Header Ads

test

Kasih Sepanjang Jalan


Hari itu terjadi pertengkaran hebat antara aku dan ibuku, aku marah amat sekali marah, hingga aku tak tau setan apa yang telah merasuki tubuhku sehingga aku sangat tega berkata kasar kepada wanita yang telah mengandungku 9 (sembilan) bulan lama nya, menyusui ku, mengalirkan darahnya kepadaku. Saat hari itu juga tak sepatah katapun ku ucap untuk menyapa nya, walau hanya segaris senyum kepadanya. Durhaka sekali aku! Hari demi hari berlalu sampai-sampai aku bosan, dan berfikir bahwa tak ada lagi yang menyayangiku, bahkan mengasihiku, aku berfikir apakah aku ini tak layak menjadi seorang putri kebanggan keluarga ku?

Hingga suatu hari...

Tak pernah terbesit dalam benak ku untuk meninggalkan identitasku sebagai seorang putri rumah ini, namun aku hancur, aku merasa Allah tak adil padaku. Hingga ku putuskan untuk pergi dari rumah, bermodalkan uang Rp. 25.000-, Aku yang tak tau mau kemana terus melangkahkan kaki, tanpa tujuan tanpa harapan. Yang ku fikirkan "Haruskah aku kembali? atau melanjutkan perjalanan ini, dengan konsekuensi aku tak akan peenah lagi melihat kedua orangtua ku? atau juatru jika aku kembali keadaan akan berubah? atau bahkan tetap sama?" Namun tidak! aku tidak boleh kembali.
Hingga suatu ketika, Ibu ku mengirimi ku pesan singkat untuk menanyakan keberadaan ku. "Ya Allah durhaka sekali aku ini, tak mampu ku membalas, hanya ku baca saja"

Hingga larut malam, kaki ini terus melangkah, tak peduli seperti apa gelap malam kota ini, se keras apa hidup ini, yang jelas aku tak ingin kembali. Tak jarang lelaki-lelaki nakal itu mengganggu ku, bahkan membawa ku masuk kedalam mobil yang berisi tak satupun wanita kecuali aku. "Allahu akbar!" dalam hati aku terus menyebut nama penciptaku, dalam hati aku terus berdzikir ber-munajat Kepada-Nya. Semua ku serahkan  Pada-Mu jika memamg ini hari terakhirku, maka pertemukanlah terlebih dahulu aku kepada kedua orangtua ku, untuk ku ucap maaf kepada mereka.

Namun Allah tetap melindungiku, turunlah aku dari mobil ini, dan meneruskan berjalan. Tetap tanpa arah tujuan yang pasti, Tiba-tiba dibalik keramaian kota, dan kekejaman kota ini datanglah seorang Bapak paruh baya menaiki sepeda motor, aku tak tau, apakah ini yang dinamakan takdir? atau hanya kebetulan saja? Tanpa rasa takut aku mengikuti perintah Bapak tua ini, Dan ya, ternyata bapak ini sangatlah baik kepada ku, ku ceritakan semua masalahlu pasa Beliau, dan ada niat Bapak ini mengantarku pulang, namun sekali lagi tidak! Aku tetap bersikukuh untuk tidak pulang!
Tiba-tiba...

Dering telpon lu berbunyi, ya lelaki pengganti Ayahku menelpon ku. Tak ingin ku jawab, namun Bapak tua ini teruse memaksaku, dengan nada ke-khawatiran nya yang khas lelaki itu bertanya dimana posisi ku saat kni, saat ku jelaskkan bahwa aku sedang di sebuah jalan bersama seorang laki-laki tua dan dengan sigapnya dia langsung menjemputku.

Di tengah keramaian kota, Bapak tua ini menurunkanku, sambil menunggu lelaki pengganti Ayahku ini menjemputku. Tanpa ku sempat ucap terima kasih Bapak tua ini meninggalkan ku. Selang beberapa lama, lelaki pemgganti ayahku datang, tak mampu lagi ku menahan air mata ku, ku menangis di pelukan nya. Lalu dengan sedikit marah dia menarikku untuk pulang. Tapi... Allahu Karim, rasa apa ini? rasa lelah kah? rasa kecewa kah? atau perasaan apa ini? yang membuatku tak mampu lagi tuk melangkah, perlahan namun pasti tiba-tiba kota ini semakin gelap,  semua orang memanggil ku, mungkin mereka membawa ku ketempat dimana aku harus di bangunkan. Ya, ternyata aku tak sadarkan diri untuk beberapa saat, Lama aku terdiam di pelataran toko di tengah kota. Aku tak tau ada perjanjian apa lelaki ini dengan kedia orangtua ku? tak lama ku menunggu, Kedua orangtua ku datang, tak ku mengerti, mereka langsung memeluk dan mencium ku, dan membujukku untuk pulang. Ya Allah ternyata aku telah salah menilai kasih sayang mereka terhadapku. Tak ada cinta dan kasih yang lebih baik dari cinta kasih orangtua. Terima Kasih Ayah-Ibu.

Penulis: Rahmatun Anisya (Mahasiswi FTIK PGMI IAIN Metro)