Header Ads

test

Ilmu Ekonomi: Suatu Pengantar dan Ramalan

Oleh: Rifadli Kadir
Peneliti Adzkiya Centre, Gorontalo

Ilmu Ekonomi sebenarnya tidak lepas dari Ideologi dominan yang mempengaruhinya. Ilmu Ekonomi dunia  –menurut penulis- sejak lampau banyak dipengaruhi oleh tiga kutub besar dalam Ilmu Ekonomi. Jamak diketahui tiga kutub besar tersebut ialah Ideologi Kapitalisme, Sosialisme, dan Islam. Pemikiran-pemikiran ekonomi diberbagai Negara tidak lepas dari ketiga kutub ini, walaupun diberbagai Negara mengalami evolusi. Bagian dari evolusi pemikiran ekonomi ini kita mengenal apa yang dinamakan “neo” atau dalam definisi lain biasa disebut “post”. Alangkahnya baiknya dibahas terlebih dahulu apa sebenarnya maksud atau inti utama dari ketiga kutub Ekonomi itu.

Ekonomi Kapitalisme
Kapitalisme atau Kapital adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama, tapi intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran untung kepentingan-kepentingan pribadi. Walaupun demikian, kapitalisme sebenarnya tidak memiliki definisi universal yang bisa diterima secara luas. Beberapa ahli mendefinisikan kapitalisme sebagai sebuah sistem yang mulai berlaku di Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-19, yaitu pada masa perkembangan perbankan komersial Eropa di mana sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi, terutama barang modal, seperti tanah dan manusia guna proses perubahan dari barang modal ke barang jadi. Untuk mendapatkan modal-modal tersebut, para kapitalis harus mendapatkan bahan baku dan mesin dahulu, baru buruh sebagai operator mesin dan juga untuk mendapatkan nilai lebih dari bahan baku tersebut.[2] Ekonomi Kapitalisme banyak dipengaruhi oleh ide-ide awal Ekonomi atau ide ekonomi pada masa praklasik.
 Pemikiran-pemikiran pada masa praklasik dikelompokan menjadi empat bagian, yaitu pemikiran-pemikiran ekonomi pada masa Yunani Kuno (Plato dan Aristoteles), pemikiran-pemikiran ekonomi skolastik (Albert Magnus dan St. Thomas Aquinas, pemikiran-pemikiran ekonomi pada masa merkantilisme (Jean Baudin, Thomas Mun, Jean Baptise Colbert, Sir William Petty, dan david Hume), dan pemikiran-pemikiran ekonomi sesuai madzhab fisiokrat (Francis Quesnay).[3]
Setelah era praklasik, pemikiran-pemikiran ekonomi kapitalisme dilanjutkan ke era klasik. Karl Marx sebagai musuh ‘bubuyutannya’ Adam Smith menyebutkan bahwa pemikiran ekonominya Adam Smith disebut sebagai Madzhab Klasik. Adam Smith adalah  tokoh utama pada madzhab ekonomi klasik.[4] Mengenal siapa sebenarnya Adam Smith menjadi penting, karena dengan karya keduanya The Wealth of Nations mampu menggentarkan ekonomi pada saat itu.
Adam Smith adalah seorang pemikir besar dan ilmuwan kelahiran Kirkaldy Skotlandia tahun 1723, guru besar dalam ilmu falsafah di Universitas Edinburgh, perhatiannya bidang logika dan etika, yang kemudian semakin diarahkan kepada masalah-masalah ekonomi. Ia sering bertukar pikiran dengan Quesnay dan Turgot dan Voltaire. Adam Smith adalah pakar utama dan pelopor dalam mazhab Klasik. Karya besar yang disebut di atas lazim dianggap sebagai buku standar yang pertama di bidang pemikiran ekonomi gagasannya adalah sistem ekonomi yang mengoperasionalkan dasar-dasar ekonomi persaingan bebas yang diatur oleh “invisible hand”, pemerintah bertugas melindungi rakyat, menegakkan keadilan