Header Ads

test

Sampai Kapan: Proses Aplikasi Menuju Teori Dalam Lembaga Keuangan Syariah?


Lembaga keuangan syariah pada hakikatnya sama saja dengan lembaga keuangan konvensional  yakni memerankan  setidaknya tiga fungsi  lembaga keuangan  yaitu  menghimpun, menyalurkan serta memberikan pelayanan jasa di bidang keuangan untuk masyarakat. Diantara keduanya yang membedakan adalah kata syariah yang disematkan namanya di belakang nama lembaga keuangan, yang sudah tentu pada hakikatnya konteks syariah pada label atau lambang syariah benar-benar diterapkan sesuai ajaran Al-quran dan As-sunah. Dibalik itu, lembaga keuangan konvensional menggunakan prinsip umum dikalangan masayarakat. Pertanyaanya simple apakah sudah sesuai antara konsep dan teori dalam lembaga syariah?
Lembaga keuangan syariah di zaman modern saat ini, sudah sangat menjamur dikalangan masyarakat, baik itu yang berbentuk perbankan atau yang berbentuk koprasi seperti  BMT (Baitul Mal Watamwil),  ada juga penggadaian dan asuransi serta bentuk-bentuk lembaga keuangaan  lainnya yang kesemuanya mengatasnamakan diri sebagai lembaga syariah yang no riba,  akan tetapi yes profit and lost sharing. Tapi apakah semuanya lantas demikian, apakah sudah relevan antara keduanya, yakni aplikasi dengan teori?  Dibanyak pertanyaan ini semua tidak ada yang pernah mengatakan ya atau mengatakan dengan tegas bahwa itu jelas sesuai, tapi yang mereka katakan adalah kata yang menurut saya sebuah kata yang belum jelas kebenaranya yakni semua dalam proses menuju kepada kesyariahan, timbulah sebuah pertanyaan, sampai kapan proses itu?
Proses sendiri adalah tahapan-tahapan menuju sesuatu, dalam lembaga keuangan syariah sudah tentu eksistensi atau berkembangnya lembaga tersebut membutuhkan proses. Makna syariah sendiri secara konteks sangat mudah, karena tuntunanya sangat jelas dan tegas. Dimana hukum awal mengatakan bahwa semuanya boleh dilakukan asal tidak melanggar tuntunan Al quran dan As-sunnah, apakah hal itu sudah terlaksana? Menurut saya Lembaga  keuangan syariah saat ini diumpamakan seperti kendaraan truk yang belum ada bak belakangnya dalam artian secara lembaga sudah berjalan namun secara fungsi belum seratus persen barjalan.
Kontek ini didukung dengan banyaknya persepsi masyarakat akan hal itu, banyak yang mengatakan kesamaan antara keduanya. Memang konteks yang paling mendasar dalam setiap transaksi syariah adalah akad atau perjanjianya, dimana ketika itu hal baik maka akan dinilai baik juga nantinya. Hal  itu pun sudah terlaksana dengan baik namun kontek penerapanya belum seratus persen  berjalan dengan baik.
Baik atau tidaknya sebuah sistem memang tergantung pada oknum yang menerapkanya. Kita tahu secara sistem perihal dari syariah yang berarti aturan Islam, tidak pernah salah karena Al-Quran dan As-Sunah telah membimbing akan hal tersebut. Sistem yang digunakan pun berasal dari aturan dari keduanya. Sudah tidak dapat dipungkiri kembali bahwa kebenaran dari Al-Quran dan As-Sunah. Tapi karena keadaan yang mengatas namakan keuntungan yang sedikit, banyaknya sistem ini lagi-lagi masih mengatakan masih dalam proses menuju hal lebih baik. Lagi-lagi timbul pertanyaan sampai kapan? Hal inilah yang masih menjadi pekerjaan kita bersama dalam mengentaskan kemiskinan dan kepercayaan masyarakat akan hal kesyariahan.

Muid Sidik (Mahasiswa IAIN Metro)