Header Ads

test

MAHASISWA: PERLU BUDAYA LITERASI


Era modern seperti saat ini, kebutuhan terhadap asupan informasi menjadi sangat signifikan bagi setiap individu agar tidak menjadi orang yang kudet (kurang up to date) terhadap informasi. Khususnya mahasiswa yang pada dasarnya dituntut untuk belajar tekun dan kreatif dalam mengembangkan wawasannya. Sebab, di dalam argumen masyarakat awam sering didengar bahwa mahasiswa adalah orang yang memiliki intelektual tinggi dan berwawasan global. Selain itu, mereka sering dianggap sebagai calon perubahan atau sering disebut agent of change.
Namun, itu hanyalah anggapan ataupun argumen masyarakat awam yang pada dasarnya tidak mengetahui lingkungan dan tabiat mahasiswa sebenarnya. Sebab, kebanyakan yang saya lihat tidak banyak mahasiswa yang memang benar-benar menuntut ilmu dan memperbanyak wawasannya. Malahan masih banyak yang terkesan ogah-ogahan untuk belajar baik dengan membaca buku ataupun sekedar browsing informasi menarik melalui smartphone yang digenggamnya setiap saat. Saya yakin kesadaran mereka terhadap pentingnya pengetahuan sangatlah besar. Namun, sekali lagi bahwa ego yang besar sebagai mahasiswa yang selalu dibanggakan sebagai orang intelek (katanya) membuat mereka lalai terhadap tugas mereka untuk belajar dan meng-update wawasan mereka.  Alhasil, ekspektasi yang sering dieluh-eluhkan oleh masyarakat terhadap mereka tidaklah banyak yang sesuai dengan realita yang terjadi, alias nihil.
Budaya nongkrong di kantin ataupun nangkrong di parkiran motor harusnya dapat dijadikan momentum positif untuk menggali informasi bagi para mahasiswa. Tidak hanya sebagai tempat untuk pelipur masalah ataupun sebagai rumah kedua untuk numpang istirahat. Menurut saya perlu dibangun budaya literasi pada diri mereka sebagai mahasiswa yang haus terhadap ilmu. Sehingga mereka memang benar-benar dapat dihandalkan sebagai calon agent of change yang selanjutnya akan memberikan perubahan yang positif bagi dirinya sendiri maupun lingkungannya.
Hal terkecil yang dapat dilakukan untuk membudayakan literasi pada diri mahasiswa adalah dengan membaca buku. Saya yakin disetiap kampus pasti memfasilitasi mahasiswanya, fasilitas untuk mereka menggali informasi dan menambah wawasan seperti perpustakaan kampus dan koneksi internet gratis (free wifi). Jikapun tidak ada, sebagai mahasiswa haruslah kreatif, yakni memanfaatkan smartphone yang notabennya dibawa kemana-mana, bahkan saat mandi pun dibawa (hanya sebagai contoh) sebagai pusat untuk menggali informasi. Bukan hanya untuk sekedar BBM-an ataupun hanya sekedar membuka handphone untuk melihat fitur-fiturnya sambil menunggu chat dari temennya yang pada dasarnya menurut saya terkesan hanya membuang-buang waktu. Hal tersebut harusnya bisa diminimalisir jika mereka memang benar-benar dapat mengambil kawajiban mereka seutuhnya sebagai mahasiswa.
Membaca merupakan passion seorang intelektual yang sangat fundamental. Ada sebuah pepatah yang berbunyi, “Jika kamu ingin mengetahui seluruh isi bumi, maka membacalah”. Seorang dapat berprestasi dalam bidang akademik ditempa dari budaya membaca. Sebagai contoh, baru-baru ini ada sekelompok pelajar dari Indonesia yang mengharumkan nama Indonesia dengan memenangkan perlombaan debat bertaraf internasional. Mereka mengatakan bahwa mereka bisa memenangkan perlombaan tersebut karena mereka giat membaca. Dengan membaca mereka dapat mempunyai wawasan luas yang pada akhirnya menjadi modal mereka dalam memenangkan perlombaan tersebut. Hal ini membuat saya yakin jika seorang mahasiswa dengan budaya literasi yang kuat pasti akan mampu membawa dirinya kepuncak kejayaannya sebagai mahasiswa yang berprestasi.
Membudayakan membaca bukanlah hal yang sulit, sebab di zaman sekarang hampir tidak ditemukan lagi orang yang buta huruf, meskipun masih ada beberapa. Namun, saya yakin mahasiswa tentu bisa membaca dan hanya meraka yang membutakan matanya yang enggan untuk membaca. Seharusnya kesadaran yang kuat sebagai agent of change dapat memberikan mereka candu untuk giat membaca. Selain itu, banyaknya fasilitas dan ruang untuk membaca seperti saat ini seharusnya juga dapat dimanfaatkan oleh mereka sebagai ladang untuk menggali informasi. Tentu, informasi yang benar bukan informasi hoax. Saat ini, hampir segala informasi dapat diakses dengan mudah dan cepat. Bahkan baru-baru ini ada gerakan yang dibangun oleh anak-anak muda kreatif untuk menciptakan budaya membaca di masyarakat, seperti mendirikan cafe yang difungsikan tidak hanya untuk tempat nongkrong tapi juga difungsikan sebagai tempat untuk membaca. Hal ini seharusnya dapat menjadi pukulan keras bagi mahasiswa yang masih sering mengurungkan niatnya untuk membaca dan merubah passion meraka dengan budaya membaca.
Pada akhirnya, kesadaran tentang pentingnya membaca memang dibutuhkan jika tidak mau dikatakan sebagai orang yang kudet. Up to date terhadap informasi memang sangat penting bagi mahasiswa karena mereka-lah yang dieluh-eluhkan sebagai generasi yang dapat memberikan dampak positif diberbagai bidang terutama bagi pembangunan generasi selanjutnya. Tentu tidak akan ada orang yang mau jika generasi muda negara ini mengalami kebodohan dan ketertinggalan. Oleh sebab itu, bangunlah budaya literasi dengan membaca untuk menciptakan kebermanfaatan. Setidaknya dimulai dari calon-calon agen perubahan (agent of change) yaitu mahasiswa.

Mustika Edi Santosa (Pegiat UKM KSEI Filantropi)