Header Ads

test

Sumpah, Pemuda & Koperasi



Oleh: M. Suhaimi, MT. (Ketua Umum Kopindo)
Ketika Redaktur KOPINDO Voice mengirim pesan via BBM untuk menulis dengan tema tersebut, nampaklah kiranya spirit pemuda seumuran redaktur (sdr. Chaerudin Affan) terhadap pengembangan Koperasi sebagai spirit kebersamaan sebagaimana spirit perjuangan pemuda mempersatukan Nusantara yang diperingati sebagai hari sumpah pemuda 28 oktober 1928. Sumpah pemuda yang pada awalnya adalah kongres pemuda yang mencita-citakan persatuan Indonesia sebagai kunci untuk melepaskan Indonesia dari genggaman penjajah, menjadi spirit perjuangan Pemuda Pegiat Koperasi dalam mempersatukan gerakan Koperasi Indonesia untuk bersama-sama keluar dari belenggu keterbelakangan pikir dan kemiskinan struktural akibat dari lemahnya Negara dalam tanggung jawab untuk mensejahterakan Warga-nya.
Koperasi yang semestinya tumbuh dari prakarsa anggota sebagai buah dari kesadaran kolektif, dimana hal tersebut bertujuan untuk membangun kesejahteraan secara bersama-sama agar memperoleh bargaining potition terhadap entitas bisnis. Belakangan menyiratkan adanya aksi aksi jalan pintas (by pass), dimana koperasi lebih mengandalkan modal luar untuk membangun bisnisnya, dan hal tersebut keluar dari cita cita semula. Selain menggunaikan modal dalam negri, koperasi seringkali alpa dalam pemberdayaan anggotanya, belum lagi praktek lain dari oknum “penggelapan” Koperasi adalah praktek Koperasi Dinasti, dimana seluruh pengurusnya adalah satu keluarga, dengan berkedok Koperasi mereka mengakses fasilitas-fasilitas yg diberikan oleh Pemerintah dan berpraktek layaknya rentenir. Masih banyak anekdot koperasi-koperasi model tersebut yang kian memberikan citra buruk terhadap koperasi.

Lantas seperti apa idealnya sebuah Koperasi? Seperti apa pula pengawasan dan tindakan Pemerintah atas praktek praktek tersebut? Dan bagaimana Pemuda menyikapinya? Inilah spirit perjuangan Pemuda Koperasi, yakin dan berani masuk pada organisasi koperasi-koperasi yang sudah mapan secara financial lalu menularkan virus perubahan paradigma dal organisasi tersebut.
Perubahan paradigma tersebut dimulai dari fokus koperasi yang bersifat pemberdayaan anggotanya dan masyarakat luas, sekalgus memprakarsai tumbuhnya potensi-potensi usaha baru dengan sumber daya lokal. Membentuk kelembagaan koperasi yang aktif dan produktif serta berjalan pada rel Jatidiri Koperasi yang benar, selanjutnya mempersatukannya dalam wadah gerakan yang dapat digunakan untuk menekan kebijakan pemerintah, baik dalam usulan kebijakan maupun menolak lahirnya kebijakan-kebijakan yang dapat menghambat tumbuh dan berkembangnya usaha ekonomi rakyat.
Koperasi Pemuda Indonesia, disingkat KOPINDO, yang meskipun pada kelahirannya dalam medio 1981-1982 dibentuk atas keinginan pemerintah dengan berbagai kemudahan akses dan fasilitas, dan pada medio tahun 1999-2000 terkena dampak keterpurukan (secara finansial pailit) seiring jatuhnya rejim Soeharto. Kekinian, pada tahun 2012 merupakan Tahun ke-12 KOPINDO tetap hidup dan bergerak, dengan bekal keuletan dan kemauan anak-anak muda untuk tetap eksis dalam membangun Koperasi di Indonesia melalui gagasan-gagasan yang disebarkan dalam berbagai kesempatan. Di sisi lain Pemerintah melalui kementerian yang ada seperti tidak peduli, demikian juga adanya lembaga gerakan seperti Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN).

