Header Ads

test

Seputar Papua


Pak Filep menjelaskan dengan tegas “kami tidak perlu supermi ataupun daging kaleng, meski hanya dengan ubi, orang-orang papua juga mereka tetap hidup”. Lagi pula yang instan-instan seperti itu hanya akan menjadikan penyakit. Jangan hanya memberikan dampak negatif, dampak perubahan gaya hidup kemodenran, tapi pembangunan jalan trans papua yang sedang dilakukan juga harus memilki dampak yang baik. Jangan hanya melakukan pengambilan sumber daya alam dan merusak budayanya, namun dampak baik seperti pencerdasan, meningkatkan pelayanan dan mutu pendidikan harus menjadi prioritas utama.
Akses keluar masuk papua yang nantinya akan dipermudah dengan dibangunnya pintu keluar masuk papua, dibangunnya tol papua. Tentunya tidak hanya mengeksplor keindahan tanah papua dan kekayaan alam di sana, namun harus menjadi projek penyamarataan pelayanan dan pembangunan daerah tertinggal. Sungguh disayangkan jika pembangunnan jalan lurus dan panjang itu nantinya akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkannya untuk memperkaya dirinya seorang. Bahkan jika demikian, tidaklah perlu dilakukan pembangunan akses keluar masuk papua, bila nantinya banyak pihak yang mengedepankan kepentingannya.
Kepentingan individu yang diletakkan di atas kepentingan negara hanya akan merusak budaya, ekosistem dan adat yang dipelihara dari nenek moyang mereka. Tidak cukupkah Freeport mengeruk kekayaan papua? Ataukah harus purahaan-perusahaan lainnya yang digerakkan untuk memanfaatkan kekayaan papua. Jika hal demikian yang diinginkan, maka sama saja menghalalkan tanah papua dieksplor untuk hanya dikeruk kekayaannya, bukan untuk memudahkan kegiatan kenegaraan.
Semoga saja dengan di bangunnya jalan trans papua ini nantinya digunakan untuk mempermudah akses orang-orang yang cerdas yang bertujuan mulia−untuk mencerdasakan anak bangsa. Bukan orang-orang yang cerdas yang memanfaatkan kecerdasannya untuk dirinya seorang. Pendidikan menjadi faktor yang amat penting untuk merubah pola pikir dan pola hidup masyarakat papua dan membebaskan masyarakat papua dari keterpurukan.  
Pendidikan akan memberikan pencerdasan masyarakat papua. Pendidikan yang layak bagi masyarakat papua akan mengajarkan kepada mereka bagaimana cara mengelola hasil bumi yang mereka miliki menjadi produk yang dapat dinikmati masyarakat papua sendiri. Tanpa harus melakukan kegiatan impor produk dari daerah lain. Dengan sumber daya alam yang banyak maka jika mereka dididik dengan standar nasional saja maka mereka dapat menghasilkan produk sendiri yang mereka butuhkan.
Beberapa hari yang lalu saya juga sempat menonton film tentang pak Filep yang ditahan selama 15 tahun dan dengan tegas beliau menolak grasi yang diberikan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akrab di panggil SBY pada tahun 2011. Beliau juga menolak grasi yang diberikan oleh presiden Joko widodo pada tahun 2015. Pada akhirnya pak Filep di bebaskan secara paksa. Sebenarnya hukum di Indonesia ini bagaimana? semakin hari semakin membingungkan. Ditahan karena ingin merdeka kemudian di bebaskan secara paksa, aneh sekali bukan.
Bagi saya keputusan pak Filep tersebut benar, karena dia menolak untuk di berikan grasi. Apabila grasi itu ia terima sama saja dia mengaku bahwa tindakan yang dilakukannya selama ini adalah salah. Itulah yang menjadi alasan beliau tidak menerima grasi yang diberikan oleh pemerintah yang berbeda periodenya. Semoga pihak-pihak hukum dapat memberikan sebuah pencerahan untuk hal yang membingungkan ini. Masyarakat papua berhak meminta merdeka karena masyarakatnya masih merasa terjajah pada saat itu. Jadi apa yang salah?
Seminggu yang lalu saya juga menonton film karya watchdoc, ekspedisi Indonesia biru. Melihat papua yang masih sangat asri dan kaya akan hasil bumi. Pepohonan yang masih berdiri dengan gagah. Film karya watchdoc yang berjudul The Mahuzes ini menggambarkan apa yang sebenarnya masyarakat papua inginkan. Jika pak presiden Joko Widodo dalam periode kepemerintahannya mencanangkan perencanaan mifee untuk membuka lahan 1,2 juta hektar untuk pertanian di papua, dengan bantuan dari infestor dan bantuan dana dari Negara. Apakah tindakan tersebut sudah tepat?
1,2 juta hektar yang akan dibuka merupakan ¼ bagian dari Merauke. Apa ini perlu dilakukan di papua? bagaimana dengan nasib pepohonan sagu yang menjadi makanan pokok masyarakat papua sendiri? Apakah harus dihabisi? Sedangkan kita tau masyarakat papua lebih banyak mengkonsumsi sagu, kenapa harus papua yang dijadikan tempat produsen beras, bukankah di pulau Jawa dan Sumatra lahan padi sudah sangat luas, dan pada daerah inilah yang memang asli mengkonsumsi beras.
