IKLAN ROKOK DAN BMT | Adzkiya Centre

Senin, 04 Februari 2013

IKLAN ROKOK DAN BMT


Oleh : Dharma Setyawan
Direktur Eksekutif Adzkiya Centre
Suatu kali di Yogyakarta, Cak Nun (Emha Ainun Najib) berkelakar tentang fatwa haram rokok yang dikeluarkan Muhammadiyah. Sebagai seorang yang dulu di SMA Muhammadiyah menjadi aktivis Muhammadiyah bersama Busyro Muqodas (KPK), Cak Nun tidak sungkan untuk menyatakan dengan kelakar. “Muhammadiyah sekarang ada dua mazhab yaitu syafi’i dan Maliki, yaitu Syafi’i Ma’arif dan Malik Fadjar (keduanya Mantan PP Muhammadiyah)”. “Saya menghormati Pak Malik maka saya ikut merokok sehingga kasihan kalau Pak Malik orang hebat di Muhammadiyah tidak ada pengikutnya”. Jamaah Ma’iyah Kiai Kanjeng tertawa terbahak-bahak. Kemudian Cak Nun yang diketahui ayah dari vokalis Noe “Letto” ini menambahkan bahkan Ketua PP Muhammadiyah sekarang menganjurkan merokok. Coba kita sebut “Din....Samsu....Din”. Penonton terpingkal-pingkal mendengar kelakar Cak Nun saat itu. Ini hanya guyon yang jika dibawa ke ranah fiqh akan tidak berujung.
Saya pribadi melihat Cak Nun sebagai seorang budayawan yang mencoba mengatur ritme emosi masyarakat terkait dengan fatwa haram yang pernah dikeluarkan Muhammadiyah tentang rokok. Bukan kemudian tidak menghormati, saya pribadi menilai bahwa Cak Nun mengobati emosi masyarakat yang tidak setuju fatwa haram rokok dengan guyon dan menarik masyarakat pada siklus lupa akan kemarahan. Dengan guyon itu, masyarakat Jogja kembali ajor-ajer sehingga warga NU pun di ajak menghormati fatwa Muhammadiyah bukan kemudian malah menjadi perdebatan antar ormas. Cak Nun menghindari perdebatan emosional masyarakat yang sudah sangat kacau ini. Masyarakat yang gampang terprovokasi, masyarakat yang gampang tersulut emosi entah karena media, entah karena kemiskinan atau emosi karena pemimpin semakin parah korupsi.
Cak Nun menghindari perdebatan ormas terjadi, perdebatan emosional itu suatu waktu jika dibiarkan akan menjadi pertempuran emosional dari mulai isu suku, agama, tanah, hak tambang dan lainnya. Ketika di Jogja itu saya belajar tentang arti menghargai entitas lain, menghargai kelompok lain, dan menghargai kecerdasan yang sebenarnya akan muncul dari tiap perbedaan yang muncul. Bukankah karena berbeda itu kita di ajak mikir? di ajak musyawarah dan di ajak untuk saling memahami pendapat orang lain.
Rokok Haram?
Saya juga tidak akan larut dalam pembahasan rokok haram. Fatwa dalam cara pandang saya adalah pendapat seseorang ulama atau kelompok agama yang dapat dijadikan rujukan ketika Al-quran dan As-sunah tidak menemukan teks yang jelas. Dengan fatwa itu kekuatan hukum hanya sampai pada pengikut aliran tersebut antara taat atau tidak. Sama juga statusnya dengan fatwa haram golput di Pilkada dan lainnya. Dan faktanya tidak semua orang Muhammadiyah ikut mematuhi aturan fatwa haram rokok.
Jika dilihat dalam perspektif agama fatwa haram itu tidak menarik dan cenderung diabaikan. Saya pernah menulis dua kali di media online Islam tentang “Rokok”. Saya menulis bukan terkait fatwa haram tapi uang rakyat pertahun yang mencapai 100 triliun di bakar untuk jutaan batang rokok tiap tahun. Akibat rokok itu, kementrian kesehatan juga harus mengeluarkan 20 triliun. Keuntungan perusahaan rokok juga terlalu dahsyat untuk orang-orang terkaya. Di Indonesia ternyata rata-rata pemilik perusahaan rokok masuk nominasi terkaya no 1. Di Indonesia ini, aturan pajak rokok paling kecil tidak seperti di Jepang dan negara lainnya yang memberi pajak besar pada rokok. Sehingga jangan heran kalau orang-orang menengah ke bawah (miskin) di Indonesia malah menjadi penyumbang terbesar atau pembeli rokok. Artinya orang miskin di Indonesia soleh-soleh, karena bersedekah uang dengan para orang kaya dan ditukar dengan beberapa batang rokok.
