Ekonomi Islam Zaman Now


Apabila mendengar kata ekonomi Islam (ekonomi syariah), apa yang terbesit dalam pikiran anda? Apakah sebuah bank yang berkedok label syariah namun dalam praktik nya tidak ada bedanya dengan bank konvensional, atau bayangan lembaga keuangan berbentuk koperasi yang praktiknya meniru perbankan atau bahkan dalam benak anda tergambar upaya ekspansi BMT yang menjamur pada sebuah pasar-pasar, pusat kota sampai pedesaan.

Sementara jika berbicara interpretasi akan ekonomi Islam yang akan muncul dan akrab ditelinga kita adalah upaya ‘arabisasi’ istilah ‘ekonomi’,  atau sistem ekonomi yang alih-alih anti dengan riba (bunga) namun memilih sistem marjin yang presentasi nya lebih besar. Implentasinya hanya berkutat pada dunia perbankan atau regulasi uang dalam bentuk simpan-pinjam semata.

Barangkali stereotype akan ekonomi Islam sedemekian itu masih dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena ini menjadi barometer bahwa ekonomi Islam sejauh ini telah berhasil dalam menerapkan proses sinergi ilmu antara ekonomi dan Islam namun gagal dalam berkembang, sebab perkembangan ilmu ekonomi Islam mengalami stuck atau kebuntuan karena kebanyakan para ilmuan dan praktisinya berkutat pada hal hal seperti riba, murabahah, mudharabah, dan zakat.

Hampir tidak ada perspektif yang baru. Sehingga yang dilihat menonjol dalam aplikasi ilmu ekonomi Islam hanya sebatas fungsi intermediasi dana, di samping itu ekonomi Islam dipandang terkesan kaku dalam istilah keilmuanya, sebab menggunakan istilah-istilah dari timur tengah. Proses keilmuan yang melulu secara terus menerus akan di distribusikan para pembelajar ekonomi Islam ke masyarakat awam dan seiring bergulirnya waktu  yang pemahaman ekonomi Islam yang tidak utuh akan diamini menjadi pemahaman bersama ditengah masyarakat, terlebih pemahaman tersebut diperkuat fakta di lapangan bahwa praktik ekonomi syariah yang kebanyakan berada dalam dunia perbankan maka akan mendoktrin masyarakat bahwa ekonomi syari’ah itu adalah bank syariah, atau seperti lembaga keuangan yang hampir mirip dengan perbankan lengkap dengan akad-akad bahasa arab nya.

Sangat riskan bila Pemahaman yang pincang ini diakui sebagai pemahaman jamak atau bahkan digadang-gadang sebagai konsep ekonomi Islam yang syumul. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri sebab jika pemahaman ekonomi Islam yang belum utuh terus dipertahankan dan ditumbuh suburkan maka tujuan utama ekonomi Islam yaitu mencapai maslahah bagi manusia tidak akan pernah bisa terwujud. Sebenarnya perihal tersebut sudah lama dikawatirkan oleh DR. M. Umar Capra, seorang tokoh ekonomi kontemporer yang paling terkenal di timur dan di barat, kegelisahaan nya tersebut ia tuangkan di bagian penghujung dalam master piece yang bejudul The future of Economic an Islamic prespective.

Kegundahan yang ada harus berujung pada solusi yang kongkrit, mampu menyasar pada akar rumput permasalahan, dengan memaksimalkan percepatan akses informasi dan kecanggihan teknologi yang ada, kemajuan zaman semestinya menjadi peluang besar untuk bisa merubah wajah ekonomi Islam zaman old (dulu) menjadi ekonomi Islam zaman now (sekarang). Ekonomi Islam dewasa ini atau dalam literasi kekinian nya disebut ekonomi Islam zaman now merupakan sistem yang mengatur kegiatan manusia dalam aktivitas memenuhi kebutuhan hidupnya yang berlandaskan hukum Allah SWT dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Ekonomi Islam zaman now dipandang sebagai jalan hidup (way of life) untuk mencari rezeki, harta, kekayaan atau mencukupi kebutuhan diri sendiri dan keluarga, konsep ekonomi Islam harus bisa lepas dari kungkungan persepsi sempit yang bergelut pada riba dan dimensi perbankan. Esensi ekonomi Islam harus mampu diterjemahkan dalam berbagai bentuk usaha yang lebih variatif dan implementasinya mampu diaplikasikan secara rigid baik itu oleh individu, kelompok atau bahkan sampai negara.

Ekonomi Islam ialah metodologi yang menjadi panduan dalam bermuamalah antar sesama manusia yang bersandar pada dua sumber hukum yang menjadi dasar patokan. Sumber hukum primernya ialah hukum transidental seperti Al-Quran dan Hadist. Sedangkan sumber hukum sekundernya ialah interpretasi seperti fatwa sahabat nabi, ijma’, qiyas, istihsan, urf, mashalih mursalah, sadd adz-dzara’i, istishhab dan syar’u man qablana. Sementara peruntukan tidak hanya dibatasi untuk umat Islam melainkan bagi non muslim juga diperbolehkan menggunakannya.