dan menyiapkan sarana dan prasarana kelembagaan umum. Teori nilai yang digunakan Adam Smith adalah teori biaya produksi, walaupun semula menggunakan teori nilai tenaga kerja. Barang mempunyai nilai guna dan nilai tukar. Ongkos produksi menentukan harga relatif barang, sehingga tercipta dua macam harga, yakni harga alamiah dan harga pasar dalam jangka panjang harga pasar akan cenderung menyamai harga alamiah, dan dengan teori tersebut timbul konsep paradoks tentang nilai. Sumber kekayaan bangsa adalah lahan, tenaga kerja, keterampilan dan modal. Dengan demikian, timbul persoalan pembagian pendapatan yakni upah untuk pekerja, laba bagi pemilik modal dan sewa untuk tuan tanah. Tingkat sewa tanah akan meningkat, sedangkan tingkat upah menurun, dengan asumsi berlaku dana upah, dan lahan lama-kelamaan menjadi kurang subur, sedangkan persaingan tingkat laba menurun yang akhirnya mencapai kegiatan ekonomi yang stationer. Smith berpendapat bahwa pembagian kerja sangat berguna dalam usaha meningkatkan produktivitas. Pembagian kerja akan mengembangkan spesialisasi. Pertambahan penduduk berarti meningkatkan tenaga kerja, dalam hal ini meningkatkan permintaan dan perluasan pasar.[5]
Selanjutnya pemikiran ekonomi klasik Adam Smith dilanjutkan oleh penerusnya seperti (1) Thomas Malthus (1766-1834). Inti utama dari pemkiran ekonomi Thomas Malthus yaitu tentang Tanah. Menurutnya tanah merupakan faktor produksi yang utama jumlahnya tetap. (2) David Ricardo (1772-1823), ia sepakat dengan Adam Smith, bahwa labor memegang peranan penting dalam perekonomian. Teori yang dikembangkan oleh Ricardo menyangkut empat kelompok permasalahan yaitu: teori tentang distribusi pendapatan sebagai pembagian hasil dari seluruh produksi dan disajikan sebagai teori upah, teori sewa tanah, teori bunga dan laba, teori tentang nilai dan harga, teori perdagangan internasional dan, teori tentang akumulasi dan perkembangan ekonomi. (3) Jean Baptiste Say (1767-1823), kontribusi Say yang paling besar terhadap aliran klasik ialah pandangannya yang mengatakan bahwa setiap penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri (supply creates its own demand). (4) John Stuart Mill (1806-1873), karya Mill seperti bukunya yang terakhir Principles of political economy dapat dikatakan versi modern dari The Wealth of Nations Adam Smith. J.S. Mill dalam buku-buku ajar tentang pemikiran ekonomi selalu dimasukan kedalam aliran klasik walaupun diakhir diakhir hayatnya ia menyebut dirinya sendiri sosialis.[6]
Ternyata madzhab Klasik tidak bebas dari kritik. Para pemikir sosialis pada saat itu menkgritik madzhab klasik dan membuat para ekonom mendalami lagi konsepnya, sehingga muncullah apa yang disebut dengan pemikiran atau madzhab ekonomi ‘Neo-klasik’. Beberapa yang terkenal dari pemikiran neo-klasik yaitu terkait dengan pendekatan marginal, madzhab Austria, Madzhab Lausanne, Madzhab Cambridge, persaingan monopilistis dan pasar tidak sempurna, games theory dan informasi asymetris.
Diera modern sekarang, ekonomi kapitalis banyak dipraktekkan dinegara-negara maju maupun berkembang. Di Indonesia misalnya pada pemeritahan orde baru begitu menjunjung tinggi ekonomi kapitalisme. Hasil kapitalisme orde baru salah satunya krisis Sembilan delapan. Selain itu perkembangan Liberalisme kapital berevolusi menghasilkan “neo liberalisme”.

