Header Ads

test

Community Development dan Pembangunan Ekonomi

Oleh: Rifadli Kadir
Peneliti di Adzkiya Centre asal Gorontalo

Rifadli Kadir
Kemiskinan seperti pohon bonsai. Ia tumbuh kerdil karena akarnya hidup dalam wadah terbatas. Akarnya tak cukup kuat untuk mencari makan ke mana-mana karena ia dibatasi. Anda bisa saja tumbuh menjadi besar seperti raksasa, tetapi anda tak pernah menemukan caranya.
(Muhammad Yunus)

            Hari ini tidak bisa lagi ada ketergantungan berlebihan kepada pemerintah, saatnya membangun komunitas sendiri,  memandirikan diri sendiri, untuk menuntaskan kemiskinan dan pembangunan ekonomi disekitar kita. Begitulah kata-kata yang keluar dari seorang guru besar ilmu ekonomi dari Universitas Chittagong ketika ia melakukan kunjungan ke lapangan. Usai lulus sebagai mahasiswa dari universitas terkemuka di Amerika Serikat pada tahun 1974, tentunya ia mulai berfikir bagaimana menggerakkan ekonomi yang berbasis subsidi dan intensif.

            Tapi apa yang dia lihat di Jobra pada saat itu, kemiskinan melanda sebagian besar masyarakat. hidup di bawah garis kemiskinan seakan menjadi hal biasa. Jangankan untuk membiaya hidup satu keluarga, membiayai diri sendiri saja sudah sedemikian sulitnya. Muhammad Yunus begitu miris ketika melihat seorang ibu berusia dua puluh satu tahun yang hidup dengan ruang lingkup terbatas karena kemiskinan. Sehari-hari ibu itu membuat sebuah kursi bambu dengan keuntungan seharinya hanya dua cent.
            Keadaan pelik semacam ini membuat Yunus berpikir kembali, apa yang harus dilakukan. Ternyata teori ekonomi yang ia dapatkan semasa kuliah dulu tak relevan dengan kondisi masyarakat pada saat itu. Ia memandang bahwa intensif buat orang-orang miskin bukan solusi menuntaskan kemiskinan. Intensif hanya akan membuat malas orang-orang miskin. Atas kedaran inilah akhirnya Muhammad Yunus mendirikan Grameen Bank sebagai lembaga micro finance pada saat itu, untuk memberdayakan orang-orang miskin di Bangladesh. Sampai saat ini Grameen Bank telah banyak membantu orang-orang miskin keluar dari lingkaran setan kemiskinan.
Belajar dari Grameen Bank
            Berbeda dengan bank-bank semasa itu, Grameen Bank mengambil jalan berbeda dengan memberikan pinjaman kepada orang-orang miskin tanpa collateral. Satu hal yang mungkin terlintas dibenak pikiran kita saat mendengar Grameen Bank memberikan pinjaman tanpa collateral adalah bagaimana mempercayai dan menjaga kejujuran masyarakat pada saat itu agar tetap konsisten membayar cicilan pinjamannya.
            Muhammad Yunus sebagai pendiri paham betul bahwa satu hal yang harus dibangun terlebih dahulu adalah modal sosial (social capital) masyarakat. Modal sosial adalah hal utama yang dibutuhkan untuk membangun kepercayaan (trust). Sebagaimana tesis Francis Fukuyama (1995) bahwa masyarakat yang kehilangan modal sosial dia akan cenderung kehilangan kepercayaan. Hilangnya kepercayaan akan mendorong seseorang kepada kecenderungan melawan hukum, etika, dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat.
            Pembangunan modal sosial terlebih dahulu ternyata berpengaruh pada perilaku masyarakat. Kehawatiran adanya kemacetan dalam pembayaran pinjaman terkikis sudah. Kesaling percayaan sesama masyarakat membawa mereka pada sikap toleransi ketika ada seorang yang tidak mampu membayar cicilan pinjaman tepat waktu. Alih-alih menghujat, mereka malah membantu bersama-sama bagi yang tidak mampu membayar cicilan pinjaman.