Konsep ekonomi Islam zaman now dapat bersinergi dengan kearifan lokal yang ada. Bahwasannya ekonomi Islam sebagai silabus untuk mencapai keteraturan hidup seyogya nya tidak dilaksanakan secara klaim sepihak dan membabi buta untuk mengharamkan sesuatu atau melarang suatu adat budaya setempat tampa memfilterisasi terlebih dahulu. Oleh karena itu konsep ekonomi Islam perlu menjalin suatu toleransi terhadap warisan budaya yang dalam hal ini berbentuk transaksi ekonomi yang dirasa tidak bertentangan dengan syariat yang ada.

 Dilain sisi konsep ekonomi Islam harus memenuhi beberapa prinsip antara lain: pertama pada asalnya aktivitas ekonomi itu diperbolehkan sampai ada dalil yang melarangnya, kedua aktivitas ekonomi tersebut hendaknya dilakukan secara suka rela (‘an taradhin ), ketiga segala bentuk kegiatan ekonomi yang dikerjakan hendaknya mendatangkan maslahah dan menolak atau meminimalir mudharat ( jalb – al mashalih wa dar’ al mafasid ) dan  keempat dalam aktivitas ekonomi yang dilakukan terlepas dari unsur gharar, riba, kedzaliman, maysir, distorsi, spekulasi, dan unsur unsur lainya yang dilarang oleh syara’. 

Sementara, permasalahan ekonomi (kelangkaan) dalam soroton ekonomi Islam muncul bukan disebabkan oleh gagal nya sumber daya alam dalam merespon dinamika kebutuhan manusia, seperti dalam teori ekonomi konvensional dikatakan bahwa kelangkaan terjadi karena sumber daya ekonomi itu terbatas sedangkan kebutuhan atau keinginan manusia itu sifatnya tidak terbatas. Teori ini mendapat protes keras oleh ekonom kotemporer yaitu Asy-Syahid Muhammad Baqir As-Sadr dari kadhimiyah, bagdad yang biasa akrab disebut dengan Baqir As-Sadr. Menurutnya permasalahan ekonomi yaitu kelangkaan muncul kareana disebabkan oleh perilaku manusia yang dzalim dan perilaku manusia yang kurang bersykur atas limpahan nikmat Allah SWT,

Bahwasanya dzalim dalam hal ini dimaksudkan betapa banyak ditemukan dalam realitas empiris, manusia dalam aktivitas distribusi kekayaan cenderung melakukan kecurangan-kecurangan untuk memperoleh keuntungan pribadi semata, seperti melakukan tindakan penimbunan atau ikhtikar. Sedangkan yang dimaksud kurang bersykur atau ingkar adalah manusia cenderung menafikan nikmat Allah dengan semena-mena mengeksploitasi sumber-sumber alam. Selain itu Baqir As-Sadr membatah bahwa kenginan manusia itu sifat nya tidak terbatas dengan contoh yang diberikan pada orang haus akan berhenti minum jika dahaganya sudah terpuaskan. Lebih jauh lagi Baqir As-Sadr beranggapan teori hukum kelangkaan oleh ekonom konvensional hanyalah sebagai sesuatu penghindaran terhadap sesuatu yang sudah ada solusinya, dengan menyuguhkan penyebab imajiner yang tidak ada solusinya.

Membincang ruang lingkup yang dapat diatur oleh ekonomi Islam tidak berfokus pada riba dan praktek perbankan, melainkan sangatlah luas, mulai dari hal penentuan harga di pasar dengan konsp mekanisme pasar yang digulirkan Ibnu Taimiyah, jual beli dalam bentuk murabahah, salam, atau istisna, kerjasama seperti syirkah, mudhorabah, muzaraah (dalam agraria), hukum permintaan dan penawaran Islami, sampai hal besar seperti public finance (keuangan publik) seperti pemasukan negara dan pendistribusian kekayaan negara, kebijakan baik moneter maupun fiskal juga diatur dalam ekonomi Islam seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW sampai zaman kekhalifahan setelah-nya dalam bentuk bai tul mal sebagi lembaga keuangan negara yang mengatur kebijakan, bahkan pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid  mengalami surplus yang berlebih pada APBN nya.

Terlepas dari itu semua, perkembangan ekonomi Islam juga mengalami tren yang positif. Tidak sedikit negara-negara barat yang mengadopsi ekonomi Islam atau bahkan membuka bank syariah seperti, bank syariah  KuveytT├╝rk di Jerman, European Islamic Investment Bank PLC (EIIB) di Inggris, dan di Belanda akan dirintis bank syariah, hal tersebut merupakan bentuk perhatian yang baik dari negara-negara barat terhadap ekonomi Islam.

