Header Ads

test

Syakira Mungil



Di suatu desa kecil, rumah yang cukup sederhana tinggalah di sana pasangan kasih bahagia, yaitu Ayah dan Ibu ku.
Kebahagiaan mereka bertambah ketika menyaksikan akan menyaksikan kehadiran sang buah hati ditengah-tengahnya, itulah aku, Syakira kecil. Semua sanak saudara pun merasakan hal yang sama, ikut bahagia karena kehadiran buah hati Ayah dan Ibu, namun tidak dapat dipungkiri kebahagian itu hanya berlangsung 9 bulan saja. Tepatnya selama aku menendang-nendang di dalam kandungan ibu, dan saat detik-detik ibu melahirkan ku, ternyata ayah serta keluarga harus merelakan salah satu di antara kami untuk menutup mata lebih awal, ada sesuatu hal yang tidak bisa dijelaskan, dengan lapang hati dan sayangnya kepada ku, ibu memilih memberi kesempatan padaku untuk dapat melihat cahaya dan menutup matanya lebih cepat.
Ibu memilih untuk menutup matanya untuk meninggalkan dunia ini dan aku. Dan ibu hanya memiliki waktu 2-3 hari untuk memberi kasihnya padaku, itu vonis dokter pada ibu, pada saat melakukan pertemuan dengan keluarga. Tapi ibu tetap memilih untuk menyelamatkan hidup ku (Syakira), walaupun keluarga meyakinkan ibu untuk tetap menyelamatkan nyawa nya, namun kasihnya memilih untuk tetap akan menyelamatkan aku. Ibuku sayang kasihmu tiada terganti.
Setelah sembilan bulan berlalu begitu cepat, tiba saatnya ibu memperlihatkan dunia pada ku, tepatnya pada tanggal 15 juni 1999, aku, buah hatinya, pun hadir di tengah-tengah kasih keluarga kecil yang amat bahagia, semua merasa sumringah atas kehadiran ku, buah hatinya yang mungil.
Singkatnya, setelah semua urusan rumah sakit selesai, Ibu, Ayah, aku, serta keluarga pun pulang ke rumah yang cukup nyaman dan penuh dengan keindahan alam. Hari-hari pun dilewati bersama dengan hadirnya aku ditengah-tengah Ibu dan Ayah, yang mereka panggil dengan nama Syakira.
3 hari setelah kelahiran ku, dimana aku yang baru bisa hanya melihat dibenturkan dengan peristiwa yang begitu mengiris hati terjadi, saat melihat Ibu mulai tergeletak lemah, sakit yang amat sakit, pada saat itu, semua orang tidak sedang ada di rumah, hanya Ibu dan Syakira mungillah yang ada, hingga akhirnya tetangga yang bernama setelah buk Fadil datang dengan tujuan silaturahmi, beliau ku ketahui setelah umurku menginjak dewasa, ditemuinya Ibu Syakira sudah terbaring di lantai, lalu di bawalah Ibu Syakira ke kamar dan Ibu pun tersadar dan tak dapat berbicara seperti orang bisu, tapi ibu Fadil mengerti yang dimaksud Ibu Syakira, yang berisi“tolong panggilkan adek dan ibuku”.
Aku yang kala itu tidak tahu menahu harus berbuat apa karena yang kutahu hanyalah rasa sakit yang dialami Ibu, dengan polosnya aku hanya berkedip menikmati cahaya dan keindahan dunia. Setelah menerima permintaan Ibu, Ibu Fadil langsung menuju tempat kerja adek dan Ibunya yang bernama Ernani dan Ibu Farida di atas bukit. Lalu Ibu Fadil mengiringi mereka untuk pulang.
Sesampainya semua di rumah dan terlihat air matanya yang terlinang dan meneteslah membasahi pipi mereka. Ibu yang terbaring di kasur merintih dan memegang tangan adeknya (Ernani) yang baru saja datang. Bibi Ernani merasa bingung harus bagaimana, lalu ia ingin mencari obat tapi tidak dibolehkan oleh Ibu, dan bulek Ernani pun bertanya ada apa dengan mu?” Ibu dengan isyarat menunjukkan jarinya ke arah Syakira yang sedang memakan jari. Lalu dibawa lah Syakira kepelukan Ibu dan pelukan itu dilepas dan Syakira diberikan kepelukan bulek yaitu Ernani, tak lama itu ibu pun menghembuskan nafas terakhir diiringi tangisan Syakira mungil. Lalu barulah bibi Ernani mengerti maksud dari perkataan tadi yaitu menitipkan Syakira mungil kepada adek nya (Ernani).
Rumah Syakira itu pun dipenuhi isak tangis yang sangat-sangat terharu, sampai di depan pemakaman terlihatlah ibu telah di makam kan dan Ibu Farida pun langsung pingsan di depan makam Ibu Syakira, semua orang di pemakaman membawa Ibu Farida kembali ke rumah, yang dalam keadaan pingsan. Ayah Syakira pun sangat terpukul kehilangan sosok istri yang sangat sholeha, hingga akhir nya Ayah memutuskan pergi ke Jakarta mencari uang untuk yasinan di hari ketiga. Syakira pun tinggal bersama bibi Ernani dan nenek Farida.
Setelah sampai dihari ketiga Ayah pun menelpon bibi Ernani aku udah di jalan sedang bawa makanan untuk nanti malam”. Belum sempat bibi Ernani menjawab terdengar suara benda tertubruk. Bibi Ernani memanggil-manggil ayah Syakira, dan bibi pun menangis setelah mengetahui Ayah meninggal dunia dikarenakan bertabrakan dengan truk besar.
Belum lama isak tangis ketika Ibu Syakira tiada, sekarang isak tangis itu terulang kembali atas kepergian Ayah Syakira. Kini Syakira sudah tak ada Ayah dan Ibu dan nenek pun berkata kepada bibi Ernani”kasihan nasib Syakira mungil kini tak ada ayah dan ibu”. Itulah sebagian kenangan yang Syakira dapatkan dari bibi Ernani yang sudah Syakira anggep sebagai Ibu.

