KSEI Filantropi Adakan Pelatihan Public Speaking



Adzkiyacentre.com- Public speaking merupakan soft skill yang sangat penting bagi setiap orang untuk membangun komunikasi yang baik dengan orang lain. Keahlian dalam mengelola kemampuan public speaking akan menjadi nilai tambah dalam mendukung karir sesorang.

KSEI Filantropi IAIN Metro dalam rangka untuk menyipkan generasi-generasi yang unggul, mengadakan Pelatihan Public Speaking (06/01). Pelatihan yang diadakan di Gazabo Pascasarjana IAIN Metro ini merupakan salah satu bentuk program kerja dari Departemen Kajian Strategi (KASRAT) KSEI Filantropi. Dihadiri oleh Erik Pujianto, Amd (ketua umum KSEI Filantropi tahun 2014/2015) sebagai pemateri, pelatihan ini disambut dengan antusias oleh para kader KSEI Filantropi. Erik menyampaikan, “ Berbicara jangan hanya biasa saja. Namun, berusahalan untuk menggunakan seluruh anggota badan agar dapat lebih menyakinkan pendenger atau lawan bicara kita. Terlebih, hal tersebut akan menambah mental kita”. (Afandi)

KSEI Filantropi Adakan Bakti Sosial di Panti Asuhan Nurul Husnayain



Adzkiyacentre.com- Bersama dengan lembaga DPU-DT, LAZAKU (Lembaga Amil Zakat Adzkiya Khidmatul Ummah), dan organisasi SML (Sedekah Mingguan Lampung), KSEI Filantropi IAIN Metro mengadakan kegiatan bakti sosial di Panti Asuhan Nurul Husnayain Kota Metro, (3/1). Kegiatan yang mengusung tema “Bakti Sosial dan Silaturahmi Anak-anak Panti” ini bertujuan untuk menumbuhkan jiwa agar dapat membantu sesama, saling berbagi, dan menjalin silaturahmi. Pada kegiatan ini juga dihadiri oleh 21 anak-anak panti.

Inggrit Sarasati selaku ketua pelaksana acara bakti sosial ini mengatakan, “Harapan saya dengan diadakan kegiatan ini dapat menjalin silaturahmi antarpihak, membuka mindset semua pihak bahwa masih banyak adik-adik kita yang serba kekurangan baik dalam hal ekonomi, pendidikan, dan kasih sayang”. [Kiki]

Kuliah Berkat Sholat Dhuha



Melangkah kejenjang perguruan tinggi merupakan impian setiap orang, baik itu orang kaya atau orang yang tak berkecukupan, semua mempunyai tujuan untuk menempuh kehidupan yang lebih baik. Namun impian hanyalah impian, dan perguruan tinggi hanyalah diperuntukan bagi orang-orang yang kaya saja. Akan tetapi paradigma yang melekat pada diri saya sedikit demi sedikit pun pudar karena telah mendapatkan pencerahan dari guru BK di salah satu sekolah menengah atas (SMA) di kota Metro. “Bahwasannya orang yang tak berkecukupan masih dapat melanjutkan kejenjang perguruan tinggi, contohnya saja Ibu,” ujar beliau. Dari kalimat yang beliau ucapkan memberi motivasi saya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Sehingga masih ada secerca impian yang dapat saya raih diesok hari.

Saya merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Entah bagaimana rasanya kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya. Karena saya belum pernah dapatkan kasih sayang tersebut di masa kanak-kanak bahkan sampai sekarang ini. Mungkin hangat di pelukan ayah!! Ya sudalah hanya angan saja. Setelah ayah meninggal,  saya diasuh oleh seorang perempuan yang tak pernah pantang menyerah dan selalu meyayangi saya. Sehingga dia menjadi tulang punggung keluarga dan menjadi ibu bahkan ayah yang membesarkan anak-anaknya. Saya tinggal di keluarga yang kurang mengenal pendidikan formal atau non formal karena orang tua saya tidak mengetahui baca tulis. Bukan hanya baca tulis saja, namun pendidikan agama pun sangat kurang bahkan tabu. Namun Ibu membimbing saya untuk belajar di pendidikan formal maupun non formal agar menjadi manusia yang tak sama dengan beliau.

Dorongan dari orang tua yang menginginkan anknya untuk sukses dibidang pendidikan membuat saya lebih semangat, tekun, dan sungguh-sungguh bahkan sampai ke jenjang sekolah menengah atas. Dijenjang inilah saya mengetahui keutamaan dan manfaat dari sholat dhuha yakni dari membaca buku-buku agama yang terdapat di perpustakaan sekolah. Kalimat yang sangat kuingat tentang keutamaan sholat dhuha yakni “bahwasannya sholat dhuha merupakan pembuka pintu-pintu rezeki dan akan di bangunkan istana bagi orang yang melaksanakannya.