Selain itu perkembagan ekonomi Islam pada era digital sekarang ini juga mengalami peningkatan seperti dibuatnya sistem layanan fintech (finansial technology) pada lembaga keuangan syariah, atau pada pasar sekunder seperti di bursa efek syariah, obligasi syariah, saham syariah, dan reksyadana syariah.  Sementara semakin masifnya penyebaran aplikasi ekonomi Islam dalam pasar primer seperti munculnya usaha berbasis syariah seperti hotel syariah, laundry syari’ah, dan wisata syari’ah dan kurva kencederendungan akan halal life style semakin meningkat dan mendapat animo masyarakat Indonesia.

Di sisi lain pekembangan ekonomi Islam di Indonesia yang sedang digandrungi harus ramah dengan kearifan lokal (local wisdom) yang harus tetap melestarikan budaya sekitar seperti pada orang tengger yaitu konsep celong yang konsepnya hampir mirip dengan ijarah, sida yang konsepnya seperti pembagian waris, dan cimpa yang konsepnya sama dengan hibah. Ekonomi Islam harus bisa berakulturasi secara dialektika dengan cara transaksi adat budaya setempat sehingga dapat diterima dengan baik dan tidak menghilangkan warisan kekayaan budaya suatu negara. Mengingat dalam perspetif hukum Islam bahwa kearifan lokal itu disebut urf yang artinya sesuatu yang baik dan telah dikenal diatara manusia dan menjadi tradisi.

Ekonomi Islam zaman now pada giliranya mampu mengejewantahkan dengan wajah yang ramah dan mudah dimengerti serta bisa diterapkan pada sendi sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara di samping itu ekonomi Islam harus teraktualisai baik itu keilmuannya dan kecanggihan tekonolgi yang digunakanya.



Penulis, Elman Darmansyah   

Mewujudkan Strong Leadership dalam Lembaga Keuangan Mikro Syariah BMT


Berdirinya sebuah lembaga bisnis tidak akan terlepas dari dua tujuan utama yaitu profitable and sustainable bussiness, artinya bisnis yang menguntungkan dan menjadikannya berkelanjutan atau berumur panjang, demikian halnya dalam pendirian dan pengelolaan lembaga keuangan mikro syariah atau yang lebih akrab dikenal dengan sebutan Baitul Maal Wattamwil yang disingkat dengan BMT. BMT yang di dalamnya terdapat dua fungsi utama yakni baitul maal yang berfungsi sosial dan tamwil yang lebih kepada fungsi bisnis. Meskipun terdapat fungsi sosial tidak dapat dipungkiri bahwa sekumpulan orang yang bersyirkah dalam pendirian dan pengelolaan BMT tentu berharap lembaga yang didirikannya akan mensejahterakan anggota secara berkelanjutan, tidak hanya menguntungkan sesaat tapi menimbulkan kebangkrutan di kemudian hari.

Profitable  dan  sustainable  bussiness  adalah  tantangan  utama  para  pelaku  BMT disaat tingkat daya beli masyarakat terjun bebas, di sisi lain fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit BMT di Lampung telah gulung tikar dan dibekukan badan hukumnya, hal itu disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah faktor human error atau perilaku fraud oleh pimpinannya. Sementara di pihak lain masih banyak BMT yang tetap survive, bertumbuh dan melebarkan sayap bisnisnya, karena memiliki segudang potensi yang dikelola secara apik oleh pemimpin yang handal. 

Begitu besar peran pemimpin dalam menahkodai sebuah lembaga BMT untuk dapat mencapai tujuan bersama para anggota, semakin baik kualitas kempemimpinan tersebut maka dapat dipastikan baik pula pengelolaan semua potensi yang dimiliki. Secara sederhana dapat diambil benang merah bahwa sukses tidaknya pencapaian tujuan lembaga BMT selalu terkait dengan kualitas kepemimpinan dari masing-masing BMT. Hal ini lah yang menjadi daya tarik bagi penulis untuk merangkum, menganalisa dan menjabarkan bagaimanakah mewujudkan strong leader atau kepemimpinan yang kuat dalam lembaga keuangan mikro syariah BMT.

Berbicara soal strong leader, maka setiap muslim yang di amanahkan menjadi pemimpin harus memiliki konsep kepemimpinan yang sesuai dengan ajaran Islam, sehingga dapat terinternalisasikan dalam dirinya dan terejawantahkan dalam setiap gaya kepemimpinannya. Imam Zamroni pernah menyampaikan dalam sebuah workshop Ambassador Bootcamp IIBF yang diselenggarakan di Jogjakarta tahun 2016, bahwa kekuatan utama seorang strong leader dapat digambarkan dalam bagan piramida.

