Header Ads

test

Tentang Koperasi

Petikan Pidato Bung Hatta
Bung Hatta

"....dapatlah orang mengambil teladan kepada perintis kooperasi di Rochdale, di
Inggris pada tahun 1843. Mereka bermula membangun kooperasi dengan modal 28
poundsterling saja; karena miskinnya mereka tak sanggup menumpulkan lebih dari
itu. "Modal" seterusnya hanya kekerasan hati. Dengan kapital permulaan yang
begitu sedikit mereka mulai bekerja untuk membangun suatu dunia baru. Pada
permulaannya gudangnya dibuka hanya dua hari seminggu: Sabtu dan Senin,
sedangkan penjualannya seminggu tak lebih dari dua poundsterling."

Untuk Keuntungan Bersama Bukan Keuntungan Pribadi

Dasar kekeluargaan itulah dasar hubungan istimewa pada kooperasi. Di sini tak
ada majikan dan buruh, melainkan usaha bersama antara mereka yang sama
kepentingannya dan tujuannya.

Pada kooperasi yang terutama ialah menyelenggarakan keperluan hidup bersama
dengan sebaik-baiknya, bukan mengejar keuntungan seperti pada firma, perseroan
anonim dan lain-lainnya itu. Sungguhpun perusahaan memperoleh keuntungan juga,
keuntungan itu bukanlah tujuan. Yang menjadi pokok ialah memelihara kepentingan
bersama, menyelenggarakan keperluan hidup bersama. Berbeda dengan perseroan
anonim di mana ahli pesertanya yang terbanyak tidak ikut perusahaan melainkan
menunggu pembagian keuntungan saja habis tahun, anggota kooperasi rata-rata ikut
berusaha dan bertanggung jawab.

Saya sering-sering memperingatkan perbedaan antara perkumpulan dagang yang pakai
andil, saham, sebagai N.V. atau M.A.B. dengan kooperasi. Bagi N.V. cukuplah
apabila pengurus atau pimpinannya bekerja giat; ahli peserta hanya menunggu
hasil yang berupa keuntungan habis tahun. Selanjutnya, sebagai kelanjutan pula
dari keadaan yang seperti itu, nasib N.V. boleh dikatakan semata-mata dalam
tangan pengurus tadi. Pada N.V. yang diutamakan oleh ahli pesertanya ialah
pembagian keuntungan tiap-tiap tahun.

Tidak demikian dengan kooperasi! Tiap-tiap anggota harus giat berusaha
menyuburkan hidup kooperasi; tiap-tiap anggota harus merasai tanggung jawabnya
tentang nasib perkumpulannya, tentang cepat dan lambatnya kemajuan kooperasinya.
Bukan menunggu-nuggu pembagian keuntungan habis tahun menjadi pokok, melainkan
berusaha bersama-sama, supaya kooperasi dapat menyelenggarakan keperluan bersama
dengan sebaik-baiknya.

Selagi politik adalah medan aktivitas yang membawa perpisahan menurut keyakinan,
kooperasi adalah medan penghidupan yang menyatukan. Orang yang berlainan paham
tentang politik nasional dapat bersatu dalam usaha kooperasi.

"Nous voulons batir un monde ou tout le monde soit heureux"

kami mau membangun dunia, yang di dalamnya setiap orang hidup bahagia

CHARLES FOURIER

Persamaan Cita-Cita

Hanya kooperasi bukan organisasi paksaan, melainkan perkumpulan suka rela atas
persamaan cita-cita dan kemauan kerja sama.

Kooperasi memperkuat rasa percaya pada diri sendiri. Semangat tolong-menolong
yang masih hidup dalam pergaulan rakyat diajukan sebagai dasar pemandu kemauan
ekonomi yang bulat. Seringkali pula di masa itu kita ingin mengambil teladan
pada Denmark yang demikian rupa kemajuan kooperasinya, sehingga tepat disebut
"republik kooperatif" sungguhpun negaranya adalah suatu kerajaan. Dengan jalan
organisasi kooperasi rakyat Denmark sanggup mengangkat dirinya dari bangsa yang
miskin menjadi salah satu bangsa yang paling makmur di dunia. Henning Ravnholt,
seorang penganjur kooperasi mengatakan dalam bukunya tentang "pergerakan
kooperasi di Denmark",

"Kepentingan perkumpulan kooperasi yang sebenarnya, yang tak ternilai besarnya
ialah bahwa ia adalah sekolah untuk mendidik diri sendiri bagi
anggota-anggota-nya. Ia mengajar mereka mengemudikan diri sendiri dengan bebas
perusahaan mereka dan mengajar mereka bersekutu dengan yang lain."

