Header Ads

test

Kasepuhan Cipta Gelar


Secara Admistrasi Kenegaraan, Kasepuhan Cipta Gelar terletak di Sinaresmi, Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Namun secara adat Kasepuhan Cipta Gelar merupakan Ibu Kota bagi 568 kampung yang dihuni oleh 30.000 jiwa di areal seluas 5.000 hektare. Kasepuhan Cipta Gelar saat ini dipimpin oleh Ugi Sugriana Raka Siwi yang akrab disebut Abah Ugi yang berusia 30 th, beliau merupakan anak dari Abah Anom (pemimpin sebelumnya) yang telah wafat pada tahun 2007, Abah Ugi menggantikan ayahnya sejak usia 21 th. Untuk memenuhi kebutuhan pangannya komunitas penganut adat Sunda Wiwitan ini memiliki 8.000 lumbung padi untuk cadangan selama 3-5 tahun kedepan dengan hanya menanam padi dan memanennya 1 kali dalam setahun. Dalam film dokumenter Kasepuhan Cipta Gelar menayangkan bagaimana system pertanian dan tekhnologi di dalam Kasepuhan Cipta Gelar.
Kasepuhan Cipta Gelar untuk memenuhi kebutuhan pangannya melakukan cara atau sistem pertanian yang hanya menanam padi setahun sekali dengan tanam secara serentak dan tanpa menggunakan mekanisme pertanian yang modern, jadi masyarakat Cipta Gelar menanam dan memanen padi sesuai dengan cara yang tradisional secara turun temurun. Mereka tidak menggunakan traktor, gilingan padi, ataupun pestisida maupun pupuk kimia. Untuk jenis padi yang ditanampun hanya jenis padi dari leluhur bukan padi impor karena jenis padi dari leluhurpun sudah ada 120 jenis padi dan sudah terbukti dapat memcukupi kebutuhan pangan Kasepuhan Cipta Gelar. Walaupun hanya sekali panen dalam setahun nyatanya masyarakat Kasepuhan Cipta Gelar sudah memiliki 8.000 lumbung padi untuk cadangan 30.000 warga Kasepuhan selama 3 tahun kedepan. Bandingkan dengan kondisi umum di Indonesia, seperti halnya Bulog yang memiliki 600 gudang beras tetapi cadangan berasnya rata-rata hanya mampu untuk 8-12 bulan saja, dan bila ada kekurangan Indonesia harus mengimpor dari Negara lain, padahal pertaniannya digenjot 2 kali panen dalam setahun dengan mekanisme pertanian yang modern dan pupuk kimia.
Setidaknya ada 3 faktor yang mempengaruhi atau yang membuat Kasepuhan Cipta Gelar mampu berswasembada dalam hal pertanian atau pangan. Yang pertama, warga Kasepuhan Cipta Gelar dilarang menjual beras/padi. Yoyok Yogasmana (juru bicara Kasepuhan Cipta Gelar) menjelaskan bahwa “ beras/padi itu sendiri merupakan kehidupan, jadi ketika seseorang menjual beras atau padi itu artinya diibaratkan menjual kehidupannya sendiri, ketika kehidupannya sudah dijual berarti sama halnya berbicara hidup yaitu berbicara nyawa. Kalau di Cipta Gelar masuk kedalam klasifikasi dosa besar. Seseorang yang menjual padi/beras ibarat telah menghilangkan nyawa atau konotasinya sejajar dengan membunuh, jadi sangat serius”. Untuk memenuhi kebutuhan yang lai yang harus dibeli dengan uang, warga Cipta Gelar memiliki sumber-sumber penghasilan yang lain seperti, beternak, berdagang, membuka usaha atau menjadi pegawai. Yang kedua, warga Kasepuhan Cipta Gelar menggunakan strategi tanam serentak dengan melihat tanda-tanda astronomi. Abah Ugi (pemimpin adat) menjelaskan, “kita melihat bintang, ada namanya bintang kidang dan bintang kerti, kalau bintang sudah lurus dengan kita artinya kita sudah bisa menanam padi, bintang itu dalam setahun lewatnya 3-4 kali saja. Dan yang menjadikan hama tidak ada, karena menanam padinya serentak tidak seperti pada umumnya yang menanamnya bergantian sehingga siklus hama akan selalu ada. Tetapi karena serentak jadi hamanya sedikit dan hanya sekali waktu saja”. Yoyok juga mengatakan bahwa tikus bukanlah hama melainkan merupakan bagian dari kehidupan warga Cipta Gelar maka dari itu kata hama tidak pernah ada. Yang ketiga, factor system kepemilikan tanah dan tata ruang di Kasepuhan Cipta Gelar. Jadi, tanah pertanian tersebut bukan merupakan milik hak pribadi dan tanpa sertifikat, tanah garapan bisa dipindahtangankan dengan system ganti rugi antar  sesama warga Kasepuhan Cipta Gelar. Komunalitas ini membuat agenda tanam dapat dilakukan secara serentak dan efektif meskipun hanya sekali panen dalam setahun.
