Header Ads

test

Sang Idealis Yang Ditunggangi Culture Feodalisme


Hari ini begitu sepi dari prilaku-prilaku idealis khususnya di lingkungan kampus, yaitu rumah bagi sang Idealisme. Kejadian ini semakin mencuat kepermukaan dan menjadi begitu lugas pasca orde lama, orde baru, dan reformasi. Kendati demikian tidak ada yang peduli dengan nasib Sang Idealisme di zaman sekarang. Para peneliti dan penulis kontemporer menyebutnya sebagai zaman generasi milineal. Bahkan ada, yang menyatakan sekarang sudah memasuki zaman generasi Z.
Hal ini semakin miris ketika banyak kaum terdidik yang kehilangan keidealismenya atau dapat dianatomikan “sang harimau yang kehilangan kuku dan taringnya”. Lantas pemikiran logis dari anatomi tersebut, “untuk apa sang harimau itu hidup bila tidak mampu berbuat apa-apa”. Pelan namun pasti, sang harimau akan mati tanpa meninggalkan kuku dan taring namun yang diwariskan adalah belang nya. Belang harimau merupakan kulit yang diambil dari harimau yang sudah mati kemudian diawetkan dan dijadikan dompet, tas, jaket, selimut atau barang-barang lainya yang memiliki nilai ekonomis. Terlepas dari semua ketidakberdayaan sang harimau dalam kehidupan setidaknya masih ada yang bermanfaat dari sang harimau yaitu belangnya. Dalam kasus sang harimau setidaknya masih ada yang dapat dimanfaatkan walaupun cuman kulitnya. Akan tetapi bagi Sang Idealisme yang telah kehilangan sikap idealisnya maka yang tersisa adalah prilaku dan rekam jejak yang fana.
Teknologi yang semakin maju dan canggih telah menggerus batas-batas ruang serta waktu. Menciptakan setiap informasi serta liteasi yang lengkap dengan mudah dapat dikonsumsi oleh siapa pun, dimana pun, dan kapan pun. Faktor ini seharusnya mampu meningkatkan keilmuan serta kesadaran kaum terdidik atas suatu sikap dan paham idealisme. Namun, realita berkata lain faktor demikian malah menjadi pemicu akan semakin terpuruknya sikap dan paham idealisme dikalangan kaum terdidik. Sebutan kaum terdidik masa kini sangat beragam  diantaranya, agen perubahan (agent of change), Sang Pelopor, Cadangan Keras (iron stock), dan mahasiswa.
Mengacu pada judul di atas, timbulah sebuah pertanyaan bagaimana hubungan antara idealisme dan feodalisme serta apa pengaruhnya bagi kaum terdidik seperti mahasiswa. Terlebih dahulu penulis akan mencoba menjelaskan secara singkat mengenai paham idealisme dan prilaku feodalisme. Kemudian hubungannya di zaman sekarang dalam ruang lingkup pendidikan khususnya wilayah kampus. Hal ini dirasa menjadi penting (urgent) sebab semakin kesini semakin pudar idealisme dikalangan kaum terdidik. Sehingga penulis merasa perlu untuk mengkritisi mahasiswa yang kehilangan keidealismenya dan melalaikan tugas mereka dalam trilogi peranan mahasiswa.
Idealisme merupakan paham dalam aliran filsafat yang menganggap kebenaran tertingi adalah cita-cita atau ide. Plato sendiri mengatakan dalam filsafatnya bahwa “Kebaikan merupakan hakikat tertinggi dalam mencari kebenaran. Tugas ide adalah memimpin budi manusia dalam menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja yang telah mengetahui ide, manusia akan mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakannya sebagai alat untuk mengukur, mengklarifikasikan dan menilai segala sesuatu yang dialami sehari-hari. Dengan kata lain idealisme adalah nilai murni kebenaran yang dipegang teguh oleh setiap individu sebagai prinsip kehidupan. Seorang idealis akan terus hidup dengan keyakinan yang dimilikinya.
Berbicara tentang arti feodalisme berarti membahas suatu sistem sosial yang mulai berkembang sejak abad ke-17 di Eropa. Namun perkembangannya paham tersebut di Indonesia terjadi pada zaman kerajaan-kerajaan Hindu. Sejarah mengatakan bahwa Hinduisme lebih dominan dan menjadi yang pertama berkembang di Indonesia sebelum masuknya Islam dan Kolonialisme. Paham ini mencipatakan kelas-kelas dalam sistem sosial seperti kelas bangsawan dan kelas bawahan.
Kelas bangsawan adalah mereka yang tergolong keluarga raja, seorang yang memiliki kekuasaan atau berpengaruh besar dalam menentukan kebijakan pada daerah kekuasaan nya. Sedangkan kelas bawahan adalah para prajurit serta rakyat yang berdomisili di daerah kekuasaan sebuah kerajaan. Berdasarkan pembagian manusia menjadi kelas-kelas tersebut berdampak pada mereka yang berada pada kelas bangsawan bebas melakukan apa saja termasuk menindas mereka yang berada di kelas bawahan. Meskipun peristiwa tersebut sudah terjadi berabad-abad di masa lalu. Namun, pengaruhnya masih dapat dirasakan di zaman sekarang walapun dalam bentuk yang lain.
