Header Ads

test

Berantas Kemiskinan Via Optimalisasi Pengelolaan Zakat



Membincang problematika Bangsa Indonesia tidak akan terpisahkan dengan yang namanya “Kemiskinan” (Proverty). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kemiskinan berarti keadaan serba kekurangan. Sedangkan Faturchman dan Marcelinus Molo (1994) menegaskan bahwa kemiskinan adalah ketidakmampuan individu atau rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Dewasa ini, pelbagai masalah yang telah terjadi dari masa penjajahan Belanda sampai masa kecanggihan teknologi hari ini, semuanya berawal dari satu masalah yaitu kemiskinan. Hal ini dapat berupa kemiskinan intelektual, kemiskinan moral, kemiskinan finansial, kemiskinan iman dan taqwa.
Pelbagai jenis kemiskinan yang beragam telah meradiasi fisik maupun fisikis bangsa Indonesia bak virus ganas yang terus melibas setiap apa yang ditemuinya. Dari tukang parkir, pedagang kaki lima, pedagang asongan, anggota dewan sampai para hakim, semuanya tidak ada yang luput dari keganasan virus kemiskinan. Hal ini sangat ironi ketika melihat bangsa Indonesia dengan segala kekayaan sumber daya alam (SDA) yang ada di darat maupun di laut dan sumber daya manusia (SDM) dari segi kuantitas dan kualitasnya seharusnya sudah mampu untuk mengentaskan diri dari kubangan kemiskinan. Namun semua itu masih sebatas asa, ketika potensi yang ada tidak dapat difungsikan bagi kemaslahatan umat.
Hari ini, bangsa Indonesia sudah harus dewasa, sudah harus terbangun dari keterbelakangan mental maupun ketrampialan (Skill). Perihal kemiskinan tidak akan pernah usai bila diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Perlu adanya uluran tangan dari segenap pihak untuk mengurusi perihal kemiskinan. Hanya ada satu jawaban untuk menjawab masalah kemiskinan yaitu dengan cara melibatkan banyak pihak dan para pemangku kepentingan (Stakeolder) untuk menyamakan pandangan saling percaya dan bekerja secara bersama-sama dalam mengentaskan kemiskinan.
Negara Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Hal ini diterangkan oleh hasil rilis Wikipedia Bahasa Indonesia online pada 26 Oktober 2016 pukul 06:53 bahwa jumlah umat muslim di Indonesia sebesar 199.959.285 jiwa atau 85,2% dari jumlah seluruh penduduk Indonesia. Dan nominal tersebut akan terus meningkat seiring berjalanya waktu sebagai proses kehidupan yang melahirkan sesuatu yang baru. Bahkan, REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK  menuturkan bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama dalam 10 negara di dunia dengan populasi Muslim terbesar, dalam catatan The Pew Forum on Religion & Public Life pada tahun 2010. Dengan persentase Muslim Indonesia mencapai hingga 12,7 persen dari populasi dunia.
Indonesia sebagai negara hukum, selalu mengedepankan legalitas dalam setiap aktivitas ketatanegaraan. Sehingga, dalam segala hal layak mendapat pengakuan yang sah di mata hukum. Hal ini, menjadi bukti bahwa negara telah merestui dan mendukung suatu hal tersebut. Zakat merupakan instrumen islami yang telah mendapat restu dari Pemerintah Indonesia. Sehingga tingkat formalitas dan legalitas dari zakat sudah tidak diragukan lagi.. Islam sendiri mempunyai regulasi tersendiri mengenai kaidah-kaidah zakat dan paradigmanya. Dalam Agama Islam zakat merupakan ibadah yang bersifat wajib bagi umat Islam yang sudah mampu. Dalam artian mampu yaitu memiliki harta sudah mencapai  nisab dan hartanya sudah cukup haulnya.