Dari kalimat inilah saya rajin mengerjakannya sholat dhuha. Saya melaksanakan sholat dhuha di sela-sela waktu istirahat dan ketika guru mata pelajaran belum masuk di kelas. Di waktu itulah doa demi doa kulantunkan agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat, mendapakan peringkat kelas dan memperoleh rezeki yang melimpah, tak lupa kupanjatkan tentang keinginan saya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Waktu berjalan beriringan dengan terkabulnya doa yang kulantunkan setelah sholat dhuha. Sungguh tak kusangkan ketika setelah sholat dhuha saya dimina untuk pergi ke kantor untuk menemui salah satu guru dan ternyata di situlah keajaiban sholat dhuha berada, guru yang meminta saya untuk menemuinya memberikan beberapa uang kepada saya. Syukur alhamdulilah saya panjatkan kepada Allah yang maha pemberi rezeki.

Tidak begitu saja, mengetahui keajaiban sholat dhuha begitu besar maka kualitas dan kuantitas kutingkatkan. Suatu ketika salah satu guru mengetahui latar belakang kehidupan saya, sehingga guru tersebut pun memberikan opsi kepada pihak sekolah agar saya di bebaskan dari uang sekolah atau uang SPP. Opsi itu pun di setujui oleh pihak sekolah. Sehingga saya telah dibebaskan uang SPP selama sekolah. Begitupun saya telah membantu meringankan tanggung jawab dari orang tua. Disinilah sholat dhuha berperan dalam kehidupan saya.

Semester genap telah meninggalkan kenangan yang bahagia. Sorak-sorak gembira dipanjatkan oleh setiap siswa, karena akan berjumpa dengan libur panjang dan kenaikan kelas. Siswa kelas tiga pun sibuk memilih-milih untuk melanjutkan ke perguruan tinggi favoritnya serta menyiapkan daya dan upaya agar masuk keperguruan tinggi yang dipintanya. Apa daya saya hanya seorang anak petani yang ingin sekali seperti mereka. Namun dengan tekat bulat, saya pasti bisa sama seperti mereka. Saya pun mecari cari beasiswa ke sana ke mari baik dari pihak swasta atau negeri pun saya jalani. Tidak lupa sebelum menjalankan tes saya sempatkan untuk melaksanakan sholat dhuha. Namun Allah belum memberikan kesempatan untuk mengikuti beasiswa yang saya coba tersebut. “Tak apa, belum rezeki. Mungkin Allah akan memberikan saya yang lebih baik,” Ujar saya dalam hati.

Tidak pantang menyerah dalam jiwa saya, agar untuk membahagiakan orang tua saya. Saya mencoba kembali beasiswa yang terdapat di perguruan tinggi yang terdapat di kota kelahiran saya, yaitu STAIN yang sekarang telah berganti nama menjadi IAIN Metro. Dengan tekat yang membara saya memberanikan diri untuk medaftar di instansi tersebut. Tidak lelah ku panjatkan doa setelah melaksanakan sholat dhuha agar mendapat beasiswa untuk melanjutkan jenjang pendidikan.

Siang berganti malam dan malam berganti dengan siang namun informasi-informasi belum ku dapatkan pula. Sabar menegakkan hati untuk terus berdoa dan bermunajat agar masuk ke beasiswa tersebut. Penantian panjang pun telah usai setelah pengumuman beasiswa di umumkan. Hati berdebar-debar apakah nama saya tertera di beasiswa tersebut. Dan ternyata puji syukur kupanjatkan kepada Illahi, nama saya tercantum di beasiswa tersebut. Sehingga saya pun dapat menikmati bangku kuliah yang diimpikan saat di sekolah menengah atas. Sekarang saya dapat kuliah dengan beasiswa tersebut dan dengan berkat sholat dhuha pula saya dapat menikmatinya.

Penulis: Yaser Nopiyanto (Mahasiswa IAIN Metro)

Pentingnya Punya Akun-Akun Sosmed Bagi Mahasiswa


Berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi membuat setiap ritual yang dijalani makhluk bernama manusia menjadi semakin instan. Bahkan saat ini teknologi sudah menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Mulai dari yang berprofesi sebagai petani, akademisi hingga pejabat tinggi hidupnya sudah tidak lepas dengan teknologi. Mahasiswa yang merupakan salah satu dari tiga kategori di atas dapat dikatakan mendominasi penggunaan teknologi. Salah satu wujud berkembangnya teknologi adalah sosial media yang kini sangat digandrungi orang-orang dari berbagai kalangan. Sebuah wadah yang sangat berguna sebagai media pamer dan berbagi suka cita. Di sini penulis ingin membahas pentingnya akun sosial media bagi mahasiswa. Tentunya bukan berkaitan dengan ajang pamer atau sarana membagikan kegalauan dan ke-alayan yaa. Mahasiswa yang menjalani masa kuliah di tahun 2017 rasanya wajib hukumnya mempunyai akun sosial media.