Feodalisme yang berkembang di zaman sekarang telah menjelma menjadi kelas elite yaitu penguasa dan kelas non elite yakni yang dikuasai. Prilaku feodalisme menurut Euis Sundani dalam tulisanya pada tahun 2014 “Telah berkembang dalam pemerintahan dan telah menjadi budaya bangsa Indonesia dalam kehidupan.” Singkatnya feodalisme adalah sikap seseorang yang ingin dipandang lebih, dihormati lebih dari yang lain, merasa dirinya lebih tinggi dari pada orang lain dan kuasa untuk menentukan segalanya termasuk apa yang harus dikerjakan oleh orang lain.
Hubungan antara idealisme dan feodalisme dalam lingkungan kampus terlihat sangat lugas khususnya hubungan antara mahasiswa dan dosen. Saat ini, hubungan tersebut begitu dilematis ketika mahasiswa yang diajarkan oleh dosen untuk mampu berfikir kritis dalam melihat suatu permasalahan serta bertindak tegas dalam setiap perbuatan. Kini mereka harus tunduk dan patuh kepada dosen yang memiliki kewenangan dalam menentukan nilai indeks prestasi (IP) dari setiap mahasiswa. Selain itu, bagi mahasiswa yang sudah menempuh semester akhir lebih memilih untuk mengikhlaskan idealismenya guna ditukar dengan kemudahan-kemudahan dalam menyusun tugas akhir ataupun skripsi. Hal demikian disadari atau tidak disadari sudah terjadi disekitar kita, jika dibiarkan terus-menerus maka akan semakin parah dan menjadi momok bagi kaum terdidik.
Mahasiswa yang terkenal memiliki pemikiran kritis, serta tindakan yang tegas merupakan bentuk sikap yang harusnya dilakukan oleh sang idealisme di lingkungan kampus. Namun, jika mahasiswa dibatasi atau bahkan dilarang untuk bersikap idealis berarti mahasiswa telah dipaksa lalai terhadap trilogi peranan mahasiswa oleh prilaku feodalisme. Trilogi peranan mahasiwa merupakan tiga peran utama mahasiswa dalam kehidupanya. Yang pertama, yaitu peran sebagai benteng moral dalam menciptakan perbaikan akhlak. Kemudian yang kedua, agen perubahan dalam menciptakan kemajuan bangsa ini melalui sikap-sikap kritis serta solutif. Selanjutnya yang ketiga, yaitu peran intelektual sehingga mahasiswa meupakan cadangan keras dalam sebuah bangsa untuk tetap eksis serta terus berkembang menjadi bangsa yang maju dan berkesinambungan.
Mahasiswa yang sudah kehilangan idealismenya, akan menjadi buta dan tuli terhadap setiap kebenaran yang lahir dalam fikiran atau pun nuraninya. Sehingga mereka hanya berfikir prakmatis dan melakukan perbuatan tanpa sadar yang dilakukan adalah perbuatan benar ataupun salah. Bagi mereka yang terpenting adalah mendapatkan hati atau empati yang baik dari dosen nya. Tidak peduli hal yang dilakukan benar atau salah.
Sebagai mahasiswa memang harus menghormati serta patuh terhadap dosen. Karena dosen merupakan seorang yang berjasa bagi cikal bakal ilmu yang dimilikinya. Namun jika sikap penghormatan dan kepatuhan itu berlebihan. Maka hal ini menjadi tidak tepat, sebab akan melahirkan prilaku mahasiswa yang menghamba kepada dosennya. Jika sudah seperti ini maka mahasiswa tidak akan mampu menyadari apa yang diterimanya adalah bentuk pendidikan atau penindasan. Karena sejatinya dalam proses belajar dan mengajar semuanya memiliki hak serta kewajiban sesuai dengan tugas masing-masing dan sudah diatur dalam undang-undang.
Pada akhirnya penulis tidak menyalahkan salah satu pihak baik mahasiswa masa kini atau dosen-dosennya. Penulis hanya mengajak kepada para pembaca untuk merenungi kembali bahwa peran mahasiswa sangat besar di masa orde lama, orde baru sampai reformasi bagi bangsa Indonesia. Terlebih lagi, kecanggihan teknolgi yang memberikan kemudahan setiap informasi dapat di akses oleh siapa pun, kapan pun dan dimana pun menjadikan mahasiswa dan dosen memiliki kedudukan yang sama (egaliter) dalam semangat untuk terus belajar.
Bagi setiap mahasiwa dan dosen seharusnya mampu bersinergi dalam menciptakan pembangunan yang berkesinambungan, perubahan di masa depan yang lebih baik dan pemberdayaan sumber daya manusia. Seperti mengajak mahasiswa untuk berpartisipasi secara langsung dalam pemberdayaan warga. Salah satunya yaitu pemberdayaan warga untuk menghidupkan wisata lokal guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Komunitas “Ayokedamraman” menjadi salah satu contoh yang tepat untuk dijadikan percontohan.

Elvan Firmansyah (relawan metrouniv.ac.id)