Header Ads

test

Penurunan Produktifitas Garam Lokal


Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tercatat sebagai salah satu negara di dunia yang memiliki wilayah daratan dan lautan yang luas. Dimana 70% dari wilayah NKRI merupakan laut. Potensi laut negara ini sangatlah besar, baik dari segi pariwisata maupun dari hasil lautnya yang dapat dimaksimalkan sebagai sumber pendapatan negara. Hal ini memberikan point plus bagi negara untuk dijadikan pijakan awal dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat melalui sektor maritim.  
Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang tinggal di wilayah pesisir, dimana mereka menggantungkan hidupnya dari eksplorasi laut. Laut menjadi tulang punggung mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Baik sebagai nelayan yang mencari ikan di laut ataupun sebagai petani garam dan petani rumput laut. Mayoritas mereka adalah produsen yang menghasilkan produk-produk kebutuhan pokok bagi masyarakat luas. Tentunya, menjadi masalah besar bagi negara jika keadaan laut sebagai sumber bahan produksi mereka mengalami gangguan atau kerusakan, seperti halnya ilegal fishing, anomali cuaca dan sebagainya. Hal ini akan mengakibatkan ketidakseimbangan perekonomian negara.
Menurunnya Produktifits Garam Lokal
Saat ini masyarakat sedang dipusingkan dengan kenaikan harga garam yang mencapai 100%, bahkan bisa jadi lebih, dari harga sebelumnya. Kenaikan harga garam ini diindikasikan karena produktifitas produksi garam dari petani garam yang terganggu oleh faktor cuaca dan lingkungan. Dengan adanya gangguan ini berimbas pada anjloknya pasokan garam dari petani garam.
Kainakan harga garam yang terjadi di petani garam saat ini bukanlah tanpa sebab. Anomali cuaca dianggap menjadi penyumbang utama kegagalan produksi garam. Kurangnya intensitas panas matahari mengakibatkan air laut sulit untuk dirubah menjadi garam sehingga petani garam mengalami gagal panen dan mengakibatkan minimnya hasil produksi garam lokal.
Namun, jika melihat kondisi saat ini, tidak hanya anomali cuaca saja yang mengakibatkan turunnya produksi garam di Indonesia. Hilangnya lahan petani garam yang berahli fungsi menjadi bangunan-bangunan beton seperti hotel juga menjadi pemicu berkurangnya pasokan garam di pasaran.
“Al-Ghazali sebagai cendekiawan muslim mengangggap bahwa mata pencaharian ekonomi sebagai bagian dari ibadah. Produksi barang-barang kebutuhan dasar secara khusus dipandang sebagai kewajiban sosial (fard al kifayah). Oleh sebab itu, jika sekelompok orang sudah berkecimpung dalam memproduksi barang-barang tersebut dalam jumlah yang sudah mencukupi kebutuhan masyarakat, maka kewajiban seluruh masayarakat sudah terpenuhi. Namun, jika tidak ada seorang pun yang melibatkan diri dalam kegiatan tersebut atau jika jumlah yang diproduksi tidak mencukupi, maka semua orang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.”
Kesimpulannya bahwa pada dasarnya negara harus bertanggung jawab dalam menjamin barang-barang kebutuhan pokok untuk diproduksi dalam jumlah yang cukup. Tentunya produksi garam pun harus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah supaya stok garam untuk masyarakat dapat terpenuhi dengan cukup.
Selain itu, Menurut Al-Ghazali bahwa ketidakseimbangan yang menyangkut barang-barang kebutuhan pokok akan cenderung menciptakan kondisi kerusakan di dalam masyarakat. Sehingga produktifitas dalam memproduksi barang sangatlah ditekankan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat banyak. Hal ini sama dengan garam yang telah menjadi kebutuhan pokok mayoritas masyarakat Indonesia yang tidak dapat dipisahkan sebagai bumbu masakan. Jika produksi garam tidak mencukupi sesuai kebutuhan masyarakat, maka akan menimbulkan permasalahan terhadap keseimbangan pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Minimnya stok garam saat ini menjadi salah satu contoh problem di bidang pengeloaan wilayah maritim Indonesia. Dimana hal ini mengakibatkan kestabilan ekonomi menjadi terganngu akibat produktifitas produsen garam lokal mengalami penurunan. Hal ini perlu di evaluasi oleh pemerintah dan kemudian mengambil tindakan untuk secepatnya mengembalikan keseimbangan ekonomi di masyarakat.


Mustika Edi Santosa (Ketua Umum UKM KSEI Filantropi)