Header Ads

test

Jatuh Bangun Sarjana Ekonomi Syariah



Metro, Adzkiyacentre.com - Lulusan sarjana ekonomi syariah tidak siap bertarung dikancah perekonomian modern. Sesuai dengan Peraturan Menteri Agama Nomor 33 Tahun 2016 Tentang Gelar Akademik Perguruan Tinggi Keagamaan pasal 3 ayat (1) yang berbunyi “Gelar akademik sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) yang diperoleh dari perguruan tinggi keagamaan wajib menggunakan Bahasa Indonesia”.

Sedangkan dalam pasal 2 ayat (1) berbunyi “gelar akademik bersifat akomodatif terhadap perkembangan ilmu” apabila ditelaah lebih detail sebenarnya antara isi pasal 3 ayat (1) dengan pasal 2 ayat (1) ada sedikit kerancuan, pasalnya makna dari kata “akomodatif” berarti dapat menyesuaikan diri-terhadap perkembangan ilmu. Maksudnya?

Menurut prespektif penulis perkembangan ilmu berarti mengarah kesuatu peradaban ilmu yang relatif baru dan modern terlebih di zaman yang serba terbarukan seperti ini disiplin ilmu-pun juga harus demikian. Kemudian dalam pasal selanjutnya dikatakan bahwasanya “Gelar dari perguruan tinggi keagamaan wajib menggunakan Bahasa Indonesia” loh kenapa?

Ada asumsi bahwasanya sudah selayaknya sarjana lulusan perguruan tinggi keagamaan semisal sarjana ekonomi syariah disejajarkan dengan sarjana ekonomi konvensional, sehingga berpengaruhlah terhadap gelar kelulusan akademik setelah menjadi sarjana dari yang awalnya SE,Sy hanya menjadi SE saja, sedangkan dengan menghilangkan embel-embel Sy yang berarti Syariah berarti telah menerapkan peraturan kementerian agama tersebut secara komprehensif.

Apabila melihat komparatif antara sarjana ekonomi syariah dengan sarjana ekonomi maka selisih umur keduanya terpaut jauh, ekonomi syariah-pun juga masih tergolong belia dibandingkan dengan ekonomi konvensional dengan adanya kesamaan gelar diantara keduanya menunjukan bahwa progres ekonomi syariah cukup bagus hingga saat ini telah disetarakan dengan ekonomi konvensional.

Terlepas dari asumsi tersebut sebenarnya di lain sisi hal tersebut justru bisa berdampak terhadap lulusan-lulusan ekonomi syariah itu sendiri, spekulasi terhadap mereka sudah dapat dipastikan, terlebih lagi akan sulit menentukan mana lulusan ekonomi yang ada syariahnya toh gelar mereka sama. Padahal untuk ekonomi syariah sendiri dalam disiplin dan konsentrasi ilmunya lebih menitik-beratkan kepada konsep dan prinsip ekonomi yang sesuai dengan hukum syara’.

Alih-alih menetapkan peraturan tentang harus menggunakan Bahasa Indonesia dalam gelar akademik justru bisa menurunkan elektabilitas ekonomi syariah itu sendiri, pertanyaan yang muncul kemudian adalah sejauh mana dampak buruk adanya Sy dibelakang SE? Apabila tidak terlalu berdampak kenapa harus dihilangkan, toh bukanya Sy itu merupakan ciri bahwasanya mereka adalah sumber daya insani yang paham prinsip ekonomi islam.

Bisa dainggap sebagai ironi pula ketika para mahasiswa yang mengambil konsentrasi ekonomi syariah justru senang dengan hal tersebut tanpa mereka sadari bahwa Sy sudah tidak lagi diakui oleh kementerian agama, hal ini sebenarnya justru melenceng dari segala sesuatu yang digaungkan terhadap ekonomi syariah, perihal tentang prospek yang bagus, paham ekonomi yang potensial, dan lain sebagainya.

Kita ketahui bahwasanya mahasiswa ekonomi syariah-pun sejauh ini dalam pembelajaranya masih belum benar-benar kafah terhadap kesyariahanya, ditambah lagi sekarang mereka tahu gelar yang akan mereka dapat hanya SE tanpa ada Sy ini dapat mengindikasikan perilaku mahasiswa tidak akan berkonsentrasi secara  All Out  terhadap prinsip ekonomi syariah.

Akhirnya sarjana ekonomi syariah tidak akan terlihat eksistensinya ditatanan dunia perekonomian modern terlebih lagi dikancah internasional sekelas ASEAN dan jelas akan Nibo-Nangi di pasar internasional Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Namun apa boleh buat, peraturan tetaplah peraturan dan peraturan ada untuk ditaati. Ber-khusnudzon terhadap pembuat peraturan jauh lebih baik daripada berprasangka buruk, lagi pula semua ini dibuat untuk memajukan negeri ini di bidang pendidikan karena salah satu tolok ukur negara yang maju adalah masyarakatnya yang bependidikan baik. Tabik !!!




Penulis : Julianto Nugroho