Lagi pula di pulau Jawa contohnya di daerah Kendeng, petani sedang berjuang mempertaruhkan haknya untuk kembali menanam padi, namun PT semen tetap berkuasa dan terus melanjutkan pembangunannya. Sebenarnya yang benar itu seperti apa? Dimana peran beberapa abdi negara, kenapa mereka lari dari hal-hal yang demikian, kenapa harus dialihkan ketempat lain untuk melakukan penanaman padi. Semoga pihak yang memilki kewenangan dalam hal ini dapat lebih tegas untuk menanganinya. Tempatkan hal yang dibutuhkan sesuai pada porsinya. Memangnya kecerdasan seseorang berbeda karena sagu dan beras. Hingga papua akan dijadikan lahan pertanian untuk melakukan swasembada pangan.
jika papua makanan pokonya adalah sagu biarlah pohon sagu tetap tumbuh di papua dan jika perlu jadikan papua sebagai produsen sagu terbesar di Indonesia. Jika di pulau Jawa atau Sumatera mayoritas masyarakatnya mengkonsumsi beras biarlah padi terus tumbuh di daerah ini dan bila perlu jadikan daerah ini sebagai tempat produsen beras untuk keperluan kesehariannya, bila berlebih maka itu keberhasilan petani dan pemerintah dalam melakukan produksi padi, bila perlu diekspor.
Fenomena seperti itu seharusnya di tempatkan pada porsi yang tepat, jangan malah memberikan jalan kepada infestor untuk mengeruk kekayaan alam kita dengan dalih pembangunan daerah. Sebenarnya negeri kita ini kaya akan hasil alamnya terutama papua. Buktinya, bukankah selama ini papua terkenal sebagai daerah penghasil mutiara hitam yang selalu membanggakan Indonesia. Maka kembangkan yang sudah ada menjadi lebih baik lagi. Berikan apa yang harusnya diberikan. Kemerdekaan adalah impian masyarakat papua, karena jika dibilang selama ini merdeka, mereka merdeka namun merasa terjajah.
Fungsikan trans papua sebaik mungkin. Jika pak presiden memilki rencana untuk membuka lahan 1,2 juta hektar selama 3 tahun mungkin akan terasa sulit. selain itu bagaimana dengan nasib flora dan fauna yang tumbuh dan hidup di sekitarnya. Kita juga harus memikirkan kedepannya bagaimana nasib anak cucu kita jika flora dan fauna di habisi, maka apa yang akan tersisa. Saya rasa yang tersisa hanyalah cerita “ini nak bentuk hewan yang seperti ini namanya ini, ini nak pohon yang seperti ini namanya ini” atau mereka harus pergi ke kebun binatang dulu baru mengetahui bentuk bentuk hewan yang disebutkan oleh orang tua mereka. Begitu menyedihkan bukan bila ini sampai terjadi. Satwa- satwa yang ada akan punah begitu saja.
Kiranya semua ini harus di pikirkan kembali. Karena tak hanya itu saja, mengubah pola hidup yang dimilki oleh orang papua sendiri kemungkinan akan sulit, di sisi lain jumlah penduduk yang ada di papua sendiri belum tentu dapat mengelola lahan 1,2 juta hektar karena faktor pendidikan yang masih minim. Meskipun jika satu orang mengelola 1 hektar, berarti membutuhkan 1,2 juta jiwa, sedangkan perkiraan penduduk Merauke hanya sekitar 3000 jiwa, sisanya kemana? Ataukah per satu orang harus mengelola 3 hektar. Di sisi lain membuka lahan seluas 20 hektar saja membutuhkan waktu 50 tahun, bagaimana dengan 1,2 juta hektar yang direncanakan dalam 3 tahun saja selesai.
Besar harapan kita untuk tetap menjaga dan melestarikan tanah papua, serta memajukannya dan menyetarakannya dengan daerah lain yang ada di Indonesia, dengan prinsip tetap menjaga kultur yang kental, dan tetap melestarikan flora dan fauna yang ada disana.
Begitu banyak anak bangsa yang lulus dari lembaga pendidikan yang tinggi dan memilki kualifikasi yang jelas yang dapat membantu meningkatkan tanah papua menjadi daerah yang lebih maju kedepannya, tentunya dengan mendampinginya di bangku pendidikan, yang pada akhirnya mereka terlatih dan mampu memproduksi hasil bumi yang mereka miliki melalui bantuan anak bangsa yang memilki kemampuan pada bidangnya. Saya rasa tak perlu untuk mendirikan sebuah perusahaan yang nantinya hanya akan menimbulkan limbah dan merusak alam dan sumber daya insani di sana.
Bukankah produksi rumahan yang berkelas bisa membantu menciptakan barang barang yang dibutuhkan. Jika memang tak ada bahan atau alat yang di butuhkan barulah kita meminta kiriman dari daerah lain. Jika di izinkan fasilitasi mereka yang memiliki kualifikasi untuk mendidik penduduk papua agar dapat berbagi pengetahuan yang mereka miliki, sehingga penyetaraan pendidikan di papua sama dengan di daerah lain dapat terwujud. Jika kita masih mampu untuk memajukan negeri tercinta ini, maka kiranya tak perlu infestor asing untuk membangun negeri ini. Biarlah anak bangsa yang membantu papua untuk tetap menjadi mutiara hitam kebanggaan Indonesia dan membuat papua lebih maju kedepannya.

Febri Fitriana mahasiswa D3 Perbankan Syariah IAIN Metro