Header Ads

test

Pentingnya Sebuah Musyawarah


Dalam sebuah keluarga tinggalah sepasang suami istri yang sangat bahagia walaupun hidup serba kekurangan namun karena hidup bersama orang terkasih seolah kekurangan itu tiada berarti.  Mungkin ini yang dikatakan cinta yang benar-benar dari hati, bukan cinta yang bersumber dari harta yang akan sirna ketika kemiskinan melanda, dan bukan pula cinta yang bersumber dari kedudukan yang seketika hilang karena runtuhnya kekuasaan. Merekalah keluarga kecil Pak Somat dan Bu Siti, walau sudah 5 tahun berkeluarga mereka belum juga dikaruniai anak, suatu ketika
 “Mas, andai kita punya buah hati ya, pasti kita tidak kesepian seperti ini” tutur sang  istri.
 “Sabar dek, hidup ini Allah yang  mengatur, kita hanya bisa berusaha dan berdoa,  mungkin saat ini belum, lagian hidup bersamamu  saat ini saja sudah membuat ku semangat bahagia” jelas sang suami.
 “ Iya mas,  makasih ya” jawab sang istri
Sehari-hari Pak Somat dan Bu Siti bekerja sebagai buruh serabutan, yang terkadang ada terkadang pun tak ada, namun mereka tetap menjalaninya dengan ikhlas dan sabar. Sebelum menikah memang mereka memiliki sebuah barang yang sangat berharga dari kedua orang tua masing-masing.
Bu Siti, beliau memiliki sebuah barang berharga dari kedua orang tuanya berupa sepasang anting-anting, walaupun terbuat dari emas namun bukan berarti memiliki nilai jual yang tinggi karena secara ukuran sangat kecil apalagi  bobotnya. Namun sayang suatu hari sebelah anting-anting Bu Siti hilang, terpaksa Bu Siti menyimpan anting-antingnya yang tinggal sebelah karena tidak mungkin ia memakainya yang hanya sebelah.
Pak Somat, beliau memiliki sepeda peninggalan orang tuanya, sepeda itu ia gunakan untuk keperluan sehari hari bersama Bu Siti. Tapi na’as satu tahun yang lalu sepedanya menabrak sebuah pohon sehingga roda depanya penyok dan tidak bisa dipakai kembali, bukan tidak ada niatan untuk mengganti roda tersebut  namun nyatanya jangankan untuk membeli sebuah roda untuk mencukupi kebutuhan sehari hari saja sudah sangat susah.
Namun di lima tahun pernikahanya seolah rasa cinta menjadi semakin bertambah, mungkin ini yang benar-benar dikatakan sebagai keluarga sakinah, mawadah, warahmah. Sehingga terbesit diangan masing-masing untuk saling memberi hadiah yang special dan rahasia di ulang tahun pernikahanya. Namun di benak mereka masih bingung apa yang mau diberikan kepada pasangan tercintanya masing-masing. Suatu ketika berakhirlah pada suatu kesimpulan.
Pagi hari ini seolah terasa cerah, balutan awan seolah sirna hanya sang mentari yang senantiasa menemani sang langit. Dengan perasaaan senang Bu Siti dan Pak Somat  mengawali pagi ini dengan senyuman. Maklum hari ini adalah satu hari menuju ulang tahun pernikahan. 
“Mas, aku minta izin mau pergi ke pasar, mau  beli beras”  tutur sang istri.
“Emmmz berasnya kan masih ada dek” jawab sang suami dengan penuh keheranan.
“Ow iya aku lupa, bukan beli beras tapi beli sayuran mas” tutur sang istri dengan penuh kerahasiaan.
“Ow begitu, mas juga mau memberi tahu kalau mas mau pergi ke rumah teman, tetangga desa nanti” tutur sang suami.
“Mau ngapain mas?” tanya sang istri dengan penuh keheranan.
“Emmm silaturahmi aja kok dek, dah lama tak berjumpa denganya” jawab sang suami dengan penuh kerahasiaan juga.