Bagi seorang mahasiswa, akun sosial media dapat dijadikan media kampanye pemberdayaan masyarakat. Dalam upaya mewujudkan gelar yang disandang mahasiswa yaitu “agent of change” sosial media bisa saja menjadi senjata yang ampuh untuk membantu misi itu. Seperti yang kita ketahui sejauh ini, sosial media sudah sangat bebas dan nilai-nilai moral berkomunikasi mulai terabaikan. Misalnya saja facebook, ujaran kebencian dan berita hoax bertebaran dan dibagikan ribuan kali setiap harinya. Jika kita tidak mengedukasi, minimal orang-orang terdekat kita, maka budaya konsumtif berita hoax akan menjamur dan akhirnya istilah tabayyun atau verifikasi informasi tidak dikenal lagi.

Bukan hanya facebook saja, sebagai seorang mahasiswa harus memiliki akun sosial media yang lain misalnya twitter dan instagram. Di dalam twitter dan instgram ada pengikut dan yang kita ikuti. Apabila orang yang mengikuti kita sudah banyak otomatis postingan kita akan terbaca oleh pengikut kita. Sehingganya kita dapat merekomendasikan informasi yang mengedukasi kepada mereka, sebagai bentuk kampanye kebaikan serta memerankan aktivitas pemberdayaan masyarakat dengan cara yang sederhana.

Sebagaimana karakter manusia milenial lainnya, kita tetap normal jika ingin pamer satu atau dua momen untuk di share pada akun-akun sosial media kita. Namun yang tak boleh dilupakan adalah, status kita sebagai akademisi yang bertugas mengedukasi masyarakat untuk bersikap bijak terhadap kemajuan teknologi. Barangkali kita tidak akan mengubah sesuatu yang besar, tidak akan bisa membasmi perkembangan berita hoax, atau memberhentikan akun penyebar ujaran kebencian. Namun dengan tindakan pemberdayaan dan peng-edukasian itu, setidaknya pengikut dan sebagian teman kita di sosial media memahami bagaimana memanfaatkan teknologi dengan benar.

Selain akun sosial media yang berbasis pamer dan berbagi momen. Mahasiswa juga seharusnya memiliki akun-akun lain yang berbasis pendidikan dan riset. Misalnya saja akun academia, akun kompasiana dan akun google scholar. Saat kita memiliki ketiga akun tersebut, kita dapat mempublikasikan karya yang ditugaskan dosen di bangku kuliah.

Keuntungannya tulisan kita dapat dibaca banyak orang, syukur-syukur dapat di sitasi oleh orang lain. Jadi mahasiswa apapun jurusannya tetap harus akrab dengan teknologi dan sosial media. Karena di zaman yang serba digital ini, hukum eksistensi memang penting. Semua karya kita harus ter-ekspos untuk membangun peradaban. Bukan karena ingin narsis atau pamer sana sini, tapi itu adalah upaya mengedukasi.

Ririn Erviana (Mahasiswi IAIN Metro)

Kegalauanku dan Kalian


Namaku Sinta Amelia, seorang gadis yang masih baru menjajaki dunia perkuliahan, ya intinya masih canggung dengan dunia perkuliahan. Hal ini mungkin yang di rasakan kebanyakan mahasiswa baru, akan merasa sedikit bingung tentang sistem pembelajaran di bangku perguruan tinggi, karena sangat berbeda dengan hari-hari di bangku sekolah.

Sebagai awalan perubahan status dari siswa menjadi mahasiswa pasti membuat diri dipenuhi rasa kegembiraan yang amat terasa. Bagaimana tidak, ditingkat ini lah dimana masa kedewasaan dimulai, kebebasan diri yang mungkin diperluas. ya tidak sedikit memang yang harus jauh dari orangtua lantaran jarak tempuh yang cukup jauh antara rumah orangtua dan kampus. Walaupun begitu, kebebasan bukan berarti urak-urakan, brutal dan sebagainya kan? yah seperti itu pikirku.

Di awal perkuliahan, aku jalani dengan penuh kegembiraan. "Seperti ini kah menjadi seorang mahasiswa? enak kali ya sudah tidak ada yang mengatur harus begini dan begitu, mungkin bisa jadi mirip dengan sinetron-sinetron televisi gitu," gumam dalam hatiku. "Tapi kalau begini terus dan aku enggak belajar sendiri, gimana aku bisa lulus di akhir semester nanti," dalam diamku mulai gelisah.