Bila digambarkan dengan piramida dapat diketahui bahwa porsi tiga kekuatan tersebut berbeda, semakin ke bawah porsinya semkin besar.

1.      Entrepreneurship; adalah cara atau langkah untuk menjadi kaya yang sebenarnya, bukan seolah kaya dalam pencatatan, tapi tidak menghasilkan cash. Sifat-sifat yang ada di dalamnya adalah kreatif dan inovatif dan tidak ada matinya untuk menemukan jalan keluar dari setiap persoalan, dirinya selalu mampu menemukan, mengorganisasikan dan mengeksekusi setiap peluang yang ada. Seorang entrepreneur mampu membangun team yang kuat, mampu bertahan dalam kesulitan dan persaingan, sekaligus mampu mengelola perubahan dan resiko. Leader sebagai entrepeneur mengindikasikan bahwa dirinya juga pekerja yang memberikan contoh, taking inisiatif, demonstratif, kreatif dan mampu membentuk mental yang dipimpinnya. Meskipun entrepeneurship porsinya lebih kecil namun harus tetap ada dan tidak dapat dipisahkan dalam seorang srong leader

2.     Leadership; Leader is a person who know the way, who show the way and who do the way. Seorang pemimpin adalah orang yang tahu jalan, yang menunjukkan jalan dan mampu menjalankannya untuk memberikan keteladanan kepada yang dipimpin. Keahlian seorang pemimpin dibagi menjadi tiga yaitu skill, interpersonalitas dan identitas. Sehingga porsinya harus ideal sebagaimana digambarkan dalam bagan piramida. Jika posisi piramidanya terbalik maka seseorang tersebut cenderung menjadi follower. Pertama, seorang pimpinan seharusnya adalah yang memiliki skill yang lebih dibandingkan dengan team yang lain, ia adalah seorang yang mampu memotivasi, dan mengkomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan peningkatan kinerja karyawannya. Kedua, seorang pemimpin hendaknya memiliki interpersonalitas yang baik, yaitu kemampuan berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain, baik dengan sesama team ataupun dengan stakeholder yang ada. Ketiga, seorang pemimpin hendaknya memiliki identitas yang kuat dan berkarakter serta mampu memberikan identitas yang baik bagi setiap karyawannya. Bahwa kita adalah seorang muslim maka tauladan yang terbaik adalah nabi dan sahabat sahabiyah. Semakin kokoh identitas seseorang sebagai muslim, maka dapat dipastikan dirinya akan menjadi sumber daya insani yang jujur amanah dan terpercaya.

3.   Spiritualitas; mari kita simak terlebih dulu janji pasti dari yang maha menepati janji-Nya dalam Q.S al-a’raf ayat 96 “jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi...”. Seorang pemimpin muslim dibebankan kewajiban untuk membangun sebuah sistem nilai, sistem nilai yang dimaksud tentunya merupakan nilai-nilai agama. Bahwa rizkinya perusahaan adalah rizkinya semua karyawan, maka jangan sampai urusan dengan sang pemberi rizki ada yang bermasalah, dan hal itu berlaku bagi setiap pimpinan maupun karyawan. Saat panggilan adzan tiba, adakah karyawan yang masih abai atau menunda-nunda untuk memenuhi panggilan-Nya. Untuk selanjutnya dibutuhkan pembiasan-pembiasaan ibadah yaumiah yang terencana dan dievaluasi secara periodik sehingga terbentuk sebuah culture saling menguatkan dalam hal urusan menjaga kualitas ruhiyah.

Ketiga rumusan di atas menjadi sebuah kunci jawaban dari pertanyaan mendasar para penggiat lembaga keuangan mikro syariah BMT untuk mewujudkan strong leadership pada lembaganya masing-masing. Sehingga dapat penulis simpulkan bahwa di dalam BMT yang kuat dan terus bertumbuh pasti ada seorang strong leader di dalamnya, begitu pula sebaliknya jika rapuh bangunan kelembagaannya maka patut dipertanyakan bagaimanakah kualitas kepimimpinan di dalamnya. Wallohu a’lam bishowaf.



Penulis: Rudiyanto,S.E.Sy (Manajer Baitul Maal KSPPS BMT AKU)

Solusi Tidak Membuminya Pancasila Sebagai Konsensus Negara


Berbicara mengenai Pancasila, tentu yang terlintas  pertama kali di benak kita berbeda-beda. Ada yang yang berpikir bahwa pancasila adalah lima dasar, ada juga yang terfikir sebagai dasar negara, ada yang berfikir menuju pada republik Indonesia atau dengan kata lain pancasila sebagai identitas republik Indonesia. Selain itu ada juga yang beranggapan bahwa pancasilan adalah burung garuda. Bahkan ada yang lebih unik menurut saya, yaitu ketika saya melakukan survei ke salah seorang teman, ia mengatakan bahwa yang terlintas pertama kali ketika saya mengatakan pancasila, dan dia menjawab bahwa pancasila adalah ketuhanan yang maha esa.