            Usaha berbasis kooperatif komunitas yang mengambil segmen wanita dan ibu-ibu ini pada laporan tahun 2004 telah menyalurkan pinjaman mikro sebesar US$ 4,5 miliar, dengan recovery rate sebesar 99%. Lebih dari tiga juta orang telah menjadi nasabah. Stephen Covey dalam bukunya yang berjudul “The 8th Habit”, mencatat Grameen Bank telah beroperasi di lebih dari 46.000 desa di Bangladesh dan memperkerjakan 12.000 karyawan  (Rhenald Kasali, 2007:97). Ada satu hal yang dapat diambil pelajaran dari Grameen Bank bahwa penuntasan kemiskinan disuatu daerah atapun negara harus diawali dengan pengembangan komunitas (Commmunity Development). Menjadi komunitas kreatif yang berpikir di luar konteks masa yang dihadapi.
Community Development
            Istilah community development mungkin bukan hal baru lagi di tengah masyarakat. Konsep ini muncul sebagai tawaran alternatif atas teori top-down yang diterapkan pemerintah Indonesia untuk penuntasan kemiskinan dengan menggunakan instrumen yang lebih dominan yaitu intensif dan bantuan langsung tunai.
            Jamak diketahui bahwa Indonesia adalah negara dengan potensi penduduk terbesar di dunia. Indonesia memiliki potensi penduduk sebesar 237,641,326 jiwa (data BPS 2010) yang tersebar diseluruh provinsi. Tapi sayang potensi ini tidak dikelola dengan baik, akhirnya mengakibatkan semacam malapetaka dan beban kemiskinan bagi negara. Menurut data BPS sampai 2010 sebaran penduduk miskin di kota sebesar 10.647.20 ribu jiwa dan sebesar 18.485.20 ribu jiwa di desa, itu artinya masih sekitar 29.132.4 ribu orang miskin dan belum ditambah dengan yang hidup di bawah garis kemiskinan yang harus di tuntaskan oleh negara.
            Strategi penuntasan kemiskinan seharusnya tidak hanya berdasarkan atas program dominan dengan intensif melalui kredit usaha rakyat dan bantuan langsung tunai tanpa pengembangan komunitas masyarakat itu lebih lanjut. Dengan demkian pemeritah sebagai lembaga penyuplai modal juga sekaligus pemantau pengembangan masyarakat.
            Pengembangan komunitas diarahkan pada pembangunan ekonomi berdasar kearifan lokal. Misalnya di daerah yang masyarakatnya berada di pinggiran pantai, pemerintah harus mencarikan usaha alternatif selain mata pencaharian utama sebagai seorang nelayan. Dengan berbasis kearifan lokal dan komunitas, masyarakat di pinggiran pantai  bisa memanfaatkan sumber daya alam yang ada di laut sebagai bahan olahan menjadi sesuatu yang berbeda. Hal yang sama juga bisa dilakukan oleh masyarakat pertanian.
Pembangunan Ekonomi
            Jika mencermati bagaimana masyarakat Cina membangun Ekonominya, akan ditemukan fakta menarik bahwa awal mula berdirinya perusahaan-perusahaa berawal dari usaha kecil-kecilan oleh komunitas kecil yang bernama keluarga. Dengan semangat konfusian berbasis komunitas (keluarga) masyarakat Cina membangun kekuatan ekonominya. Dengan kekuatan ekonominya saat ini Cinta tidak hanya mendominasi dalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam bidang olahraga.
             Pembangunan ekonomi masyarakat melalui pengembangan komunitas bisa menjadi alternatif penyelesaian kemiskinan di Indonesia, sebagaimana negara-negara lain pun telah mencobanya. Peranan semua elemen masyarakat (UKM, LSM dan lembaga pemberdayaan lainnya) tentunya ikut menentukan pembangunan ekonomi yang lebih baik dimasa mendatang. Allahu ‘alam. []