Header Ads

test

Kapitalisme Agama


Agama-agama saat ini bukan lagi menjadi pembebas bagi para kaum tertindas. Sejarah agama sebagai kesadaran ber-Tuhan dan alat perlawanan menjadi kabur dan tak punya nyali menghadapi persekongkolan para thogut kekuasaan. Kondisi agama hari ini seolah membenarkan tuduhan sebagai candu, terpenjara ritualisme, dan semakin tak ber-api untuk menyembuhkan luka kaum musta’afin yang dihantam kapitalisme dan kroni-kroninya.  

Bagaimana jika kapitalisme bersemayam di tubuh agama? Kapitalisme agama adalah pengkhianatan nilai-nilai profetik. Onggokan kaum agamawan yang diam di tengah penindasan dan meminggirkan hak mustad’afin adalah kebiadaban. Mereka-mereka yang menjual agama dengan harga murah, meneguk popularitas dan meninggalkan ummatnya dalam penindasan, sama halnya meninggalkan  mereka dalam kesesatan.

Kapitalisme agama adalah a-moral para ulama yang tidak berjamaah secara sosial. Mereka tidak membangun zakat empati untuk bersatu dan melawan. Syahadat mereka tidak untuk menunjukkan jati diri para calon-calon syuhada. Syahadat mereka adalah gincu dunia yang semakin membuat merah darah ‘luka perih’ para mustad’afin. Puasa mereka adalah tameng kerakusan dunia. Sejatinya mereka—para kaum kapitalisme agama—selalu berbuka dengan upeti para kapitalisme-kapitalisme yang bersemayam di perusahaan jahat dan birokrat yang tuli.

Film ‘Rayuan Pulau Palsu’ menggambarkan sangat jelas bahwa kapitalisme agama ini ada dan menyakiti rakyat kecil. Mereka-mereka pengurus masjid disuap oleh perusahaan reklamasi, dikondisikan untuk diberi uang ada yang di-umroh-kan agar para pemuka agama tidak ikut memprotes.

Narasi pembebasan agama untuk memperjuangkan hak kemerdekaan ummat semakin langka ditemukan. Dulu ‘agama' menjadi oase di tengah keringnya kepedulian kemanusiaan. Agama dianut dan dipercayai bukan hanya sebagai sandaran teologi tapi juga sarana perlawanan menyatukan orang-orang tertindas.

Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa sampai Kanjeng Rosul Muhammad Saw, mereka adalah segelintir manusia yang terus melakukan perlawanan atas penindasan-penindasan dengan kesabaran dan kesetiaan. Bahwa agama yang mereka bawa kemudian dianggap heterogen mungkin itu akibat penginstitusian agama—padahal sejatinya ajaran mereka menemukan narasi ‘berserah diri' yang sama—tapi yang paling penting apa yang mereka bawa adalah kesamaan pembebasan terhadap kaum-kaum yang tertindas.

Para pembebas ini tidak sibuk dengan agenda kepentingannya sendiri. Bahwa mereka hidup layaknya manusia biasa itu bisa dipastikan benar. Namun apakah mereka ini orang yang asyik dengan kepentingannya sendiri?  hal tersebut bisa dijawab dengan teks-teks sejarah.
Apakah nabi adalah orang yang sudah selesai dengan kebutuhannya atau sosok yang sudah selesai dengan urusan hidupnya? Jawabannya, Nabi adalah manusia biasa, Nabi juga punya kekurangan, merasakan lapar, merasakan sedih, merasakan kesempitan. Namun para nabi adalah orang yang setia dengan garis perjuangan bahkan rela hidup di tengah-tengah ummat yang miskin.

Nabi bukan orang yang mengambil keuntungan dalam setiap perjuangannya. Nabi adalah orang yang hidup setia mendampingi mereka-mereka yang tertindas dan siap hidup susah melebihi dari susahnya mereka-mereka yang sedang diperjuangkan. Masih ingatkah kisah Nabi Muhammad mengikat perutnya dengan batu kerikil untuk mengganjal rasa lapar? Masih ingatkah kita bahwa beliau meninggal dalam keadaan masih meng-gadai-kan baju besinya kepada seorang Yahudi?

Kekerasan struktural khususnya di Indonesia akhir-akhir ini perlu menjadi refleksi para kaum agama—terutama ormas besar Muhammadiyah dan NU—yang belum menyatakan keberpihakan secara konkrit. Dua ormas besar ini belum punya pernyataan sikap nasional membela para kaum yang tertindas seperti korban reklamasi pantai di Jakarta, Kala Benoa Bali, korban keserakahan perusahaan semen di Pati gunung Kendeng Jawa tengah, para korban konflik tanah di Urut Sewu Kebumen, konflik tanah register di Lampung dan konfik lainnya.   Agama melarang kita membiarkan kaum papa berjalan sendiri tanpa dukungan moral dan material. Maka para kaum agama selayaknya turun membangun aliansi substantif berada digaris depan melawan kekerasan struktural tersebut.
Para aparatus negara ini akan berhadapan dengan para kaum agama yang selama ini mereka mintai restu di tiap perhelatan pemilu. Dengan hadirnya para kaum agama ini, nilai-nilai profetik akan kembali ke tempat asalnya yaitu membebaskan mereka atas penindasan-penindasan  kekuasaan yang zhalim.

Firaun Reklamasi, Abu Jahal Semen, Thogut Tanah, dan lainnya harus dilawan dengan perlawanan kolektif kaum agama. Kita tidak hanya menghadapi  musuh agama tapi kita sedang memperjuangan kaum mustadafin ini meraih masa depan hidupnya dan untuk mendapatkan kesejahteraan bersama.

Kita kaum beragama harus melakukan upaya kolektif membela mereka yang butuh bantuan. Kasus kejahatan seksual di tengah krisis kepemimpinan, tulinya para aparat hukum, dan diamnya para kaum terdidik semakin melengkapi penderitaan mereka dan semakin mendorong frustasi sosial. Saya menutup tulisan ini dengan ucapan Dalai Lama,”adalah perlu untuk saling membantu sesama, tak hanya dalam doa kita, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.Jika kita sadar tak bisa membantu orang lain. Yang paling bisa kita lakukan adalah berhenti merugikan mereka.”



Oleh: Dharma Setyawan