Adanya perbedaan pemahaman di berbagai pemikiran tentang pancasila merupakan bukti bahwa berbeda orang maka akan berbeda pemahaman mengenai pancasila dalam diri mereka masing-masing. Padahal mereka adalah warga negara pemilik pancasila itu sendiri. Sejarah tentang pancasila itu tunggal dan  tidak bisa diganggu gugat maka pemahaman tentang pancasila harus diberikan untuk keseluruh lapisan agar nantinya tidak ada perbedaan pemahaman yang mengakibatan perpecahan.

Maka, kini yang menjadi persoalan kita adalah apakah sejarah pancasila yang tunggal itu pernah mereka kaji atau tidak. Kalaupun pernah, maka kajiannya bersifat mendalam atau tidak. Mengapa hari ini pancasila itu masih belum tertransformasikan dalam masyarakat. Mengapa Pancasila masih belum bisa menjadi consensus (kesepakatan) nasional yang kemudian menjadi garis batas gerak sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara?.

Kita tahu, bahwa dahulu pada saat orde lama, Pancasila adalah ideologi terbuka bagi bangsa Indonesia. Setiap manusia berhak memaknai atau menafsirkan pancasila dengan penafsiran masing-masing individu. Hal tersebut terbukti berdampak pada kerukunan dan kebersatuan Indonesia pada masa dahulu. Tentu dikarenakan cita-cita dari Pancasila itu sendiri tidak bisa dipaksakan, dengan kata lain ideologi pancasila lahir dari masyarakat. Akan tetapi, setelah rezim Soeharto berkuasa, pancasila tidak lagi menjadi ideologi terbuka, tetapi beralih menjadi ideologi tertutup, yang dianggap sudah jadi dan mutlak. Ideologi yang lahir bukan dari masyarakat melainkan dari sebuah kelompok untuk merubah masyarakat yang tidak melihat pluralitas peradaban terlebih HAM tentu akan mengakibatkan perseturuan-perseturuan antar kelompok. Barangkali ini yang membuat masyarakat mulai tidak peduli lagi dengan arti dan makna pancasila.

Akan tetapi−melihat kondisi saat ini−mengembalikan pancasila kepada ideologi yang terbuka bukanlah suatu solusi yang tepat. Bahkan, dengan begitu mungkin tingkat kriminalitas akan semakin bertambah. Kejahatan semakin merajalela, tidak terkendalikan justru yang ada.

Lantas solusi seperti apa yang tepat?

Kita tahu, bahwa pengalaman adalah guru dan pengamalan adalah yang terbaik dari sebaik-baiknya guru. Maka dengan mempelajari sejarah, berbagai ilmu dapat diambil darinya. Berbagai sejarah yang mempunyai masalah serupa dengan yang sedang kita alami sekarang tentu akan menjadi referensi atas tercetusnya solusi.

Masalah kita hakikatnya adalah masalah keyakinan dan persatuan. Tidak perlu terlalu banyak berfikir, sejarah mana yang mempunyai masalah serupa dengan masalah yang kita alami. Saat ini, kita memiliki satu sosok yang begitu menakjubkan kepemimpinannya, ia dapat mengubah sejarah dunia dengan sistem yang dipakainya, bahkan  kehebatan sistem itu masih dan akan tetap ada sepanjang manusia mau mempergunakannya. Kita tahu sistem itu akan berjaya kelak dikemudian hari, ketika manusia mempergunakannya secara total. Sistem itu bernama Islam.

Dahulu jazirah Arab dihuni oleh bangsa Arab yang bersuku-suku dan berkabilah-kabilah. Mereka terpecah belah dan tidak bersatu, tidak tunduk pada suatu pemerintahan, akibatnya tidak ada sebuah kesatuan politik dan agama. Tiap suku mempunyai pimpinan masing-masing dengan gelar ‘Syaikhul Qabilah’ (Kepala suku). Kepala dari suku yang besar, seakan-akan menjadi raja bagi yang tidak bermahkota. Perintahnya menjadi undang-undang, segala keperluannya harus dituruti dan suku-suku yang kecil harus tunduk kepada mereka. Demikian pula, berbagai tradisi tidak berperikemanusiaan merajalela, bayi-bayi perempuan dikubur hidup-hidup, para wanita menjadi objek pemuas nafsu belaka. Serta masih banyak peristiwa yang tidak baik untuk diceritakan.

