Header Ads

test

Lewa di Lembata



Pulau lembata adalah salah satu pulau yang ada di Nusa Tenggara Timur. Pada setiap bulan Mei, warga sekitar akan memulai musim menangkap ikan di laut atau sering juga disebut dengan Lewa. Wwarga ini merupakan masyarakat yang tinggi di Lamelera. Ikan habis tangkapan seperti paus, hiu, lumba-lumba dan juga ikan pari mereka konsumsi sendiri atau ditukar dipasar dengan barang yang diinginkan (barter). Terkadang juga daging ikan tersebut dibagikan kepada anak yatim piatu, janda, dan juga lansia. Hal ini dilakukan sebagai salah satu bagian atau cara jaminan sosial untuk kesejahteraan masyarakatnya. Kekayaan pulau Lembata sangat melimpah mampu menghidupi masyarakat yang tinggal dekat pulau.
Masyarakat pulau Lembata sudah terbiasa dengan perburuan ikan-ikan besar yang ada di laut. Ketika sudah berada di laut dengan ombak yang lumayan, mereka menjalin kerjasama yang apik dalam menangkap ikan. Pulau yang masih terjaga kebersihan dan kealamiannya membuat ikan-ikan yang hidup di laut masih terjaga kelestariannya. Walaupun ikan yang mereka tangkap adalah ikan yang dikatakan populasinya menurun, namun nyatanya ikan tersebut tetap dapat lestari dan dapat dimanfaatkan penduduk untuk emenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Masyarakat yang tinggal disekitar pulau Lembata memiliki beberapa keunikan yang masih dapat ditemui hingga sekarang. Salah satunya yaitu jual beli dengan sistem barter. Masyarakat di sekitar pulau Lembata walaupun tidak memiliki uang, namun mereka tidak perlu khawatir akan kebutuhan sehari-harinya karena mereka dapat melakukan barter dengan ikan dan barang laun untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan.
Namun pada pulau Lembata ini memiliki aturan tersendiri dalam melakukan barter. Siapapun yang ingin melakukan barter maka mereka harus menunggu komando atau aba-aba dari mandor atau kepala pasar setempat.
Hasil dari tangkkapan ikan di laut dapat mereka bawa kembali dan kemudian dapat dibagikan kepada orang-orang (nelayan) yang telibat dalam proses penangkapan ikan dilaut. Pembagiannya dilakukan secara merata dan adil. Biasanya ikan tersebut dibagikan bersama-sama dan kemudian diikatkan menjadi satu dan dibersihkan di laut.
Salah satu sistem pasar yang unik di pulau lembata ini yaitu apabila tepat pukul 09.00 WITA maka sistem transaksi yang berlaku dipasar adalah seperti pada umumnya yaitu dengan menggunakan alat tukar berupa uang. Namun setelah pukul 10.30 WITA, maka warga yang berdagang di pasar akan membayar pajak dengan memberikan sebagian kecil brang dagangannya, kemudian akan ada petugas yang berkeliling pasar untuk meminta dan mengambil uang pajak. Dan setelah itu pada pukul 11.00 WITA akan ditiup peluit yang merupakan komando atau aba-aba yang menandakan bahwa dalam transaksi jual beli dapat menggunakan sistem barter. Kebiasaan seperti ini masih dapat dijumpai di pulau Lembata  hingga sekarang.
“Jumlah kapal yang hendak melautpun dibatasi” sebut salah seorang warga pulau lembata yang bernama toni. Padahal ikan yang ada di laut itupun tidak ditangkap secara semena-mena. Warga setempat masi memikirkan kelestarian alam yang akan mereka wariskan kepada anak cucu mereka kelak, maka warga tetap menjaga alam karena alam terutama lautan yang merupakan sumber mata pencaharian mereka sehari-hari.
Penangkapan yang dilakukan tidak diperbolehkan dilakukan hanya semata-mata untuk mendapatkan sejumlah uang yang tak sebanding dengan usaha mereka. Nelayan pulau lembata hanya boleh melakukan penangkapan yang sesuai dengan kebutuhannya saja. Warga pulau  lembata memiliki prinsip kuat yang telah mereka pegang sejak lama, yaitu “janganlah serakah terhadap sumber daya yang ada, harus benar-benar dan sungguh-sungguh dalam dalam menjaga alam.” Seorang peneliti bernama Kotaro Kojima telah meneliti Lamelara sejak tahun 1993, ia telah banyak menulis buku sebanyak 7 buah buku mengenai perburuan ikan paus di Lamelara.
Dalam 50 tahun terakhir ini nelayan Lamelara hanya menangkap 1000 ekor paus, sedangkan perburuan paus terbesar di dunia pernah mencapai 3000 ekor paus per tahunnya.


Penulis: Dwi Aprilya Dila