"Dalam perkumpulan kooperasi dasar-dasar demokrasi ekonomi telah lebih dahulu
dijalankan sebelumnya rakyat Denmark seluruhnya mengenal demokrasi politik."

Severin Jorgenson, dalam bukunya "Henning Ravnhlot, The Danish Co-operative
Movement" hlm. 10 mengatakan bahwa Denmark memang membuktikan dalam sejarahnya,
bahwa bangunan demokrasinya yang begitu kokoh sebagian besar dipupuk oleh
semangat kooperasi. Demokrasi dapat hidup dan kuat, kalau ada ras tanggung jawab
pada rakyat. Dengan tak ada rasa tanggung jawab, tak mungkin ada demokrasi.
Mungkin ada namanya, tetapi isinya anarki yang memperlihatkan keinginan yang
bersimpang-siur, yang berpusat pada kepentingan sendiri atau golongan sendiri.
Dan sejarah segala masa memberi petunjuk, bahwa demokrasi yang melulu menjadi
anarkiakan digantikan oleh diktatur, yang pada permulaannya dikehendaki oleh
rakyat untuk menyatukan yang terpecah belah tadi. Tetapi juga sejarah segala
masa memperlihatkan, bahwa jarang ada diktatur yang setia pada suruhannya
bermula. Lambat-laun ia merasa enak sendirinya. Dari membela kepentingan rakyat
ia mencari kebesaran hidup sendiri dan kemegahan diri. Sebabnya ialah karena tak
ada kritik dari rakyat yang dapat menegurnya kalau salah langkahnya. Psikologi
segala diktatur ialah bahwa ia cepat tersinggung. Tiap-tiap kritik, betapa juga
baik maksudnya, dianggapnya merusak prestisenya menurunkan derajatnya, sebab itu
mau dibasminya sampai ke akar-akarnya. Apa yang mulanya alat untuk mencapai
tujuan, sekarang menjadi tujuan sendiri. Akhirnya diktatur terpaksa bersendi
kepada teror, untuk menegakkan kemegahannya dan menundukkan tiap-tiap orang,
yang masih berani berpikir merdeka, kepada kemauannya.

Tentang Ekonomi yang Memproduksi

Salah satu sisa kolonialisme yang menghambat kemajuan yang mesti disapu
selekas-lekasnya, ialah inferioriteitscomplex, yaitu rasa diri rendah. Rasa diri
rendah....Rakyat kita hidup miskin di tengah-tengah kekayaan yang
melimpah....Ada usahawan tetapi organisator kurang sekali. Pertindak kurang
sebab kita baru merdeka dan bangsa kita belum banyak mempunyai pengalaman dalam
perusahaan modern.

Hanya barang kapital yang harus kita impor sebanyak-banyaknya. Dan untuk
pembayarnya itu diatur corak penghasilan buat ekspor.....Lebih penting daripada
cita-cita kita tentang kesejahteraan hidup rakyat di masa datang dengan dasar
kekeluargaan, ialah desakan rakyat untuk mendapat perbaikan hidup sekarang juga,
oleh karena itu, politik kemakmuran yang realis harus dapat memisahkan politik
perekonomian dalam jangka panjang dan politik perekonomian dalam jangka pendek.
Di sebelah menunggu tercapainya hasil politik perekonomian berjangka panjang
ini, perlu ada politik kemakmuran berjangka pendek, yang realisasinya bersandar
kepada bukti-bukti yang nyata.

Jalan yang kita rintis memang sukar dan sulit. sungguhpun begitu, kita jangan
gusar apabila disebelah kooperasi yang menjadi ideal kita, terdapat
bangunan-bangunan perusahaan yang berpedoman pada keuntungan dan berdasarkan
inisiatif-partikulir diawasi atau tidak oleh negara.

Tugas pemerintah dalam keadaan seperti itu ialah melindungi ekonomi rakyat yang
lemah dari tindasan asing dan memperbaiki dasar pembagian hasil, produk sosial,
dengan memperbanyak bagian yang jatuh kepada tani dan buruh.

Memang, kita berada dalam segala kekurangan. Kita perlu akan bantuan kapital dan
bantuan tenaga ahli dari luar negeri. Semuanya itu dapat kita datangkan dengan
menguntungkan kepada negara dan rakyat, asal rencana datang dari kita dan
inisiatif ada pada kita.