Betapa kompleks masalah yang terjadi pada masa itu. Akan tetapi, kita ketahui bersama; setelah Islam tegak dan kokoh di jazirah Arab, ketika itu tidak ada satu masalah pun yang tidak terselesaikan. Mulai dari ketuhanan, kemanusiaan, persatuan dan kerakyatan, serta keadilan, semuanya dapat terselesaikan hanya karena ajaran Islam.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-quran surah An-Nahl ayat 89, “…Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran),” ayat tersebut dapat kita simpulkan bahwa ayat yang menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri, yaitu kabar yang termaktub di dalam Al-quran. Merupakan langkah awal dalam dakwah Rasulullah Saw. yang mengajarkan akidah selama 13 tahun lamanya, hal itu terjadi krena akidah bukanlah sesuatu yang remeh-temeh.

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang maha perkasa lagi maha bijaksana.” (QS. Ali-Imran: 18)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizhahullah menjelaskan, “Aqidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan aqidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apapun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan aqidahnya.”

Selain itu, Rasulullah Saw. adalah teladan terbaik. Akhlak beliau hakikatnya juga adalah dakwah. Maka, pengajaran akidah bersamaan dengan akhlak ini tentu akan menghasilkan suatu produk yang bernama ketuhanan dan persatuan. Kemudian, tidak lupa bahwa setelah Rasulullah Saw. mendakwahkan akidah, beliau juga mendakwahkan syariat, yang kemudian itu menjadi bagian tidak terpisahkan dari Islam. Karena Islam terdiri dari tiga kesatuan yang tidak terpisahkan. Yakni akidah, akhlak, dan syariat.

Ini yang kemudian menjadi catatan bahwa setelah terbangun nilai ketuhanan dan persatuan, perlu lagi adanya pembangun sebuah sistem yang lain yakni dengan syariat. Setelah syariat juga menjadi bagian darinya, maka produk perikemanusiaan, kerakyatan serta keadilan sosial akan bisa merajalela di negeri ini.

Tidak bosan saya mengingatkan bahwa cara ini telah terbukti ampuh. Telah terealisasi dan hasilnya bahkan kita yang jauh dari jazirah Arab, serta jauh pula jarak zamannya, ikut merasakannya. Mengingat sistem ini adalah berasal dari Allah subhanahu wa ta`ala; sang maha mengetahui segala kebaikan bagi makhluknya, maka semoga membuat kita terbangun dari ketidaksadaran bahwa telah ada suatu sistem terbaik bagi kita, yaitu sistem yang berasal dari Allah Ta`ala. Sekali lagi, sistem itu bernama Islam.

Tidak perlu lagi ragu untuk mempergunakannya karena telah terbukti dalam realita. Bukan hanya dapat dipergunakan untuk memimpin muslim, tetapi juga kaum yang lain. Itu terlihat pula dari sejarah yang telah terjadi. Yakni saat wilayah kekuasaan Islam meluas, penduduk dari wilayah yang baru saja ditaklukkan terbukti dapat dikendalikan dengan baik. Itu semua dilakukan hanya dengan sistem Islam.

Sebagai penutup, izinkan saya mengutip sebuah tulisan menarik dari Ustadz Salim A. Fillah yang luar biasa−menurut saya−dalam memaknai Pancasila. Tulisan itu ialah,

“Ummat Islam amat besar pengorbanannya dalam perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pun demikian, sejarah juga menyaksikan mereka banyak mengalah dalam soal-soal asasi kenegaraan Indonesia. Cita-cita untuk mengamalkan agama dalam hidup berbangsa rasanya masih jauh dari terwujud.


Tetapi para bapak bangsa, telah menitipkan amanah maqashid asy syari’ah (tujuan diturunkannya syari’at) yang paling pokok untuk menjadi dasar negara ini. Ada lima amanah yang diberikannya, lima hal itu; pertama adalah hifzhud diin (menjaga agama) yang disederhanakan dalam sila ‘ketuhanan yang maha esa. Kedua hifzhun nafs (menjaga jiwa) yang diejawantahkan dalam sila ‘kemanusiaan yang adil dan beradab. Ketiga hifzhun nasl (menjaga kelangsungan) yang diringkas dalam sila ‘persatuan Indonesia. Keempat hifzhul ‘aql (menjaga akal) yang diwujudkan dalam sila ‘kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Dan kelima, hifzhul maal (Menjaga Kekayaan) yang diterjemahkan dalam sila ‘keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Penulis: Bangun Adi Putra

KSEI Filantropi Adakan Filantropi Full Day


Adzkiyacentre.com-KSEI Filantropi IAIN Metro mengadakan acara Filantropi Full Day (FFD), Minggu (10/12). Acara yang berlangsung di Taman Ki Hajar Dewantara ini merupakan salah satu program kerja dari departemen kaderisasi KSEI Filantropi IAIN Metro.

Nurul Hidayah selaku kepala Departemen Kaderisasi memaparkan, “Manfaat dari acara FFD bagi kader adalah kader dapat saling mengerti dan memahami satu sama lainnya serta dapat mempererat ukhuwah di antara mereka. Selain itu, di dalam acara FFD terdapat kajian yang memberikan manfaat bagi kadar, khususnya dalam menambah wawasan dan keilmuan kader.”

