Header Ads

test

Dengan 100 Rupiah Membangun 122 Rumah


Oleh : Ahmad Juwaini. 

bawean.net
Zaman sekarang ini apalah arti uang Rp 100 (seratus perak) ? Untuk bayar parkir saja sudah tidak cukup. Sebagian besar kita mungkin sudah memandang uang seratus perak sangat tidak berarti lagi. Tetapi tidak demikian dengan Pak Enduh. Bagi pria yang bernama lengkap Enduh Nuhudawi, uang seratus perak bisa diubah menjadi sesuatu yang bernilai.
Pak Enduh semula adalah pedagang kecil yang berjualan sembako di pasar Leuwiliang Bogor. Karena getaran batinnya yang ingin mengabdi untuk melayani masyarakat, beliau akhirnya terpilih menjadi Kepala desa di Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulan, Kabupaten Bogor. Sejak sebelum terpilih sebagai Kepala Desa, beliau sudah berkeliling di desanya dan menemukan banyak rumah warga di sana yang tidak layak huni. Batinnya pun berjanji, bila terpilih menjadi Kepala Desa, ia akan memperbaiki rumah-rumah tersebut.
Sejak terpilih menjadi Kepala Desa pada tahun 2008, beliau berpikir keras bagaimana caranya bisa memperbaiki rumah warganya. Berhubung dana kas desa yang terbatas beliau akhirnya menggerakkan program mengumpulkan dana infak/sedekah Rp 100 (seratus perak) per hari per penduduk. Jumlah penduduk di desa Situ Udik tidak kurang dari 14.000 jiwa dan 75 persen di antaranya adalah petani dan buruh tani. Berhubung tidak semuanya mampu dan bersedia, maka hanya sebagian saja warganya yang terlibat dalam pengumpulan infak untuk perbaikan rumah ini. Program infak ini disebut sebagai Program Rereongan Sarupi (program bersama-sama mengumpulkan uang seratus rupiah).
Untuk meyakinkan warganya agar mau terlibat dalam program infak bersama ini, hampir setiap malam Pak Enduh mendatangi forum-forum pengajian yang diadakan warganya. Tentu saja sebelumnya, Pak Enduh mendatangi para ulama dan tokoh masyarakat yang ada di desanya untuk mendapatkan dukungan mereka. Dari waktu ke waktu, warga masyarakat yang bersedia dan berpartisipasi dalam program ini terus bertambah.
Pada tahap awal, rumah yang bisa dibangun adalah sebanyak dua buah. Itu pun sebenarnya dana sedekah dari warga belum mencukupi jumlahnya, tapi guna meyakinkan warganya bahwa program ini serius dan uang yang dikumpulkan dari warganya ini tidak diselewengkan, Pak Enduh mengeluarkan dana sedekah pribadinya yang lebih besar untuk menutupinya. Dengan terbangunnya dua rumah ini, warga masyarakat semakin percaya dan penuh semangat mendukung program Pak Enduh.
Kini setelah empat tahun program itu berjalan, tidak terasa sudah 122 rumah yang bisa dibangun, dimana 90 persen di antara yang dibangun itu adalah rumah baru. Tentu saja banyak warga masyarakat yang mengucapkan terima kasih atas jasa dan kepeloporan Pak Enduh untuk menolong masyarakatnya. Ketika Pak Enduh menyaksikan kebahagiaan dari warganya yang mendapatkan rumah baru tersebut, Pak Enduh sungguh merasa puas. Karena sejak awal menjadi Kepala Desa, Pak Enduh berprinsip bahwa menjadi Kepala Desa itu tidak boleh duduk manis, sementara warganya menangis.
sumber : http://ahmadjuwaini.com/2012/09/dengan-100-rupiah-membangun-122-rumah/