Dengan berpedoman kepada export-economie kita menggantungkan nasib kita dan
keselamatan rakyat kepada kekuasaan ekonomi bangsa asing. Apalagi karena
terhadap barang-barang ekspor kita yang terpenting sebagai karet dan timah, kita
berhadapan dengan suatu single buyer yang kuasa: Amerika Serikat. Krisis yang
menimpa harga barang-barang ekspor kita di pasar dunia sejak tahun 1951, yang
dalam tikamannya dalam ekonomi kita, mudah-mudahan membuka mata sekali lagi akan
besarnya bahaya yang menimpa perekonomian kita, selama ia berdasar pada
export-economie. Masalah ini tidak dapat dipecah dengan sentimen yang
meluap-luap, dengan menimpa kesalahan kepada orang lain. Dengan sentimen yang
meluap-luap saja, tidak akan tertolong ekonomi rakyat, tidak akan terangkat
rakyat kita dari lembah kemiskinan

"Man's character has been moulded by his everday work"

Alfred Marshall

Tujuan Koperasi

Pertama, memperbanyak produksi, terutama produksi barang makanan dan barang
kerajinan dan pertukangan yang diperlukan sehari-hari oleh rakyat kita dalam
rumah tangganya

Kedua, tugas kooperasi ialah memperbaiki kualitas barang yang dihasilkan rakyat

Tugas kooperasi yang ketiga ialah memperbaiki distribusi, pembagian barang
kepada rakyat.

Tugas kooperasi yang keempat ialah memperbaiki harga, yang menguntungkan bagi
masyarakat.

Tugas kooperasi yang kelima ialah menyingkirkan penghisapan dari lintah darat.

Tugas yang ketujuh dari kooperasi ialah memelihara lumbung simpanan padi atau
mendorong supaya tiap-tiap desa menghidupkan kembali lumbung desa.



Percaya pada diri sendiri beserta gembira bekerja dengan tiada gentar menghadapi
kesukaran, itulah pangkal kekuatan membangun masyarakat kooperasi.



Prinsip Kerja Koperasi

1. Tidak boleh dijual dan dikedaikan barang yang palsu.

2. Ukuran dan timbangan barang mesti benar dan dijamin. Ini didikan,
untuk menjauhkan anggota dari kealpaan dan kecurangan. Dengan ini dididik
manusia jujur.

3. Harga barang mesti sama dengan harga setempat

4. Kooperasi melakukan jual-beli dengan kontan. Kredit dilarang karena
ia menggerakkan hati orang membeli yang jauh melewati tenaga pembelinya yang
biasa. Karena itu anggota-anggota kooperasi lambat-laun terdidik supaya jangan
hidup lebih besar dari kemampuan dan pendapatan. Apabila orang ingin akan
sesuatu barang yang mahal, ia harus meyimpan lebih dahulu, sampai terkumpul uang
pembelinya. Dengan begitu orang terpelihara dari daya-penarik beli-sewa, yang
seringkali menyebabkan orang berhutang seumur hidup dan adakalanya terperosok ke
dalam marabahaya ijon.

5. Kooperasi menggiatkan anggotanya menyimpan setiap waktu dan
sewaktu-waktu untuk menjaga keselamatan hidupnya dan keselamatan perusahaannya
di kemudian hari.

Demikianlah kooperasi mendidik manusia bersifat sosial dan jujur serta pandai
menjaga diri dari bujukan ekonomi. Kredit ini hanya ada dalam ekonomi produksi,
di atas dasar tolong-menolong.

6. Keuntungan dibagi antara anggota menurut jasa mereka dalam memjukan
perkumpulan. Misalnya, anggota yang banyak membeli barang-barang keperluannya
pada kooperasi lebih banyak pula memperoleh bagian bagian keuntungan dari
anggota yang sedikit membeli. Dasar ini disebut dasar demokrasi ekonomi dalam
kooperasi. Apabila ditentukan bahwa simpanan pokok diberi rente maka rentenya
itu sederhana sekali.

7. Satu bagian yang tertentu dari keuntungan diuntukkan guna
pendidikan.

Pokok dari segala-galanya ialah percaya dan yakin akan kebaikan masyarakat
kooperatif, dan sabar tetapi giat melaksanakan berangsur-angsur. Ini menghendaki
kekerasan hati yang tak kunjung patah!