***
7 tahun kemudian, tumbuh lah Syakira yang dulu mungil menjadi gadis yang cantik jelita. Sekarang Syakira pun mulai memasuki masa-masa SD nya. Tapi di sekolah yang Syakira sekolahi adalah tempat-tempat nya anak-anak orang yang dikategorikan kaya. Di sekolahan itu hanya Syakira yang tergolong anak kurang mampu, hingga akhirnya Syakira yang dulu selalu jadi bahan ejekan anak-anak lainnya, membicarakan bahwa Syakira orang miskin, tak punya Ayah Ibu dan sebagainya yang membuat Syakira tak merasa percaya diri. Syakira selalu dipenuhi ejek-ejekan di masa SD selama 7 tahun lamanya, tapi Syakira tak pernah perdulikan cemoohan-cemoohan anak-anak yang membuat nya menangis, Syakira hanya bertekad “syakira bisa lebih hebat dari kalian-kalian”.
Hingga sampailah saat ujian Nasional yang amat menentukan kelulusan, Syakira pun mengikuti ujian nasional yang disemangati oleh nenek, bibi, guru-guru, serta teman sebangkunya yang selalu memberikan motivasi dan membantu Syakira apabila ada kesusahan. Teman Syakira pun telah menganggap Syakira sahabatnya, jadi semenjak ujian itu Syakira dan teman sebangkunya itu, si Alda mereka bersahabat hingga saat ini.
Tak lama kemudian keluar lah surat kelulusan, Syakira dan Alda melihat ke mading ternyata mereka lulus dan Syakira menduduki peringkat pertama dan Alda kedua. Betapa bahagianya Syakira dan Alda, kami pun bergegas pulang dan ingin memberitahu keluarga tentang kabar baik ini, kami tak memperdulikan pandangan teman-temannya yang heran mengapa Syakira dan Alda bisa dapat peringkat pertama dan kedua.
Sesampainya Syakira di rumah, Syakira langsung menuju ruang keluarga, ternyata semua sedang kumpul di ruang keluarga, tak lama-lama Syakira langsung memberitahu kabar bahagia bahwa Syakira lulus dengan peringkat pertama. Semua yang berada di ruang keluarga pun tersenyum bahagia dengan berita yang dibawakan Syakira, dalam batin ku “akhirnya aku bisa membalas kepercayaan mereka dengan prestasiku, terimakasi nenek, terimakasih bibi, kalian keluarga ku”. Nenek lalu berkata “ternyata cucu nenek ini pintar, tak pernah menyerah dengan keadaan yang membuat mu menangis, nenek kagum akan keberhasilan mu, jika Ayah dan Ibu mu ada pasti mereka bangga punya anak seprti mu”. Syakira pun tersenyum.
Syakira pun menjawab “ya donk siapa dulu Syakira si imuetz hehe, ya aku akan banggain ayah dan ibu dengan cara jadi anak yg sholeh dan imuetz hehe”. Semua tersenyum bahagia karena kata kata Syakira yang membuat suasana yang sedih karena teringat ayah dan ibu menjadi suasana yang bahagia kembali.

