Header Ads

test

“Perubahan Kota”


Metro kota pendidikan, merupakan panggilan yang ingin selalu disematkan untuknya. Selain itu metro kota hijau, begitu yang diuatarakan oleh demisioner walikota pada masa baktinya lalu. Banyak hal yang ditawarkan kota ini, tempat wisata yang sarat dengan pendidikannya. Pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi yang sarat dengan intelektualnya. Perputaran ekonomi yang merata, lembaga pelayanan masyarakat yang selalu suport, dan keindahan tata kota yang merupakan faktor penting di dalamnya.
Namun, tak semudah mengatakan bahwa kota ini adalah kota hijau layak huni, ketika yang ada di dalamnya tidak mengindahkan apa yang ingin diungkapkan. Kota hijau bukan karena banyak pepohonan yang rindang di samping jalan sana. Klasifikasi hijau adalah menyeluruh pada berbagai aspek, baik kondisi lingkungan maupun kehidupan yang ada di dalamnya. Hijau karena banyaknya keserasian diataranya, saling berhubungan, saling bersinggungan dan saling menguntungkan serta penuh kedamaian.
Kebijakan pemerintah dalam melakukan sebuah pembangunan, harus senantiasa dibarengi dengan pemerhatian akan lingkungan. Analisis dampak lingkungan harus selalu menjadi patokan dan senantiasa ditekankan dalam pembuatan kebijakan. Perlu melakukan kajian ulang, Apa akibat dari pembangunan yang ada dan keuntungan apa yang hendak dicapai dalam pembangunan. Perlu melakukan kajian yang lebih mendalam tentang kebermanfaatan kota ini, kota yang dijadikan sebagai tujuan migrasi intelektual.
Banyak kota menjadi hancur, disebabkan karena pembangunan yang tidak dibarengi dengan perencanaan yang baik. Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta adalah kota metro politan, banyak hal yang dibangun demi menjawab tantangan Negara, sebagai daerah pusat pemerintahan. Dari segi tata kota, regulasi, sistem pemerintahan, dan juga pelayaan masyarakat harus ditinggikan. Dalam pembangunan selalu terdapat sisi positif dan juga negatif. Banyak sisi positif selalu dihilangkan dari pandangan dan mengangkat sisi negatif untuk menutupi keberhasilan pembangunan. Dimana tempat, disana menjadi sendi-sendi pengambilan data untuk menafikkan perubahan positif dari pembangunan.  
Pembangunan-pembangunan yang dilakukan adalah sebuah tuntutan yang harus dilakukan. Namun, dampak pembangunan yang ditimbulkan tidak bisa dikesampingkan, salah satunya ruang-ruang hijau sulit ditemui. Hal ini mengakibatkan berkurangnya Pasokan oksigen yang menjadi penting bagi manusia untuk menjalankan hidup. Dapat diartikan bahwa ruang hijau, pepohonan, dan kelestarian lingkungan menjadi hal yang dibutuhkan manusia untuk merefleksikan pikiran. Bandung mulai tersadarkan dengan hal itu, sehingganya pemerintah kota Bandung berpikir untuk melakukan sebuah pembaruan akan daerahnya, yaitu melakukan pembangunan akan tempat-tempat wisata yang menyatu dengan alam, membawa masyarakatnya untuk lebih dekat dengan alam, bahkan yang lebih menarik adalah pemerintah kota bandung membuat sebuah tempat terbuka untuk melakukan pertemuan, tujuannya adalah agar dapat membuka pikiran setiap yang melakukan pertemuan. Kebutuhan ruang terbuka saat ini sangat banyak, sehingga banyak tempat-tempat terbuka hijau dibangung, diantaranya taman-taman wisata, tempat-tempat untuk berekspresi, tempat-tempat yang digunakan untuk menghilangkan kejenuhan. Hingganya kekuatan manusia akan senantiasa berseragam dengan kekuatan alam.
Kebutuhan akan refleksi pikiran dibutuhkan oleh banyak orang. Jakarta dengan jumlah penduduknya sangat padat, ditambah dengan imigran dari kota-kota sekitar mengakibatkan Jakarta menjadi penuh sesak dan pengap. Dapat diproyeksikan bahwa kota termiskin akan oksigen adalah Jakarta, kota sejuta rahasia. Pembangunan yang terfokus kepada kemodernan akan membawa sebuah kota kepada hal keburukan, keegoisan akan kota dan pemerintahannya akan menjadi bumerang pada kota tersebut. Pembangunan fisik berupa gedung bertingkat akan menjadi sekat bagi pemilik kota asli dan pendatang. Pemilik kota asli akan tergusur dengan pemilik kota pendatang. Pada akhirnya kesenangan akan kota lebih dapat dirasakan oleh pendatang.
