Header Ads

test

EKONOMI 2013 DAN DEMOKRASI MACET

Oleh : DHARMA SETYAWAN
Direktur Eksekutif Adzkiya Centre

Dharma Setyawan
Di tahun 2013 ini seperti tidak ada yang baru, kita tetap dengan perubahan yang tidak berarti. Kita cenderung tidak konsisten, paradigma berfikir kita lacur pada pragmatisme sesaat. Pacuan kita bernegara, sering latah dan keblabasan pada euforia modernisme. Asia memang sedang tumbuh, bahkan tumbuh sangat baik kala Eropa telah rapuh dan tua. Eropa yang sejak 2008 mengalami resesi akibat ekonomi buble sedang pusing dengan bombardir Cina atas barang-barangnya yang membanjiri pusara global. Amerika pun kini menyedihkan, pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai 2% dibarengi dengan meluasnya masalah sosial seperti kenakalan remaja, Hiv Aids yang terus meningkat hingga tragedi koboi muda melakukan penembakan anak-anak sekolah dasar di siang bolong.
Indonesia seharusnya meniru kebangkitan Asia bukan malah menjadi pasar Asia sebagaimana Eropa yang sekarang sedang mandul pertumbuhan ekonomi. Kebangkitan ekonomi Cina, Jepang, Korea Selatan, Malaysia dan negara di kawasan Asia lainnya menjadikan Indonesia harus tumbuh sejajar dan secepat saudara-saudaranya ini. Namun kita terlalu primitif, pemikiran kita sekali lagi berada pada jalur instan berujung pada kegagalan pertumbuhan ekonomi yang hijau. Sejak sekian lama Pemerintah Indonesia terlalu memberi asupan gizi penuh pada Jawa sehingga atas desakan reformasi desentralisasi menjadi garapan baru dengan alasan pemerataan. Alih-alih melakukan pemerataan, yang terjadi adalah konflik akibat salah kebijakan bentuk pembangunan yang tidak menyentuh sektor rill masyarakat bawah.
Kementrian perindustrian misalnya merencanakan akan membuka kawasan seluas 3000 hektar di Karawang Jawa Barat untuk disiapkan sebagai sentra produksi kendaraan bermotor oleh Investor Cina. Selain itu, Perusahaan Jepang Toyota Housing juga akan membangun kawasan industri di Karawang. (Tempo, 18/12/12). Kita juga tercengang dengan pertumbuhan mobil dan motor di Jakarta dengan jumlah 1.130 unit per hari. Dirlantas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Royke Lumowa, mengatakan rincian pertambahan kendaraan tersebut yakni untuk sepeda motor di Jakarta mencapai 890 unit perhari dan mobil sebanyak 240 unit perhari. Total jumlah kendaraan di Jakarta hingga saat ini ada sebanyak 11.362.396 unit. Terdiri dari 98 persen kendaraan pribadi atau 10.502.704 kendaraan dan dua persen transportasi umum atau 859.692 unit angkutan umum. Dari total kendaraan pribadi, ada sebanyak 8.244.346 unit roda dua dan roda empat sebanyak 3.118.050 unit. Baru-baru ini Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menargetkan angka penjualan mobil pada 2013 naik 10 % yaitu mencapai 1,1 juta unit.
Ekonomi dan Macet
Tumbuhnya ekonomi seringkali dihadapi dengan gegabah oleh negara ini. Apalagi jika angka-angka itu semakin menegaskan bahwa kita memang sedang tumbuh. Tapi kita sering lupa menengok ke bawah, terkait pertumbuhan masyarakat kita. Angka-angka statistik yang menyesatkan itu, acuh pada nasib masyarakat bawah yang terbukti hanya menikmati onggokan sampah dari pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan. Kita harus bangun dari mimpi panjang, bahwa pertumbuhan ekonomi kita adalah untuk menyenangkan para investor asing dan kita tumbuh dan bertahan atas hasil sampah modernisme. Negara kita adalah negara kemacetan yang berada pada tingkat yang parah.
Jakarta yang menjadi pusat buntu menumpuknya uang mengalami penyumbatan aliran ekonomi yang kian parah. Para pakar pun tidak menyadari bahwa memperbanyak jalan juga akan menambah hadirnya kendaraan pribadi. Kita perlu jujur bahwa kawasan Asia seperti Cina, Jepang dan Korea telah lama meninggalkan keangkuhan wilayah kota yang dijejali dengan kendaraan pribadi. Mereka mulai menyadari bahwa khusus kota mereka harus membangun system angkutan umum masal yang terintegrasi. Namun pihak Kementrian dan para birokrasi cenderung mencari untung sesaat dengan gencarnya membangun industri kendaraan bermotor. Sikap tidak konsisten antara keuntungan ekonomi industri dengan dampak kemacetan kota terus diabaikan. 
Demokrasi Macet
Korea Selatan adalah contoh negara yang telah sukses membangun transportasi kota yang terintegrasi. Di bawah kepemimpinan Lee Myung-bak pembangunan ekonomi telah mengharmoniskan pembangunan dengan lingkungan. Negeri ginseng itu telah mampu mencapai volume perdagangan di atas US$ 1 triliun yang menempatkan Korea Selatan di posisi ketujuh Klub 20-50. Klub ini beranggotakan negara-negara dengan pendapatan perkapita pertahun lebih dari US$ 20 ribu (Rp 192,6 juta). Kehebatan Lee teruji sejak menjadi wali kota Seoul yaitu 2002-2006 dimana Lee mampu merestorasi Sungai Cheonggyecheon yang hitam pekat akibat limbah industri dan rumah tangga. Sungai itu mengalir di tengah kota yang populasinya padat dan dengan transportasi yang buruk. Lee telah sukses membersihkan kota dan membangun transportasi masal yang cepat dan terintegrasi.
Setelah sukses memperbaiki Kota, Lee terpilih  menjadi Presiden Korea Selatan. Korea Selatan terus tumbuh dengan kualitas lingkungan semakin baik. Kemacetan berkurang karena system angkutan masal yang cepat dan terintegrasi benar-benar dofokuskan untuk merapikan kota dan lingkungan yang semakin hijau. Tidak hanya itu Lee juga tegas terhadap pejabat yang melakukan korupsi. Sejauh ini sudah ada anggota keluarga dan kepercayaannya harus di bui akibat melakukan tindakan korupsi. Dengan menyesal Lee meminta maaf tapi tetap pada pokok memberikan keadilan hukum walaupun orang tersebut adalah keluarga dan orang terdekat. Kini Korea Selatan telah menjadi contoh atas budayanya yang mendunia K-Pop, Gamnam Style dan film-film yang masif menyebar. Dan kita malah bangga menjadi konsumen bagi produk mereka.
Negara ini masih berkutat pada kekerdilan dan egosentris kelompok. Para pemimpin partai politik saling sandra, saling curiga dan membuat demokrasi semakin macet. Demokrasi yang harusnya berpijak pada program telah hambar oleh kepentingan-kepentingan sempit. Demokrasi macet bukan hanya pada konflik politisi tapi telah macet menyumbat ide bangsa ini untuk sadar dan bangkit mengejar kebangkitan Asia di depan mata. Kita butuh pemimpin yang berani. Kita harus mengatur transportasi masal yang baik. Kita harus menyelamatkan lingkungan agar tetap hijau. Kita harus memanfaatkan sumber daya alam untuk generasi masa depan. Kita harus tumbuhkan ekonomi dengan demokrasi yang fair. Jangan sampai kita berhenti akibat otak demokrasi kita yang macet! Selamat datang Ekonomi 2013 semoga Demokrasi tidak macet!