Header Ads

test

Musibah Membawaku Ke Dalam Kedewasaan


“Hai  bangun!!!  Sudah  siang”, teriak  seseorang dari balik pintu. Dalam kemalasan aku mencoba bangun dan membuka mata,  “hemmzz, masih gelap”,  gumam ku,  akupun merebahkan kembali tubuhku kembali  sampai aku terlelap dan bermimpi berada diantara bibir pantai  yang indah dan tampak hamparan pasir yang seolah lapang dan asri. Aku mulai menghela nafas seolah ingin sekali menghirup udara yang sejuk ini namun saat aku memejamkan mata dalam mimpi, “byurrrrr”  terasa  guyuran  ombak  membasahi mukaku, akupun terbangun. “Ah tidak, ini nyata  siapa yang melakukan ini” gumam ku dalam hati, aku pun kali ini memaksa diriku untuk bangun. Ternyata aku melihat ada seseorang yang berjalan menuju dapur, di genggaman tangannya tampak membawa sebuah gayung  “hehe, ibu masih saja menggunakan cara kasar membangunkan ku.”
Sampai aku lupa memperkenalkan namaku, perkenalkan namaku sidiq kayana, tinggal bersama ibu tersayang dan aku adalah anak tunggal, ayahku sudah meninggal 7 tahun yang lalu karena sakit jantung. Selain Aku manja dan nakal aku juga punya kebiasaan sulit untuk dibangunkan. Namun meskipun aku seperti itu aku sangat menyayangi ibu dan hanya ibu yang sampai saat ini masih menjadi alarm hidup untuk ku.
Aku berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu dan shalat selesainya, aku menghampiri ibu, dengan tatapan seoalah macan yang mau menerkam mangsanya, akan tetapi aku hanya  membalas dengan senyuman. “diq.. diq.. kapan kamu bisa berubah” ujar ibuku  sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “aku tidak akan pernah berubah aku akan selalu sayang sama ibu, hehe”  jawabku sambil tertawa, “bukan soal itu, malas, manja dan nakal mu itu yang ibu tidak suka” jelasnya. “Hehe kan masih ada ibu yang bisa membangunkanku” jawabku.  “Hemmz, iya kalau ibu masih diberi umur panjang, kalau tidak bagaimana?” ujarnya, ”husss, ibu jangan bilang seperti itu lah, aku gak mau kehilangan ibu” jawabku. “siapa yang tahu umur manusia diq, makanya kamu mulai lah belajar dewasa” pesannya,  “iya bu, aku coba akan lebih baik deh” jawab ku.
Fajar mulai menyingsing akupun bersiap-siap untuk pergi sekolah. Hari ini adalah hari terakhir ku ujian akhir semester, dengan senyum penuh semangat seolah tak ada penghalang yang mampu mengerutkan bibirku. “bu aku berangkat ya” ujarku padanya, “nanti dulu sarapan dulu diq”  pesanya padaku,  “aku sarapan di kantin aja bu” jawabku  “kenapa? Apa masakan ibu kurang enak?” tanyanya padaku. “Emmmz ibu, masakan ibu tidak pernah ada yang ngalahin kok, ya sudah suapin ya bu” pintaku padanya.  “Dasar anak manja, katanya tadi mau berubah” pesanya memperingatkanku, “hehe, iya, iya, ibu ku” jawab ku.
Dengan lahapnya aku makan hingga tak sedikit pun sisa nasi yang aku biarkan tampak di atas piring, memang masakan hari ini sungguh sangat nikmat terasa dimana menu makanan hari ini  adalah sayur lodeh, ikan teri dan sambal goreng. Ini lah makanan sederhana yang paling aku suka. Selesainya makan aku menghampiri ibu, “bu aku berangkat dulu” ujarku sambil mencium tangannya,  “iya, hati-hati” jawabnya.
Aku mengendarai sepeda motor dengan kencangnya maklum usia yang masih muda, serasa hidup tak akan  berwarna tanpa sebuah tantangan, walau nyawa hampir melayang tapi ini lah hiburan kaula muda. Perjalananku pun aku rasakan sangat singkat hanya butuh lima menit aku sudah sampai di sekolahan. Sesampainya di sana aku langsung memasuki ruangan kelas sambil bercanda dengan kawan-kawanku, seketika aku pun beberapa kali melempar sobekan kertas kewajah kawanku, begitu juga sebaliknya. Ini lah salah satu kebiasaan buruk di kelas sampai tak terasa  dari belakang terdengar “sidiq, apa yang kamu lakukan” sebuah suara yang tidak asing aku dengar, ya itulah dia suara wali kelasku, sambil berbalik arah “hehe, gak ngapa-ngapain pak” jawabku sambil meringis  “bersihkan!!!!!” bentaknya seolah mau menerkamku “iya pak” jawabku sambil memunguti sampah yang aku hamburkan.
