Header Ads

test

MAHASISWA: KEKERASAN DAN SEKS BEBAS



Dewasa ini, tentu kita tidak asing dengan banyaknya kasus yang menyandung para generasi muda bangsa ini. Khususnya, kasus yang menyandung para agent of change bangsa ini yaitu mahasiswa. Lingkungan dan emosional yang masih labil digadang-gadang menjadi faktor yang mengibatkan gejolak negatif pada diri mahasiswa tidak terkendali sehingga merefleksikan perilaku yang cenderung negatif. Kerap kali kita mendengar pernyataan bahwa lingkungan yang buruk akan memiliki dampak yang buruk juga bagi pertumbuhan pola pikir maupun perilaku mahasiswa. Oleh sebab itu, pengontrolan diri dan mencari habitat yang baik sangatlah penting bagi mahasiswa jika ingin terbebas dari belenggu setan.
Acap kali kita melihat banyak orang tua yang rela membanting tulang demi anaknya supaya dapat mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Namun, tidak sedikit juga dari mereka yang tidak menyangka bahwa tabiat anaknya tak senada dengan yang mereka harapkan. Terlebih malah sang anak lepas dari tanggung jawabnya sebagai mahasiswa yang seharusnya belajar dan menempa dirinya dengan ilmu pengetahuan. Maka, tidak heran jika kita banyak melihat mahasiswa yang mengalami penyakit kebodohan dan tidak sedikit yang terkena Drop Out (DO) dari kampus. Hal ini yang kemudian sangat mengkhawatirkan jika agent of change bangsa ini benar-benar keluar dari jalur tanggung jawabnya.
Tentu kita masih ingat dengan kasus mahasiswa yang mati terbunuh karena kekejaman seniornya lantaran sikap egoisme senior. Selain itu, beberapa kasus kekejaman senior yang melakukan tindak kekerasan saat OSPEK mahasiswa baru. Hal ini merupakan sekelumit gambaran bahwa sikap solidaritas di dalam diri mahasiswa sudah hampir hilang. Bahkan sikap tanggung jawab untuk mengakui hak orang lain pun sudah tidak dikenali. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa kelabilan emosional dan kekuatan yang menggebu-gebu masih tertaman pada jiwa mahasiswa. Dimana berdampak pada sikap mahasiswa yang mudah tersulut api dan sulit untuk dikontrol. Namun, mahasiswa sebagai agent of change harusnya mampu meminimalisir dan merubahnya menjadi sikap yang lebih elegan dan mengarah ke tindakan positif.
Tidak hanya tindakan kekerasan, baru-baru ini penyakit seks bebas telah merampas jiwa dan raga mahasiswa. Layaknya seperti pelacur, mereka menjual harga dirinya demi mendapatkan sepeser uang. Bahkan yang sangat miris, beberapa dari mereka rela mengorbankan kesucian tubuhnya kepada pacarnya atas dasar cinta. Tentu hal ini tidak sejalan dengan harapan orang tua yang mengharapkan anaknya dapat menjadi agen perubahan yang kelak dapat meningkatkan derajat kelurga dan negara. Malah mereka bertindak kotor dan menodai diri dan harapan kelurganya.
Seks bebas dapat menjadi penyakit yang sangat akut jika sudah menyerang korbannya. Bahkan perilaku ini pun seolah kini telah menjadi hal yang wajar dipraktikan dikalangan mahasiswa dan kerap kali dijadikan style mahasiswa. Hal ini yang kemudian menjadi sangat akut dan dapat mempengaruhi lingkungan mahasiswa dimana yang seharusnya mahasiswa menikmati lingkungan dengan suasana keilmuan seperti membaca buku, diskusi dan berkarya malah berubah menjadi suasana yang gelap dari keilmuan. Tentu menjadi sangat menakutkan jika perilaku seks bebas di kalangan mahasiswa ini terus dibudayakan. Sebab, jika tidak ada tindakan yang tegas untuk merubahnya, maka penyakit ini akan semakin akut dan semakin banyak mahasiawa yang terbawa arus seks bebas.
Seharusnya mahasiswa selaku agent of change dapat memanfaatkan masa-masanya dibangku kuliah dengan giat belajar dan menambah pengalaman. Membaca, berdiskusi dan berkarya merupakan tugas dan tanggung jawab mahasiswa. Sehingga nantinya mampu membentuk lingkungan mahasiswa yang penuh dengan suasana keilmuan. Selain itu, dapat mendorong mahasiswa lainnya melakukan hal-hal yang sama. Memang perlu regulasi dari pemimpin kampus untuk merubah budaya buruk mahasiswa saat ini. Bukan malah dosen sebagai pengajar hanya sekedar menyelesaikan tugasnya tanpa peduli dengan hal-hal yang melanda mahasiswa dan yang terjadi di lingkungan kampus. Atau pun malah melakukan hal bejat yang sama dilakukan oleh mahasiswanya.
Sebagai mahasiswa pun seharusnya menghargai kerja keras orang tuanya yang telah membanting tulang untuk mencari uang supaya ia dapat menguliahkan anaknya. Saya yakin, tidak sedikit keluarga yang memiliki keterbatasan di bidang ekonomi saat ini. Dimana mereka, para orang tua harus bekerja keras demi mencari sepeser uang untuk menguliahkan anaknya. Dengan harapan kelak anaknya dapat menjadi orang yang mampu mengangkat derajat keluarga dan menjadi orang sukses.
Keterbatasan ekonomi bukanlah menjadi penghalang bagi para mahasiswa untuk berprestasi dan sukses. Tentu kita masih ingat anak seorang tukang becak yang memliki prestasi yang luar biasa dan mampu lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Selain itu, masih banyak mahasiswa yang dari segi ekonomi sangatlah minim, namun kaya akan prestasi. Hal ini dapat dijadikan sebagai pelucut bagi kita untuk membuktikan dan memberi penghargaan kepada orang tua kita bahwasannya kita mampu bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan oleh orang tua.
Pada akhirnya, lingkungan mahasiswa yang penuh dengan keilmuan dan sikap solidaritas harus dibangun. Tanggung jawab mahasiswa adalah belajar seperti yang diperintahkan oleh para orang tua. Sehingga semaksimal mungkin mahasiswa harus mampu melakukannya dan kelak harus mampu menjadi orang-orang yang mengangkat derajat keluarga dan negara. Kekerasan dan seks bebas perlu dibuang jauh-jauh dari lingkungan mahasiswa. Jangan sampai hal tersebut mengendap pada jiwa dan membudaya di lingkungan mahasiswa. Sebab sikap maupun perilaku tersebut bukanlah tabiat seorang mahasiswa sesungguhnya. 

Mustika Edi Santosa (Pegiat UKM KSEI Filantropi)