Header Ads

test

Menghormati Kesepakatan dan Tidak Sewenang-wenang


Oleh : Dr. Muhammad Syafii Antonio, MEc


Meskipun Muhammad Saw telah menjadi pemimpin ummat, namum beliau tidak berbuat sekehendak hati saat bertransaksi (bermuamalah). Ali menceritakan, Nabi meminjam beberapadinardari seorang tabib Yahudi. Tatkala ia meminta pelunasan dari Nabi, beliau menjelaskan bahwa dirinya belum punya apa-apa untuk membayar utang tersebut. Si Yahudi berkata, "Saya tidak akan meninggalkanmu, Muhammad, sampai engkau membayarnya." Nabi berkata, "Kalau begitu saya akan duduk bersamamu".

Karena Nabi konsisten dengan ucapannya, beliau melakukan hal tersebut. Nabi shalat dari dzuhur hingga esok paginya, shalat subuh, tidak jauh-jauh dari lelaki Yahudi tadi.
Para sahabat Nabi yang mengetahui hal tersebut mengecam si Yahudi. Mereka berkata, "Ya Rasulullah, apakah orang Yahudi ini yang menahanmu?" Beliau menjawab, "Tuhanku menahanku untuk tidak menyalahi kesepakatan yang kubuat dengan orang Yahudi atau orang lain."

Singkat riwayat, setelah beberapa hari berlalu, "Yahudi itu berkata, " Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan engkau adalah Rasulullah. Separuh kekayaan saya akan saya belanjakan di jalan Allah. Saya bersumpah, tujuan saya memperlakukan engkau seperti itu semata-mata untuk memastikan gambaran tentang engkau yang telah diungkapkan dalam Taurat (Baihaqi dalam Dalail an-Nubuwwah).

Di riwayat lain, Umayyah bin Safwan mengutip dari ayahnya yang mengatakan bahwa pada Perang Hunain, Nabi telah meminjam baju besi darinya. Ia bertanya pada Nabi, "Apakah engkau akan mengambilnya dengan paksa, Muhammad?" Terhadap pertanyaan ini Nabi menjawab, "Tidak, itu adalah sebagai pinjaman dengan jaminan pasti akan dikembalikan." (HR. Abu Dawud).

Pada suatu kali datanglah seorang kreditor, dan memperlakukan Nabi dengan sangat kasar saat menagih utangnya. Umar ingin menangkap orang tersebut tetapi Rasulullah malah mengatakan, "Umar, hentikan, aku lebih suka agar engkau menyuruhku untuk membayar utang tersebut - karena ia lebih membutuhkan - daripada engkau menyuruhnya untuk bersabar." (Zad al-Maad).

Muhammad Saw pernah membeli seekor unta, kemudian datanglah penjualnya dan meminta uangnya dengan kata-kata yang sangat kasar. Para sahabat mendengarnya tetapi beliau berkata, "Biarkan ia, sebab si pemegang hak berhak untuk berbicara."

Keteguhan Muhammad Saw dalam menerapkan prinsip-prinsip transaksi bisnis dan muamalah yang haq, bersumber dari kokohnya aqidah yang menghujam di hati beliau. Suatu ketika, beliau bertransaksi dagang dengan seseorang, dan perselisihan di antara mereka pun terjadi.

Orang-orang meminta agar Muhammad Saw bersumpah atas nama Tuhan mereka, al-Lat dan al-Uzza, untuk memperkuat pernyataannya. Kata Muhammad, "Aku tidak akan pernah melakukan itu. Bahkan, kapan saja jika aku kebetulan melewati berhala, aku sengaja menjauhinya dan mengambil arah lain."

Mendengar ketegasan Nabi, seseorang merasa terkesan dan berkata, "Engkau jujur dan apa saja yang engkau utarakan adalah mutlak benar. Demi Allah, inilah dia seorang laki-laki yang keagungannya selalu dielu-elukan oleh para intelektual kami dan telah disebutkan oleh kitab suci agama kami." Banyak riwayat yang menggambarkan tingginya budi pekerti Muhammad Saw terkait transaksi binsis dan kegiatan muamalah.