Header Ads

test

Perlawanan Samin!

Oleh: Nabila Nailul Muna
Nabila Nailul Muna
Film dokumenter yang berdurasi 39 menit 29 detik ini menceritakan tentang Sedulur Sikep atau Pengikut Samin yang menolak pembangunan PT Semen. Mereka hidup disepanjang Pegunungan Karst Kendeng Jawa Tengah. Pada tahun 2006, PT Semen Gresik akan membangun pabrik di kecamatan Sukolilo, Pati, Jawa Tengah. Warga Samin menolak karena dianggap mengancam pertanian & mata air. Tahun 2009, orang Samin memenangi gugatan di PTUN hingga Mahkamah Agung dan akhirnya PT Semen Gresik Indonesia mundur dari Pati dan pindah ke kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang. Tahun 2010 – sekarang Grup Indocement masuk Pati dengan rencana pabrik di kecamatan Kayen & Tambakromo tetangga desa orang – orang Samin. Dan pada akhirnya PT Semen Indonesia berhasil masuk Rembang dan mendirikan pabrik diawali dengan peletakan batu pertama PT Semen Indonesia  pada tanggal 16 Juni 2014. 

Pada saat peletakkan batu pertama PT Semen Indonesia, para kaum perempuan Rembang menggelar demonstrasi serta memblokir jalan sehingga dihadang, diperlakukan dengan kasar, bahkan sampai ada yang digotong oleh aparat. Sejak tanggal 16 Juni 2014, sebagian warga Pati & Rembang dibantu orang – orang Samin menghadapi Semen Indonesia & group Indocement, dengan mendirikan tenda di Tapak Pabrik Kecamatan Gunem, Rembang. 

Joko Prianto, salah satu petani Rembang mengatakan pergerakan ini diawali 6 orang pada akhir 2011 dan ternyata Juni 2012, Amdal PT Indocement Indonesia keluar dan sejak saat itu warga melakukan perlawanan pada pihak semen, tapi pada awal perlawanan pihak warga masih sedikit dan banyak sekali terjadi  intimidasi terhadap warga. Seharusnya Pemerintah Jawa Tengah khususnya Rembang itu menjadi lumbung pangan bukan lumbung semen. Ia juga prihatin melihat warga yang mulai beralih profesi, semenjak menjual tanahnya kepada pihak semen. 

Menurut Gunretno salah satu pengikut Samin, mengatakan bahwa,”terkait penolakan semen “sedulur sikep” itu karena mereka mencukupi kehidupannya hanya dengan bertani, karena dari leluhur hanya boleh bertani. Tapi kan bertani itu juga butuh tanah dan tanah juga butuh air.” Begitu pula menurut Gunarti yang juga pengikut samin mengatakan,”alasan mengapa ia mempertahankan tanahnya. Karena khawatir akan kehilangan mata pencaharian dan tak bisa hidup dari alam.” 

Pengikut Samin tidak memperkenankan anaknya mengecam pendidikan di sekolah formal. Mereka mengajari di rumah dengan alasan karena mereka tidak mengejar pangkat dan jabatan, tapi cita -  citanya cukup memperbaiki tindakan dan ucapan. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, cukup bertani. Menurut leluhur mereka tujuan pendidikan bukan agar pandai, yang penting ngerti. Kalau pintar digunakan untuk memperdaya atau menipu orang lain. Dan menurut mereka juga, sejak nenek moyang atau sejak lahir mereka membutuhkan tanah, air, pangan, tidak butuh semen. Mereka memilih krisis semen dari pada krisis pangan. Tanah pertanian juga tidak boleh dijual, karena itu akan menjadi warisan bagi anak cucu mereka. Kalau dijual, nanti berasal dari mana nafkahnya. Karena mereka hanya boleh bertani dan dilarang untuk berdagang. Selain itu juga ‘sedulur sikep’ tidak boleh berbahasa menggunakan bahasa Indonesia. 

Selain itu ada Karang Awen yang akan juga terkena tapak pabrik dari perusahaan Indocement. Ada sekitar 180 hektare lahan pertanian milik 4 desa, desa Mojomulyo, desa Karang Awen, desa Larangan dan desa Tambak Romo. Lahan 180 hektare itu milik 560 warga. Gunarti mencoba mendekati warga tetangga desa dengan cara mendatangi rumah rumah atau ibu – ibu yang sedang berkumpul. Dan ia berharap bisa saling mengingatkan supaya bisa melindungi tanah masing masing jangn sampai dijual dan jangan silau terhadap giuran uang banyak, karena uang itu bisa habis tetapi tanah tidak bisa habis. Walaupun rintangan berat, apabila bersatu pasti bisa mengalahkan semen gresik. 

Kondisi lain terdapat penambangan yang terjadi di Tuban, Jawa Timur, yang sudah berlangsung selama 20 Tahun dan berdampak kepada masyarakat, apabila pada saat musim kemarau debu itu sampai pemukiman warga walaupun sudah ada filter tanaman (green belt). Sebelum adanya penambangan itu warga juga dipaksa untuk menjual tanahnya kepada pihak perusahaan. 

Melihat masalah yang ada ini, saya cukup terharu dengan semangat para ibu ibu yang berjuang untuk mempertahankan hak mereka. Disamping itu saya mengecam keras dengan perlakuan aparat yang kasar. Apakah itu contoh yang baik bagi masyarakat? Padahal aparat mempunyai tugas untuk memelihara keamanan dan ketertiban, memberikan perlindungan,pengayoman  dan pelayanan kepada masyarakat. Bukan malah bersikap seperti itu. Apakah pemerintah juga kurang tegas tentang masalah yang terjadi itu?

Belum lama ini Makamah Agung memenangkan gugatan warga Rembang atas gugatan hukum ke Pabrik Semen. Saya berharap Pemerintah daerah dan Presiden tidak berupaya membantu membela Pabrik Semen. Biarkan warga memilih jalan hidup pertanian dengan meneruskan ke anak cucu. Kehidupan pangan dimasa depan lebih penting dari para perusahaan yang akan merusak aliran air dan merusak kesuburan tanah. Tulisan ini hadir, untuk mendukung perlawanan warga Rembang yang tidak akan pernah surut.