Kasepuhan Cipta Gelar ini berada diatas areal 4.906 hektare, secara adat merea membagi menjadi 3 bagian. Bagian hutan titipan, yang sama sekali tidak boleh di ganggu atau di manfaatkan, jumlah luasnya 50% dari luas wilayah Kasepuhan. Bagian hutan tutupan, yang hanya boleh dimanfaatkan secara terbatas seperti hasil hutan non kayu, jumlah luasnya mencapai 30%. Dan bagian hutan bukaan, yang meliputi sawah, ladang, dan pemukiman dengan jumlah luasnya mencapai 20%. Sedangkan bagian untuk sawahnya sendiri tercatat sekitar 559 hektare atau 10% dari luas wilayah Kasepuhan. Jika dibandingkan dengan rasio sawah dan luas wilayah di Indonesia, menurut data Badan Pertanahan Nasional (BPN) bila seluruh daatan di Indonesia di gabung maka, luasnya mencapai 180 juta hektare, dari daratan seluas itu yang digunakan untuk lahan sawah pangan hanya 8,1 juta hektare atau 5% dari luas daratan Indonesia. Perbedaan antara 10% dengan 5% tersebut menunjukkan bahwa Indonesia terlalu sedikit menyediakan lahan untuk persawahan (menanam padi) yang mayoritas menjadi makanan pokok, sehingga yang seharusnya dapat mengekspor malah mengimpor dari Negara lain.
Selain system pertanian secara tradisional turun temurun yang dipertahankan, warga Kasepuhan juga membiarkan 70% lahannya berupa hutan sehingga mendapatkan pasokan air yang tidak pernah putus sepanjang tahun. Hal itu dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik dengan dengan membangun turbin pembangkit listrik atau Mikro Hidro. Pada 11 April 1997 ketika Kasepuhan masih dipimpin oleh Abah Anom diadakan gotong royong pembangunan turbin pembangkit listrik yang melibatkan ribuan warga Kasepuhan dengan iring-iringan membawa kabel dan peralatan lainnya mencapai panjang 2 km dan merupakan gotong royong terbesar selain gotong royong pembangunan bendungan Paya Raof di Aceh pada 14 Juli 1963. Setahun kemudian proyrk mikro hidro tersebut mampu memasok 60.000 watt dari sekitar 10 turbin yang tersebar di berbagai kampong. Kini dari sekitar 6.000 rumah tangga sudah sekitar 1.500 rumah atau 25% sudah memakai listrik murah mikro hidro. Sedangkan pada tahun 2011 Abah Ugi mendirikan turbin sendiri di Suka Mulya dengan kapasitas 9.750 watt yang dibantu oleh yayasan IBK. Adapun generator, panel instalasi saluran air dan pipa dibantu oleh perusahaan otomotif yang melakukan sosialisasi di Kasepuhan Cipta Gelar. Mikro hidro tersebut memanfaatkan air dari sunga Cibalengkok yang mampu menyediakan 200 l/detik. Pembangkit ini mampu menerangi sekitar 66 rumah warga dengan biaya di bawah Rp 30.000,-/ bulan di setiap rumah.
Tidak hanya turbin membangkit listrik, masyarakat Kasepuhan Cipta Gelar pun memiliki stasiun TV lokal sendiri yang bernama “CIGA TV”. Stasiun tv lokal yang hanya memanfaatkan tenaga surya dan barang bekas maupun barang sumbangan tersebut dikelola oleh Yoyok dan beberapa anak muda disekitar, pemancarnya pun dirancang sendiri oleh Abah Ugi. Jika ada keluhan tidak mendapatkan saluran CIGA TV warga akan menghubungi Yoyok dan beliau akan mendatangi rumahnya dan membenarkannya.

Abah Ugi mengatakan “adat istiadat tidak boleh hilang, tetapi tetap tidak meninggalkan perkembangan tekhnologi. Jadi, jika mengurangi tidak boleh tetapi kalau menambah tidak apa-apa. Maksudnya adat istiadat dalam pertanian secara tradisional dan turun temurun memang harus tetap dipertahankan dan tidak akan merubahnya, tetapi tetap terbuka dengan tekhnologi lain yang dapat dikembangkan sendiri dan dapat bermanfaat untuk warga Kasepuhan Cipta Gelar. Dan dalam Kasepuhan Cipta Gelar setidaknya ada 30 acara adat yang berjalan sepanjang tahun dan tak terputus, hal tersebut tanda makmurnya sebuah peradaban yang sudah berusia 650 tahun lamanya.

Penulis: Dwi Lia Setia Wati (Mahasiswi IAIN Metro)