Header Ads

test

Mengubah Persepsi Menuju Kesejahteraan


Rifadli Kadir
Social and Economic Research Adzkiya Centre

Rifadli Kadir
“Bukan kita yang menggerakkan kita – Tapi pikiran kita”
(Pepatah China Kuno)

                Apa yang kita persepsikan menentukan apa yang akan kita lakukan di menit, jam, hari, minggu, bulan dan bahkan di tahun mendatang. Jika seseorang mempersepsikan bahwa suatu hal itu mudah, maka ia akan mudah melakukannya, begitu juga sebaliknya. Begitu pentingnya persepsi sehingga banyak para motivator bisnis, pendidikan, dan lainnya menyetuh sisi persepsi terlebih dahulu diawal penyampaian.

                 Tak tanggung-tanggung, menyadari betul betapa pentingnya persepsi ataupun pola pikir, John Naisbitt menuliskan sebuah buku yang cukup menggugah: Mind Set!. Buku ini ini mengisahkan betapa pentingnya mengatur, mengarahkan, dan menjaga pola pikir serta bagaimana membaca setiap peluang dalam setiap jejak kehidupan.

                Persepsi yang tentang kehidupan, sekali lagi akan berpengaruh pada arah gerak kaki kehidupan. Dalam banyak hal, pengaruh persepsi dalam hidup nampak begitu jelas. Sebut saja dalam hal memilih teman, persepsi seseorang tentang teman yang baik akan menuntun ia selektif dalam memilih teman. Dalam hal pekerjaan juga misalnya, persepsi tentang mana pekerjaan yang baik dan mensejahterakan.

                Dipersepsi sebagian masyarakat dalam hal memilih pekerjaan –yang dirasakan penulis- ada satu persepsi yang terbangun dan ini menjadi mitos tersendiri, bahwa yang dapat mensejahterakan kehidupan di masa mendatang hanya pada satu pekerjaan saja: sebut saja PNS.  Selama ini –mungkin penulis salah menangkap- ada kekhwatiran dari sebagian besar orang ketika memilih pekerjaan tertentu yang tidak lazim dianggap tabu dan tidak menjamin kehidupan di masa depan.

                Pilihan banyak orang terhadap kerja sebagai PNS, bukan tanpa alasan, di banyak tempat hasil keringat dari pekerjaan ini  tercerminkan dari tampilan fisik nan megah. Tampilan fisik itu kemudian menjadi obsesi banyak orang, menjadi bahan obrolan yang hangat, dan akhirnya membentuk persepsi: bahwa yang sejahtera adalah yang tampilan fisiknya nan megah dan bahwa tampilan fisik itu didapat dari satu pekerjaan: PNS.

                Tak bermaksud mematahkan semangat sebagian orang untuk menjadi PNS, karena pekerjaan itu masalah pilihan.  Tapi yang dirasa rancu adalah menggantungkan kehidupan satu-satunya hanya pada pekerjaan PNS dan merasa bahwa kehidupan ini selesai ketika sudah masuk PNS, sehingga menghalalkan segala cara untuk meraihnya.


PNS, Sejahterahkah?
                Pertanyaan semacam ini, santer terdengar pula disebagian masyarakat yang muak akan persepsi bahwa yang dapat mensejahterakan itu adalah PNS. Benar bahwa secara tampilan fisik seorang PNS itu bisa jadi megah dan mewah, tapi apakah tampilan fisik itu merepresentasikan kesejahteraan?. Perlu untuk kembali mendefinisikan apa itu itu sejahtera.

                Sejahtera menurut kamusbahasaindonesia.org adalah aman sentosa dan makmur; selamat (terlepas dari segala macam gangguan). Ada dua hal yang perlu digaris bawahi, yaitu aman sentosa dan makmur. Sejahtera adalah aman sentosa dalam setiap hidupnya, bebas dari gangguan, rasa takut, dan intimidasi dari pihak manapun dalam segala tindak tanduk kehidupannya.

Tidak hanya aman sentosa, orang sejahtera juga harus makmur, bisa dikatakan kemakmuran dapat diukur dengan tampilan fisik, tapi apakah ini acuan utama, mungkin tidak. Ada hal lain misalnya, seberapa hasil yang ia dapat, bisa bermanfaat buat masyarakat sekitar. Terlebih lagi, jika apa yang didapatkan bisa dimanfaatkan buat kemaslahatan orang banyak.

Sejahtera jika melihat dua hal; aman sentosa dan makmur, kembali mencoba merefleksikan sudah masuk dalam kategori inikah PNS? Bisa iya, bisa tidak. Dari mana cara memandangnya, menghasilkan simpulan yang berbeda pula. Kembali pada diri dan persepsi orang. Tapi sepengalaman penulis mengamati keluarga yang menjadi PNS, mereka mungkin makmur dari sisi penghasilan, tapi terkadang belum aman sentosa dalam menjalani kehidupan; takut kalau jabatannya di PNS dicopot; takut kalau dimutasi kedaerah terpencil karena tidak menuruti atasan; takut kalau diberhentikan dari pekerjaannya.

Meruntuhkan Mitos
                Persepsi bahwa hanyalah PNS yang dapat mensejahterakan dikalangan masyarakat kita bisa dikategorikan sebagai Mitos. Menjadi mitos berarti menjadi sesuatu yang gaib, yang kalau dilawan menimbulkan malapetaka. Karena itu dalam masyarakat Jawa misalnya, mitos tentang segala hal gaib sangat dieluh-eluhkan dan diperingati setiap hari perayaannya. Bisa jadi, nantinya atau mungkin sudah terjadi persepsi tentang PNS demikian menjadi sesuatu yang dieluh-eluhkan untuk menjaga kemapanan.

                Perlu kiranya dipikirkan solusi alternatif untuk mencapai kesejahteraan, tidak hanya bergantung pada PNS saja. Mencoba berbeda dari persepsi masyarakat adalah tidak mengapa. Karena persepsi hanyalah sesuatu yang dipikirkan dan belum tentu itu benar. Salah satu alternatif yang dapat diambil untuk mencapai kesejahteraan dan untuk meruntuhkan mitos adalah dengan berusaha secara mandiri dan menikmati usaha itu, tanpa bergantung pada negara secara berlebihan.

*****************************
Tulisan ini hanyalah untuk menghibur ke-galauan dan ke-muakan sebagian orang yang dipaksa untuk memasuki dunia PNS selepas lulus kuliah. Bukan berarti PNS itu buruk, tapi marilah coba berpikir kembali untuk tidak menjadikan PNS sebagai salah satu pekerjaan yang dapat mensejahterakan. Bisa jadi menjadi PNS tapi juga ia punya usaha sampingan untuk menunjang kehidupan. Mohon maaf bila ada yang mungkin tersinggung. Allahu’alam. []