Header Ads

test

Islam dan Ekonomi Mustadh’afin


Oleh: Rifadli Kadir
Peneliti di Adzkiya Centre dari Gorontalo


            Indonesia sering mengklaim dirinya sebagai Negara muslim terbesar yang mempraktikkan dan menyokong  praktik demokrasi. Sering pula dinyatakan dengan demokrasi kita akan menjaga hak-hak kaum lemah, menciptakan lapangan kerja, menjamin kesejahteraan, kerukunan umat beragama, kebebasan berpendapat, bertindak dan seterusnya. Namun, praktik berdemokrasi di negara ini perlu dinilai dan dikoreksi untuk menciptakan tatanan baru.
            Jaminan kesejahteraan rakyat oleh demokrasi nampaknya belum tampak. Kesejahteraan masih milik sebagian orang. Adanya malah “Orang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin”. Dibanyak daerah janji pemerintah terhadap pembukaan lapangan pekerjaan untuk mencapai kesejahteraan masih minim atau bahkan belum nampak. Kesempatan masyarakat untuk memberdayakan diri dalam wirausaha terhambat oleh akses modal. Selain itu, banyak rakyat kecil yang tercekik oleh gurita ekonomi para kapitalis dengan wajah bank ‘plecit’-nya.

Potret Gurita Ekonomi
            Koran Tempo (7/1/2013) melansir berita yang cukup memiriskan hati. Di Bantul ada seorang ibu rumah tangga separuh baya yang sedang bertaruh dengan hidupnya. Setiap hari hidupnya diliputi ketakutan, penuh teror, ancaman dan makian.  Kehidupannya yang seperti itu membawa ia pada kondisi sakit.
Bermula dari pinjaman rentenir empat tahun lalu sebesar seratus ribu yang digunakan sebagai modal jualan es, karena pada saat itu tidak ada pinjaman lagi. Dari pinjaman itu ia mendapat potongan lima belas ribu rupiah untuk administrasi dan mengangsur tiga belas ribu rupiah perminggu selama sepuluh minggu. Kebutuhan ekonomi pun semakin meningkat, alih-alih membayar hutang, ibu separu baya tersebut malah menambah pinjaman ke rentenir lainnya. hingga kini hutannya pada tujuh puluh rentenir mencapai delapan belas juta rupiah. Menurut dia rentenir itu memiliki trik khusus untuk menjerat nasabah. (Koran Tempo, 7/1/2013). Potret semacam ini banyak terjadi dilingkungan masyarakat kita. Betapa masih kuatnya cengkraman gurita ekonomi para kapitalis.

Islam dan Mustadha’afin
            Islam adalah agama mayoritas penduduk Indonesia. Islam sebagai  agama samawi yang universal mengatur segala aspek kehidupan.Tidak seperti dialektika Marx dan Hegel yang menempatkan kaum kapitalis sebagai musuh utama kaum proletar, atau pandangan kapitalisme yang bertumpu pada preverensi individu dan mendistorsi nilai sosial, Islam datang dengan perdamaian antara kaum kapitalis dengan proletar.
            Pandangan Islam terhadap ekonomi menempatkan para pemilik modal dan rakyat kecil pada satu kondisi yang sama dan saling mengisi. Islam membolehkan seseorang memiliki modal, menganjurkan umatnya agar kaya, tapi tidak melupakan masalah sosial. Karena itu ada zakat, wakaf, infak, dan sedekah sebagai elemen fiskal Islam.
            Mustadh’afin secara bahasa adalah orang-orang lemah (dha’afa), baik ekonomi maupun politik. Logika Islam memandang mustadh’afiin adalah dengan logika pemberdayaan. Para kapitalis harus bersahabat dengan mustadh’afin, memberdayakan mereka untuk mencapai kesejahteraan bersama. Dalam implementasi logika ini menjadi aktualisasi membutuhkan objektifikasi nilai-nilai Islam menjadi artikulasi kehidupan.

Islam dan Tantangan Objektifikasi
            Diawal-awal tulisannya tentang Islam Aktual, Jalaluddin Rakhmat mengingatkan betapa pentingnya Islam ‘membuka’ diri, menerima kebenaran dari manapun. Semangat Islam awalnya adalah semangat keterbukaan menerima kebenaran, karena itu ada anjuran menuntut ilmu sampai ke Cina. Membuka diri bukan berarti melupakan prinsip dasar Islam. Tetap berpegang pada prinsip Islam dan mengelaborasi hal-hal baru dengan nilai-nilai Islam menjadi suatu kebenaran.
            Semangat yang sama pula datang dari Kuntowijoyo. Kuntowijoyo menganjurkan agar ada objektifikasi nilai-nilai Islam. Perlu adanya pengilmuan Islam kembali dan kontekstualisasi Islam agar nilai-nilai yang ada tidak hanya menjadi teks-teks belaka. Objektifikasi menuntun identifikasi bukan pada baju yang dikenakan. Semangat objektifikasi menuai tantangan bila dilapangan tarikan konflik penilaian atas ‘baju’ masih sangat kuat. Kebanggaan terhadap baju menjadikan pandangan kabur dan tidak mampu menilai dengan objektif. Kebiasaan sebagian umat mengidentifikasi orang dari ‘bajunya’ menyebabkan mereka sulit menempatkan seorang yang menjadi penghubung berbagai golongan. Akhirnya, perumusan solusi atas masalah umat tidak bisa dirumuskan bersama secera efektif karena harus menyelesaikan masalah ‘baju’ terlebih dahulu.

Khatimah
Islam adalah agama universal yang mengatur semua aspek kehidupan. Ekonomi, politik, dan hukum, diatur secara umum dalam Islam. Pada aspek Ekonomi misalnya, Islam memposiskan ekonomi orang-orang lemah (Mustadh’afin) bukan sebagai sasaran eksploitasi para kapitalis. Islam memandang pemilikan modal dan kekayaan bukan hanya untuk preverensi individu, tapi ada kewajiban sosial didalamnya. Para kapitalis haruslah bersahabat dengan Mustadh’afin. Memberdayakan, menunjukkan, dan mengelola  Mustadh’afin untuk mencapai cita-cita ekonomi, yaitu kesejahteraan bersama. Allahu A’lam. []