Header Ads

test

MELAWAN RENTENIR KONTEMPORER (1)

Oleh : DHARMA SETYAWAN
Direktur Eksekutif Adzkiya Centre

Siang tadi saya mencari makanan yang banyak sayuran, pilihannya pecel atau lotek. Di Jogja ini kedua makanan itu cukup laris, terutama pecel di dekat Ambarukmo Plasa (AMPLAS). Karena sudah habis, maka saya masuk di gang Gowok Polri, Sleman. Disitu saya cari lotek langganan dan ternyata pindah 5 kilometer dari tempat semula, karena bangunan warung sedang ada perbaikan. Setelah memesan, saya duduk sebentar dan melihat kondisi tempat baru yang menurut saya sangat tidak representatif. Tempat yang dulu sangat strategis dan ramai pengunjung, namun sekarang terlihat sangat sepi dan hanya beberapa yang beli tidak sampai mengantri seperti dulu.
Ketika makanan sudah disiapkan beberapa menit muncul seseorang dengan motor dan menghampiri warung lotek Bu Puji. Diam tanpa memesan beberapa saat kemudian Bu puji memberikan uang 10 ribu dengan tanda tangan di kertas kecil tanda angsuran. Kemudian beberapa saat lagi, datang orang kedua tanpa membeli juga Bu Puji memberikan uang 10 ribu kepada orang tersebut. Merasa saya perhatikan Bu Puji dan suaminya merasa malu dengan kejadian tadi terlihat saya. Di tempat lama dulu saya sering mengalah dengan pembeli lain hingga 4 hingga 5 orang yang mengantri. Karena di warung itu hanya ada saya sendiri yang membeli lotek, saya bertanya,” Ibuk ngasih duit apa ke orang tadi”. Bu Puji Menjawab,”saya kena bang plecit mas, Rentenir harian”. Saya bertanya kembali,”Ibu pinjam berapa”. Langsung dijawab,”Awalnya saya Cuma 200 ribu, trus sekrang sampai 4 rentenir, satu 200 ribu, dua 500 ribu, ketiga 500 ribu dan keempat baru 2 hari bapak pinjam lagi 1 juta total 2,2 juta.”. Bu Puji menambahkan,”Dulu waktu masih di tempat lama saya kuat mas angsur tiap hari sampai 150 ribu, sekarang ditempat baru agak sepi pendapatan kotor hanya 150 ribu per hari, mungkin karena pelanggan banyak yang belum tahu tempat ini dan  papan plang petunjuk yang dibuat Bapak gak ada penjelasan kalau masuk gang kanan, hanya ditulis pindah 5 kilometer ke kanan”.
Saya tercengang mendengar cerita Bu Puji. Posisi saya yang hanya singgah 2 tahun di Jogja ini tidak banyak kenalan pihak praktisi mikro syariah yang dapat dimintai tolong. Kalau posisi di Lampung lewat BMT Adzkiya, Bu Puji dapat dibantu karena usaha jelas ada dan termasuk orang baik disekitar lingkungan Gowok Polri. Saya kost di daerah itu hampir 1,3 tahun. Ibu Puji sebenarnya terpaksa meminjam dari rentenir karena persyaratan jaminan tidak dimiliki. Atas alasan mudah dan cepat rayuan rentenir di turutin. Pada dasarnya meminjam rentenir sangat berat karena harus mengangsur setiap hari. Bu Puji adalah orang kedua yang saya temui di Jogja terjebak rentenir. Orang sebelumnya adalah tukang sayur, yang persis berada di pertigaan arah gang Gowok Polri, Sleman. Tukang sayur itu malu karena pagi sangat rentenir datang menagih dengan kasar. Jika awal datang menawarkan uang dengan lembut saat penagihan mereka kasar-kasar, nanti kalau udah selesai bos nya datang nawarin uang lagi.
Sepulang membeli langsung menuju kost, Kawan sekelas di Ekonomi Islam UGM saya telpon dan saya ceritakan kejadian tersebut. Saya sebagai manajer BMT Sekolah Pascasarjana UGM pun ternyata tidak dapat berbuat banyak. Setelah mendengar cerita tersebut, apa daya birokrasi di UGM tidak memperbolehkan orang di luar kampus mendapatkan pembiayaan. Pada akhirnya ini hanya menjadi unek-unek dan keresahan saya pribadi yang malu terus berteori di kampus dan tidak sabar praktek lagi di masyarakt seperti dulu di Lampung terjun di mikro syariah. Saya juga tidak ingin menyalahkan siapapun dalam hal ini karena ini perkara sosialisasi yang mandek akibat media, televisi, koran, buletin jumat jauh dari realitas membicarakan orang-orang seperti Bu Puji terjebak rentenir. Batin saya bertanya lagi, inikan Jogja? Trus dikota yang banyak tumbuh BMT (Baitul Mall Watamwil) ini kok tidak ada para praktisi yang menyisir ke bawah? Perlu untuk saya tulis bahwa ini terlepas dari syariah atau tidak bahwa pertolongan pada jebakan rentenir ini perlu ditanggulangi.
Pertama, bahwa rentenir menurut kesaksian Bu Puji menyatakan sejak awal merayu pelanggan dengan menawarkan kemudahan dan persyaratan hanya KTP (kartu tanda penduduk).
Kedua, rentenir mendatangi setiap hari, sehingga membuat orang seperti Bu Puji tidak dapat menabung akibat keuntungan harus terus diberikan kepada rentenir. Sebenarnya Bu Puji akan terolong jika angsuran lebih dari 1 bulan misalnya 10 bulan atau 1 tahun. Contoh : Ibu Puji meminjam 500 dalam 1 bulan harus mengembalikan 600 ribu dengan angsuran 20 ribu setiap hari, hal ini sangat memberatkan. Jika terjebak 4 lembaga rentenir Ibu Puji harus menyediakan 80 ribu per hari. Bahkan kesaksian Ibu Puji sewaktu di tempat lama harus 150 ribu setiap hari.
Ketiga, perlu ada lembaga keuangan mikro yang masuk untuk memberi pinjaman Bu Puji dalam waktu 10 bulan. Misal jika Bu Puji meminjam 1 juta dan untuk membeli bahan membuat makanan lotek dan lembanga keuangan Mikro meminta untung dari usaha pembelian makanan tadi 200 ribu selama 10 bulan. Maka dengan mudah Ibu Puji dapat bernafas sehingga meringankan angsuran. 1,2 juta dibagi 10 bulan jadi 120 ribu kemudian dibagi 30 hari. Jadi perhari Bu Puji hanya mengangsur 4 ribu rupiah. Jauh lebih ringan dari 150 ribu yang jika di kali 30 hari = 4,5 juta.
Keempat, prosedur jaminan yang harus ada seperti sertifikat tanah, BPKB kendaraan dan lainnya akan sangat memberatkan pedagang seperti Bu Puji. Pendekatan kultural perlu dilakukan oleh lembaga karena orang yang usahanya jelas dan karakternya baik, meskipun tidak memiliki jaminan bukan berarti harus dipersulit.
Kelima, seharusnya semua problem yang terjadi atas kesulitan memperoleh dana pinjaman yang fleksibel di lakukan advokasi oleh ormas, partai, aktivis dan lainnya. (Namun perlu diingat untuk pedagang yang jelas usaha dan karakter jujurnya). Salam Adzkiya! (Bersambung)