Header Ads

test

Santri Generasi Now


Sebagai seorang musafir yang mencari secuil ilmu di Kota Pendidikan ini, kota Metro, kotanya para pecandu ilmu. saya merasa bertanggung jawab untuk menyumbangkan apa pun yang bisa diberikan kepada Kota Pendidikan ini. Tidak peduli sekecil apa pun, mau pun sebesar apa pun bentuk sumbangsih yang diberikan. Saya merasa ingin sekali  mengobati rasa yang tidak karuan di dalam jiwa, rasa yang begitu menggebu dan membahana dalam jiwa seakan mau meledak. Begitu yang saya rasakan saat ini, maka tulisan ini akan sayas sumbangkan tulisan ini untuk pembaca di Kota pendidikan khususnya dan umumnya seluruh pembaca yang budiman, yang jelita dan menawan yang sedia menyimak tulisan ini.
Kita tahu bersama, bahwa kemarin sampai hari ini, khalayak ramai sedang asyik membincangkan “Hari Santri Nasional” yang jatuh pada tanggal 22 Oktober berdasarkan ketetapan pemerintah melalui Keppres nomor 22 tahun 2015. Di negeri ini, tidak sedikit yang menggelar acara penyambutan hari santri nasional yang sudah tertulis dalam kalender-kalender nasonal yakni pada hari minggu, 22 Oktober 2017.
Pagelaran penyambutan hari santri nasional pun diadakan dan sangat beragam di setiap wilayah mau pun lembaga pendidikan dan instansi lainnya. Ada yang menggelar upacara bendera hari santri, dengan mengenakan pakaian ala santri, ada yang seharian beraktifitas memakai pakaian ala santri, ada juga yang menyambutnya dengan acara khatmil Qur’an, dzikir dan do’a untuk negeri secara bersama-sama. Semuanya, sah-sah saja selama tujuan dan bentuk kegiatan tersebut bersifat positif. Lantas para jurnalis menyabut hari santri lewat narasi juga dihalalkan, sah-sah saja, maka penulis mencoba mengungkapkan buah pikir kepada pembaca.
KH. Ahmad Mustofa Bisri atau lebih familiar dengan panggilan Gus Mus pernah mengatakan santri itu adalah orang Indonesia yang beragama Islam bukan orang Islam yang kebetulan di Indonesia. Dengan ini penulis lebih percaya diri (PD) untuk mengaku sebagai santri dan merasa lega sebab menurut pemahaman yang berkembang di kebanyakan masyarakat sekarang, santri itu ya orang yang mengenyam pendidikan di pondok pesantren atau dengan kata lain orang yang mendalami ilmu agama, nyantri dan belajar kalam Illahi.
Saya adalah santri sebab saya warga negara Indonesia yang beragama Islam. Saya sendiri lebih setuju dengan ungkapan Gus Muh mengenai arti santri. Sebab sebagai umat muslim yang berpedoman hidup dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka merupakan suatu keharusan dan kewajiban untuk mendalami berbagai ilmu termasuk ilmu agama. Pemikiran logisnya seperti ini “untuk memahami agama pastilah memerlukan ilmu dan orang yang beragama Islam kemudian menjalankan syariat Islam. Jadi saya santri, kamu santri dan mereka juga santri ketika beragama Islam dan orang Indonesia.
Begitulah interpretasi kata santri menurut penulis dengan menggunakan dan menghubungkan dengan beberapa pendapat yang sesuai guna menguatkan makna santri menurut penulis. Namun sebenarnya, interpretasi kata santri sendiri dapat saja berbeda ketika sudut pandang yang menjadi subjeknya juga berbeda. Hal demikian bukanlah masalah (problem) yang terpenting bukan apa arti kata santri, namun apa peran santri masa ini, para remaja kekinian menyebutnya era generasi Now.
Penulis mengajak para pembaca untuk sedikit mengulas kembali sejarah 22 Oktober untuk melihat peran santri bagi negeri ini, negeri yang penulis cintai. Selain itu, hal ini merupakan yang fundamental kenapa ditetapkanya hari santri nasional pada tanggal 22 Oktober. Simaklah ulasan singkatnya.
Setelah kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diproklamirkan oleh presiden Soekarno pada 17 Agustus 1945, perjuangan untuk mengamankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terus berlanjut karena belum sepenuhnya aman dari penjajah. Sebab melimpahnya kekayaan yang dimiliki negeri ini, menjadi medan magnet bagi para penjajah yang sudah pergi untuk datang menjajah kembali.