***

Pertengahan semester pun tiba, rasa yang campur aduk dalam hati dan pikiran ku saat ini dengan tumpukan tugas-tugas yang menggunung sampai penuh kebingungan yang mana dulu harus ku kerjakan.

Ternyata beginiah dunia perkuliahan sebenernya, tak seenak yang aku bayangkan dahulu, tak seperti yang terjadi dalam sinetron televisi yang selalu santai dalam perjalanan perkuliahan. Tugas yang menumpuk dan waktu yang sedikit, tapi akhirnya lambat laun tugas pun mulai terselesaikan. Alhamdulillah, rasanya tenang jiwaku. Tinggal mengahadapi ujian akhir semester.

Singkat cerita semua mata kuliah sudah mengadakan uas dan hanya tersisa satu mata kuliah yang masih di tarik ulur waktunya. Seorang dosen mengatakan kepada kelas yang di ampunya "kita ujian di hari rabu, mulai dari kelas E, D dan C. Harus tepat waktu ya, karena nilai akan saya setor ke Akademik." Padahal di Sismik sudah ada pengumuman bahwa waktu penyetoran nilai tinggal tiga hari lagi dan kalau kelas kami akan ujian akhir di hari Rabu, itu artinya nilai kami akan telat masuk ke sismiknya? Kamipun mulai galau.

Setelah mengadakan rapat kilat, akhirnya kami memutuskan untuk mempercepat ujian akhir tersebut. Perwakilan dari kelas pun menemui dosen pengampu, setelah terjadi perundingan yang lumayan memakan waktu, akhirnya di keluarkanlah sebuah keputusan yang sangat mengejutkan dari dosen pengampu. "Oke, kita majukan ujian kita di hari Minggu pagi pukul 08.30 WIB, dan tiap anak saya kasih kesempatan hanya 2 menit," begitu pinta sang Dosen.

Hanya dua menit pak? Apa ini akan ujian lisan pak?. "Iya dua menit dan lisan, makanya di kasih tau ke kawan- kawannya supaya di persiapkan dengan matang, dan jangan sampai ada yang remidi," pintanya dengan sangat lugas dan cukup menekan jiwa.

Hasil pertemuan dengan pak dosen pun di umumkan kepada kami, melalui akun grup kelas. Kami pun syok dan galau, akan berita tersebut. Banyak komentar yang membuat suasana semakin gaduh. Namun di putuskan oleh sang ketua suku kami, untuk tetap mengikuti perintah dosen tersebut. Dan kami pun hanya bisa mengiyakan. Saya pun teringat sebuah kata yang ringan namun bermakna dari kawanku, "maha benar dosen dengan segala perintahnya," begitu ucapnya.

Keramaian di grup kelas pun masih terasa di minggu pagi. Kami stand by sejak pukul 08.00 WIB. Kami pun menunggu sampai pukul 10.15 WIB, dan belum ada kepastian kapan dosen tersebut akan hadir. Setelah lama menanti akhirnya dosen pun datang, dan langsung memulai UAS dengan urutan kelas yang telah di tentukan.

Biasalah namanya juga mahasiswa baru, dan baru kali ini juga merasakan ujian lisan. Banyak dari kawan-kawan kami yang gugur di medan jihad ini. Karena nerves dan gagu dalam menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh sang dosen.

Hari itupun berlalu, dan dengan kebenarannya sang dosen mengatakan "karena ini banyak yang tidak lulus maka akan ada remedial, suruh kawan- kawan yang kena raport merah untuk menghadap saya di masjid, besok selasa pukul 08.30 WIB," Pintanya kepada ketua kelas C.

Hal serupa pun terjadi, kegaduhan pun tidak terpungkiri. Kejadian di kala remed pun tidak jauh berbeda dengan UAS yang kami alami. Inilah ajang pertama yang kami rasakan dalam Dunia Perkuliahan. Kami hanya bisa tawakal kepada yang kuasa, semoga dosen tersebut memberi keringanan kepada kami, dan tidak mempersulit para mahasiswanya ketika mengajar.

Usaha yang kami lakukan pun lebih dari usaha anak-anak SMA untuk melakukan ujian kelulusan. Rasa nerves yang dulu pernah kami rasakan dikala disuguhkan saat di bangku SMA kini terulang kembali dan kami harus perpacu dengan waktu. Ini adalah pembelajaran buat kita semua, bahwa usaha tanpa kenal lelah adalah wajib untuk memperoleh dan menggapai cita-cita. Semoga kita semua digolongkan menjadi anak yang berbakti dan menjadi salah satu pilar perubahan di dunia literasi dan akademik.


