Header Ads

test

Tugu Dua Miliar


Oleh : Saiful Anwar,SE.Sy
Direktur BMT ADZKIYA METRO
Terbit di Lampung Post, Jumat 05 April 2013

Masih teringat terang dalam benak masyarakat Lampung peristiwa dirobohkannya patung Zainal Abidin Pagar Alam di jalan Mahmud Rasid Kalianda Lampung Selatan beberapa waktu yang lalu. Bangunan pagan yang merupakan kakek Bupati Lampung Selatan Rycko Menoza dan sekaligus ayah dari Gubernur Lampung Sjahchroedin ZP yang menelan APBD 1,3 miliar runtuh sia-sia pada Selasa, 30 Maret 2012. Peristiwa tersebut menjadi bukti kuat ambivalensi kebijakan pembangunan dalam bingkai desentralisasi yang kurang tepat sasaran, dimana kemiskinan menjadi problem yang tidak kunjung bermuara, namun disisi lain gedung-gedung megah, kantor pemerintahan, pasar modern dan sederet bangunan ber-entitas pagan berlomba-lomba menjadi yang tertinggi dan termewah. Benarkah rakyat kita membutuhakan yang demikian?
Pembangunan pagan (patung) dalam Islam sudah dilarang sejak lama, dimana Nabi Ibrahim as menjadi tokoh penentang utama dalam sejarah paganisme bangsa Arab saat itu. Bahkan dalam historisnya Nabi Muhammad saw pada peristiwa fathul Mekah menghancurkan seluruh pagan yang mengelilingi Ka’bah tanpa menyisakannya. Hal ini dilakukan karena kekhawatiran akan adanya distorsi sejarah mengenai sosok patung tersebut dikemudian hari, sehingga mendewakan mereka seperti sejarah tokoh Lata dan ‘Uzza yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Hal tersebut juga dilakukan dalam rangka menjaga orisinalitas akidah umat Islam, selain itu pula dalam tinjauan ekonomi pembangunan paganisme juga tidak memiliki fungsi serta manfaat yang berarti bagi masyarakat.
Tahun 2013 salah satu daerah yang meng-anggar-kan pembangunan pagan (baca: tugu) adalah Kota Metro, yakni pembangunan Tugu Meterm yang menelan dana APBD cukup fantastis, senilai 2 miliar. Selisih 0,7 miliar lebih besar dari pembangunan patung Zainal Abidin Pagar Alam di Lampung Selatan. Sebelum pembangunan dilakukan, sebelum rakyat berteriak dan merobohkan. Ada baiknya unsur pemerintah meninjau kembali master plan pembangunan tersebut. Jangan sampai alokasi dana yang besar tersebut terbuang sia-sia.
Sejarah Kota
Dalam data dan dokumentasi sejarah Kota Metro, nama Metro berasal dari kata “Mitro” yang berarti keluarga, persaudaraan atau kumpulan kawan-kawan. Menurut sumber lain nama tersebut berasal dari kata “Meterm” yang artinya pusat atau central. Namun subtansinya merujuk pada daerah penampungan kolonis zaman Belanda yang terletak antara Rancang Purwo, Lampung Timur, dan Adipuro (Trimurjo), Lampung Tengah sebelum berubah status menjadi Kota Madya Dati II pada tahun 1999 melalui Undang-undang nomor 12 tahun 1999. Atas dasar tersebut pemerintah menginisiasi pembangunan Tugu Meterm berbahan dasar tembaga dengan diameter lingkar 18 meter dan tinggi 17 meter di pusat Kota Metro.
Prioritas Pembangunan
Segala bentuk pembangunan seharusnya didasarkan pada kebutuhan masyarakat bukan atas dasar asabiyah (kepentingan golongan), apalagi ambisi pribadi dan atau keluarga. Disadari atau pun tidak Walikota Metro saat ini adalah anak seorang kolonis, seperti pengakuan Lukman Hakim yang tertuang dalam buku yang memuat biografinya ‘Bukan Sekedar Petruk jadi Ratu’. Primordialisme sudah seharusnya tidak dikedepankan dalam kultur masyarakat kita, karena nasionalisme dalam bingkai NKRI menuntut pelaksanaan sepenuhnya agar visibilitasnya yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar dapat segera terejawantahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Terlalu fulgarnya kepentingan golongan dan terabainya kepentingan umum menjadikan semakin tidak harmonisnya kondisi masyarakat, ditambah unsur politis yang menggelayutinya sehingga akan berdampak pada hal-hal yang kurang produktif dalam proses pembangunan. Seharusnya Metro bisa berkaca pada peristiwa yang terjadi di Lampung Selatan, agar tidak menjadi keledai kedua yang jatuh pada lubang yang sama.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Metro pada tahun 2011 kemiskinan Kota Metro mencapai 6.000 kepala keluarga, sedangkan dalam catatan BPS Provinsi Lampung keadaan ini berubah drastis pada tahun 2012 mencapai angka 26.000. Fitrah kehidupan memang menghendaki adanya orang kaya dan orang miskin, namun hal tersebut sejatinya dapat diatasi dengan apik agar seluruhnya menjadi simbiosis pembangunan. Menerapkan sistem kapitalisme ekonomi secara over akan membunuh kaum proletar, mengadopsi secara utuh sistem sosialis menyebabkan syahwat kompetisi ekonomi menghilang dan berdampak pada lemahnya pembangunan. Tidak mencoba menafikan kedua sistem tersebut, namun ada baiknya bila pembangunan mengambil jalan tengah. Oleh karena itu pembangunan tugu meterm sejatinya dilakukan setelah menilik kondisi pinggiran kota, mengingat secara geografis Metro tidak terlalu luas dibanding kabupaten/kota lain namun masyarakatnya masih tergolong miskin.
Peninjauan kembali rencana pembangunan tugu tersebut mutlak dilakukan mengingat kebutuhan lain yang menjadi focus pembangunan kota belum mendapat perhatian yang berarti. Dana tersebut seharusnya digunakan dalam rangka meyelesaikan problem kemiskinan yang ada, atau untuk memperbaiki sarana dan prasarana kota, seperti perbaikan pasar tradisional Tejo Agung Metro Timur yang hingga saat ini masih memperhatinkan, fasilitas pendidikan berupa perpustakaan, balai pendidikan atau pelatihan, toko buku serta sarana lain yang kondisinya kurang representatif, mengingat visi Metro sebagai kota pendidikan. Pemerintah seharusnya menggunakan skala prioritas dalam pembangunan, yakni mengutamakan kebutuhan rakyat dari hanya sekedar membangun sebuah tugu untuk kemegahan dan icon kota. Wallahu’alam*