Acara FFD kali ini diikuti oleh 30 kader KSEI Filantropi bertujuan untuk meningkatkan ukhuwah antar kader. Dimana di dalam acara FFD ini terdapat beberapa rangkai kegiatan seperti kajian ekonomi Islam, rujak party, games, dan tukar kado antarkader. Pada sesi kajian ekonomi Islam, di isi materi tentang motivasi berdakwah oleh Dwi Nugroho selaku ketua umum KSEI Filantropi tahun 2016/2017.

“Acara FFD ini salah satu penghilang penat karena tugas-tugas kuliah, dapat merasakan ukhuwah antarkader dan memperolah ilmu pengetahuan serta memperoleh pelajaran bahwa dalam berorganisasi ketika kita melakukan sesuatu hendaknya kita lakukan bersama-sama karena dengan begitu kita akan merasakan nilai-nilai dan jalinan ukhuwah yang semakin erat”, ujar Retno Junia peserta FFD.[Inayah]


UKM KSEI Filantropi Goes to School

Adzkiyacentre.com- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) KSEI Filantropi IAIN Metro mengadakan kegiatan Goes to School yang diadakan di gedung Munaqosyah lantai 3 IAIN Metro, Sabtu (9/12). Mengusung tema “Menyiapkan Generasi Muda Berwawasan Ekonomi Syariah”, 

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wawasan tentang ekonomi Islam sejak dini kepada siswa/siswi tingkat SMA/MA/sederajad dan para kader baru UKM KSEI Filantropi. Pada kegitan ini diisi oleh dua narasumber, yaitu Tomi Nurrohman (Alumni UKM KSEI Filantropi) yang membawakan materi dasar tentang ekonomi Islam dan Anas Malik,S.E.I.,M.Sy (Dosen IAIN Metro) yang membawakan materi tentang fintech.

Mustika Edi Santosa selaku ketua umum dalam sambutannya mengungkapkan, “Kegiatan Goes to School merupakan bentuk dakwah dan komitmen dari UKM KSEI Filantropi dalam membumikan ekonomi Islam sejak dini kepada masyarakat. Selain itu, kagiatan ini merupakan bentuk komitmen dari UKM KSEI Filantropi untuk ikut andil dalam mewujudkan visi dan misi kampus IAIN Metro”. [AM]


Sang Pemimpi



Namaku Adi prasarta, seorang lelaki yang masih duduk dibangku SMA. Jangan tanya siapa nama kedua orangtua ku dan apa pekerjaannya karna aku pun tak tahu, bahkan yang ku tahu hanya sekedar namanya saja. Sejak kecil aku tinggal bersama kakek dan nenekku, berkali-kali aku bertanya kepada mereka siapa ayah-ibuku dan dimana mereka sekarang tetapi mereka selalu menjawab "orangtua mu pergi jauh tak akan kembali lagi, lupakan mereka!".

Entah kapan terakhir kali aku bertanya kepada mereka yang pasti sudah lama sekali, sudah aku tanamkan dalam diriku kalau aku tidak akan bertanya lagi karena setiap pertanyaan itu aku lontarkan pada mereka pasti amarah yang tergambar diraut muka dan diakhiri dengan gerimis yang membasahi pipinya. Pernah ada seorang tetanggaku memberitahu bahwa orangtuaku masih hidup, hanya saja dahulu ada pertengkaran sangat hebat yang membuat orangtuaku berpisah dan masing-masing pergi entah kemana dengan tujuan yang berbeda.

Aku selalu membayangkan ayah-ibuku datang dan bisa berkumpul serta tinggal bersama, betapa bahagianya diriku jika itu terkabul, aku yang tak pernah mendapat kasih sayang dari orangtua membuat hidupku seolah tak terarah. Hah biarlah aku sudah terbiasa dengan semua ini.

"Adiii, adii"
Ah seperti suara nenekku memanggil.
"Adiii," sekali lagi suara jeritan yang khas bergelora.
"iyaa nek, ada apaa?" aku menoleh ke arah sumber suara lalu terdiam memunculkan tanda tanya, siapakah gerangan yang berada disamping nenekku itu? sepasang kisanak dan nyaik.
"Adii," teriak lagi nenekku dengan mata yang berkaca-kaca dengan suara yang tak berirama.
"ada apa nek dan siapa mereka?" sahutku dengan muka cemas.
"ini ayah ibumu adi, ini orangtua kandung muu".
"ibuku, aayahku, nek?"
"iya nak ini orangtuamu"
"ibuuu," langsung ku berlari menghampiri mereka dengan guliran air mata yang mulai mengalir membasahi pipi.
Gubrakk!!
"aduuh," teriakku
"Adii, mimpi apa lagi kau sampai terjatuh dari kasur begitu, makanya kalau sudah denger adzan subuh cepetan bangun bukannya tidur lagi! cepat kau bangun dan mandi, apa kau tak sekolah. Cepatt!". Sambutan nenekku pagi ini
"iya nek," singkatku.
"Hah cuma mimpi ternyata, andai saja itu tadi nyata betapa bahagianya aku, hahh".
Setelah itu aku langsung mandi dan bersiap-siap untuk melaksanakan kewajibanku menuntut ilmu.