Ekonomi Sosialisme
            Sosialisme muncul akibat dialektika panjang antara pemikiran kapitalisme/liberalism yang ternyata tidak mampu menghadirkan kesejahteraan ketengah masyarakat. Sosialisme menghendaki peraturan segala bentuk kekayaan oleh pemerintah, dalam artian menghilangkan kepemilikan swasta. Berbicara sosialisme dapat dibagi menajdi tiga kelompok besar, yaitu kelompok pemikir sebelum Marx, pandangan Marx dan Engels, dan pemikir sosialis sesudah Marx.[7]
            Sosialisme sebelum Marx lebih kepada bayangan-bayangan utopis pemikir-pemikir mengenai masa depan rakyatnya. Menerut sebagian pemikir sosialisme, sosialisme utopis ini tidak realistis bila diterapkan ditengah masyarakat. Maka Robert Owen dan kawan-kawannya kemudian menawarkan konsep baru yaitu sosialisme komunitas bersama.
            Sosialisme kaum utopia pun banyak ditinggalkan masyarakat karena suatu abstraksi luar biasa tipis dan sangat tidak memuaskan, kaum utopia sesungguhnya menghimbau, tidak pada sifat manusia pada umunya melainkan pada sifat yang diidealisasi dari orang-orang zaman mereka sendiri, yang termasuk pada kelas yang kecenderungan-kecenderungan sosialnya mereka wakili.[8]
            Diantara sekian banyak tokoh atau pakar sosialis, pandangan Karl Heindrich Marx (1818-1883) dianggap paling berpengaruh. Dari segi teoritis banyak pakar dan pemikir ekonomi yang mengakui bahwa argumentasi Marx sangat dalam dan luas. Teori-teorinya tidak hanya didasarkan atas pandangan ekonomi saja, tetapi juga melibatkan moral, etika, sosial, politik, sejarah, falsafah dan sebagainya.[9] Salah satu karya diantara banyaknya karya Marx dan Engels yang paling berpengaruh adalah Manifesto Komunis terbit tahun 1848 dan Das Kapital. Untuk mengetahui lebih lanjut sosialisme Marx bisa merujuk dua buku tersebut.
            Pengaruh dari dua karya Marx dan Engels terhadap perubahan kondisi sosial pada saat itupun ternyata tanpa kritik. Salah satu kritik dari karya pemikiran mereka berdua adalah pemikiran yang mereka tawarkan terlalu sulit untuk dipahami. Karena itu, pada kuarter abad ke-20 pemikiran-pemikiran Marx dan Engels dimodifikasi oleh Lenin. Selanjutnya peruabahan ataupun pembaharuan terhadap konsepnya Marx terus berlangsung. Menurut para pembaharu Marx, pemikiran-pemikiran Marx dianggap sangat menarik, tetapi banyak yang keliru. Menurut  pembaharu Marx pula bahwa teori yang dibangun oleh Marx kurang solid, dan tidak banyak terbukti didunia realitas. Oleh karena itu perlu adanya revisi pemikiran-pemikiran sosialis, mungkin masih berjalan sampai sekarang.

Ekonomi Islam
            Secara umum jamak diketahui bahwa ekonomi Islam adalah ekonomi yang bersumber atas nilai-nilai Islam. Terminologi secara umum dapat disimpulkan bahwa Ilmu ekonomi Islam adalah Ilmu yang mempelajari bagaimana manusia itu memenuhi kebutuhan hidupnya, sesuai dengan lingkungan dan masanya, dengan sarana-sarana atau sumberdaya yang bersifat alternatif guna mencapai keberuntungan dunia dan akhirat yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits.[10]
            Dari landasan ontologis, epistemologis, maupun aksiologis ekonomi Islam berbeda dari dua ekonomi diatas (Kapitalisme dan sosialisme). Sejarah ekonomi islam pun bukan sejarah yang singkat. Bisa ditelisik lebih jauh lagi bahwa pemikiran ekonomi Islam dimulai dari para pemikir besar Islam seperti Abu Yusuf (meninggal th. 182 H), Yahya bin Adam (meninggal th. 303 H), al-Gazali (meninggal tahun 505 H), Ibnu Rusyd (meninggal th. 595 H), al-'Izz bin 'Abd al-Salam (meninggal th. 660 H), al-Farabi (meninggal th. 339 H), Ibnu Taimiyyah (meninggal th. 728 H), al-Maqrizi (meninggal th. 845 H), Ibnu Khaldun (meninggal th. 808 H), dan banyak lainnya lagi.[11]
            Inti utama dari pemikiran ekonomi Islam adalah perlawanan atas konsep preverensi individu dalam konsep kapitalisme, dan kebersamaan dan kesetaraan berlebihan dari konsep sosialisme. Bukan berarti Ekonomi Islam tidak mengakui kapital dalam usaha, akan tetapi disini ditekankan adanya kepedulian sosial dalam pemanfaatan kapital tersebut. Pandangan Ekonomi Islam tidak ekstrem kiri dan juga tidak ekstrim kanan, atau berada ditengah.
            Ekonomi Islam menganngap bahwa hakikat kepemilikan didunia ini adalah miliki Allah, karena itu harus dimanfaatkan untuk kepentingan beribadah kepada Allah. Konsep ini pun berimplikasi pada aksiologis ekonomi Islam yang senantiasa mengambil nilai-nilai dari al-Qur’an dan hadits sebagai landasaran dasar. Oleh karena itu kenapa kemudian Riba, Gharar, Maysir dan bentuk kedzaliman lainnya dilarang dalam ekonomi Islam.