Kota layak huni bukan dilihat dari aspek lama-tidaknya, suka-tidaknya, nyaman-tidaknya wisatawan singgah. Namun, keseragaman kehidupan masyarakatnyalah yang mencerminkan bahwa kota ini layak huni atau tidak. Bagaimana masyarakat menikmati akan kehidupannya, meskipun dalam keadaan kekurangan. Kota layak huni juga dapat dilihat dari fasilitas yang tersedia, fasilitas-fasilitas publik yang mendukung aktivitas keseharian masyarakatnya, hingga banyak yang singgah di kota ini.
Orang-orang yang berdatangan tidak lain adalah mereka yang berlibur, mereka yang mengadu nasib dan mereka yang mencari pengalaman akan indahnya pendidikan, akan keindahan kota. Metro adalah kota kecil yang ada di Provinsi Lampung yang setiap tahunnya terdapat setidaknya lebih dari ratusan orang berdatangan di kota kecil yang merupakan asimilasi dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Seiring bergantinya tahun pendidikan kota metro akan menjadi sebuah kota dengan tingkat penduduk yang padat, dan didominasi oleh warga negara yang berumur kurang dari 25 tahun, tujuannya mencari sebuah disiplin keilmuan. Hal tersebut menandakan bahwa metro adalah salah satu kota di Lampung yang menjadi tujuan untuk melanjutkan jenjang pendidikan. Hal ini menafikkan bahwa sebuah kota pasti akan menawarkan sebuah destinasi wisata, tempat hiburan, dan kesenangan yang harus ditonjolkan.
Metro, kota kecil sarat akan pengembangan, dimana pembangunan senantiasa dilakukan. Sebuah kota tak hayal sebuah lukisan, indah dipandang dari depan tetapi tidak dapat dinikmati keindahan dari belakang. Diindahkan semua yang tampak, namun dikesampingkan yang tidak tampak. Maka, hal tersebut yang akan menghancurkan kota ini. Perhatian pemerintah yang tidak hanya berfokus kepada sudut keramaian, tetapi juga sudut ketenangan haruslah diperhatikan. Karena tujuan penghuni luar datang adalah untuk melakukan telisik yang lebih tajam pada jalur pendidikan, bukan hanya menikmati keindahan kota. Kota kecil ini penuh dengan makna. Kota ini diramaikan oleh pengais intelektual yang keberadaannya saling bergantian setiap tahun. Hal tersebut sudah dapat dipastikan bahwa ada yang datang dan ada yang pergi dalam pergantian tahun pembelajaran. Dapat dikatakan Metro adalah tempat singgah sementara bagi siswa, bagi mahasiswa dan wisatawan, jadi ketenangan dan ketentraman merupakan tutuntutan penduduk yang singgah pada umumnya.
Cukupkah kota ini menampung? Kota yang berkembang dan senantiasa melakukan pembaruan. Metro adalah suatu daerah yang senantiasa melakukan pembaruan namun tidak dapat melakukan perluasan wilayah, akibatnya apakah masih dapat kota ini menampung pendatang yang senantiasa berdatangan setiap tahunnya. Pada dasarnya populasi dari suatu tempat akan senantiasa berkembang, mengakibatan semakin terjepitnya kota ini dengan banyaknya penduduk yang ada.
Dapat terbayangkan ruang terbuka akan senantiasa tergerus dengan keberadaan pembangunan gedung-gedung untuk keperluan pihak kapital. Dewasa ini banyak pembangunan yang dilakukan yang mengharuskan untuk memakan lahan persawahan. Alhasil saat ini persawahan bukanlah untuk menanam padi, namun digunakan untuk menanam batu pondasi. Dasar pembangunan yang dilakukan akan berimbas negatif pada laju perkonomian tradisional, tanaman padi. Dengan banyaknya pembangunan maka secara langsung akan mengurangi jumlah lahan baah untuk bercocok tanam. Dikemudian hari dapat dikatakan bahwa negara ini tidak akan bisa berdaulat pangan, karena lahan-lahan potensial untuk melakukan penanaman akan hangus dengan berlangsungnya pengembangan pembangunan.
Tata kota yang baik merupakan hal yang harus dilakukan oleh pemerintah, bukanlah hanya mengambil kebijakan melakukan pembangunan dengan besar-besaran tetapi tidak ada hal positif yang di dapatkan. Pembangunan memang diperlukan untuk mengukuhkan bahwa kota ini adalah sebenar-benarnya kota metro politan. Hal yang tidak dapat dikesampingkan adalah ruang-ruang bercengkrama dengan alam harus senantiasa diadakan, dan daerah yang baik adalah daerah yang mampu mengahasilkan sebuah hal-hal yang merupakan kebutuhan dari daerah tersebut, sehingganya kota yang layak huni akan selalu tesematkan di pundak kota ini.


Dwi Nugroho (Mahasiswa IAIN Metro)