Kenyataannya selalu tidak sama dengan realitanya, bak cerita dongeng yang hanya indah dalam layar kaca. Meskipun sudah didukung secara penuh melalui regulasi pemerintah, nyatanya fungsi zakat belum dapat dirasakan secara maksimal oleh khalayak ramai dalam peningkatan pembangunan ekonomi negara. Selain itu, menjadi sangat tidak rasional ketika melihat negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam tidak mampu mengumpulkan dana zakat dan tidak sesuai dengan target yang diharapkan bahkan masih terlampau jauh dari target.
Bukanlah hal fantasi perihal zakat dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Pasalnya sudah banyak negara yang apik dalam regulasi dan pengelolaan zakatnya sehingga dana zakat dapat disalurkan untuk pembangunan sekolah, pembangunan koperasi, pembangunan fasilitas publik, bantuan musibah, dan lain sebagianya. Contohnya seperti Malaysia, Turki, dan Uni Emirat Arab. Sejujurnya, bila ditarik benang merah mengenai pelbagai problematika dalam pengelolaan zakat di Indonesia yaitu lemahnya kepercayaan (trust) masyarakat terhadap lembaga atau pihak-pihak yang mengelola zakat seperti BAZ (Badan Amil Zakat) dan LAZ (Lembaga Amil Zakat). Selain itu kurangnya pemahaman penduduk Indonesia mengenai jenis-jenis zakat seperti zakat pertanian (Ziro’ah).
Indonesia harus mampu bercermin dengan negara-negara yang sudah modern dalam pengelolaan zakat. Untuk mengoptimalisasikan pengelolaan zakat harus merubah menajemen pengelolaan zakat yang masih tradisonal menjadi lebih modern yang sesuai dengan perkembangan zaman sekarang. Perlu ditingkatkan akuntabilitas dalam segala bentuk input dan output dana zakat sehingga meningkatkan kredibilatas pihak-pihak yang berkecimpung dalam pengelolaan zakat.
Menyadarkan akan urgensinya zakat bagi masyarakat harus dimulai dengan meluruskan pemahaman masyarakat mengenai zakat dan jenis-jenisnya. Pemahaman akan lebih efektif jika diawali dari kalangan intelektual menengah ke atas seperti mahasiswa, guru, pengusaha besar, pejabat, dan lain sebagainya. Intelektual menengah ke atas dirasa lebih memiliki keterbukaan dalam menerima informasi-informasi yang aktual.
Dampak yang riil dari tercerahkannya para kalangan intelektual menengah ke atas yaitu tindakan nyata sebagai bentuk kesadaran untuk membayar zakat baik zakat fitrah dan juga zakat maal. Kegiatan ini akan menarik perhatian dan juga sebagai proses pemahaman zakat yang tepat sasaran untuk kalangan intelektual ke bawah yang mana lebih mudah memahami sesuatu melalui aplikasi dibanding mengunakan teori-teori ilmuan terkenal atau kajian keagamaan.
Zakat memiliki potensi yang besar guna memberantas kemiskinan, bila dapat dioptimalkan secara maksimal dalam pengelolanya. Namun, tantangan yang akan dihadapi oleh para amil bukan hal yang sepele. Kegiatan mengumpulkan, mengelola, serta menyalurkan dana zakat bagi kemaslahatan umat adalah hal yang positif. Sehingga sebesar apapun tantangannya maka akan dapat terlewati karena segala urusan di dunia ini memerlukan campur tangan Tuhan (imposible hand).
Tahun 2017 harus diwarnai dengan semangat baru, termasuk sistem pengelolaan zakat yang baru. Manajemen pengelolaan zakat harus jelas dan memiliki tujuan yang fokus. Kakek Pram menulis “Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya ”. Di tahun yang baru ini, Indonesia harus sudah membidik secara jelas mengenai tujuan negara dalam menghimpun, mengelola, serta menyalurkan potensi zakat bila tidak ingin Indonesia semakin terpuruk.

Elvan Firmansyah (Pegiat Cangkir Kamisan)