Header Ads

test

Wakaf Uang: Sebuah Gerakan Progresif


Kemiskinan sudah menjadi permasalahan klasik di berbagai Negara, terkhusus di Indonesia. Di Indonesia, pemerintah memang sudah melakukan upaya-upaya untuk mengurangi jumlah angka kemiskinan. Namun, sampai saat ini, upaya-upaya yang sudah dilakukan pemerintah, belum memberikan sebuah perubahan yang signifikan.
Terdapat beberapa faktor utama, mengapa kemiskinan di sebuah Negara itu bisa terjadi. Diantaranya yaitu faktor alamiyah (karena keadaan yang tidak mendukung), atau bisa juga karena tindakan pembangunan yang kurang merata, sehingga hasil dari sebuah pembangunan pun kurang bisa dirasakan secara merata oleh masyarakat.
Sampai dengan tahun 1996, Indonesia tampak progresif. Hal itu dapat ditandai dengan adanya penurunan tingkat kemiskinan di Negara ini. Namun, semenjak sekitar pertengahan tahun 1997, Indonesia kembali mengalami kemerosotan ekonomi, sehingga sangat berdampak buruk bagi perekonomian Negara dan pastinya jumlah angka kemiskinan yang sebelumnya menurun, kembali meningkat.
Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan masalah kemiskinan. Upaya yang dilakukan diantaranya mengeluarkan kebijakan Inpres Desa Tertinggal (IDT), Jaring Pengaman Sosial (JPS), PNPM Mandiri, serta masih banyak lagi yang lainnya.
Berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, dirasa masih belum bisa mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia secara maksimal. pernyataan ini sesuai dengan hasil evaluasi pelaksanan program pengentasan kemiskinan tahun 2000. Dalam evaluasi tersebut, didapati bahwa program yang tepat sasaran hanyalah 30,52%, 41,81% tidak tepat sasaran sedangkan 27,67% tidak diketahui.
Berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa, upaya untuk pengentasan kemiskinan oleh pemerintah yang dilakukan selama ini belum secara maksimal dapat dirasakan. Oleh karena itu, perlu ada usaha lain, diluar kebijakan pemerintah, untuk dapat menangani masalah ini secara bersama-sama.
Sebagai makhluk sosial, maka perlu kita sadari, dalam program pengentasan kemiskinan, bidang ekonomi bukanlah orientasi utama dan bukan satu-satunya. Di samping itu ada hal yang lebih penting, yaitu dalam bidang sosialnya. Dengan melakukan upaya pengentasan kemiskinan, berarti kita telah perduli terhadap sesama, dan menandakan bahwa jiwa sosial kita sudah baik.
Sebagai masyarakat, sudah saatnya kita berfikir progres untuk mengatasi masalah tersebut. Setelah kita tahu, bahwa ternyata upaya yang telah dilakukan pemerintah belum mampu mengatasi masalah kemiskinan secara maksimal, maka tidak sepantasnya kita hanya berdiam saja. Namun, kita sebagai masyarakat yang progresif harus melakukan juga upaya-upaya yang dapat membantu menyelesaikan masalah ini. Walaupun belum sampai ke tarap eliminasi, paling tidak kita sudah meminimalkan.
Tentang Wakaf
Dalam agama Islam, dikenal istilah wakaf. Wakaf itu adalah menahan. Artinya, setiap benda yang sudah diwakafkan, itu keberadaannya harus dijaga Dan tahbisul ashli (Jangan sampai dijual, dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi, dihibahkan atau diwariskan), serta harus dijaga kelestariannya.
untuk pemanfaatan benda wakaf, itu disesuaikan dengan kehendak wakif, tanpa wakif memperoleh imbalan. Jadi, seorang nazhir tidak semaunya mempergunakan harta wakaf, melainkan harus ada kordinasi yang jelas antara wakif dan nazhir.
Umumnya, jika kita berbicara soal wakaf, Mungkin yang terbayang difikiran kebanyakan masyarakat adalah sesuatu barang yang diwakafkan berupa tanah, gedung atau bangunan. Yang nantinya bisa dibuat untuk mengakomodir kegiatan ibadah seperti masjid, untuk kepentingan kesehatan atau pendidikan.
Mungkin saja, yang terbayang difikiran masyarakat, untuk menjadi seorang wakif, paling tidak harus punya tanah yang memadai untuk diwakafkan, atau memiliki uang yang banyak untuk membeli gedung dan bangunan untuk diwakafkan. Sehingganya, dengan pemikiran seperti itu, harta wakaf di Indonesia akan sulit bertambah, lantaran banyak yang berfikiran bahwa dirinya belum mampu untuk menjadi seorang wakif.