Tepatnya pada tanggal 22 Oktober 1945 pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari mencetuskan resolusi jihat yang berbunyi “Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap individu.” Resolusi ini sukses menyulut semangat arek-arek santri surabaya untuk mengusir tentara sekutu yang di boncengi NICA. Sehingga terjadilah pertempuran antara arek-arek santri Surabaya dan tentara sekutu selama tiga hari (27, 28, 29) Oktober 1945, pertempuran tersebut mengakibatkan tewasnya Jenderal A.W.S Mallaby dan lebih dari 2000 pasukan Inggris. Hal tersebut membuat marah angkatan perang Inggris, selanjutnya banyak terjadi perlawanan-perlawanan bangsa Indonesia terhadap tentara sekutu hingga berujung pada peristiwa 10 November 1945, dan pada tanggal tersebut diperingati sebagai hari Pahlawan.
Kita patut bersyukur atas gagasan brilian yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari untuk  membuat resolusi jihat, kendati ini bukan peristiwa pertempuran besar namun hal ini adalah bentuk perlawanan pertama terhadap tentara sekutu pasca proklamasi kemerdekaan dan kemudian menyulut perlawanan diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk mengusir tentara sekutu yang diboncengi NICA atau bisa dikatakan menseterilkan bumi nusantara dari kekuasaan bangsa lain.
Saya melihat peristiwa tersebut merupakan manifestasi yang nyata atas pentingnya santri dalam menjaga keamanan dan mempertahankan kemerdekaan NKRI. Selain itu, sikapnya yang berani serta kritis dan tegas dalam mengusir tentara sekuta dan NICA yang berniat menguasai NKRI adalah karakteristik santri yang sangat baik (par excellent). Mereka berani berjuang dan mau berkorban bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk terjaganya kemerdekaan NKRI atau dapat dikatakan berjuang demi kepentingan masal.
Bercermin dari peristiwa 22 Oktober 1945 seharusnya semua santri mulai siuman akan peran mereka terhadap negeri ini. Saat ini, para penjajah bermunculan kembali namun dalam jasad yang berbeda dengan ruh yang sama yaitu ingin menguasai NKRI demi tercapai kepentingannya. Berikut ini wujud penjajahan generasi Now diantaranya hegemoni negara adikuasa, penguasaan modal berupa kapitalisme global.
Dampaknya sangat jelas di mata, rakyat yang melarat semakin terpuruk, pasalnya yang kaya berkemampuan dan berkuasa untuk meningkatkan kekayaanya. Walaupun setiap tahun angka kemiskinan dapat ditekan, namun realita berkata lain, sebenarnya kesejahteraan hanya dinikmati oleh minoritas dan kemiskinan menjadi milik mayoritas. Mereka yang berteman baik dengan para penjajah dari luar menjadi kaum borjuis yang ikut menjajah negeri sendiri. Hal ini begitu miris, mereka dengan sadar melacurkan tempat tinggalnya, mengorbankan saudara sebangsa dan setanah airnya guna kepentingannya sendiri. Sebut saja para koruptor, penguasa yang sewenang-wenang, pebisnis yang menghalalkan segala cara dan lain sebagianya.
Penulis teringat sebuah ucapan dari seorang penulis yang bijak, namanya Rahmatull Umah, begini beliau menuturkan “Apakah adil anak yang baru belajar karate kemudian ditandingkan dengan anak yang sudah mahir karate, inilah perumpamaan rakyat Indonesia, mereka para pedagang kecil dibiarkan bersaing dengan para pedagang bermodal besar di pasar”. Intinya jika kita sedikit lebih peka dan mau berfikir tentang orang lain, ternyata di negeri ini banyak kesewenangan yang menindas nasib orang lain, atau kita juga termasuk pelakunya?. Jawab saja sendiri, penulis pergi membuang pena dan meneriakan pendapatnya sebagai berikut.
Wahai para santri di Bumi Pertiwi, dulu kau begitu humanis, kritis dan peduli akan permasalahan-permasalahan negeri. Melalui peringatan Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober 2017 ini, menjadi refleksi untuk menyulut semangat resolusi jihat dalam rangka memerdekaan NKRI dari penindasan dan kesewenangan para penjajah dalam negeri maupun dari luar negeri. Era sudah berubah, namun penjajah ya tetap penjajah, perlawanan sangat dibutuhkan dengan bentuk dan cara yang lebih kreatif dan inovatif, bukan menggunakan pedang dan peluru. Generasi now lebih membutuhkan perlawanan secara intelektualitas maka jangan batasi ilmu yang kau pelajari. Saya mengucapkan Selamat Hari Santri Nasional jadilah Santriwan dan Santriwati yang par excellent.



Elvan Firmansyah (Relawan metrouniv.ac.id)