Header Ads

test

BUDAYAKAN CINTA MENULIS



Dewasa ini banyak kita temukan para remaja dengan mudah mengutarakan kata cinta kepada remaja sebayanya, terutama kepada lawan gender. Tentunya, hal tersebut ditujukan untuk mendapatkan ikatan yang sering kita sebut ‘pacaran’ sebagai reaksi dari rasa cintanya terhadap lawan jenisnya. Sungguh fenomena yang sangat kronis jika generasi muda bangsa ini tidak tahu makna cinta secara benar dan hanya meletakkan cintanya kepada lawan jenisnya saja. Sudah pasti, cinta kepada lawan jenis di masa-masa remaja tanpa ada ikatan yang sah (perkawinan) hanyalah tabiat nafsu yang selalu digebu-gebukan. Hal ini yang kemudian banyak menyababkan para remaja masa kini terjerumus pada kenikmatan semu dan jauh dari tanggung jawabnya untuk mengisi dirinya dengan ilmu pengatahuan.
Melihat beberapa fenomena yang sangat unik mengenai cinta di kalangan remaja, khususnya cinta yang tertambat pada diri mahasiswa yang dikatakan sebagai orang intelek. Pada dasarnya, mahasiswa adalah manusia yang dibangun keilmuannya supaya dapat memberikan perubahan yang berarti bagi peradaban suatu bangsa. Dalam membangun keilmuannya tersebut, mahasiswa dituntut untuk mengedepankan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan.
Mahasiswa perlu membangun sikap ‘kenafsuannya terhadap literasi’ dan berlomba-lomba menuangkan pemikirannya ke dalam karya yang bermanfaat. Namun, saya melihat saat ini semakin minim mahasiswa yang berkemaun untuk belajar. Saya melihat hanya beberapa mahasiswa saja yang memiliki kesadaran untuk mengecas keilmuannya dengan pergi membaca buku di perpustakaan. Kebanyakan kesadaran mereka untuk menyambangi perpustakaan baru akan muncul ketika ada tugas dari dosen yang membutuhkan referensi atau hanya pada saat ingin menggarap skripsi saja. Bahkan, tidak jarang dari mereka yang belum pernah menyambangi perpustakaan seumur hidupnya di kampus. Tentunya sangat kronis jika agent of change bangsa ini bermalas-malasan dalam meperbanyak literasinya, apalagi untuk berkarya melalui tulisan.
Melihat tabiat para remaja, khususnya mahasiswa tentu membuat kita geram sendiri. Meraka jauh dari budaya belajar dan cenderung mengedepankan budaya pacaran sebagai ungkapan cinta yang merefleksikan nafsunya. Semakin sedikit mahasiswa yang mempunyai kemauan untuk berkarya, khususnya dalam bidang kepenulisan. Sekarang ini, jarang ditemukan mahasiswa yang mampu memunculkan tulisannya di media cetak, bahkan untuk tampil di website atau blog saja sudah sulit. Hal ini terjadi karena tidak ada sisi cinta mereka yang ditambatkan kepada kecintaan untuk menulis. Maka tidak heran jika banyak opini mahasiswa tidak pernah tersampaikan dalam tulisan yang sebenarnya dapat bermanfaat sebagai jembatan pemikiran antarmahasiswa dan pemimpin bangsa.
Sebagai mahasiswa yang akan mejadi meneruskan tongkat estafet kemimpinan bangsa ini. Seharusnya mampu berfikir secara terbuka dan dapat memosisikan dirinya sesuai dengan tanggung jawabnya. Belajar adalah salah satu tanggung yang pokok bagi mahasiswa. Secara subtansial, mahasiswa harus memiliki good idea (gagasan yang bagus) dan menyebarkan benefit (kebermanfaatan) bagi masyarakat. Selain itu, mereka juga dituntut untuk mampu kreatif dalam menciptakan karya-karya barmanfaat, baik buku maupun hal-hal lain yang dapat ditungkan dalam tulisan.
Flashback ingatan kita pada masa kejayaan Islam, dimana pada masa tersebut Islam mampu menciptakan cendikiawan-cendikiawan Muslim yang banyak memilki penemuan baru dan hingga saat ini penemuan tersebut masih bermanfaat bahkan dikembangkan. Selain itu, banyak pemikiran para Ilmuwan Muslim yang dituangkan dalam buku yang kemudian dijadikan buku wajib dalam perkuliah diberbagai universitas ternama. Tentu kita juga masih ingat sosok Imam Al-Ghazali, beliau merupakan salah satu cendekiawan Muslim yang terkenal dengan bukunya yang berjudul ‘Ilya Ulumuddin’. Dimana karyanya ini masih dijadikan rujukan hingga saat ini dan sosok penciptanya pun selalu melekat pada diri pembacanya. Banyaknya manfaat yang dapat mereka berikan tidak lain melalui buah pemikirannya yang kemudian dicurahkan melalui tulisan yang pada akhirnya dapat memberikan kebermanfaatan meskipun secara fisik mereka telah hilang.
Menulis adalah hal yang sesungguhnya mudah untuk dilakukan oleh  mahasiswa, kecuali bagi mereka yang mebutakan tangannya untuk menulis. Kalangan mahasiswa tentu tidak akan asing dengan kebiasaan menulis. Dimana hampir semua tugas yang diberikan oleh dosen dikelas selalu berbau menulis. Tugas tersebut mencakup seperti menulis artikel, makalah dan skripsi bagi mahasiswa Strata 1 (S1). Namun, ironi ketika saya menemukan banyak mahasiswa yang kesulitan dalam menulis, bahkan enggan untuk menulis. Bagaimana tidak, banyak dari mereka yang minim kesadaran untuk belajar menulis.
Saya melihat masih banyak mahasiswa yang numpang makalah pada temannya bahkan rela mengeluarkan jutaan rupiah dari kantongnya untuk membeli sebongkah skripsi karya orang lain. Tentu tidak heran jika banyak ditemukan mahasiswa yang jauh dari kecintaan terhadap menulis. Namun, saya sangat salut bagi mereka yang masih mau menggerakkan tangannya untuk terus berkarya dalam tulisan dan menjadikan kegiatan menulis sebagai passion mereka. Bahkan tidak jarang dari mereka yang menggantungkan hidupnya dari buah emas tulisannya. Hal ini yang perlu dilestarikan untuk membangun budaya menulis pada diri mahasiswa.
Tentu, menjadi dambaan setiap orang jika mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Selain itu, menjadi orang yang selamanya abadi dan dikenang. Pramoedya Ananta Toer salah satu novelis Indonesia mengatakan “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selamanya ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah belajar untuk keabadian”. Imam Al-Ghazali pun pernah bernasehat, “Jika kamu bukan anak raja dan kamu bukan anak ulama besar, maka menulislah”. 

Membaca sekelumit nasehat dari mereka tentunya kita dapat mengambil kesimpulan mengenai pentingnya menulis. Pada intinya, menumbuhkan kecintaan menulis, khususnya pada diri mahasiswa sebagai penerus pembangunan bangsa ini, sangatlah penting. Sebab, yang ditunggu-tunggu oleh orang tua dari mereka tidak hanya pemikirannya saja namun juga karya-karya yang bermanfaat bagi generasi selanjutnya melalui warisan berupa tulisan. Oleh karena itu, membudayakan kecintaan terhadap menulis sangatlah urgent jika ingin menjadi sosok yang bermanfaat dan dikenang selamanya. 

Mustika Edi Santoso (Pegiat KSEI Filantropi)