***
3 bulan setelah kelulusan. Syakira yang mempunyai hobi belajar Matematika dan membaca artikel tentang gizi, yang bercita-cita menjadi dosen Matematika dan menjadi ahli gizi, dimasukkan paman ke pondok Salaf di Karya Tani, Labuhan Maringgai. Bersama adek-adek sepupu Syakira. Syakira merasa nyaman akan keadaan di pondok tapi kebahagiaan itu tak bertahan lama, adek sepupu Syakira merasa iri karena ayah mereka lebih memperhatikan Syakira, sepupu Syakira itu pun seperti tak menyukai kehadiran Syakira, mulai itulah Syakira merasa bersalah, sedih tapi saat itu Syakira lagi-lagi mendapat semangat dari teman-teman di pondok.
Di pondok pun Syakira dekat dengan anak pemilik pondok hingga suatu hari Syakira dan sepupu-sepupunya membantu memasak untuk makan siang pada saat itu juga terjadi pertengkaran antara Syakira dengan sepupu nya yang berkata “mati aja kamu sama orang tua kamu,gak usah ganggu kami”. Hati Syakira mendadak tersesak dan air mata pun tak dapat ditahan oleh nya, Syakira berlari masuk ke asrama dan menangis. Pada saat itu juga Syakira minta ijin untuk pulang karena tak tahan atas perlakuan sepupu-sepupunya yang menyakitkan hatinya, dan nenek serta bibi pun mengetahui penderitaan Syakira di pondok, hingga akhirnya pada saat liburan Syakira pulang tak kembali ke pondok itu lagi.
Syakira melanjutkan sekolah di SMPN, di sekolah itu semua guru menyayangi Syakira dan ingin mengangkat Syakira menjadi anak, tapi nenek dan bibi tak pernah membolehkan karena nenek dan bibi tak ingin mengingkari amanat yang diberikan oleh ibu Syakira yaitu menitip kan Syakira. Pada suatu siang bibi yang berasal Metro datang untuk memberitahu agar Syakira dipondokkan di Metro dan nenek serta bibi pun menyetujui agar Syakira dipondokkan. Di saat perpisahan kelas 3 di SMP guru-guru pun mengadakan perpisahan untuk Syakira, Syakira pun merasa senang karena teman-teman pun mengadakan nya bersama guru-guru.
Setelah perpisahan, Syakira mengambil surat pindah dan segera bergegas pamitan untuk pergi ke Metro untuk pindahan sekolah. Sesampainya di Metro, Syakira mendaftar sekolah, lalu Syakira bermalam di pondok sedangkan bibi Ernani yang mengurusi segala sesuatu untuk pindah nya Syakira ke pondok pesantren Tuma’ninah Yasin pulang tidak menunggu Syakira karena banyak kerjaan bibi di rumah. Lalu Syakira merasa takut karena tidak ada orang yang Syakira kenal.
Keesokan harinya hasil interview keluar dan Syakira dinyatakan diterima. Syakira pun sekolah di pondok dengan semangat, banyak teman dan adek sepupu Syakira yang ada di pondok yang sama pun tau Syakira mondok di Metro, salah satu sepupu Syakira pindah ke Metro bersama Syakira. Syakira pun menyambut sepupunya dengan baik tidak ada rasa benci atas perbuatan yang telah sepupunya lakukan kepada Syakira dulu, Syakira tetap baik tapi sepupunya baik saat awal datang saja, seterusnya kelakuan buruk sepupu Syakira pun selalu berulang untuk menyakiti hati.
Akibat omongan yang tidak benar, teman-teman Syakira menjauhi Syakira. Syakira pun menangis karena perlakuan itu semua, Syakira tetap bertahan sampai akhirnya Sakira lulus dari kelas 3 SMP.

To be continue...

Anes (dalam cerita ini adalah Syakira) (Ponpes Tuma'ninah Yasin)