Dari uraian saya ini jelaslah kiranya, bahwa bukan semboyan yang muluk-muluk
yang terutama perlu untuk mencapai masyarakat kooperasi yang kita ciptakan,
melainkan amalnya yang berupa pendidikan atas diri sendiri dan perbuatan. Tak
ada sifat yang lebih bertentangan dengan dasar kooperasi daripada perasaan
segala cukup. Kita harus membangun suatu dunia baru dari ramuan yang serba
kurang. Dengan perasaan segala genap tak ada yang akan bangun, sebab semua
terasa sudah cukup. Di atas jalan menuju masyarakt kooperatif, belum ada yang
sempurna, sebab itu dasar kita bekerja ialah: mencapai perbaikan senantiasa! Apa
yang telah terasa baik sekarang, di kemudian hari sudah kurang baik rupanya,
oleh karena dunia selalu berada dalam perubahan. Janganlah pula ada di antara
kita yang merasa sombong melihat hasil yang telah tercapai. Sikap yang harus
dipakai dalam membangun kooperasi mestilah sesuai dengan ilmu padi: semakin
masak semakin runduk.

Kemauan menyimpan itu adalah pula gambaran dari kesadaran kooperasi dan
keyakinan berkooperasi. Jiwa pendorong kooperasi ialah self-help. Dan self-help
inilah, yaitu dasar "tolong diri sendiri" yang harus dipupuk senantiasa, harus
diperbesar. Gerakan kooperasi yang berjiwa self-help, yang berani bertanggung
jawab dan mengatasi kesulitan sendiri lebih dahulu, akan menemui zaman emasnya
di masa datang.

Sudahlah kita menghadapi berbagai kesukaran dalam ekonomi dan keuangan,
masyarakat kita ditimpa pula oleh berbagai macam krisis. Ada krisis akhlak, yang
mengaburkan batas antara baik dan buruk, antara halal dan haram, antara sopan
dan jahil, antara adil dan curang. Korupsi meluas dalam masyarakat, yang
menghinggapi pula beberapa instansi pemerintahan, yang kalau tidak diambil
tindakan cepat dan tegas, bisa berurat-berakar dalam organisasi masyarakat dan
negara. Kesukaran hidup buruh dan pegawai negeri, yang upah dan gajinya tidak
lagi mencukupi, dipergunakan oleh pengusaha avonturir yang mau lekas kaya untuk
memperoleh jalan mencapai keuntungan sebesar-besarnya. Karena itu, saudagar dan
pengusaha yang bonafid yang memegang teguh moral ekonomi, tertunda ke belakang.
Suap dan sogok mangkin menjadi, yang tidak sedikit merugikan masyarakat dan
negara.

Sebetulnya, kalau kita jujur kepada diri kita sendiri sebagai manusia yang
beradab, kita memperoleh pegangan bagi kekuatan jiwa kita pada Pancasila yang
menjadi pokok dasar negara kita. Apakah artinya pengakuan Ketuhanan Yang
Mahaesa, apabila kita tak bersedia berbuat dalam hidup sehari-hari menurut
sifat-sifat yang dipujikan kepada Tuhan Yang Mahaesa, seperti kebenaran,
keadilan, kejujuran, kebaikan dan lain-lain sebagainya?

Sebab itu, menjaga kejujuran itu adalah suatu usaha yang terpenting bagi
kooperasi. Karena itu pula, menanam cita-cita kooperasi dalam jiwa anggota harus
dilakukan selalu. Ini adalah suatu anasir pendorong ke jalan jujur. Anggota yang
tidak jujur dan tidak mempunyai perasaan setia kawan, lambat-laun akan
tersingkir sendirinya dari kooperasi. Ia tidak akan merasa senang lagi, dalam
suasana kooperasi yang bersemangat kekeluargaan. Karena itu pula, gerakan
kooperasi Indonesia tak usah merasa rugi, kalau ada segolongan anggotanya
memisahkan diri dan mendirikan antara mereka organisasi N.V. atau lainnya. Siapa
yang berjiwa N.V., bersemangat individualisme, biarlah mereka keluar dari
kooperasi. Ini lebih baik daripada kooperasi dipergunakan untuk keperluan lain
dari yang sesuai dengan cita-cita kooperasi. Siapa yang mempunyai cita-cita
kooperasi dan bersemangat kooperasi, tinggallah tetap dalam kooperasi, sekalipun
kooperasi ini sewaktu-waktu mendapat gencatan dari berbagai pihak. Jalan menuju
cita-cita, apalagi cita-cita tinggal sebagai yang tertanam dalam undang-undang
dasar negara kita, tidaklah rata dan tidak pula mudah.