Saya mengajukan tesis bahwa keberhasilan Pemerintah membangun Koperasi Indonesia adalah keberhasilan membangun KOPINDO, Kenapa? Karena KOPINDO-lah yang mampu memberikan “pendidikan koperasi” pada kalangan muda yang lebih memiliki efek domino pada penyadaran membangun Perekonomian Indonesia yang Lebih Berkeadilan. Dimana kader-kadernya akan terjun sebagai pemimpin di berbagai organisasi bisnis dan eksekutif, bahkan legislatif. Dengan bekal pemahaman tentang pentingnya ber-koperasi, kader-kader akan lebih berpihak pada pembangunan Indonesia yang Berkeadilan.

KOPINDO tetaplah Koperasi Pemuda, yang selalu bersemangat meskipun tanpa perhatian dan dukungan, tak pernah ragu dan takut melangkah dan selalu melahirkan kader-kader terbaiknya. Meskipun sangat disayangkan bahwa kuantitasnya belum mencukupi untuk mampu menggerakkan koperasi di seluruh Indonesia.
Tetapi tak ada kata putus asa atau menyerah bagi pemuda. Kondisi lingkungan mungkin tidaklah kondusif, yang mengharuskan para pemuda perlu melakukan upaya yang lebih berani untuk mendorong perubahan ke arah yang lebih baik. Dan mungkin harus terus-menerus kita patrikan dalam benak tiap-tiap pemuda Indonesia, khususnya para Pegiat Koperasi, bahwa masa depan Indonesia itu adalah harapan yang kita ciptakan untuk diperjuangkan bersama-sama hingga menjadi nyata. Harapan terkecil kita, para Pegiat Koperasi yang tergabung dalam KOPINDO adalah menjadi Koperasi Kelas Dunia. Dalam harapan itu, kita pun harus tanpa henti mengerjakan hal-hal kecil maupun besar yang diperlukan untuk mengarah kesana. Koperasi Kelas Dunia memang sesuatu yang mungkin sangat berat, tetapi bukan berarti tidak dapat diwujudkan. Untuk masuk kedalam Koperasi Kelas Dunia, kita harus menyadarkan diri untuk memberikan perhatian lebih besar pada aspek sumber daya manusia. Dan kita pun harus meyakini bahwa KOPINDO dapat mewujud menjadi Koperasi Kelas Dunia!
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, adalah momentum kemajuan cara berpikir anak-anak muda terpelajar pada masa itu tentang kesadaran bersama mengenai sebuah cita-cita yang diyakininya yaitu Indonesia. Setelah melalui proses berliku, sarat perdebatan dan penuh pengorbanan, akhirnya terwujudlah Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Oleh karenanya, sebagai pemuda, semestinya kita menyadari bahwa untuk mewujudkan sebuah cita-cita diperlukan proses yang tidak secara tiba-tiba kemudian terwujud layaknya sebuah sulap, atau dapat melewati jalan pintas seperti kisah-kisah dalam sinetron. Sebagai refleksi, kiranya perlu kesadaran baru bagi Pemuda, terutama para Pegiat Koperasi, untuk terus mengasah ke-Indonesia-annya dan memajukan ide-ide segar, kreatif dan inovatif untuk mengembangkan perekonomian yang lebih mengena dalam mengembangkan potensi usaha-usaha ekonomi masyarakat dan berorientasi pada pembangunan berkelanjutan.
Semoga mengilhami kawan-kawan Pemuda yang menjadi Pegiat Koperasi dalam memperjuangkan tumbuh kembangnya Koperasi di seluruh tanah air melalui setiap lini perkoperasian yang ada. Jika kawan-kawan Pemuda tidak anti terhadap peran pemerintah, cobalah untuk turut berupaya merumuskan dan memperjuangkan implementasi dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan dan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2011 tentang Pengembangan Kewirausahaan dan Kepeloporan Pemuda, Serta Penyediaan Sarana dan Prasarana Kepemudaan. Upaya tersebut adalah salah satu langkah untuk memperkuat dan memperlebar gerakan Pemuda dalam cita cita membangun Perekonomian Indonesia yang Lebih Berkeadilan. []
sumber : http://www.kopindo.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=497:sumpah-pemuda-a-koperasi-&catid=39:koperasi-pemuda&Itemid=107