Tujuan wakaf dalam agama Islam, tidak lain adalah untuk memenuhi kebutuhan bersama atau untuk kepentingan umum. Terdapat unsur sosial yang sangat melekat dalam kegiatan wakaf. Karena, setiap benda atau harta yang diwakafkan dapat mengakomodir berbagai keperluan seperti tempat kesehatan, tempat ibadah, pendidikan dan lain-lain, yang nantinya itu juga untuk kepentingan masyarakat luas.
Wakaf seharusnya menjadi sebuah instrument penting dalam pemberdayaan masyarakat. Sebagaimana yang terekam dalam sejarah berdirinya Islam, wakaf lah yang memberi kontribusi besar dalam mengembangkan kegiatan sosial, ekonomi, pendidikan serta kebudayaan.
Di zaman sekarang ini, akan jauh lebih baik, jika wakaf itu dapat berupa harta yang cepat produktif, serta dikelola secara produktif. Bukan hanya terbatas benda mati seperti bangunan dan tanah, atau benda bergerak seperti mobil saja.
Wakaf Uang Untuk Kemaslahatan Umat
Wakaf uang, mungkin belum terlalu familiar dipendengaran kebanyakan masyarakat. Namun, dengan adanya wakaf uang, penulis rasa akan membantu mengurangi masalah kemiskinan di Indonesia. Serta dapat membukakan pintu kesempatan, untuk masyarakat yang bukan dari golongan konglomerat yang ingin menjadi wakif dan masuk surga.
Uang adalah harta benda yang sangat cepat produktif. Jika dibandingkan dengan harta wakaf yang lain, maka uang jauh lebih mudah dan cepat untuk dikembangkan guna kepentingan umum. Untuk itu, saat ini ada yang namanya wakaf uang, dimana harta yang diwakafkan berupa uang, untuk kemudian dikelola secara produktif.
Wakaf uang beda halnya dengan wakaf dengan uang. jika wakaf uang, seorang wakif menyerahkan uang untuk diwakafkan kepada nazhir, kemudian, uang tersebut dikelola secara produktif (diinvestasikan) agar mendapatkan laba atau keuntungan.
Dari keuntungan tersebutlah, yang dipergunakan untuk kepentingan umum. Seperti untuk membangun sarana ibadah, sarana kesehatan atau pendidikan. Namun, pokok dari harta wakaf berupa uang tersebut tetap utuh. Karena yang diperdayakan adalah keuntungan dari uang yang telah diwakafkan.
Jika wakaf dengan uang, maka uang yang wakif berikan kepada nazhir, langsung dibelikan benda-benda seperti mobil (untuk ambulance), tanah, gedung. Tidak dikelola secara produktif terlebih dahulu. Jadi, tidak ada laba, karena pokok dari uang tersebut langsung dibelanjakan dan habis.
Dengan wakaf uang, kita tidak perlu menjadi seorang yang lebar tanahnya atau orang kaya untuk menjadi wakif. Namun, masyarakat biasa seperti kita ini bisa menjadi wakif. Karena wakaf uang dapat dikelola secara komulatif (kumpulan dari beberapa wakif).
Kita bisa saja berwakaf uang sebesar Rp. 5000. Bayangkan, hanya dengan Rp. 5000 kita bisa menjadi wakif, dan pahalanya akan terus mengalir sampai kita wafat. Dengan semakin mudahnya kita untuk berwakaf, diharapkan semakin banyak wakif dan semakin banyak terkumpul uang wakaf, sehingga akan membantu banyak umat.
Indonesia memiliki potensi besar untuk dilakukan wakaf uang, karena jumlah muslim di Indonesia sendiri memang sangat banyak. Berdasarkan data yang penulis dapat dari Mustafa Edwin Nasution (Ketua Tim Ad Hoc Persiapan Badan Wakaf Indonesia) sebagai berikut :
Tingkat Penghasilan/Bulan
Jumlah Muslim
Besar Wakaf/Bulan
Potensi Wakaf Uang/ Bulan
Potensi Wakaf Uang/Tahun
Rp 500.000
4 juta
Rp 5.000,-
Rp 20 milyar
Rp 240 milyar
Rp 1 juta - 2 juta
3 juta
Rp 10.000,-
Rp 30 milyar
Rp 360 milyar
Rp 2 juta – 5 juta
2 juta
Rp 50.000,-
Rp 100 milyar
Rp 1,2 triliun
≥ Rp 5 juta
1 juta
Rp 100.000,-
Rp 100 milyar
Rp 1,2 triliun
Total
Rp 3 triliun
   Sumber : Mustafa Edwin Nasution (2006).
Jika wakaf uang dikelola secara intensif, maka akan ada sekitar 3 triliyun rupiah dana yang khusus digunakan untuk pemberdayaan umat di Indonesia. Jika dapat berjalan secara terus-menerus dari tahun ke tahun, maka penulis rasa, kemiskina akan semakin menurun, bukan hanya meminimalkan, bahkan juga sampai ketahap mengeliminir kemiskinan. Yang tentunya atas izin Allah SWT. Wakafkan uangmu dan raih pahalamu.


Penulis : Wahyu Eko Prasetiyo ( pegiat Jurai Siwo Corner)