Penulis: Siti Nur Aminah

Ekonomi Islam Zaman Now


Apabila mendengar kata ekonomi Islam (ekonomi syariah), apa yang terbesit dalam pikiran anda? Apakah sebuah bank yang berkedok label syariah namun dalam praktik nya tidak ada bedanya dengan bank konvensional, atau bayangan lembaga keuangan berbentuk koperasi yang praktiknya meniru perbankan atau bahkan dalam benak anda tergambar upaya ekspansi BMT yang menjamur pada sebuah pasar-pasar, pusat kota sampai pedesaan.

Sementara jika berbicara interpretasi akan ekonomi Islam yang akan muncul dan akrab ditelinga kita adalah upaya ‘arabisasi’ istilah ‘ekonomi’,  atau sistem ekonomi yang alih-alih anti dengan riba (bunga) namun memilih sistem marjin yang presentasi nya lebih besar. Implentasinya hanya berkutat pada dunia perbankan atau regulasi uang dalam bentuk simpan-pinjam semata.

Barangkali stereotype akan ekonomi Islam sedemekian itu masih dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena ini menjadi barometer bahwa ekonomi Islam sejauh ini telah berhasil dalam menerapkan proses sinergi ilmu antara ekonomi dan Islam namun gagal dalam berkembang, sebab perkembangan ilmu ekonomi Islam mengalami stuck atau kebuntuan karena kebanyakan para ilmuan dan praktisinya berkutat pada hal hal seperti riba, murabahah, mudharabah, dan zakat.

Hampir tidak ada perspektif yang baru. Sehingga yang dilihat menonjol dalam aplikasi ilmu ekonomi Islam hanya sebatas fungsi intermediasi dana, di samping itu ekonomi Islam dipandang terkesan kaku dalam istilah keilmuanya, sebab menggunakan istilah-istilah dari timur tengah. Proses keilmuan yang melulu secara terus menerus akan di distribusikan para pembelajar ekonomi Islam ke masyarakat awam dan seiring bergulirnya waktu  yang pemahaman ekonomi Islam yang tidak utuh akan diamini menjadi pemahaman bersama ditengah masyarakat, terlebih pemahaman tersebut diperkuat fakta di lapangan bahwa praktik ekonomi syariah yang kebanyakan berada dalam dunia perbankan maka akan mendoktrin masyarakat bahwa ekonomi syari’ah itu adalah bank syariah, atau seperti lembaga keuangan yang hampir mirip dengan perbankan lengkap dengan akad-akad bahasa arab nya.

Sangat riskan bila Pemahaman yang pincang ini diakui sebagai pemahaman jamak atau bahkan digadang-gadang sebagai konsep ekonomi Islam yang syumul. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri sebab jika pemahaman ekonomi Islam yang belum utuh terus dipertahankan dan ditumbuh suburkan maka tujuan utama ekonomi Islam yaitu mencapai maslahah bagi manusia tidak akan pernah bisa terwujud. Sebenarnya perihal tersebut sudah lama dikawatirkan oleh DR. M. Umar Capra, seorang tokoh ekonomi kontemporer yang paling terkenal di timur dan di barat, kegelisahaan nya tersebut ia tuangkan di bagian penghujung dalam master piece yang bejudul The future of Economic an Islamic prespective.

Kegundahan yang ada harus berujung pada solusi yang kongkrit, mampu menyasar pada akar rumput permasalahan, dengan memaksimalkan percepatan akses informasi dan kecanggihan teknologi yang ada, kemajuan zaman semestinya menjadi peluang besar untuk bisa merubah wajah ekonomi Islam zaman old (dulu) menjadi ekonomi Islam zaman now (sekarang). Ekonomi Islam dewasa ini atau dalam literasi kekinian nya disebut ekonomi Islam zaman now merupakan sistem yang mengatur kegiatan manusia dalam aktivitas memenuhi kebutuhan hidupnya yang berlandaskan hukum Allah SWT dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Ekonomi Islam zaman now dipandang sebagai jalan hidup (way of life) untuk mencari rezeki, harta, kekayaan atau mencukupi kebutuhan diri sendiri dan keluarga, konsep ekonomi Islam harus bisa lepas dari kungkungan persepsi sempit yang bergelut pada riba dan dimensi perbankan. Esensi ekonomi Islam harus mampu diterjemahkan dalam berbagai bentuk usaha yang lebih variatif dan implementasinya mampu diaplikasikan secara rigid baik itu oleh individu, kelompok atau bahkan sampai negara.

