Header Ads

test

Teluk Benoa: Investor Otak Kotor


Pulau bali merupakan kawasan pariwisata paling diminati para wisatawan. Pulau ini menjadi tujuan utama wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Ini dibuktikan dengan turis yang berkunjung sekitar 46.000 turis/tahun ini bukan jumlah yang sedikit. Dengan adanya turis yang terus berkunjung ini berati memberikan andil bagi perekonomian daerah. Ini dapat membantu mensejahterakan kehidupan masyarakat bali khususnya. Dapat dilihat dari peluang kerja banyak pemuda bali mendapatkan pekerjaan sebagai karyawan di hotel yang ada disana. Ini berati menekan angka pengangguran disana. Tak hanya masyarakat sekitar yang mendapatkan manfaatnya. Masyarakat dari luar bali pun ikut merasakan dapat dilihat banyak orang yang datang ke bali untuk mencari pekerjaan disana karena peluang kerja yang begitu besar. Sungguh maha besar tuhan menciptkan dunia dengan berbagai manfaatnya. Keindahan pulau bali memberikan manfaat yang begitu besar bagi masyarakatnya. Mereka hanya tinggal bertanggung jawab atas semua keindahan yang telah diberikan tuhan dengan menjaga kelestarian pulau dan memanfaatkan seluruh sumberdaya yang ada dengan baik.

Jadi wajar ketika ada segolongan orang yang datang ingin berusaha merusak lingkungan bahkan ekosistem yang ada mereka menolaknya. Sep-Des 2012 Investor Properti PT Tirta Wahan Bali Internasional mulai menjajaki kawasan reklamasi Telok Benoa. dengan misi “menuju kawasan pariwisata berbasis ramah liingkungan dan berkelanjutan yang berbudaya”. PT TWBI mulai menjalankan strateginya untuk membujuk masyarakat pulau bali untuk memberikan persetujuan dan izin untuk melakukan pembangunan kawasan pariwisata sebagai proyek mereka. Masyarakat mulai memikirkan dampak yang ditimbulkan dan melihat pengalaman pahit masa lalu dari proyek reklamasi pulau serangan tahun 1994 . pulau itu sekarang tak berfungsi apapun masyarakatnya sudah diusir keluar dari sana. Pulau seluas 300 Ha mengangkrak begitu saja tak ada gunanya lagi dan merugikan masyarakat. Ini bukti nyata omong kosong para Investor berotak kotor. Demi keuntungan yang hanya untuk segelintir orang ia  rusak ekositem lautan yang harusnya dapat dimanfaatkan orang banyak. 

Luas Teluk Benoa sekitar 1.400 Ha kemudian PT TWBI berniat mereklamasi 700 Ha atau sama dengan 50% dari Teluk Benoa. ini berati setengah Teluk Benoa akan di timbun. Selain akan merusakan terumbu karang yang berati habitat binatang dilaut khususnnya pada Teluk Benoa akan musnah yang berdampak berkurangnya ikan disana. Padahal sebagian besar masyarakat Tanjung Benoa bekerja sebagai Nelayan jika ikan berkurang jumlahnya ini berati berdampak besar bagi masyarakat mereka akan kesulitan mencari ikan yang disini sebagai mata pencaharian mereka karena mayoritas masyarakat tanjung benoa bekerja sebagai Nelayan. kemudian dari segi lingkungan masyarakat khawatir akan ada air rob yang akan menenggelamkan pulau itu sendiri. Seperti yang telah terjadi pada proyek reklamasi pulau serangan yang hanya seluas 300 Ha saja mampu membuat air meluap dan telah membanjiri lingkungan warga. Bayangkan jika ditambah dengan reklamasi Teluk Benoa yang luasnya lebih besar dari itu. Air rob yang di takutkan warga mungkin saja akan terjadi.


Hal ini sudah membuktikan bahwa yang menjadi misi PT. TWBI “menuju kawasan pariwisata berbasis ramah liingkungan dan berkelanjutan yang berbudaya” omong kosong. Pariwisata berbasis ramah lingkungan berbalik menjadi merusak lingkungan  dan merugikan masyarakat. Warga Bali percaya mereka mampu meningkatkan pariwisata disana dengan melestarikan budaya dan keindahan alamnya. karena mereka percaya itu yang wisatawan cari bukan gedung-gedung yang tinggi. Wisatawan mencari keindahan alam yang tidak mereka temukan di kota-kota besar. Dan bali memiliki keindahan alam yang wisatawan cari. Jadi bali inginkan kelestarian alam bukan reklamasi pulau.

Penulis: Falah Abdul Rahman