 2026. Data tersebut mengindikasikan bahwa Muslim milenial memilik andil yang cukup besar bagi perkembangan industri halal dunia.

Jaimil Bidin,  CEO Halal Development Corporation (HDC) Malaysia mengatakan bahwa, seluruh umat muslim harus memenuhi kebutuhan dasarnya akan kebutuhan halal. Jika industri halal hanya dijalankan oleh beberapa negara, maka kebutuhan produk halal dunia tidak akan terpenuhi. Tentu, peran Muslim dunia terutama Muslim melenial memegang peranan penting dalam pengembangan industri halal. Khususnya Indonesia sebagai negara mayoritas muslim terbesar dunia, diharapkan tidak hanya berperan aktif sebagai konsumen dari produk industri halal saja, namun juga mampu menjadi produsen dalam menciptakan produk-produk halal yang akan menghiasi pasar industri halal dunia.

Muslim melenial merupakan target terbesar bagi negara-negara pengembang industri halal, tidak terkecuali Indonesia yang mulai membidik Muslim milenial untuk meningkatkan pasar industri halal di Indonesia. Terdapat banyak sektor yang dapat dikembangkan di Indonesia dalam industri halal seperti food,  finance, travel, kosmetik, pendidikan, fashion, media rekreasi, serta seni dan kebudayaan. Dimana, apabila dimanfaatkan dengan maksimal maka akan meningkatkan perekonomian Indonesia kedepan. Sebab, indusri halal menawarkan nilai ekonomi yang menjanjikan. Tercatat bahwa nilai ekonomi industri halal pada tahun 2015 menurut Global Islamic Economic Report  mencapai 1,8 triliun dolar AS. Diprediksi kedepan nilai ekonomi industri halal akan dapat meningkat secara signifikan.

Saat ini pemerintah Indonesia untuk menghadapi parsaingan di pasar industri halal telah memulai persiapannya melalui pengembangan di berbagai sektor usaha. Salah satunya dari sektor pariwisata, pemerintah ingin memacu laju pariwisata halal di Indonesia. Pemerintah Indonesia menargetkan pada 2020 kehadiran wisatawan muslim dunia untuk datang ke Indonesia sebanyak 5 juta orang dari total 168 juta wisatawan muslim sedunia. Dengan harapan indeks daya saing kepariwisataan Indonesia pada tahun 2020 di mata dunia dapat mencapai peringkat pertama. Dalam mencapai target tersebut tentu tidaklah mudah bagi Indonesia, jika mengingat trend persaingan bisnis halal semakin ketat di sejumlah negara. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia dalam mencapai targetan tersebut untuk menjadi negara nomor satu dalam pengembangan industri halal.

Tantangan dalam pasar industri halal bagi Indonesia, jika melihat geliat negara-negara di dunia sangatlah besar. Melihat saat ini perkembangan industri halal terbilang cukup pesat di negara-negara mayoritas non-muslim seperti Thailand, Korea Selatan, Rusia, Meksiko, Jepang, dan Spanyol. Selain itu, Indonesia sendiri masih berada di peringkat 10 dalam pasar Industri halal. Indonesia masih kalah dengan Malaysia, Emirat Arab, Bahrain, Saudi Arabia, Pakistan, dan Oman yang secara berurutan menduduki peringkat 5 besar dunia dalam pasar industri halal. Padahal, jika melihat potensi yang ada di Indonesia, Indonesia sangat berpotensi menduduki peringkat pertama dalam pasar industri halal. Mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, dengan jumlah penduduk 85,2 persen atau sebanyak 200 juta jiwa dari total penduduk Indonesia yang mencapai 235 juta jiwa. Angka tersebut setara dengan jumlah muslim di enam negara Islam, yaitu Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, Malaysia dan Turki.

Selanjutnya, tantangan terbesar bagi Indonesia dalam pengembangan Industri halal yaitu minimnya kemampuan dalam menggait minat Muslim melinial dunia untuk menjadi konsumen produk halal di Indonesia. Hal ini terjadi dikarenakan masih minimnya daya tarik yang ditawarkan dari produk halal di dalam negeri. Sebaliknya, Indonesia menjadi rebutan sasaran pasar produk halal bagi negara-negara asing. Tentu ini akan menjadi bumerang bagi Indonesia jika tidak ada langkah cepat untuk menindaklanjuti problem ini. Sebab, masyarakat Indonesia hanya akan menjadi target konsumen di pasar industri halal.

Indonesia juga perlu melihat geliat negara-negara di Asia Tenggara yang sudah mulai membenahi diri untuk ikut berperan aktif dalam pengembangan industri halal. Selain Malaysia, saat ini Filipina dan Thailand sedang serius dalam mengembangkan potensi Industri halal di negaranya masing-masing. Seperti pemerintah Thailand saat ini telah membentuk Majelis Halal Thailand sebagai bentuk usaha serius dari negeri gajah putih untuk memenuhi standar halal internasional. Hal ini juga terlihat dari eksistensi pencapaian negeri gajah putih dalam pasar industri halal. Direktur Chulalongkorn University Halal Science Centre Prof Winai Dahlan menegaskan bahwa, nilai ekspor Thailand dalam industri halal mencapai 57 miliar USD serta Thailand telah menjangkau 57 negara Islam tiap tahunnya dan eksportir produk halal terbesar kelima di dunia.

Melihat geliat negara-negara di dunia terutama negara-negara minoritas muslim dunia dalam pengembangan industri halal, maka Indonesia perlu sedini mungkin untuk menyiapkan diri dalam menghadapi ketatnya persaingan pasar industri halal. Keberadaan Muslim melenial menjadi salah satu peluang besar bagi Indonesia. Terdapat sektor-sektor industri halal di Indonesia seperti food,  finance, travel, kosmetik, pendidikan, fashion, media rekreasi, serta seni dan kebudayaan menjadi potensi besar untuk menggait Muslim milenial dunia. Oleh karena itu, diharapkan Indonesia mampu menjadi trend mode industri halal bagi kaum Muslim dunia terutama kaum Muslim milenial dunia.



Penulis : Mustika Edi Santosa (Pegiat KSEI Filantropi)