Header Ads

test

ANGPAO : FILANTROPI IMLEK DAN SIMBOL EKONOMI

Oleh : Dharma Setyawan
Direktur Eksekutif Adzkiya Centre


Dharma Setyawan
Tahun baru Imlek tiap tahun diperingati oleh warga china sangat meriah baik khususnya di Indonesia maupun penduduk di negeri China. Hampir disetiap perayannya tahun baru Imlek menyedot bayak perhatian masyarakat pribumi di indonesia dan tidak luput dari media yang menayangkan acara yang berkaitan dengan kehidupan warga China baik dengan sajian film ataupun perayaan Imlek. Tradisi Imlek di negeri asalnya di China adalah sebuah tradisi perayaan dimana keluarga berkumpul dengan keluarga lainya untuk berhenti sejenak menyambut tahun baru China dengan suka cita. Bahkan di China sendiri tahun baru Imlek diperingati dengan libur nasional hingga 15 hari. Perayaan Imlek diperingati dengan dengan beribadah, menonton tarian barongsai, makan somai massal, dan terakhir bagi-bagi Angpao dengan warga sekitar.
Peringatan Imlek warga China bahkan tidak hanya warga etnis China yang merasakan. Penduduk pribumi sekarangpun mulai terbiasa dengan perayaan Imlek yang sudah terbuka semenjak Gusdur menjadi Presiden. Dengan jumlah penduduk I Miliar lebih China mengalami kemajuan pesat dalam bidang ekonomi. Imlek dan angpao adalah wujud rasa syukur dan semangat memulai  tahun baru dengan gigih dan optimisme baru. Imlek menjadi sejenis refleksi warga China di tahun yang baru agar kehidupan selanjutnya dapat berjalan dengan baik.
Imlek dan etos Kerja
Dunia mengakui etos kerja warga China yang sangat gigih dengan perjuangan hidup walau di negeri perantauan. Prinsip China yang berani hijrah ke negeri orang dan akhirnya sukses semestinya menjadi spirit bangsa lain termasuk Indonesia untuk mewujudkan kebangkitan ekonomii di masa depan.
            Warga China yang pernah mengalami diskriminasi di Indonesia pada masa lalu tidak menjadikan warga China kehabisan ide dan tetap bertahan menjalankan kehidupannya dengan optimis. Dengan dihilangkannya hak politik dan tidak di bolehkan masuk  struktur pemerintahan akhirnya membuat warga china tidak ada pilihan untuk bergerak dalam bidang wirausaha (enterprenuer) Berkah berdagang yang pernah di anjurkan Rosullulah ternyata sukses di jalankan warga China di Indonesia. Bahkan di negara China warga China sukses menciptakan produk-produk yang membanjiri pasar dunia. Indonesia merupakan lahan subur yang merupakan sumber komoditas yang menjadi prioritas China dalam menjual produk mereka melihat Indonesia adalah negara yang miskin penelitian ilmiah sehingga lebih terkenal konsumtif dengan produk-produk buatan asing. Produk barang yang diciptakan China dan membanjiri pasar dunia antara lain mobil, motor, handphone, dan alat elektronik lainnya. Dengan banyaknya warga China yang menyebar keseluruh dunia menjadikan produk China sangat mudah masuk dibantu dengan kebijakan yang mengatasnamakan “Globalisasi Ekonomi” atau perdagangan liberal yang merusak produk dalam negeri. Bahkan di belahan dunia warga China menyebar dengan rata dan dalam kenyatannya China hari ini menguasai perekonomian dunia dengan produk mereka jual dengan harga terjangkau. Bahkan sukses China diikuti oleh  India yang juga menyusul dengan kebangkitan ekonominya. Ini bukti nyata bahwa banyaknya penduduk tidak membuat alasan kemiskinan terjadi karena yang paling utama adalah semangat dan etos kerja yang tinggi.
Angpao simbol Ekonomi
            Angpao adalah tradisi China yang memang sangat klasik untuk di bicarakan. Namun di balik Angpao terdapat simbol ekonomi yang merupakan kebanggaan China sebagai imperium bangsa baru yang maju dengan pesat. Tradisi Angpao merupakan wujud Filantropi Imlek yang menjadikan China memiliki mental tinggi sebagai bangsa yang memiliki rasa sosial tinggi terhadap bangsanya atau bangsa lain. Kita bisa merasakan persaudaraan warga China di pasar-pasar negeri ini. Jika kita membeli barang yang tidak ada di tokonya, pasti orang China mencarikan barang yang ada di pedagang China lain. Termasuk Angpao yang merupakan sebuah tradisi berbagi dengan sesama. Angpao yang di bagi dalam bentuk uang bahkan menyedot perhatian publik bahkan penduduk pribumi yang rela mengantri untuk mendapatkan angpao dari para pengusaha keturunan China.
            Namun kejadian miris tentang pembagian angpao malah terjadi di negeri ini. Penduduk pribumi seperti tidak memiliki mental tinggi dalam memandang angpao. Ada seorang Ibu yang rela mengantri dari pagi untuk mendapatkan angpao. Mereka tidak salah karena negara ini tidak cukup baik mengurusi penduduk yang kata orang negeri Indonesia gemah ripah loh jinawi tapi kemiskinan masih menjadi masalah utama. Mungkin mental penduduk kita tidak seperti China yang tangan di atas tetap lebih baik dari pada di bawah.  Akhirnya kejadian yang tidak kita inginkan juga terjadi dalam pembagian angpao. Kejadian di Surabaya Jawa Timur ratusan anak-anak berebut angpao dan suasana menjadi rusuh akibat banyaknya anak yang tidak sabar untuk mendapatkan bagian angpao. Bahkan di penjaringan Jakarta Utara ratusan warga rela berdesak-desakan demi angpao yang di bagikan pengusaha China.
            Akan lebih baik bangsa kita mulai mencontoh angpao adalah sisi Filantropi (sedekah) yang seharusnya juga dilakukan mayoritas penduduk Pribumi Indoneisia. Dengan Filantropi tersebut harapan besar bangsa kita memiliki mental sebagai bangsa yang tidak meminta-minta tapi menjadi bangsa yang memberi dan beretos kerja tinggi seperti Warga China.