*****
Meramal Masa depan Ekonomi
            Tak dapat dipungkiri bahwa vis a vis Ideologi dimasa depan masih akan terus berlanjut, dan masih akan menjadi bahan diskursus yang menarik. Pertemuan antara ideologi sebagaimana terminologi Samuel Hutington akan terjadi benturan (chaos) antar peradaban. Ketidak mampuan ideologi ini untuk menjawab kebutuhan subtansial mendasar masyarakat membuat ideologi ini lambat lawun akan ditinggalkan.[12]
            Kapitalisme misalnya ketidakmampuan ia menjawab kebutuhan riil masyarakat dan lebih menitik beratkan pada sector keuangan, membuat ide ini menjadi begitu mudah diterpa krisis. Seperti halnya konsep ”Bubble Economic” kapitalisme. Selain itu sosialisme pun begitu sulit untuk diterapkan saat sekarang ini. Karena tidak semua Negara mau merima konsep tersebut. Selain itu, contoh Negara yang menerapkan sosialisme pun ternyata pecah dan hancur.
            Akankah kemudian kita mengambil konsepnya Anthony Giddens tentang “The Third Way”,[13] yang secara implisit menegaskan ada jalan ekonomi ketiga diluar ekonomi kapitalis dan sosialis yang kedepannya menjadi alternatif, mungkin itulah Ekonomi Islam. Allahu a’alam
              





Daftar Bacaan

Anthony Giddens, The Third Way, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka, 1999
Deliarnov, Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005
G.V. Plekhanov, Anarkisme dan Sosialisme, Bandung: CV Ultimus, 2006
Samuel Hutington, Clash of Civilization, Yogyakarta: Qalam, 2010
http://id.wikipedia.org/wiki/Ideologi
http://id.wikipedia.org/wiki/Kapitalisme
http://massofa.wordpress.com/2008/02/04/sejarah-pemikiran-ekonomi-praklasik-klasik-sosialis-dan-neoklasik/
ikma10fkmua.files.wordpress.com/2010/10/ekonomi-islam-k http://www.alaminbangi.edu.my/index.php?option=com_content&view=article&id=83:konsep-ekonomi-islam&catid=42:latest-photo





[1] Disimpulkan dari http://id.wikipedia.org/wiki/Ideologi diakses pada hari Rabu, 26/12/12 Pukul 05.16 WIB

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Kapitalisme diakses pada hari Rabu, 26/12/12 pukul 05.31 WIB

[3] Deliarnov, Perkembangan Pemikiran Ekonomi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 11

[4] Ibid... hlm. 27

[5] http://massofa.wordpress.com/2008/02/04/sejarah-pemikiran-ekonomi-praklasik-klasik-sosialis-dan-neoklasik/ diakses pada hari Rabu, 26/12/12 Pukul 06.00 WIB

[6] Disadur dan disimpulkan dari Deliarnov, Perkembangan Pemikiran Ekonomi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 47-55

[7] Ibid…hlm. 60


[8] G.V. Plekhanov, Anarkisme dan Sosialisme, (Bandung: CV Ultimus, 2006), hlm.12

[9] Op Cit... hlm. 71

[10] ikma10fkmua.files.wordpress.com/2010/10/ekonomi-islam-k diakses pada hari rabu, 26/12/12/ pukul 14.38 WIB

[11] http://www.alaminbangi.edu.my/index.php?option=com_content&view=article&id=83:konsep-ekonomi-islam&catid=42:latest-photo diakses pada hari rabu, 26/12/12/ pukul 14.38 WIB


[12] Samuel Hutington, Clash of Civilization, (Yogyakarta: Qalam, 2010).

[13] Anthony Giddens, The Third Way, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka, 1999)