Header Ads

test

Antara Jaran Goyang dan Pemilu


“Apa salah dan dosa ku sayang, cinta suci ku kau buang-buang, lihat jurus yang kan ku berikan jaran goyang jaran goyang” itu merupakan cuplikan lirik pada lagu “Jaran Goyang”. Lagu yang dinyayikan oleh artis dangdut koplo asal Jawa Timur yang sedang hits di dunia permusikan Indonesia. Artis yang beken dengan nama Nella Kharisma itu merupakan artis yang mempopulerkan lagu-lagu Jawa, tidak jarang kita temua lirik-lirik yang dibuat dengan melibatkan perasaan sampai kejadian-kejadian real lapangan.
Tidak dapat dipungkiri, selain suaranya merdu dan sedap di untuk didengar telinga, neng Nella mempunyai paras wajah yang cantik, manis, muda, gemesin, pokoknya menawan hati. Video clip lagu jaran goyang saat ini telah sukses membuatnya cukup terkenal dikalangan remaja abad 20, vidio tersebut diputar dan mendapatkan viewer sebanyak 68.847.275 di media Youtube. Bahkan viewer nya terus merangkak naik sampai batas yang tidak diketahui kapan bakal berhenti lantaran Nellalovers yang jumlahnya semakin bertambah.
Saking ngehitsnya dan memang enak didengar sampai-sampai saya sendiri pun tiap hari memutar video clip lagu jaran goyang bisa sampai lima kali. Padahal saya pribadi bukanlah tipikal orang yang hobi mendengarkan musik, lalu bagaimana dengan mereka yang hobi dengan musik, terlebih lagi musik dangdut koplo, bagaimana dengan mereka yang mengaku Nellalovers, boleh jadi dalam keseharianya tidak luput dari dengdang hokya..hokya..hokya..” dan durasi nonton video Nella pasti lebih dari simpatisan koploisme yang sementara. 
Cobalah membayangkan Kalau per-orang menonton sebanyak lima kali saja dan jika yang menonton lewat Youtube sebanyak 13.769.455 orang, maka jumlah penayangannya dapat mencapai 68.847.275 kali, bagaimana jika mereka menonton sepuluh kali, bakal kaya mendadak pihak manajemen neng Nella.
Dari hasil amatan saya terhadap sample kejadian yang telah saya alami dan dalami sendiri. Maka saya sebagai pengamat otodidak menyimpulkan jurus jaran goyang sangat ampuh untuk membuat orang suka, mampu mengubah seratus delapan puluh derajad, yang awalnya sinis menjadi penggemar setia, bahkan dari yang rasis jadi ra-rasis. Itu semua baru sebatas lagu sudah mampu menarik perhatian dan membuat banyak orang dengan sendirinya mendukung neng Nella dalam perlombaanya dengan kakak Via Vallen di The  D’ank ndut coplo of competition...”acara apaan tuh... he he.
Benar atau tidak nya fakta jaran goyang itu bisa anda selidiki sendiri, tapi yang pasti dengan song the “jaran goyang” dengan genre dangdut koplo itu neng Nella mampu mendapatkan penggemar setia yang banyak nya melebihi pendukung vokalis ternama Andika kangen yo ben, atau hampir menyamai artis fenomena macam Awkarin atau repper hip hop young lex, Jiaah Swag, hu huu.
Berbicara dukungan menjadi hal yang sangat krusial, mengingat sebentar lagi pemilukada tinggal menghitung hari, negara yang demokrasi tentu akan melaksanakan pemilihan umum, sebagai inteprestasi pesta demokrasi. Pertanyaannya, sudah sejauh mana persiapan dari negara untuk melaksanakan pesta demokrasi, yang kemudian itu adalah sebuah ajang penentuan pemimpin baru sebuah daerah, kota, sampai negara yang katanya demos kratos dengan asas pancasila. Sudah seberapa jauh kesiapan yang telah dilakukan Paslon. Kok jauh, eh maksudnya sudah berapa banyak dana yang terkumpul dari cukong pilkada, atau berapa jumlah money politic yang akan didistribusikan.
Pemilu atau pilkada, alih alih sebagai pesta demokrasi bagi rakyat, ternyata banyak ditemuai moment yang penuh dengan kepentingan, ajang yang penuh intrik tipu-tipu, dan DDS (diam diam suap) atau saling menjatuhkan satu yang lain. Disadari atau tidak, praktek yang seperti ini sudah bukan menjadi rahasia umum, dan saat ini praktek yang demikian banyak pihak yang mengamininya (baca melakukanya). Seperti gambaran pemilu di negeri ini karena sudah menjadi lazim untuk dilakukan, seperti halnya air yang mengalir dari hulu sampai hilir, dari tingkat pemilihan lurah sampai pemilihan kepala daerah, pasalnya tidak akan luput dari tindakan-tindakan kotor. Benarlah apa yang dikatakan kang Soe Hok Gie “bagiku politik adalah barang yang kotor, lumpur-lumpur yang kotor namun jika tak bisa menghindarinya maka terjunlah”
