Header Ads

test

Wajah K(operasi) Indonesia

Oleh : Saiful Anwar
Direktur Koperasi Syariah
BMT ADZKIYA’ METRO

"Tiap orang, cenderung mencari keuntungan untuk dirinya, tetapi dia dituntun oleh tangan gaib untuk mencapai tujuan akhir yang bukan menjadi bagian keinginannya. Dengan jalan mengejar kepentingan dirinya sendiri dia sering memajukan masyarakat lebih efektif dibanding bilamana dia betul-betul bermaksud memajukannya". (Adam Smith)
Saiful Anwar
Kajian dan dialektika tentang koperasi memang minim pada ruang media di Indonesia, terjadi biasanya hanya pada momen tertentu saja; saat hari Koperasi Indonesia tanggal 12 Juli atau pada acara ceremonial yang digelar oleh pemerintah dan atau swasta dalam rangka kunjungan kerja, workshop, simposium, pelatihan-pelatihan dan training.
Namun, terlepas dari itu semua koperasi adalah soko guru ekonomi bangsa, keberadaanya sangat penting untuk mengcover sirkulasi keuangan rakyat kecil. Bahkan salah satu entitas ekonomi riil yang memproteksi Indonesia dari krisis global 1998, 2008 dan 2012 adalah koperasi.
Negeri Banglades dengan icon tokoh reformis ekonomilnya Muhammad Yunus memiliki Grameen Bank, Malaysia bersama kemajuannya punya Malaysian Corporated, sedangkan Jepang melesat dengan konsep dan kinerja riil Sogoshosanya, Indonesia harusnya cukup dengan koperasinya.
Langkah internalisasi lebih intensif dalam rangka membangun basis sosial adalah kuncinya, dan hal ini harus didukung oleh pemerintah serta masyarakat. Karena koperasi adalah kearifan local yang perlu dibudayakan dan diwariskan pada generasi mendatang, mengingat ia adalah ‘juru selamat’  yang sudah teruji dari masa ke masa.
Out Look “Koperasi, Hidup Segan Mati Tak Mau” (Lampung Post, 12-12), agaknya menimbulkan pertanyaan besar dalam benak masyarakat kita. Benarkah koperasi Indonesia demikian adanya, atau ini hanya generalisasi belaka agar masyarakat sadar dan kembali melek koperasi?
Preferensi utama yang bisa kita petik dan jadikan pelajaran darinya bahwa keberadaan koperasi kita ironinya memang demikian, dalam terminologi Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (KoPerindagkop) dikenal dengan istilah ‘Koperasi Merpati’. Dimana ada momen-momen koperasi menjamur dan ada momentum koperasi melebur, terakuisisi bahkan tak terdeteksi. Fenomena ini sudah usang dan tidak zamannya lagi, kita harus kembali bersatu-berkoperasi untuk melawan bencana besar ekonomi yang datang tak terprediksi dalam durasi instan yang memaksa kesiapan kita menghadapinya.
Salah satu prestasi koperasi Indonesia pada dekade terakhir ini adalah banyak terlahirnya koperasi dengan prisip syariah (kopsyah) atau dengan nama lain Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS), dalam bahasa syariahnya baitul mal wat tamwil (BMT). Keberadaanya jamak menjadi bukti eksistensi dan pertumbuhan koperasi di bumi pertiwi, bahkan di Provinsi Lampung kopsyah telah menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi masyarakat kecil dalam mendukung perekonomian mereka.
Bukan mencoba menafikan koperasi dengan prisip umumnya, karena bagaimanapun kopsyah berhutang besar kepadanya. Dimana historisnya regulasi yang pemerintah keluarkan mengacu pada grand design koperasi dengan prinsip umum, kemudian berkembang dan berinovasi dengan prinsip yang lainnya mengikuti perkembangan zaman.
Bila dikemudian hari kopsyah atau koperasi umum salah satunya lebih unggul, ini bukan problem besar, ini problem masing-masing koperasi dalam menggait anggota dan calon anggota serta urusan teknis dalam memarketingkan produk-produknya, sehingga tidak diperlukannya intervensi dari pemerintah selama masih bersaing secara positif.
Koperasi umum dan syariah adalah asset bangsa yang harus diberdayakan secara optimal, apalagi dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 semakin memberikan peluang besar kepadanya untuk maju dan semakin mengokohkan posisinya sebagai soko guru ekonomi bangsa. Dengan prinsip kekeluarga dimana kesejahteraan anggota adalah fokus utama maka keberadaanya dipastikan tidak akan lekang oleh zaman, hal ini tentu juga harus diiringi dengan inovasi-inovasi produk dan ij’tihad gerakan yang moderat serta egaliter.
Kesadaran personal dimana setiap orang pasti pernah mengalami saat-saat dimana ia surplus dan devisit financial akan menjadikannya sadar betapa pentingnya hidup berkoperasi. Karena itu gerakan Indonesia berkoperasi perlu dikumandangkan kembali, sehingga koperasi tidak hanya menjadi pepesan kosong dan kegemilangan historis yang hilang ditelan zaman. Agar pula funding fathernya; Muhammad Hatta bisa tersipu dan tersenyum manis melihat Indonesia sejahtera dikemudian hari, meskipun diwakili oleh anak cucunya.
Stagnasinya sebagian besar koperasi, khususnya di Lampung mungkin membutuhkan ‘operasi’ dari pihak pemerintah agar koperasi terus beroperasi. Langkah preventif berupa pembinaan-pembiaan rutin serta pelatihan atau up grading pengelola memungkinkan untuk dilakukan, mengingat hal ini sangat penting untuk menjaga keberlanjutan koperasi dan ekonomi masyarakat serta entitasnya.
Kemudian bantuan dana hibah (sosial), bantuan lunak maupun jenis program lainnya yang digulirkan oleh pemeintah pusat atau daerah harus mendapat pengawasan yang berkelanjutan. Meskipun nominalnya tidak sebombastis dibanding dengan yang ditelan para ‘Koruptor Senayan’, namun pada dasarnya jika bantuan tersebut tepat sasaran akan banyak membantu permodalan koperasi untuk mengangkat ekonomi anggotanya yakni masyarakat.
Pembinaan sumber daya manusia (SDM) pengelola koperasi, pengawasan yang berkelanjutan serta kesadaran masyarakat untuk berkoperasi adalah kunci keberhasilan koperasi Indonesia. Sehingga akan terwujud apa yang diungkapan Adam Smith bahwa ‘Dengan jalan mengejar kepentingan untuk dirinya sendiri (koperasi) dia memajukan masyarakat (anggota) lebih efektif dibanding bilamana dia betul-betul bermaksud memajukannya’. Wallahu’alam