Siang serasa semakin panas udara kini terasa semakin pengap, tanpa terasa urusan masing-masing telah usai, pulang lah mereka ke rumah yang sederhana namun tampak asri karena rajin merawatnya, seketika mereka bertemu mereka hanya saling melemparkan senyuman tampa berucap, menunggu waktu yang tepat untuk menuju malam pergantian karena besok adalah hari special yakni hari ke lima tahun pernikahanya untuk saling mengucapkan dan memberikan bingkisan rahasia yang mereka sudah siapkan. Seketia siang telah berganti sore, sorepun telah berganti malam dangan perasaan bahagia akhirnya mereka sama-sama saling memberikan ucapan.
“Selamat ulang tahun pernikahan kita ya mas, semoga kebersamaan ini tak akan terpisahkan, biarlah maut yang memisahkan” ucap sang istri.
“Ia dek,  amin” sang suami sambil memeluk sang istri.
“Oya mas, ini untukmu” ucap sang istri sambil menyodorkan barang yang telah terbalut kertas koran.
“Apa ini dek, besar sekali?” tanya sang suami.
“Rahasia” jawab sang istri.
“Emmmz main rahasia-rahasiaan ya sekarang, oya ini juga hadaiah special dari mas untuk mu” sambil menyodorkan kotak kecil yang sudah terbalut dengan selembaran koran.
“Apa ini mas?” tanya sang istri.
“Rahasia” jawab sang suami.
“Mas, bagaimanana kalau kita sekarang buka bersama-sama hadiah kita ini” tawar sang istri.
“Ide yang bagus dek” jawab sang suami.
Seketika mereka bersama-sama membuka hadiah ualang tahun pernikahan masing-masing, namun setelah dibuka sebuah senyuman sebagai penyambut hadiah tersebut akan tetapi uraian air mata yang mulai tertuang dari pelupuk  mata masing-masing, memendam sebuah rahasia yang tak termusyawarahkan.
Namun dalam hati mereka mucul beberapa pertanyaaan apakah ada yang salah dengan hadiah ku ini, bukan kah ini adalah yang sangat dibutuhkan, dengan perasaan ragu mulai dipertanyakan.
“Dek kenapa engkau menangis? Tak sukakah engkau dengan hadiah yang mas berikan” tanya sang suami kepada sang istri.
“Bukan mas”  jawab sang istri sambil menunduk.
“Lantas kenapa engkau menangis, bukan kah sebelah anting-anting ini bisa menjadi pelengkap anting-antingmu yang hilang” jelas sang suami.
“Aku boleh jujur mas?” tanya sang istri.
“Boleh dek silahkan” jawab sang suami.
“Jadi seperti ini mas, aku tadi telah menjual anting anting ku yang sebelah untuk membeli roda sepeda mas yang telah rusak sebagai hadiah special dari ku agar mas tidak lagi berjalan untuk pergi bekerja, karena aku sering melihat mas terlihat kelelahan” jelas sang istri.
“Terimakasih dek” jawab sang suami dengan tertunduk  tak terasa air mata pun menetes.
 “Lantas kenapa mas menangis?” tanya sang istri.
“Akupun melakukan hal yang sama, aku menjual sepedaku untuk membelikan sebelah anting-antingmu yang hilang” agar kau  bisa memakainya kembali” jelas sang suami.
Seketika sang istri memeluk sang suami lantas mereka meluapkan rasa kesalah pahaman nya.
“Andai kita bermusyawarah dulu, mungkin ini tidak akan terjadi” tutur sang suami.
“Iya mas, maaf kan aku”  tutur sang istri.
“Iya dek, mas juga minta maaf, mungkin ini menjadi sebuah pembelajaran untuk kita bahwa semua seharusnya dimusyawarahkan terlebih dahulu”  jawab sang suami.
“Iya mas” jawab sang istri
Kini tinggallah sebuah hadiah sebelah anting-anting dan sebuah roda yang tidak mungkin bisa terpakai.

Penulis : Muid Sidiq ( Pegiat UKM KSEI Filantropi)