Ekonomi Islam ialah metodologi yang menjadi panduan dalam bermuamalah antar sesama manusia yang bersandar pada dua sumber hukum yang menjadi dasar patokan. Sumber hukum primernya ialah hukum transidental seperti Al-Quran dan Hadist. Sedangkan sumber hukum sekundernya ialah interpretasi seperti fatwa sahabat nabi, ijma’, qiyas, istihsan, urf, mashalih mursalah, sadd adz-dzara’i, istishhab dan syar’u man qablana. Sementara peruntukan tidak hanya dibatasi untuk umat Islam melainkan bagi non muslim juga diperbolehkan menggunakannya.

Konsep ekonomi Islam zaman now dapat bersinergi dengan kearifan lokal yang ada. Bahwasannya ekonomi Islam sebagai silabus untuk mencapai keteraturan hidup seyogya nya tidak dilaksanakan secara klaim sepihak dan membabi buta untuk mengharamkan sesuatu atau melarang suatu adat budaya setempat tampa memfilterisasi terlebih dahulu. Oleh karena itu konsep ekonomi Islam perlu menjalin suatu toleransi terhadap warisan budaya yang dalam hal ini berbentuk transaksi ekonomi yang dirasa tidak bertentangan dengan syariat yang ada.

 Dilain sisi konsep ekonomi Islam harus memenuhi beberapa prinsip antara lain: pertama pada asalnya aktivitas ekonomi itu diperbolehkan sampai ada dalil yang melarangnya, kedua aktivitas ekonomi tersebut hendaknya dilakukan secara suka rela (‘an taradhin ), ketiga segala bentuk kegiatan ekonomi yang dikerjakan hendaknya mendatangkan maslahah dan menolak atau meminimalir mudharat ( jalb – al mashalih wa dar’ al mafasid ) dan  keempat dalam aktivitas ekonomi yang dilakukan terlepas dari unsur gharar, riba, kedzaliman, maysir, distorsi, spekulasi, dan unsur unsur lainya yang dilarang oleh syara’. 

Sementara, permasalahan ekonomi (kelangkaan) dalam soroton ekonomi Islam muncul bukan disebabkan oleh gagal nya sumber daya alam dalam merespon dinamika kebutuhan manusia, seperti dalam teori ekonomi konvensional dikatakan bahwa kelangkaan terjadi karena sumber daya ekonomi itu terbatas sedangkan kebutuhan atau keinginan manusia itu sifatnya tidak terbatas. Teori ini mendapat protes keras oleh ekonom kotemporer yaitu Asy-Syahid Muhammad Baqir As-Sadr dari kadhimiyah, bagdad yang biasa akrab disebut dengan Baqir As-Sadr. Menurutnya permasalahan ekonomi yaitu kelangkaan muncul kareana disebabkan oleh perilaku manusia yang dzalim dan perilaku manusia yang kurang bersykur atas limpahan nikmat Allah SWT,

Bahwasanya dzalim dalam hal ini dimaksudkan betapa banyak ditemukan dalam realitas empiris, manusia dalam aktivitas distribusi kekayaan cenderung melakukan kecurangan-kecurangan untuk memperoleh keuntungan pribadi semata, seperti melakukan tindakan penimbunan atau ikhtikar. Sedangkan yang dimaksud kurang bersykur atau ingkar adalah manusia cenderung menafikan nikmat Allah dengan semena-mena mengeksploitasi sumber-sumber alam. Selain itu Baqir As-Sadr membatah bahwa kenginan manusia itu sifat nya tidak terbatas dengan contoh yang diberikan pada orang haus akan berhenti minum jika dahaganya sudah terpuaskan. Lebih jauh lagi Baqir As-Sadr beranggapan teori hukum kelangkaan oleh ekonom konvensional hanyalah sebagai sesuatu penghindaran terhadap sesuatu yang sudah ada solusinya, dengan menyuguhkan penyebab imajiner yang tidak ada solusinya.

Membincang ruang lingkup yang dapat diatur oleh ekonomi Islam tidak berfokus pada riba dan praktek perbankan, melainkan sangatlah luas, mulai dari hal penentuan harga di pasar dengan konsp mekanisme pasar yang digulirkan Ibnu Taimiyah, jual beli dalam bentuk murabahah, salam, atau istisna, kerjasama seperti syirkah, mudhorabah, muzaraah (dalam agraria), hukum permintaan dan penawaran Islami, sampai hal besar seperti public finance (keuangan publik) seperti pemasukan negara dan pendistribusian kekayaan negara, kebijakan baik moneter maupun fiskal juga diatur dalam ekonomi Islam seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW sampai zaman kekhalifahan setelah-nya dalam bentuk bai tul mal sebagi lembaga keuangan negara yang mengatur kebijakan, bahkan pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid  mengalami surplus yang berlebih pada APBN nya.