“Hemmz sial, tidak hanya aku yang menghamburkan sampah, kenapa  hanya aku yang di salahkan? Mungkin ini lah tafsir dari sebuah filosofi bahwa sebuah kopi walaupun tersa manis karena gula tapi hanya kopi yang mereka puja, namun sayang hari ini bukan puja yang aku dapat tapi hina yang aku dapat, sial!!“, gumam dalam hatiku, selepas aku membersihkan kotoran kertas ujian akhir semester pun mulai dilakukan, namun aku dengan santainya menekuk tangan ku untuk menyenderkan kepalaku dan aku tertidur. Kebiasaan burukku terulang kembali sampai suatu bunyi mulai membangunkan ku dan terdengan suara yang terdengar samar, “waktu ujian tinggal lima menit,”  “iya bu” jawab murid-murid serentak. Aku pun mulai gugup dan mulai melihat target contekan yang menjadi korbanku. Aku sodorkan lembar jawabanku “he budi, kerjakan lembar jawabanku seperti punyamu, kalau tidak aku tonjok kau” ancamku, “emmmz iya iya diq” jawabnya sambil menerima lembar jawabanku.
Waktu  ujian akhir semester pun selesai dan lembar jawaban ku pun sudah terisi secara instan. Inilah saatnya pulang, namun sebelum pulang kebiasaan ku dan kawan-kawanku adalah  nongkrong di kantin sekolah dan mulai membakar uang bukan uang yang aku bakar namun uang yang aku buat beli rokok dan akhirnya aku bakar, dan lagi-lagi kebiasaan ku ini tidak pernah diketahui ibuku karena di rumah kegiatan merokok tidak pernah aku lakukan,  seketika “kring, kring,“ suara hand phone ku berbunyi aku pun mengangkatnya  “iya bu ada apa” tanyaku padanya “diq bisa jemput ibu dipasar tidak” tanyanya padaku. Karena masih asik aku membuat sebuah alasan untuk mengulur waktu, “bisa, sebentar  lagi ya bu” ujarku membuat alasan,  “ow ya sudah ibu tunggu” jawabnya.
Tanpa sadar aku pun mulai larut dengan canda dan tawa kawan-kawan ku, terkadang bernyanyi, terkadang menari, dan tak lupa hisapan rokok yang seolah menjadi penyempurna rasa mulutku. Namun tak terasa waktu sudah semakain sore aku pun mulai tersadar dengan suara hand phoneku yang berbunyi “kring, Kring”  aku melihat nomer asing “iya, ada apa ya” suara ku  penasaran  “maaf apa ini dengan mas sidiq anak ibu wati”  tanya nya padaku “ benar saya anaknya kenapa ya pak” tanyaku penasaran aku mulai teringat dengan perintah ibu yang menyuruhku menjemputnya dan tak terasa sudah 3 jam aku berada di sini “kami dari pihak rumah sakit mau memberi tahu bahwa ibu mas mengalami kecelakaan satu jam yang lalu, kini beliau tak sadarkan diri dan dirawat dirumah sakit surya dermawan, seketika aku menjatuhkan rokokku “ya ampun, ibu maafkan aku.
Seketika mendengar kabar tersebut aku menaiki motor butuh A100 melaju kencang menuju rumah sakit, perasaan berkecamuk seolah rasa bersalah menyelimutiku, terbesit dalam hati ku aku tidak akan memaafkan diriku kalau sampai terjadi  apa-apa sama ibuku,  sesampainya disana “dok bagaimana keadaan ibu saya dok” tanyaku penasaran “ibu mas mengalami patah tulang dibagian tangan kanannya, serta benturan di kepalanya hingga belum sadarkan diri sampai sekarang, seketika aku melihat ibu terbaring lemas tak berdaya hingga hanya suara detik jam yang bersuara, dalam kehening ku pegang tangan ibu “bu bangun bu sidiq disini” ucapku lirih di telinganya seketika ibu bangun, “kamu tadi kemana saja diq” tanyanya padaku sambil tertunduk “maaf kan sidik bu” jawabku. Ibu berusaha bangun tapi seketika “ya ampun sakit sekali” ujarnya Ibu berbaring saja biar kalau ada apa-apa bilang sama sidik, mulai saat ini sidik akan merawat ibu” jawabku, “apa ya mungkin anak manja sepertimu bisa merawat ibu”, “aku akan berusaha bu” ujarku meyakinkanya,  “bukan janji diq yang ibu harapkan tapi kenyataan mu yang ibu harapkan” pesanya padaku “baik bu” jawabkau sambil tertunduk. 
Kini hari-hari aku habiskan untuk menunggu ibu di rumah sakit serta merawatnya,  sampai-sampai beberapa kawanku mengajakku bermain aku tolak, aku mulai tersadar bahwa aku tidak akan melepas permata yang paling berharga dalam hiodupku setelah permata yang satu sudah pergi meninggalkanku 7 tahun yang lalu.  mulai sat itu semua kebiasaan buruk ku satu-persatu mulai aku tinggalkan dari kebiasaan bangun kesiangan, manjaku, sampai nakalku.  Sampai lima hari lamanya aku di rumah sakit dan kini ibu sudah dibolehkan untuk pulang, dengan senyumnya ibu mengatakan padaku “ibu bangga diq sama kamu” ujarnya. Pernyataan simpel yang bahkan tidak pernah aku dengar aku hanya menundukkan kepalaku dan tersenyum.      


Penulis : Muid Sidik