***
Seperti biasa aku berangkat kesekolah, masuk ke dalam kelas dan duduk dibangku spesial penuh dengan kewibawaan layaknya raja di istana kerajaannya, ya tepat tersandar di tembok!. Yahh aku duduk paling belakang sendiri, bahkan terkadang apa yang dikatakan oleh guru pun tak terdengar ditelingaku dan walaupun terdengar aku pun tak menghiraukannya. Aku terlalu senang hidup di dunia ku sendiri.
"Adi Prasarta," panggil seorang guru.
"hah, iya buk saya disini," sahutku dengan tangan yang melambai.
"ayo maju kedepan."
"memang saya salah apa buk? saya sudah diam dan tidak mengganggu mereka belajar" jawabku sambil menunjuk kesemua kawan-kawan kelasku.
"sudah cepetan maju," tegas guruku.
Lalu aku dengan rintih-rintih berjalan ke depan.
"Kerjakan soal yang ibu tulis di depan!" perintahnya sambil memberikan spidol padaku.
"haa saya buk" betapa kagetnya diriku, sedari tadi aku yang terjaga dalam ayunan indah mimpiku.
"cepat!" gertak guruku.
"i.. iiya buk," sambil mengambil spidol dan ku coba membaca serta pahami soal yang ada di papan tulis, kemudian aku coba mengerjakannya dengan berfikir keras.
Beberapa menit berlalu akhirnya aku selesai juga mengerjakannya entah itu benar atau salah yang penting sudah aku selesaikan.
"buk, saya sudah selesai," sambil mengembalikan spidol dan langsung berjalan kembali ke tempat dudukku.
"eh sebentar ibu cek dulu"
Disaat guruku sedang mengecek hasil kerjaanku, jantungku berdebar begitu kencang dan kakiku bergemetar. Alamakk siap-siap dapat hukuman lagi aku ini (gumamku)
"adiii"
"iiiya buk, maaf bu maaf aku tadi hanya"
"ini sungguh luar biasa, jawabanmu tepat sekali adii," sragapnya
"hahh apa buk," terkejut dari ucapan guru yang memuji keberhasilanku.
Suara gemuruh tepuk tangan yang menggema ditelingaku membuat diriku tak sanggup mengucap kata apapun, rasa yang baru sekali aku rasakan. Rasa bangga pada diriku sendiri dan baru pertama kali ini aku merasa senang sekali bahkan aku tak bisa menjawab panggilan kawan sebangku yang dari tadi meneriaki namaku dan bertepuk tangan dengan keras.
"adiii, adiiiii," teriak kawan-kawanku
"hah iya, aku hebat kan," jawabku
"hebat dari hongkong," teriak kawanku lagi.
"Hah sial, mimpi lagi aku," tersadarku dari tidur pulasku.

"Makanya kalau ada guru lagi menerangkan jangan tidur mulu, ini sekolahan bro tempat dimana kita mencari, mengasah dan melatih kemampuan kita bukan dimana tempat merangkai mimpi atau angan-angan saja, mimpi tak akan nyata kalau kita tak berbuat apa-apa! kita disekolahkan agar kita bisa menjadi manusia yang mampu memanusiakan manusia! apa kamu tak kasihan dengan kakek nenekmu yang selalu menjual keringatnya demi kamu! apa kamu tak malu!. Alur kehidupan beda dengan alur mimpi bro yang bisa kita atur sedemikian rupa, kita hidup di dunia nyata bukan dunia mimpi! kamu boleh saja merangkai alur mimpi-mimpimu tapi kamu juga harus merangkai alur kehidupan nyatamu. Pejamkan matamu untuk rangkai semua mimpimu tapi buka pula matamu dan buat mimpimu menjadi nyata. Halah sudahlah tak penting juga aku memotivasi mu". Kata kawan sebangku ku yang lantas pergi meninggalkan ku di dalam kelas sendiri.

Tersentak aku pun langsung terdiam dan terbayang-bayang perkataan kawanku itu, apa selama ini aku hidup dalam dunia mimpiku? apa aku hanya mampu bermimpi? apa mungkin aku tak sanggup membuat nyata mimpi-mimpiku?.
"Hah tidak! ini mimpiku dan hidupku, aku bukannya tak mampu tapi aku hanya belum melangkah untuk membuatnya menjadi nyata" ku tersenyum dan merasa seolah terlahir ke dunia lagi dengan semangat hidup yang baru.


Penulis: [S-IKABIM]