Header Ads

test

Refleksi "Hari Ibu"


Menurut Susan Blackburn, kongres perempuan pertama membuat kesal kaum feminis Eropa di Indonesia, sebab acara ini hanya diperuntukkan bagi perempuan-perempuan atau ibu-ibu pribumi Indonesia saja.  Menurut Slamet Muljana, dalam Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan (2008), dua tahun setelah kongres, perempuan-perempuan itu menyatakan bahwa gerakan perempuan adalah bagian dari pergerakan nasional. Bagi mereka sendiri, perempuan wajib ikut serta memperjuangkan martabat nusa dan bangsa.
Selanjutnya paska kemerdekaan Soekarno menganggap kongres yang dilakukan oleh perempuan pada masa itu penting. Untuk mengenang semangat perempuan juga ibu-ibu dalam pergerakan nasional demi perbaikan kehidupan perempuan era kolonial itu. Maka, pada 22 Desember 1953, dalam peringatan kongres ke-25, melalui Dekrit Presiden RI No.316 Tahun 1953, Presiden Soekarno menetapkan setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Paling tidak sejarah singkatnya atau sebab musabab  hari ibu di Indonesia seperti demikian adanya. Jikalau banyak yang tidak tahu menahu, saya pikir hal yang wajar, mengapa tidak? sejarah negeri ini mencatat orang yang banyak tahu atau yang mencari-cari tahu mereka tidak bisa dibina maka mereka dibinasakan seperti diantaranya Wiji Tukul, Soek Ho Gie, Pramodya Ananta Toer dan masih banyak lagi orang banyak tau akan kebenaran, dibungkam  dan dibumi hanguskan.
Peringatan hari ibu hari ini masih bersifat seremonial belaka yang dalam praktik-praktiknya masih secara konvensional. Dalam artian setiap peringatanya, baik itu peringatan hari ibu yang sekarang ini dengan peringatan hari ibu yang telah berlalu mayoritas masih sama saja, maka seharus nya peringatan hari ibu tidak berulang-ulang seperti itu. Saya melihat peringatan hari ibu masih dengan cara  menulis surat bertuliskan kata-kata indah untuk sang ibu, atau membuat bunga lalu meberikan nya ke ibu-ibu atau dengan selfi dengan ibu kemudian di upload di jejaring media sosial dan memenuhi dinding beranda facebook, twiter dan lainnya dengan status bertemakan “Mother’s Day 22 Des”
Seharusnya, harus ada inovasi baru yang merefleksi semangat hari ibu yang responsive terhadap realitas. Namun, bukan berarti saya anti dengan cara peringatan hari ibu yang demikian itu, saya pikir peringatan yang demikan itu cukup baik tapi akan lebih baik lagi jika peringatan hari ibu dilakukan dengan suatu pergerakan. Selaras dengan nilai sejarah, awal mula hari ibu yaitu suatu pergerakan dalam rangka menyelamatkan.
Untuk peringatan hari ibu tanggal 22 Desember 2016 sekarang ini seharusnya dibuatlah semacam gerakan, yaitu gerakan “stop riba dan stop mencemari lingkungan. Peringatan hari ibu dengan gerakan stop riba ini maksudnya adalah pada mother’day  kita berusaha untuk tidak memakai, menggunakan dan/atau menjauhkan transaksi dengan bank konvensional atau transaksi berbau ribawi. Karena jika mengacu pada sabda Rasulullah saw, bahwasanya timbagan dosa orang yang memakan riba itu sama dengan orang yang menzinai ibu kandung nya sendiri. Naudzubillaahiminzalik, “ngerii”, (dikutip dari HR. Al Hakim dan Al Baihaqi )
Selanjutnya, peringatan hari ibu dengan stop mencemari lingkungan. Maksudnya setiap 22 desember dilakukan gerakan yang peduli terhadap lingkungan, seperti tidak menggunakan kendaraan berpolusi, membuang sampah pada tempatnya atau melakukan GPS (Gerakan pungut sampah) mengapa demikian? Lalu apa korelasinya hari ibu dengan lingkungan? Jikalau anda mempertanyakan hal tersebut berarti anda termasuk golongan yang kurang kekinian. Anda akan menemukan jawabannya dilirik lagu dari band sisir tanah, yang bergaya folk. Band ini digawangi oleh Danto cs, yang jarang diputar dalam tangga nada Indonesia. Padahal dalam liriknya sarat akan nasehat untuk negeri ini.
Jika bumi adalah ibu kita, maka manusia akan melakukan perbuatan keji terhadadap ibunya, memperkosa ibunya setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik. Karena lingkungan merupukan dari bumi, yang mana tidak pernah didapati manusia mengindahkan lingkungannya, dewasa ini. Sebaliknya banyak dilakukan kegiatan negatif, membuang sampah sembarangan, membuat kerusakan, menggunduli pegunungan dan hutan. Mereka tidak sadar bahwa hidup akan tergantung kepada lingkungan, dimana lingkungan sehat berarti makhluk yang ada disekitarnya sehat. Bilamana hal tersebut terjadi maka dapat diartikan ia telah memperkosa ibunya, memanfaatkan tanpa ada penanggulangan.
Jika bumi adalah ibu
Kita manusia memperkosa ibunya
Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik
Jika laut adalah ibu
Kita manusia memperkosa ibunya
Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik

Astagfirullahaladzim, dosa durhaka macam apa yang telah diperbuat, memperkosa ibu setiap jam, setiap,menit, setiap detik, bisa dikatakan durhaka tingkat akhir. Saya pikir kebanyakan mahasiswa intelektual (orang yang berpikir) sudah terbiasa melakukan perbuatan durhaka. Jika kita mengingat pesan Pramodya Ananta Toer “Semua yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir”, representatif dari urusan di bawah kolong langit ini adalah urusan orang-orang lemah. Bukankah kampus di dalamnya ada orang-orang yang berfikir, bukankah mahasiwa adalah kalangan intelektual namun yang terjadi kita malah diam, menafikkan orang yang senantiasa ada ketika kita butuh. Saat ibu-ibu di kendeng berjuang melawan hegemoni pabrik semen dan pemerintahnya yang bermasalah, sampai mereka  rela mengecor (menanam) kakinya dengan semenpun tidak pernah ada sesosok pemuda yang mencoba membenarkannya. Kemana generasi negeri ini?
Perjuangan yang dipromotori Guritno dengan gigih dan penuh semangat tetap berjuang untuk keadilan dan lingkungan hingga sekarang. Dilain hal perlu dipertanyakan Peran mahasiswa sebagai promotor perubahan negeri ini, dimana peran mahasiswa saat pemikiran-pemikirannya dibutuhkan. Banyak hal yang dikeluhkan masyarakat, dari komoditas pertanian yang dipermainkan dengan kejam, saat harga singkong anjlok, saat pasokan pupuk langka, saat petani menjerit dan berdemo. Apa yang sudah kita (mahasiswa) lakukan?
Hendaklah kita melihat suatu ketidakadilan, kesewenangan, atau pemugkiran ajaran nabi yang munyuruh kita untuk merubahnya dengan tangan. Maksudnya merubah melaui tindakan seperti  menulis, dengan lisan dan yang terakhir jika tidak mampu maka rubahlah dengan hati, “hati hanya mampu doa berbisik” dan itulah selemah-lemah iman. Bagaimana kita menilai secara bijaksana perayaan hari ibu dan merayakanya dengan cara yang bijak seperti kata pramodya  dalam buku bumi manusia “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil (bijak) sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”


Elman Darmansyah (Mahasiswa IAIN Metro)