Header Ads

test

LKS Sebagai Pelaksana Kesejahteraan Ekonomi



Siapa yang tidak tahu dengan lembaga keuangan syariah? Tentu sudah tidak asing terdengar ditelinga masyarakat dunia, khususnya masyarakat Indonesia yang sedang digandrungi oleh lembaga keuangan ini. Sejak pertama kali berdirinya lembaga keuangan syariah di Indonesia pada tahun 1992 yaitu Bank Muamalat Indonesia (BMI), pemerintah Indonesia semakin melek dengan kebutuhan negara terhadap lembaga keuangan yang berbasis syariah bagi pembangunan perekonomian negara. Hal ini diimplikasikan dengan semakin meningkatnya lembaga keuangan syariah yang ada di Indonesia dari tahun ke tahun. Tentunya ini merupakan sinyal positif bagi pembangunan perekonomian negara dan sekaligus dapat menjadi sinyal negatif, sebab dapat memicu meningkatnya kamuflase yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengambil kesempatan ini dengan jalan yang batil.
Penafsiran secara sedarhana bahwa lembaga keuangan syariah merupakan lembaga keuangan yang beroperasi atas dasar nilai-nilai Islam seperti keadilan, kesatuan, kebebasan dan tanggung jawab. Dimana juga di dalamnya harus terhindar dari perilaku riba, gharar, tadlis dan hal-hal lain yang tidak diperbolehkan dalam Islam. Hal tersebut kemudian menjadi prinsip utama yang harus dipegang teguh oleh lembaga kauangan syariah. Meskipun telah banyak berkembang lembaga kauangan syariah, baik bank maupun non-bank. Namun hal ini belum bisa dijadikan patokan bahwasannya sistem perekonomian yang baik telah hidup kembali. Jika kita menelisik lebih dalam, masih banyak lembaga keuangan syariah yang belum kental bahkan minim dengan prinsip-prinsip Islam di dalamnya.
Namun, kita boleh bangga dengan kemajuan lembaga keuangan syariah di Indonesia saat ini. Dimana menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa pangsa pasar keuangan syariah tercatat telah mencapai 4,7% dengan volume usaha berjumlah Rp. 268,4 triliun pada bulan Maret 2015. Data ini memperlihatkan bahwa kini sebagian masyarakat telah mempercayakan asetnya kepada lembaga keuangan syariah. Tentu, menjadi berita gembira bagi pelaku yang ikut andil di dalam lembaga keuangan syariah ini. Meskipun demikian, perlu diingat kembali bahwa perkembangan lembaga keuangan syariah haruslah tetap melihat dari praktik-praktik yang diterapkannya. Nilai-nilai Islam yang terealisasi menjadi hal terpenting untuk dijadikan acuan dalam memberikan rate kepada lembaga keuangan syariah ini.
Ketatnya persaingan antarlembaga keuangan baik konvensional maupun syariah saat ini sudah tidak dapat dielakkan. Bak pertandingan sepak bola yang ingin memasukkan bola ke gawang lawan sebanyak mungkin. Seperti lembaga-lembaga keuangan saat ini yang sedang genjar menggait masyarakat untuk dapat ikut andil di dalamnya melalui invesatasi maupun pembiayaan. Berbagai macam strategi ditawarkan dan tidak sedikit yang terkesan abal-abal dalam membuatnya yang kemudian menimbulkan dampak negatif yang besar bagi masyarakat. Alih-alih tujuan lembaga keuangan berfungsi untuk menciptakan perekonomian masyarakat yang sehat, malah menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat karena dimanfaatkan se-enaknya saja oleh oknum tertentu untuk mencari keuntungan pribadi dan menguasain ekonomi negara.
Tentunya kita masih dihantui dengan praktik lembaga keuangan konvensional yang menerapkan sistem bunga. Dimana banyak masyarakat, bahkan negara ini sekarat karena sistem bunga yang diterapkan oleh lembaga keuangan konvensional. Bahkan tidak sedikit hutang negara yang hanya mampu dibayar bunganya saja tiap tahun oleh negara dan tidak sedikit juga masyarakat yang kehilangan aset-aset tidak bergeraknya karena terlilit hutang berbunga. Selain itu, jika kita kembali ke masa yang telah silam, dimana krisis moneter telah mengobrak-abrik perekonomian Indonesia saat itu. Tentu, kejadian dimasa yang telah silam tersebut harusnya dijadikan pelajaran penting dalam membangun perekonomian negara.
Lembaga keuangan syariah sebagai lembaga keuangan yang terbilang baru di Indonesia kini dieluh-eluhkan untuk menjadi salah satu pendorong perekonomian negara. Sejak berdirinya BMI dan kekebalannya dalam melawan krisis moneter pada masa lalu semakin memberikan keyakinan kepada pemerintah untuk terus membangun dan mengembangkan lembaga keuangan berbasis syariah. Dengan harapan lembaga ini akan selalu eksis dan mampu menjadi penopang perekonomian negara seperti di negara Malaysia. Melihat dukungan yang amat besar dari pemerintah Indonesia menjadi peluang besar bagi para investor untuk ikut dalam membangun lembaga keuangan syariah di Indonesia. Tentunya dengan harapan dapat ikut andil dalam membangun perekonomian Indonesia.
Kehadiran lembaga keuangan syariah baik bank maupun non-bank sangatlah dibutuhkan oleh negara ini untuk turut meningkatkan perekonomian negara. Tidak hanya bank syariah yang kini kian menjamur, saat ini pun pasar modal syariah maupun pasar uang syariah telah merambah ke masyarakat menengah. Tentunya, dengan iming-iming profit yang tinggi dan keuntungan yang menggiurkan supaya masyarakat mau menginvestasikan uanagnya di lembaga ini. Namun, peluang yang besar ini terkadang dijadikan momentum bagi bebarapa pihak untuk mengelabui masyarakat. Tidak sedikit yang terjerumus dalam jurang kepailitan karena sikap nakal pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Seperti yang terjadi baru-baru ini, beberapa masyarakat jatuh pailit karena tergiur oleh investasi dengan keuntungan tinggi namun ternyata hal tersebut hanyalah kamuflase strategi untuk membodohi masyarakat. Tentunya hal-hal seperti ini harus dicegah dan dihindari, terutama dari lembaga keuangan syariah yang pada dasarnya mengedepankan nilai-nilai Islam dalam menjalankan operasionalnya.
Kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan syariah perlu dimanfaatkan sebaik mungkin dan dijadikan peluang untuk membagun lembaga keuangan yang baik. Tentunya tidak hanya dari segi pelayanan kepada masyarakat, namun yang terpenting adalah dari segi mempraktikkan nilai-nilai Islam di dalamnya. Sebab, jantung berdirinya lembaga keuangan syariah adalah nilai-nilai Islam yang terkandung di dalamnya. Ketika nilai-nilai tersebut dirusak atau terkena penyakit, maka lembaga ini akan terganggu bahkan dapat jatuh pailit. Oleh sebab itu, mendirikan lembaga keuangan syariah harus disertai dengan komitmen yang kuat untuk membangun perekonomian yang sehat dan baik. Yaitu dengan tetap menjaga kebersihan lembaga ini dan memegang teguh nilai-nilai Islam.     

Mustika Edi Santosa (Pegiat KSEI Filantropi)