Header Ads

test

Aku Yang Terbuang


Aku Sidiq Kayana, sebuah nama yang indah bukan, namun sayangnya tak seindah hidup ku. Aku adalah salah satu anak yang menurutku tidak dilahirkan untuk mengenyam kenikmatan, karena aku terlahir dengan keadan sangat sederhana. Kehadiranku yang tidak diharapkan sama sekali, begitu pedih. Melihat dunia ini dari tumpukan sampah, yang ku tahu sekarang hanya hidup dengan seseorang wanita tua yang kesehariannya mengais sampah disepanjang jalan. Tepat satu tahun lalu ibu yang menyayangi ku tersebut dipanggil oleh pencipta, dan sekarang aku hidup sendiri, meneruskan sisi baik dari kehidupan ini. Teringat beberapa waktu lalu, ibu ku meyakinkan bahwa dia bukanlah ibu kandung ku, melainkan ibu angkat, beliau telah menemukanku di tempat sampah dulu kala. Rasa sesak dalam hati ku tidak pernah habis-habisnya, menyaksikan kejadian yang sangat pilu, begitu busukkah kedatangan ku di dunia ini, hingga ibu kandung ku tega melepas pelukannya dan membiyarkan ku tidur dengan balutan sampah.
Setelah beberapa hari ibu angkat ku tiada, hari-hari ku hanya ditemani hingar bingar suara kendaraan yang melintas meramaikan jalan serta. Tepat sehari kepergian ibu angkat ku, aku banyak termenung, dan malam ini aku ditemani oleh gemericik air hujan yang menghantam atap rumah petak yang berada di lingkungan kumuh ini. Kini hawa dingin seolah menyelimuti ku malam ini. Aku duduk diantara teras toko tak bertuan dengan mengelar sehelai kardus, setidaknya aku bisa tidur malam ini karena rumah yang basanya kutempati tidak dapat menahan derasnya air yang terjatuh dari jauh atas sana.
Aku memikirkan sesuatu yang sangat susah untuk di pecahkan dengan nalar anak yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah, boro-boro sekolah, waktu bermain pun tidak pernah ada buat ku. Terkadang aku hanya bisa tertunduk seolah enggan menatap langit, terkadang sesekali menyanggah kepalaku dengan kedua tangan, berjalan kesana kemari dengan gemilu bimbang, arah mana yang akan ku tuju. Dengan sedikit menghembuskan nafasku serta memejamkan mata berkatalah dalam hati ku “kenapa dengan ku Tuhan, kau renggut segalanya dariku, mengapa harus aku” ucapku namun karena keletihan ku akhirnya tertunduk, terlelaplah tubuh ini. Tersadar, tubuh ini tidak tahu ada dimana, tempat ini tidak pernah ada kutemukan dikehidupanku, sangat gelap, tanpa ada sinar, sunyi dan aku terkaget, terdengar sebuah bisikan “karena aku sayang kamu.” Seketika aku terbangun dan tersadar apa maksud dari bisikan itu.
Esok hari aku mulai berjalan dari suatu tempat ke tempat lain, sesekali aku menghampiri tempat dimana aku terbuang dan tak lupa aku selalu membawa sebuah kain sorban yang kata ibu angkat ku inilah satu-satunya bawaan, yang dililitkan pada tubuh mungil ku dulu. Aku kalungkan di antara leherku. Hari demi hari serasa tak pernah aku temukan jawaban dari bisikan pada elap tidur ku tempo lalu. Apakah  itu hanya sebuah ungkapan atau itu sebuah jawaban semu sebagai penghiburku sesaat. Namun aku tak pernah bosan selalu menghampiri tempat ku terbuang, samapai suatau ketika dalam lamunanku aku terkagetkan dengan suara lirih dari arah belakang.
“Nak, permisi, siapa namamu? apakah itu sorban mu?” tanyanya padaku, sambil jarinya menunjuk pada sorban yang kupakai
“Oohhh maaf tante, Sidik nama ku tan, iya tante ini punyaku”  jawabku singkat, karena aku masih termenung