Di jalanan kota-kota di Indonesia, kita dapat melihat perusahaan rokok mampu membayar papan reklame, membangun TV iklan besar di pusat kota sehingga iklan rokok semakin ramai. Sepanjang jalan mereka mampu membeli uang sewa papan reklame itu. Pemerintah daerah pun tergiur dengan pendapatan uang sewa tersebut.  Kalau ini diharamkan pemerintah tidak di untungkan, dan perusahaan rokok akan bangkrut. Akhirnya rakyat yang memilih tetap miskin, bersedekah kepada orang kaya dan di usia tuanya memilih sakit yang paling hebat biaya pengobatannya yaitu jantung. Rakyat kita orang-orang yang hebat-hebat dan mau berkorban jiwa raga untuk keuantungan pemerintah daerah dan pengusaha rokok. Kalau saya boleh usul sama Gusti Allah di akhirat nanti, Rakyat miskin Indonesia harusnya masuk surga duluan karena sudah miskin, bersedekah dan sakit jantung sebelum mati.
Grameen Bank dan BMT
Menarik adalah Grammen Bank, Bank untuk orang miskin yang didirikan oleh Prof. Muhammad Yunus di Bangladesh. Profesor Yunus mengajak para Ibu-ibu untuk mendirikan koperasi simpan pinjam atau “bank kecil” yang diberi nama Grammen Bank. Karena Ibu ibu yang paling sering membelanjakan uang mereka untuk konsumsi rumah tangga, Prof Yunus menyadarkan mereka untuk mau menabung membeli saham dan membuat Bank-bank yang berpihak pada kaum miskin. Jika di Indonesia, Bank-bank banyak dimiliki oleh penguasaha rokok, di Bangladesh berbeda rakyat mereka melawan. Belanja Ibu-ibu di sisihkan untuk di tabung dengan jutaan Ibu-ibu yang lain dan membuat Bank sendiri.
Di Indonesia, rakyat laki-laki nya yang soleh ini susah untuk di ajak bersatu, berkoperasi dan bekerjasama. Mungkin kita perlu mengajak Ibu-ibu untuk sadar membuat Bank atau sejenis BMT sehingga Ibu-Ibu juga bisa solehah seperti Bapak-bapak. Bedanya, Bapak-bapak sedekah untuk pengusaha rokok, tapi Ibu-ibunya lebih solehah karena mau menabung dan malah punya Bank. Di Banglades Ibuk-ibuk kini punya Sisa Hasil Usaha (SHU) dari Grammen Bank. Mereka mampu memiliki tabungan yang terus bertambah akibat para Ibu-ibu bersatu membangun modal bersama. Hingga akhirnya tahun 2006 Profesor Muhammad Yunus mendapatkan nobel dunia, karena terobosannya memberi solusi pengentasan kemiskinan di Banglades.
Di Indonesia rakyatnya masih saja percaya dengan Bank-Bank yang tidak pernah memberi bagi hasil atas simpanan. Bahkan menabung malah semakin berkurang bukannya bertambah. Rakyat kita benar-benar dermawan dan tidak segera sadar bahwa uang itu akan lari ke pengusaha-pengusaha rokok pemilik Bank dan melebarkan perusahaan rokok semakin besar. Rokok dan Bank ternyata satu kaitan jika kita teliti di Indonesia. Pemilik perusahaan rokok adalah pemili Bank, hanya sialnya rakyat yang punya uang membeli rokok dan nabung di Bank mereka, tapi yang di dapat adalah uang di Bank tidak bertambah dan rokok menyebabkan sakit jantung.
Adanya BMT (Baitul Mall Watamwil) dengan semangat koperasi harusnya disadari seperti di Banglades, diman rakyat melawan keangkuhan Bank dan pengusaha rokok. Rakyat harus sadar mereka bersatu, bekerjasama mengelola sendiri uang mereka untuk mereka sendiri. Dengan berkoperasi di BMT masyarakat akan mendapatkan Sisa Hasil Usaha (SHU) tiap tahun dan dana mereka tidak lari di Kota hanya untuk pengusaha-pengusaha besar. Jika ditabung di BMT uang itu akan mengalir ke daerah itu saja, tidak akan lari ke Kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan lainnya. Dengan uang mengalir di desa-desa maka petani dapat menanam, pedagang kecil dapat berjualan dan lainnya. Jika uang hanya di kota saja, pemuda-pemuda akan berbondong-bondong ke Jakarta mengadu nasib di tempat uang beredar. Negara ini memang aneh, 70 % uang mengalir di Jakarta. Saatnya rakyat desa menjadi cerdas dengan menabung, baik di koperasi atau BMT. UU no 17 tahun 2012 yang baru di sahkan telah memberi kesempatan besar rakyat kecil untuk memiliki saham di Koperasi yaitu dengan membeli sertifikat Modal Koperasi (SMK). Dengan aturan ini rakyat yang akan memiliki Bank-bank kecil ini, jangan diremehkan jika bank-bank kecil ini berkumpul dan rakyat yang memiliki maka akan menjadi besar. Seperti ungkapan Bung Karno, “Rakyat Berdikari” yaitu rakyat yang berdiri dibawah kaki sendiri “. Saya tidak berani mengharamkan rokok, tapi saya berani untuk mengajak kita semua menabung di Koperasi BMT.