Terlepas dari itu semua, perkembangan ekonomi Islam juga mengalami tren yang positif. Tidak sedikit negara-negara barat yang mengadopsi ekonomi Islam atau bahkan membuka bank syariah seperti, bank syariah  KuveytT├╝rk di Jerman, European Islamic Investment Bank PLC (EIIB) di Inggris, dan di Belanda akan dirintis bank syariah, hal tersebut merupakan bentuk perhatian yang baik dari negara-negara barat terhadap ekonomi Islam.

Selain itu perkembagan ekonomi Islam pada era digital sekarang ini juga mengalami peningkatan seperti dibuatnya sistem layanan fintech (finansial technology) pada lembaga keuangan syariah, atau pada pasar sekunder seperti di bursa efek syariah, obligasi syariah, saham syariah, dan reksyadana syariah.  Sementara semakin masifnya penyebaran aplikasi ekonomi Islam dalam pasar primer seperti munculnya usaha berbasis syariah seperti hotel syariah, laundry syari’ah, dan wisata syari’ah dan kurva kencederendungan akan halal life style semakin meningkat dan mendapat animo masyarakat Indonesia.

Di sisi lain pekembangan ekonomi Islam di Indonesia yang sedang digandrungi harus ramah dengan kearifan lokal (local wisdom) yang harus tetap melestarikan budaya sekitar seperti pada orang tengger yaitu konsep celong yang konsepnya hampir mirip dengan ijarah, sida yang konsepnya seperti pembagian waris, dan cimpa yang konsepnya sama dengan hibah. Ekonomi Islam harus bisa berakulturasi secara dialektika dengan cara transaksi adat budaya setempat sehingga dapat diterima dengan baik dan tidak menghilangkan warisan kekayaan budaya suatu negara. Mengingat dalam perspetif hukum Islam bahwa kearifan lokal itu disebut urf yang artinya sesuatu yang baik dan telah dikenal diatara manusia dan menjadi tradisi.

Ekonomi Islam zaman now pada giliranya mampu mengejewantahkan dengan wajah yang ramah dan mudah dimengerti serta bisa diterapkan pada sendi sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara di samping itu ekonomi Islam harus teraktualisai baik itu keilmuannya dan kecanggihan tekonolgi yang digunakanya.



Penulis, Elman Darmansyah   

Mewujudkan Strong Leadership dalam Lembaga Keuangan Mikro Syariah BMT


Berdirinya sebuah lembaga bisnis tidak akan terlepas dari dua tujuan utama yaitu profitable and sustainable bussiness, artinya bisnis yang menguntungkan dan menjadikannya berkelanjutan atau berumur panjang, demikian halnya dalam pendirian dan pengelolaan lembaga keuangan mikro syariah atau yang lebih akrab dikenal dengan sebutan Baitul Maal Wattamwil yang disingkat dengan BMT. BMT yang di dalamnya terdapat dua fungsi utama yakni baitul maal yang berfungsi sosial dan tamwil yang lebih kepada fungsi bisnis. Meskipun terdapat fungsi sosial tidak dapat dipungkiri bahwa sekumpulan orang yang bersyirkah dalam pendirian dan pengelolaan BMT tentu berharap lembaga yang didirikannya akan mensejahterakan anggota secara berkelanjutan, tidak hanya menguntungkan sesaat tapi menimbulkan kebangkrutan di kemudian hari.

Profitable  dan  sustainable  bussiness  adalah  tantangan  utama  para  pelaku  BMT disaat tingkat daya beli masyarakat terjun bebas, di sisi lain fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit BMT di Lampung telah gulung tikar dan dibekukan badan hukumnya, hal itu disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah faktor human error atau perilaku fraud oleh pimpinannya. Sementara di pihak lain masih banyak BMT yang tetap survive, bertumbuh dan melebarkan sayap bisnisnya, karena memiliki segudang potensi yang dikelola secara apik oleh pemimpin yang handal. 

Begitu besar peran pemimpin dalam menahkodai sebuah lembaga BMT untuk dapat mencapai tujuan bersama para anggota, semakin baik kualitas kempemimpinan tersebut maka dapat dipastikan baik pula pengelolaan semua potensi yang dimiliki. Secara sederhana dapat diambil benang merah bahwa sukses tidaknya pencapaian tujuan lembaga BMT selalu terkait dengan kualitas kepemimpinan dari masing-masing BMT. Hal ini lah yang menjadi daya tarik bagi penulis untuk merangkum, menganalisa dan menjabarkan bagaimanakah mewujudkan strong leader atau kepemimpinan yang kuat dalam lembaga keuangan mikro syariah BMT.