Terlepas dari itu semua, yang terpenting adalah perlu peran cendekiawan untuk terjun dan menyadarkan, bahwa untuk membersihkan lumpur politik di dalam lubangnya pasti akan sulit, maka generasi post modern jangan malah ikut merapat dalam barisan intelek-intelek yang mendukung dan membentengin paslon-paslon yang culas dan mengamini perbuatan-perbuatan kotor.
Jika saat kita masih menghendaki politik yang tidak sehat, itu sama halnya kita melakukan jurus jaran goyang, yang dalam agama sangat dilarang dan mendapat dosa.  Kemudian pratek pemilu yang harus nya jadi perayaan demokrasi, maka harus dilakukan dengan benar, jika praktek kotor tersebut banyak diamini semua paslon maka itu hanya sampul, dan bagiku pemilu adalah candu jika tak mampu menghantarkan pada perubahan dan kemajuan.
Sementara itu bicara soal kejujuran dalam kancah perpolitikan di negeri itu seperti ungkapan komika berambut kriting dari Medan “SuudaahHH LAH..!” tandas Babe. Secara tersurat uangkapan itu mengandung maksud sudah terlanjur kotor perpolitikan di negeri pertiwi atau secara tersirat maksudnya sudahilah praktek politik yang demikan buruknya itu.
Kalau toh ada dua penafsiran dari ungkapan Babe Cabita tak ubahnya dengan pemahaman yang sudah berkembang dikalangan masyarakat negeri ini. Pihak kanan atau saya menyebutnya kelompok apatis berkata kalau politik di negeri ini tidak akan bisa lepas dari politik kotor. Sebab prilaku KKN sudah menjadi sistem yang begitu komplek dan menyeluruh sejak ranah pedesaan sampai perkotaan bahkan sudah internasional. Kalau politik itu tidak bisa lepas dari tindakan mencurangi dan dicurangi kebanyakan hanya dusta guna mendapatkan keuntungan sendiri.
Sedangkan, pihak kiri atau kelompok optimis beropini dan meyakini bahwa dunia perpolitikan di negeri ini mampu untuk berubah menjadi politik yang bersih dan mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan kelompok, golongan atau pribadi. Mereka terus berkoar-koar tidak lelah mengajak serta menyadarkan lingkungannya baik dalam tulisan, lisan maupun perbuatan.
Dari dua paradigma yang berkembang, saya sebenarnya lebih condong dengan pemikiran pihak kiri sebab akan mendorong pembangunan negara ke arah yang lebih baik dan menyenangkan. Dari pada pemikiran pihak kanan yang menyerah, kalau Wong Jowo ngomong “Maju ajur, Mundur Lebur” seolah tidak ada pilihan. Namun hidup masih terus berjalan dan pasti akan ada masa dimana “Habis Gelap Terbitlah Terang”, ini yang dituliskan dalam sebuah buku karangan R.A Kartni pahlawan Emansipasi Wanita Indonesia.
Kendati demikian, saya tidak bisa menyalahkan pihak kanan pasalnya memang secara realitas, dunia perpolitikan negeri ini berantakan dan carut-marut, diperparah lagi dengan tindakan KKN yang terjadi dimana-mana. Kalau di masyarakat pedesaan untuk pemilihan lurah saja, masing-masing paslon memiliki team sukses yang bertugas membagikan money politic dengan kedok undangan jamuan makan yang pulangnya diberi pesangon berupa amplop atau beberapa bungkus rokok. Dan jeleknya lagi dalam acara tersebut ada pembicaraan yang di sana bertujuan untuk menjelek-jelekan paslon lawan. Seperti ini yang saya ingat “wes to pilih wonge dewe ae, seng cedek seng penak, ketimbang wong liyo”.
Dalam cakupan yang lebih luas atau skala nasional, money politic menjelma menjadi beragam bentuk dan sebutan antara lain serangan fajar, serangan gula, serangan sembako, serangan sapi, lima ratus ribu per KK, dan masih banyak lainya. Perihal inilah yang telah menggurita dan membudaya dalam masyarakat sehingga tidak bisa disalahkan para pihak apatis terhadap bersihnya dunia perpolitikan di negeri ini.
Namun tidak bisa di nafikan, jika ada beberapa orang yang memiliki pandangan berbeda, meyakini bahwasannya dunia perpolitikan di negeri ini akan bersih dari segala tindakan KKN dan sejenisnya. Karena semua orang sah-sah saja dalam berargumen dan memiliki perbedaan pendapat.
Yang terpenting alam pemikiran jangan sampai teracuni, meski lingkungan nya terlampau kotor. Menyambut pemilu yang akan datang kita harus menggunakan pisau analisa syariah, yaitu pertama mana yang banyak membawa maslahah dan kedua mana yang sedikit mudharatnya. Itu yang harus di jadikan pilihan. Berusahalah jadi pencoblos yang bijak dalam perkataan apalagi dalam perbuatan.


Penulis: Elvan Firmansyah