Header Ads

test

Ideologi : Antara Kepribadian dan Kemanusiaan


Negara ini merupakan kesatuan dari berbagai perbedaan, penyelarasan antara kebhinekaan yang ada dalam negeri ini. Ideologi merupakan sebuah visi yang komprehensif, yang mampu menangkap suasana yang ideal. Ideologi tak hanyal sebuah gaya yang dibawakan dalam kehidupannya. Gaya yang berpengaruh kepada goal setting kemanusiaan, yang akan membawa kepada kelayakan dalam kepribadian. Buah pikir manusia akan diukur ke dalam parameter kelayakan bersosial antara kemanusian dan kepribadian.
Ideologi akan membawa kepada tujuan yang luhur yang berrtujukan kepada keabadian sosial masyarakat. Tanpa disadari ideoogi negara ini, pancasila telah termaktub dalam ajaran agama, baik Kristen, Hindu, Budha, Kongucu, dan juga Islam. Dimana masing-masing agama mempunyai kepribadian ideologi, meskipun demikian keutuhan dalam bernegara harus menjadi fokus utama penguasa negeri ini. Tidak menjadikan perbedaaan sebagai tolak ukur kebenaran, melainkan sebagai kekayaan negeri pertiwi ini. Hasilnya, pemerintah dengan berbagai kebijakannya, membuat sebuah ideologi negara yang mempuyai kekuatan dalam perbedaaan, yaitu menyatukan berbagai ideologi agama, sosial, dan budaya menjadi satu, ideologi pancasila, yang berpegang teguh kepada kehidupan bersama.
Persatuan dan rasa kesatuan menjadi tenaga pendorong terciptanya ideologi negara, sebuah negara yang barang tentu menjadi penyokong kekayaan dunia dengan sumber-sumber kehidupan yang ada. Namun, satu hal yang menjadi tenaga penghancur negara ini, tenaga egoisme yang tidak memperdulikan banyak kalangan. Negeri ini kaya katanya! Dan memang kaya nyatanya. Kaya akan kepribadian, pribadi yang mencoba menguasai negara ini, tidak memperdulikan pelbagai permasalahan global, yang dipentingkan adalah kebutuhannya sendiri. tanpa disadari tenaga egoisme menjadi penghalang akan penyatuan perbedaan.
Pecahnya ideologi negeri ini akan membangun sebuah kesengsaraan, karena banyak kemunafikan dari banyak populasi. Apa yang nantinya terjadi adalah akibat dari kepribadian yang rusak. Ideologi negara ini pada dasarnya belum mampu menyatukan berbagai perbedaan. Seperti halnya kerangka berpikir masyarakat akan jauh berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, masyarakat desa akan berpikir kepentingan bernegara adalah kepentingan yang bergantung kepada kebutuhan hidup, sedangkan masyarakat kota berpikiran bahwa kepentingan negara adalah kepentingan pelayanan hidup. Masyarakat desa akan mudah terbawa alur perubahan berpikir pemerintah, berbeda dengan pola pikir masyarakat kota, mereka akan menimbang dari pada kebijakan yang dibuat.
Siapa yang mampu menafsirkan ideologi kepemerintahan? Selama ini keputusan tertinggi banyak dihadirkan dari kebijakan rezim pemerintah, bagaimana peran permufakatan masyarakat bilamana hukum negeri ini telah diatur oleh pemerintah. Bagaiaman peran perwakilan rakyat? Pertanyaan-pertanyaan banyak bermunculan dari tugas perwakilan rakyat, dimana mereka, dimana peran mereka, dimana janji-janji kemanusiaanmu? Omong kosong! Tidak ada yang mampu menafsirkan kehendak rezim-rezim setan.
Kepentingan pribadi mereka menjadi pendorong kerusakan negeri dengan ideologinya. Ideologi hanyalah sebatas perlintasan gagasan, bukanlah sebuah pemersatu. Tindakan-tindakan kebenaran banyak diartikan sebagai hal yang tabu, terlebih ideologi banyak digunakan sebagai kekuatan pengkayaan pribadi. Pengabdian mereka banyak dilakukan dengan perhitungan akan kepentingan. Tidak untuk menjadi sebuah percontohan yang baik, karena tenaga egoisme masih menjadi sebuah tenaga yang mengatur gerak gerik dalam pengabdian. Hasilnya, bukanlah pengabdian melainkan pendayagunaan kekuasaan untuk melakukan permulusan dari kepentingan pribadi.
Lampau telah dipercontohkan bagaiamana negara ini disatukan dengan satu suara, suara yang menjadi daya dorong untuk bebas dari tikaman rezim setan. Suara yang tersyiarkan dari bibir seorang manusia yang mau dan mampu menfasirkan kebutuhan negeri ini. Soekarno, Sikapmu menjadi pemula dalam pembebasan penindasan. Berbagai fenomena yang engkau alami menjadi parameter keberhasilan dalam suasana hening lagi mencekam. Proklamasi, menjadi sebuah hal yang ditunggu dan dinanti-nantikan.
Jauh dari pada itu, fenomena pengkekalan ideologi negara saat ini tidak mampu menjadi jawaban dari persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Banyak hal yang merusak ideologi negara ini, sehingga negara ini tidak akan mempu menjadi negara yang damai, elok, dan saling memiliki. Banyak telinga-telinga, mata-mata, mulut-mulut bahkan hidung mereka tertutup oleh keinginan dari lidah mereka. Tak hanyal negeri ini makmur hanya dikalangan pembual saja, tanpa mereka sadari mereka telah sukses memperdaya masyarakat. Fenomena ini harus menjadi dasar pengambilan sikap, jangan sampai masyarakat antipati dengan semua itu, karena kebijakan modal bual akan membawa kepada kehancuran ideologi negara, merusak dan meruntuhkan kekuatan negara. Hal itu akan merusak  goal setting negara ini yaitu kebebasan berkehendak dan berkeadilan dalam berbagai sektor yang bertaraf akan kehidupan bersama.


Dwi Nugroho (Pegiat KSEI Filantropi)