Berbicara soal strong leader, maka setiap muslim yang di amanahkan menjadi pemimpin harus memiliki konsep kepemimpinan yang sesuai dengan ajaran Islam, sehingga dapat terinternalisasikan dalam dirinya dan terejawantahkan dalam setiap gaya kepemimpinannya. Imam Zamroni pernah menyampaikan dalam sebuah workshop Ambassador Bootcamp IIBF yang diselenggarakan di Jogjakarta tahun 2016, bahwa kekuatan utama seorang strong leader dapat digambarkan dalam bagan piramida.

Bila digambarkan dengan piramida dapat diketahui bahwa porsi tiga kekuatan tersebut berbeda, semakin ke bawah porsinya semkin besar.

1.      Entrepreneurship; adalah cara atau langkah untuk menjadi kaya yang sebenarnya, bukan seolah kaya dalam pencatatan, tapi tidak menghasilkan cash. Sifat-sifat yang ada di dalamnya adalah kreatif dan inovatif dan tidak ada matinya untuk menemukan jalan keluar dari setiap persoalan, dirinya selalu mampu menemukan, mengorganisasikan dan mengeksekusi setiap peluang yang ada. Seorang entrepreneur mampu membangun team yang kuat, mampu bertahan dalam kesulitan dan persaingan, sekaligus mampu mengelola perubahan dan resiko. Leader sebagai entrepeneur mengindikasikan bahwa dirinya juga pekerja yang memberikan contoh, taking inisiatif, demonstratif, kreatif dan mampu membentuk mental yang dipimpinnya. Meskipun entrepeneurship porsinya lebih kecil namun harus tetap ada dan tidak dapat dipisahkan dalam seorang srong leader

2.     Leadership; Leader is a person who know the way, who show the way and who do the way. Seorang pemimpin adalah orang yang tahu jalan, yang menunjukkan jalan dan mampu menjalankannya untuk memberikan keteladanan kepada yang dipimpin. Keahlian seorang pemimpin dibagi menjadi tiga yaitu skill, interpersonalitas dan identitas. Sehingga porsinya harus ideal sebagaimana digambarkan dalam bagan piramida. Jika posisi piramidanya terbalik maka seseorang tersebut cenderung menjadi follower. Pertama, seorang pimpinan seharusnya adalah yang memiliki skill yang lebih dibandingkan dengan team yang lain, ia adalah seorang yang mampu memotivasi, dan mengkomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan peningkatan kinerja karyawannya. Kedua, seorang pemimpin hendaknya memiliki interpersonalitas yang baik, yaitu kemampuan berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain, baik dengan sesama team ataupun dengan stakeholder yang ada. Ketiga, seorang pemimpin hendaknya memiliki identitas yang kuat dan berkarakter serta mampu memberikan identitas yang baik bagi setiap karyawannya. Bahwa kita adalah seorang muslim maka tauladan yang terbaik adalah nabi dan sahabat sahabiyah. Semakin kokoh identitas seseorang sebagai muslim, maka dapat dipastikan dirinya akan menjadi sumber daya insani yang jujur amanah dan terpercaya.

3.   Spiritualitas; mari kita simak terlebih dulu janji pasti dari yang maha menepati janji-Nya dalam Q.S al-a’raf ayat 96 “jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi...”. Seorang pemimpin muslim dibebankan kewajiban untuk membangun sebuah sistem nilai, sistem nilai yang dimaksud tentunya merupakan nilai-nilai agama. Bahwa rizkinya perusahaan adalah rizkinya semua karyawan, maka jangan sampai urusan dengan sang pemberi rizki ada yang bermasalah, dan hal itu berlaku bagi setiap pimpinan maupun karyawan. Saat panggilan adzan tiba, adakah karyawan yang masih abai atau menunda-nunda untuk memenuhi panggilan-Nya. Untuk selanjutnya dibutuhkan pembiasan-pembiasaan ibadah yaumiah yang terencana dan dievaluasi secara periodik sehingga terbentuk sebuah culture saling menguatkan dalam hal urusan menjaga kualitas ruhiyah.

Ketiga rumusan di atas menjadi sebuah kunci jawaban dari pertanyaan mendasar para penggiat lembaga keuangan mikro syariah BMT untuk mewujudkan strong leadership pada lembaganya masing-masing. Sehingga dapat penulis simpulkan bahwa di dalam BMT yang kuat dan terus bertumbuh pasti ada seorang strong leader di dalamnya, begitu pula sebaliknya jika rapuh bangunan kelembagaannya maka patut dipertanyakan bagaimanakah kualitas kepimimpinan di dalamnya. Wallohu a’lam bishowaf.



Penulis: Rudiyanto,S.E.Sy (Manajer Baitul Maal KSPPS BMT AKU)