“Usiamu berapa tahun nak” tanyanya kembali
“10 tahun tante” jawabku
“Diamana ibumu nak” tanyanya kembali
“Aku tak tahu tante, kata orang yang merawatku aku terbuang diantara tumpukan sampah seperti ini dulu” jawabku
Orang ini yang tidak tahu siapa namanya menangis, aku melihat wajahnya terasa tampak kebahagiaan, namun terselip luka yang sangat mendalam, beliau mengenggam tangan ku yang kasar karena setiap hari waktu dan tenaga ku habis karena harus mengumpulkan sampah-sampah yang masih bisa dimanfaatkan, dan tak jarang aku makan dari nasi bekas. Aku bingung bercampur cemas kalau-kalau ia akan bertindak jahat padaku.
Sambil duduk tersimpuh ada kata-kata yang menghanyutkan dari muludnya “aku ibumu nak”
“Apa !!!! ibu, maksud tante” tanyaku heran
“Iya aku ibumu nak, ibu yang sangat berdosa yang dengan tega membuangmu di tempat hina ini”
“Lalu kenapa tan, apakah salah ku, hingga tante tega membuangku di tempat ini, atau tante malu atau kenapa” pertanyaan ku bertubi-tubi seolah meminta penjelasan darinya
“Sekali lagi maafkan aku nak, waktu itu orang tua ibu, dia kakek mu sangat malu memiliki cucu hasil dari hubungan haram, karena ibu hamil di luar nikah”
“Bukankah semua itu kesalahan tante, bukan aku! lalu kenapa keburukan ini semua menimpaku tan, aku sudah sangat banyak menerima kenyataan pahit ini”  ujar ku dengan penuh kekecewaan
“Satu hal yang perlu kau ingat nak ibu tak pernah sedikitpun bermaksud membuang mu” jelasnya lirih sambil terisak-isak
“Lalu ini apa tan, tante telah membuangku” tanyaku
“Sebetulnya ada alasan kuat mengapa ibu membuangmu nak, ibu hanya tidak ingin orag tua ibu berhasil meracuni mu nak, dan ibu tidak punya pilihan lain selain membuangmu, dan situasi pada saat itu sangat mencekam nak”
“Tapi bukan kah aku cucunya tan, kenapa dia tega melakukan itu” tanyaku
“Begitulah manusia nak ketika mereka khilaf maka mereka akan melakukan apa saja nak” jelasnya
Lalu wanita ini memelukku seketika dan terasa tetes demi tetes air matanya membasahi pundakku, air mata dengan penuh kesalahan. Seketika aku tersadar, bahwa hal yang paling  indah adalah memaafkan, lagian ibuku melakukan ini semua semata-mata karena kebaikan ku, memang caranya salah, tapi setidaknya niatnya sudah baik. 
Sambil mencoba melepaskan pelukanya
“Maafkan aku juga tan, selama ini aku telah berfikiran buruk tentang mu, aku berfikir kau tak mengiginkan kehadiran ku.
Sambil memegang pipiku, “tolong nak panggil aku ibu”, mintanya
“Iya bu” ujarku
“Sekali lagi nak” mintanya kembali
“Ibu” jawabku dengan polosnya
“Ikut lah dengan ibu nak, ibu mau menebus semua kesalahan ibu, dan akan membahagiakan mu, mau ya”
“Lantas bagaimana dengan kakek, bukan kah ia akan meracuniku jika aku kembali”
“Kakekmu telah meninggal nak, dan sebelum kematianya ia memintaku untuk mencarimu, dia tampak bersalah sekali, dan maafkan beliau ya nak” tutur ibu
Aku tak mampu membalasnya hanya terdiam sebagai jawaban ku
“Mau ya tinggal bersama ibu, karena sekarang ibu tidak punya siapa-siapa selain mu nak” ajaknya kembali
Aku hanya menjawabnya dengan sebuah isyarat anggukan kepalaku, di sela itu aku pun mulai mendeskripsikan arti sebuah mimpi yang pernah aku alami bahwa memang benar tuhan sangat sayang padaku, andai aku tidak terbuang mungkin aku telah meninggal oleh tangan tangan manusia yang penuh dengan amarahnya.


Penulis : Muid Sidik