Yang penting ialah mengubah kebiasaan dari membeli berhutang kepada membeli
kontan, yang menjadi dasar usaha kooperasi. Ini menghendaki kemauan, kemauan
untuk terlepas dari penyakit sleur dan untuk memperoleh jiwa baru yang bisa
merintis kemajuan penghidupan. Hutang lama kepada langganan lama tidak perlu
menjadi ikatan, malahan dari ikatan hutang yang mengungkung itu pegawai negeri
harus dilepaskan. Kooperasi Pegawai Negeri sendiri - kalau ia betul-betul
bernama kooperasi, dengan berjiwa gotong-royong dan tolong-menolong - harus
sanggup menyelesaikan soal ini. Jalannya ialah. kooperasi simpan-pinjam dan
pembebas hutang. Apabila inisiatif telah diambil oleh kooperasi, dengan
menitik-beratkan pada menyimpan, maka bantuan dari pemerintah pada tingkat kedua
dapat diharapkan.

Menguasai hawa nafsu itu, sekalipun ke jalan yang baik, adalah satu segi dari
didikan kooperasi. Di dalam kooperasi kita harus sabar menunggu, tetapi dengan
keyakinan bahwa cita-cita harus dicapai. Bukankah kooperasi melarang anggotanya
membeli sesuatu barang yang mahal dengan berhutang dan mencicil? Kalau seorang
anggota ingin akan barang itu, ia harus menyimpan dahulu. Barang itu dibeli,
kalau uang untuk membayar harganya sudah terlungguk.

Sebab itu saya sesalkan sangat ucapan seorang pemimpin kooperasi pegawai negeri,
yang mengatakan "bahwa pegawai negeri tidak perlu menyimpan, sebab gajinya tidak
cukup. Buat makan saja tidak cukup, apa yang mau disimpan. Karena itu pemerintah
yang harus memberikan uang muka untuk melancarkan bangunnya kooperasi pegawai
negeri".

Sebab itu sayang sekali, apabila kegiatan membentuk modal itu dipatahkan dengan
memasukkan semangat liberalisasi ke dalam Undang-undang kooperasi, yang sedang
dibicarakan di dalam Dewan Perwakilan Rakyat. Di dalam usul rencananya
Undang-undang kooperasi bermula yang dimajukan oleh anggota DPR Sumardi dan
kawan-kawannya didapati suatu pasal yang mengatakan, bahwa sewaktu-waktu
simpanan wajib boleh dikembalikan, asal kemungkinan itu disebut di dalam
peraturan dasar kooperasi.

Dengan peraturan undang-undang seperti itu mungkin sekali terjadi, bahwa
kooperasi-kooperasi baru membuat ketentuan semacam itu dalam peraturan dasarnya
kooperasi lama yang tidak membolehkan simpanan wajib dikembalikan selama orang
menjadi anggota akan mengubah peraturan dasarnya dengan memasukkan semangat
liberalisasi itu ke dalamnya. Dan dengan perubahan peraturan dasar itu maka akan
bnyak anggota kooperasi meminta kembali simpanan wajibnya. Pada galibnya,
apabila beberapa orang anggota kooperasi meminta kembali uang simpanan wajibnya,
perbuatan itu akan ditiru oleh anggota-anggota lain. Maka timbullah proses
psikologi pengembalian simpanan wajib yang berentetan dari kooperasi ke
kooperasi. Maka hancurlah pembentukan modal kooperasi. Anggota-anggota yang
merasa kaya sekonyong-konyong dengan menerima kembali uang simpanannya yang
terlungguk selama ini, merasai keluasan modal dan membelanjakannya dengan tidak
banyak perhitungan. Semangat berhemat dan hidup sederhana yang ditanam oleh
kooperasi digantikan oleh nafsu boros. Akhirnya oto-aktivitas semangat tolong
sendiri secara kooperasi lenyaplah.

Sebab itu saya anjurkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat yang akan memutus dan
bertanggung jawab terhadap pelaksanaan cita-cita negara yang tertanam di dalam
Undang-undang Dasar pasal 38 supaya mencoret saja pasal dalam usul rencana
Undang-undang Kooperasi tersebut, yang membolehkan simpanan wajib dikembalikan
sewaktu-waktu. Mungkin para pengambil inisiatif sendiri bersedia mengubahnya,
setelah merenungkan bencana apa yang akan menimpa kooperasi dengan peraturan
liberalisasi itu.



Hanya satu tanah yang bernama Tanah Airku,

Ia makmur karena usaha, dan usaha itu ialah usahaku!



Dikutip dari berbagai sumber, pidato bung Hatta pada hari Koperasi 12 Juli
antara tahun 1952 sampai 1959.